-->

Kronik Toggle

Menyoal Penjualan Rumah Keluarga Toer di Blora!

Kabar dari Sumbawa 40 Jetis Blora

Rumah Keluarga Toer, Blora

Rumah Keluarga Toer, Blora

Surat ini ditulis oleh Pak Koesalah Soebagyo Toer terkait dengan rencana penjualan dan pembagian peninggalan rumah dan tanah di jalan Sumbawa 40 Jetis Blora. Sebetulnya bukan sifat kami untuk mencampuri urusan pribadi keluarga lain, apalagi menyangkut warisan –harta benda. Namun karena Pak Koesalah meminta kami untuk ikut menyumbangkan saran, maka bagi kami itu merupakan suatu penghormatan tersendiri. Saya merasa takjub, karena beliau sebagai orangtua masih mengajak berembug dan meminta pendapat dari kawan-kawan –termasuk kami anak-anak muda –yang secara umur, pengalaman, ilmu maupun kebijaksanaan sangat jauh dibanding dengannya. Karenanya di kesempatan ini aku ingin berbagi kabar berita ini kepada kawan-kawan, semoga bisa memberikan masukan –untuk kebaikan tentunya.

Salam,

Eko Erifianto

———————————————————–

Jakarta, 17 Agustus 2010

Kawan-kawan yang baik,

Ijinkanlah kali ini kami menghubungi Anda yang kami anggap sebagai bagian dari kawan-kawan terdekat yang bisa kami ajak berbagi masalah dan berbagi rasa, dengan maksud baik. Masalah yang ingin kami sampaikan adalah ini:

Bapak kami Mastoer alm, dan ibu kami, Oemi Saidah alm, di Blora, Jawa Tengah, ada meninggalkan warisan berupa tanah 3.315 m² dengan rumah 300 m² yang biasa kami namakan tanah keluarga dan rumah keluarga, dan sejak meninggalnya kakak kami Pramoedya Ananta Toer, dipakai untuk mengelola perpustakaan Pataba dan menyelenggarakan acara-acara berkenaan dengan Pramoedya Ananta Toer.

Kami sekeluarga 8 orang: 1. Pramoedya Ananta Toer (alm, dengan turunan), 2. Walujadi Toer (dengan turunan), 3. Koenmarjatoen Toer (alm, tanpa turunan), 4. Oemi Safaatoen Toer (alm, dengan turunan), 5. Kosaisah Toer (dengan turunan), 6. Koesalah Soebagyo Toer (dengan turunan), 7. Soesilo Toer (dengan turunan), 8. Soesetyo Toer (tanpa turunan).

Dalam rapat keluarga yang diadakan beberapa bulan lalu, mayoritas wakil keluarga menghendaki agar tanah dan rumah dijual dan hasilnya dibagi rata. Itulah umumnya memang nasib tanah dan rumah warisan. Kebetulan keluarga kami termasuk yang morat-marit keadaan ekonominya terkait dengan Peristiwa G30S. Lagi pula sudah jalan lima tahun ini adik kami Soesetyo Toer dalam keadaan tak berdaya akibat stroke.

Begitulah, surat ini kami tujukan kepada Anda sebagai salam taklim, juga sebagai himbauan pada Anda untuk ikut memberikan sumbang-saran agar kami lebih mantap dalam melangkahkan kaki. Atas keikutsertaan Anda dalam mengemukakan sumbang-saran tersebut kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

(Soesilo Toer)
Jl. Sumbawa No.40 Jetis Blora

(Koesalah Soebagyo Toer)
Jl. Turi III/61 Kemiri Muka Beji Depok 16423

11 Comments

TOKOHITAM - 03. Okt, 2010 -

apa perlu digalangkan dana semacam penggalangan koin untuk prita? aku yakin byk penggemar buku2 pak pram/ para pramis yg bersedia untuk patungan secara sukarela…dan kira2 brp harga jualnya…biar bisa dipastikan langkah selanjutnya…

Rafael Manjung Harisena SH - 04. Okt, 2010 -

Kalau bisa, karena rumah itu sebagai perpustakaan dan tempat bersejarah dari salah satu “pujangga” di Indonesia yaitu Pramoedya Ananta Toer, mohon diadakan penggalangan dana dahulu untuk pembelian rumah tersebut, bisa menghubungi berbagai elemen untuk mencarikan solusinya. Kalau dalam keadaan wajar, harga rumah itu berapa ? kemudian dana yang terkumpul diberikan kepada ahli warisnya dan dibagi sesuai kesepakatan atau hukum yang berlaku. Setelah itu dibuatkan akta notaris dengan bentuk yayasan untuk mengelola perpustakaan dan menjalankan kegiatan yayasan tersebut. Bukankah Pramoedya Ananta Toer juga punya royalty atas penerbitan buku2nya, coba hubungi pihak penerbit. Surati semua rekan2 lsm pemerhati budaya dan penulisan. Hubungi pula dinas dan instansi terkait….Insyaallah lambat laun terselesaikan. Tanah dan bangunan itu nantinya milik Yayasan. Demikian mungkin sedikit masukan.

Lia - 04. Okt, 2010 -

Saya setuju dengan pendapat teman2 di atas. Sedapat mungkin rumah itu jangan dijual. Nilai sejarah rumah itu tinggi sekali.
Mari galang dana untuk menyelamatkan rumah dan perpustakaan keluarga Toer!

IBOEKOE - 05. Okt, 2010 -

Chepy Ny Yee Stmj 04 Oktober jam 21:48 (FB): bila argumen yg digunakan oleh keluarga besar TOER bahwa penjualan rumah tersebut demi kepentingan dan kebaikan keluarga besar mereka maka memang sebaiknya kita gak ikut campur,,,namun bila semata hanya untuk kepentingan materi sebaiknya dipikir pikir,,semuanya terserah dari sisi mana kita dan keluarga besar TOER menelaahnya…

IBOEKOE - 05. Okt, 2010 -

Yonathan Rahardjo 03 Oktober jam 7:44 (FB): perlu dukungan masyarakat, soal keuangan…

IBOEKOE - 05. Okt, 2010 -

Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto (FB): Itu keputusan Prawito atau sudah menjadi keputusan keluarga besar? bagaimana dengan Cus, Ismiyatun dan adik serta ipar Pram lainnya?

IBOEKOE - 05. Okt, 2010 -

Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto (FB): apa tidak bisa dibangun gerakan untuk mengumpulkan dana dari penggemar Pram dan dijadikan sebuah monumen dengan nama “Rumah Gadis Pantai”? memang perlu dana berapa kalau rumah ini dibeli?

IBOEKOE - 05. Okt, 2010 -

Dodit Sulaksono (FB): Kalo ada penggalangan dana, tetap harus ada ijin dr anak2 pak pram, karena bagaimanapun mereka lah kini yg mewarisi secara langsung segala hal yg berkenaan dgn nama besar pak pram…berita dr mas judis putra pak pram yg saya terima menyatakan bahwa belum ada pemberitahuan dr adik2 pak pram mengenai penjualan rumah tsb…jadi sebaiknya kita bersabar dulu sampai benar2 ada kepastian, jadi tidaknya rumah tsb dijual…dan saya sangat berharap semoga rumah tsb tidak jadi dijual…

IBOEKOE - 06. Okt, 2010 -

Astuti Ananta Toer, 06 Oktober jam 19:49 (FB): Terima kasih atas berita yang diberikaan kepada kami kel.Toer.

Saya terharu membaca surat yang ditulis oleh Eko Aprianto dan Susilo Toer.

Menurut saya Pribadi sebaiknya rumah itu tetap menjadi hak pewaris. Sekali waktu Pram mengatakan kepada kami; Anak-anaknya,

“Sebaiknya rumah itu dikembalikan kepada fungsi semula yang pernah dilakukan oleh ayah Papah. Rumah itu, rumah bersejarah bagi ayahnya Papah dan Papah. Dan juga rumah itu tempat lahirnya para seniman dan budayawan Blora”.

Dan Pram pernah berkata “Bahwa nama Toer bukan saja menjadi nama keluarga tapi menjadi nama Marga”.

“Bagaimana kalau si Empu-nya nama itu tidak mempunyai tempat berpijak di daerahnya sendiri, apakah itu sebuah kekonyolan?”.

Satu hal lagi yang tidak dapat dipungkiri “Tempat peristirahatan terakhir kel.Pram termaksud ibu – bapak – nenek – dan adik2 Pram ada di Blora”.

Sungguh sangat mencengangkan Seorang Pram; Orang Blora, yang memperjuangkan nama pejuang orang Blora, tidak punya tnah tempat berpijak di daerahnya sendiri, apakah itu sudah menjadi nasib seorang Pram?!!!!!!

Salam Kami,
Kel. Pram

kunarto marzuki - 08. Okt, 2010 -

saya bersedia ikut menjadi bagian dari tim yang dibentuk untuk mengurus soal donasi. ayo kita segera kumpul. terutama yang di blora.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan