-->

Kronik Toggle

Pelatihan Menulis Feature di Gedung Indonesia Menggugat

BANDUNG — Keinginan menulis tiba-tiba hilang saat lelah menyerang setelah mendaki gunung. Padahal, ada banyak cerita menarik selama pendakian,” ujar Ardesir Yaftebi, Sabtu (2/10) di Bandung.

Ardesir adalah salah seorang pendaki Ekspedisi Tujuh Puncak Dunia 2010 yang digagas Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung Wanadri. Bersama timnya, ia telah mendaki Cartenz Pyramid, Kilamanjaro, dan Elbrus. Dalam perjalanan itu, tim menemukan data kondisi alam atau kebiasaan masyarakat setempat.

Iwan Bungsu, pencinta alam lainnya, tak berdaya melihat banyak foto indah yang diambil dalam beberapa ekspedisi pencinta alam, salah satunya Garis Depan Nusantara, justru belum terinformasikan kepada masyarakat. Penyebabnya adalah minimnya pengalaman menyampaikan cerita dan narasi yang mudah diterima.

“Padahal, bila foto diperkuat dengan sajian yang informatif, mungkin maknanya menjadi lebih kuat,” ujar Iwan.

Keluhan Iwan dan Ardesir ini mengemuka dalam Pelatihan Jurnalistik Penulisan Feature di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung. Dua pembicara yang membagi pengalamannya adalah wartawan senior Rudy Badil dan penulis Adi Seno.

Bisa dipelajari

Badil mengatakan, wajar bila ada anggapan sulit membuat tulisan feature yang menarik dan mudah dibaca. Ia menegaskan, hal itu bisa dipelajari asal ada kemauan dan usaha kuat. Mengutip pendapat tokoh pers Amerika Serikat, Thomas Elliot Berry, feature adalah tulisan yang membutuhkan penanganan khusus. Bentuk tulisan ini diharapkan menyentuh pembaca, baik lewat cerita emosional, dramatik, maupun sisi manusiawi lainnya.

Editor buku populer Norman Edwin (Catatan Sahabat Sang Alam) dan Soe Hok Gie, Sekali Lagi ini mengatakan, ada tiga jurus awal saat membuat feature, yaitu hati-hati, isi hati, dan rasa hati. Hati-hati dipahami sebagai amunisi awal penulis, dari mengumpulkan data, ide, hingga sikap penulis saat menempatkan duduk perkara suatu kejadian. Selanjutnya, isi hati penting untuk menggambarkan keadaan di lapangan. Penulis diharapkan menangkap materi dan kepekaan, baik melihat unsur dramatik maupun sisi manusiawi kejadian. Penulis juga diharapkan seperti menghadirkan atau melibatkan pembaca di tengah kejadian.

Yang tak kalah penting adalah rasa hati penulisnya. Penulis dituntut memberikan teknis penulisan yang tepat. Contohnya, menggunakan bahasa yang cermat, tidak meninggalkan pertanyaan pada pembaca, dan membubuhkan gaya penulisan sederhana yang tidak membingungkan pembaca.

“Mudah-mudahan tiga jurus di atas bisa diterima dengan senang hati. Guna memudahkannya, mari kita mulai menulis. Dengan begitu, ide akan cepat keluar dan kita bisa bersama-sama memberikan masukan bila ada tulisan yang harus diperbaiki,” ujar Badil. (Cornelius Helmy)

Sumber: Kompas Jabar, 4 Oktober 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan