-->

Kronik Toggle

Musso Bilang, Musuh Utama PKI adalah Tan Malaka

Musso Bilang, Musuh Utama PKI adalah Tan Malaka
YOGYAKARTA — Dalam safari diskusi buku julid 3 Tan Malaka dan Gerakan Kiri di Indonesia, Harry Poeze diundang secara eksklusif berbicara di Radio Sonora FM Yogyakarta (19/10).
Dipandu budayawan Ons Untoro, Harry Poeze melakukan peringkasan sejarah Tan Malaka.
Menurut Poeze, untuk memahami Tan Malaka secara utuh, mestilah melewati pembabakan. Dan di dalam pembabakan itu kita memahami posisi Tan Malaka.
Dalam sejarah PKI, Tan Malaka salah satu tokoh sentral, tapi kemudian berubah sama sekali setelah Pemberontakan 1926-1927 dan PKI pasca 1945.
Bagi Poeze, PKI di tahun 1920-an adalah adalah partai nasionalis pertama di Indonesia. Jauh sebelum PNI muncul.
Yang menarik, ujar Poeze, Tan Malaka justru membawa PKI menjauh dari pengaruh Mokow. Bagi Tan, Moskow tak peduli sama sekali dengan situasi Indonesia. Karena itulah Tan Malaka kemudian mematahkan hubungan dan mendirikan partai radikal yang mengikuti teori marxisme tanpa Moskow. Itulah Partai Republik Indonesia atau PARI, yang didirikan di Bangkok.
Partai ini menurut Poeze terinspirasi dengan buku Menuju Republik Indonesia yang ditulisnya pada 1924. “Lihat, nama ‘Republik Indonesia’ disebut pertama kali Tan Malaka jauh hari sebelum Sukarno Hatta memakainya,” jelas Poeze.
Pada periode itu Tan Malaka dikenal sebagai sosok komunis nasionalis-marxis.
“Waktu pemberontakan Madiun sewaktu Musso kembali dari Moskow, justru Tan Malaka disebut Musso sebagai musuh utama PKI,” ujar Poeze menanggapi pertanyaan pendengar Sonora FM, Bambang Kusumo, yang menanyakan seberapa jauh dan seberapa penting Tan Malaka dalam gerakan kiri ketimbang Musso, misalnya.
Metode Riset
Ditanyakan soal metode dalam menulis ribuan halaman biografi Tan Malaka, Poeze mengaku ia mengumpulkan data dari mana-mana.
“Saya ke empat benua. Eropa, Amerika, Australia, Asia. Saya kumpulkan arsip resmi, arsip pribadi, majalah, suratkabar, maupun wawancara,” katanya.
Karena ia memulai riset tahun 1980-an, Poeze sangat bersyukur masih bisa menemui banyak tokoh yang masih hidup. “Ini informsi berharga. Tokoh-tokoh ini sudah pensiun dan memberikan kesan mereka dekat dengan Tan Malaka.”
Poeze tak menampik bahwa riset ini sangat melelahkan dan sukar. “Dokumen-dokumen ada dalam enam bahasa, seperti Jerman, Belanda, Rusia, Indonesia, Inggris, Prancis. Dan syukurlah saya mengetahui bahasa-bahasa itu.” (GM/IBOEKOE)

YOGYAKARTA — Dalam safari diskusi buku jilid 3 Tan Malaka,  Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Harry Poeze diundang secara eksklusif berbicara di Radio Sonora FM Yogyakarta (19/10).

Dipandu budayawan Ons Untoro, Harry Poeze melakukan peringkasan sejarah Tan Malaka.

Menurut Poeze, untuk memahami Tan Malaka secara utuh, mestilah melewati pembabakan. Dan di dalam pembabakan itu kita memahami posisi Tan Malaka.

Dalam sejarah PKI, Tan Malaka salah satu tokoh sentral, tapi kemudian berubah sama sekali setelah Pemberontakan 1926-1927 dan PKI pasca 1945.

Bagi Poeze, PKI di tahun 1920-an adalah adalah partai nasionalis pertama di Indonesia. Jauh sebelum PNI muncul.

Yang menarik, ujar Poeze, Tan Malaka justru membawa PKI menjauh dari pengaruh Mokow. Bagi Tan, Moskow tak peduli sama sekali dengan situasi Indonesia. Karena itulah Tan Malaka kemudian mematahkan hubungan dan mendirikan partai radikal yang mengikuti teori marxisme tanpa Moskow. Itulah Partai Republik Indonesia atau PARI, yang didirikan di Bangkok.

Partai ini menurut Poeze terinspirasi dengan buku Menuju Republik Indonesia yang ditulisnya pada 1924. “Lihat, nama ‘Republik Indonesia’ disebut pertama kali Tan Malaka jauh hari sebelum Sukarno Hatta memakainya,” jelas Poeze.

Pada periode itu Tan Malaka dikenal sebagai sosok komunis nasionalis-marxis.

“Waktu pemberontakan Madiun sewaktu Musso kembali dari Moskow, justru Tan Malaka disebut Musso sebagai musuh utama PKI,” ujar Poeze menanggapi pertanyaan pendengar Sonora FM, Bambang Kusumo, yang menanyakan seberapa jauh dan seberapa penting Tan Malaka dalam gerakan kiri ketimbang Musso, misalnya.

Metode Riset

Ditanyakan soal metode dalam menulis ribuan halaman biografi Tan Malaka, Poeze mengaku ia mengumpulkan data dari mana-mana.

“Saya ke empat benua. Eropa, Amerika, Australia, Asia. Saya kumpulkan arsip resmi, arsip pribadi, majalah, suratkabar, maupun wawancara,” katanya.

Karena ia memulai riset tahun 1980-an, Poeze sangat bersyukur masih bisa menemui banyak tokoh yang masih hidup. “Ini informsi berharga. Tokoh-tokoh ini sudah pensiun dan memberikan kesan mereka dekat dengan Tan Malaka.”

Poeze tak menampik bahwa riset ini sangat melelahkan dan sukar. “Dokumen-dokumen ada dalam enam bahasa, seperti Jerman, Belanda, Rusia, Indonesia, Inggris, Prancis. Dan syukurlah saya mengetahui bahasa-bahasa itu.” (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan