-->

Tokoh Toggle

Leonowens S.P., Penulis 30 Buku Karya Sastra dalam Setahun

Lenowen SP_jawaposOleh: Agus Wirawan

Hidup bersama alam telah menjadi cita-cita Leonowens S.P. Meski terlahir dan besar di kota metropolitan, anak pertama dari pengusaha di Jakarta ini memilih tinggal di pegunungan agar bisa menikmati keindahan alam.

“Saya mencintai keasrian yang masih tersisa di bumi Nusantara ini, sedangkan saudara-saudara saya memilih tinggal di Kanada,” ujar Leon, panggilan Leonowens, melalui surat elektroniknya pekan lalu.

Keinginan itu terwujud setelah dia bekerja di perusahaan agribisnis sebagai public relation manager. Dia harus tinggal di ladang perkebunan luas di pegunungan Pematang Siantar, Sumatera Utara, sejak empat tahun lalu.

Lokasi ladang itu sangat jauh, sekitar 125 kilometer dari Medan. Tak ayal, Leon harus bersusah payah “turun gunung” jika ingin melakukan aktivitas peradaban modern, seperti berinternet atau berbelanja di supermarket.

“Kalau mau ngirim e-mail atau memperbaiki komputer yang rusak, ya harus ke Medan yang ditempuh seharian dengan perjalanan darat,” kata peraih The Best Writer Nederlands 2007 itu.

Selain terpencil, di rumah Leon, sinyal telepon seluler tidak selalu ada. Karena itu, dia lebih suka menggunakan SMS untuk berkomunikasi dengan teman-temannya. Tak heran, ketika ingin mengirimkan esai, solilokui, puisi, prosa liris, aforisme, artikel lepas, atau monolog ke media atau penerbit, Leon harus turun gunung. Dia mesti ke Medan untuk mencari internet. “Dan, naskah harus saya ketik rapi terlebih dahulu baru saya bawa ke Medan untuk dikirim via e-mail,” lanjutnya.

Tidak hanya soal internet. Leon kadang juga terganggu oleh listrik di tempatnya bekerja yang tiba-tiba padam saat dia sedang asyik-asyiknya menulis di komputer. Segala sesuatunya menjadi sulit karena fasilitas telekomunikasi yang terbatas.

Pada 2006 dan 2007, saat teknologi internet belum semodern sekarang, dia pernah mendapati pengalaman buruk. E-mail berisi naskah buku-buku yang dikirimkannya ke penerbit di-hack (jebol) orang lain. “Naskah saya dihambur-hamburkan ke milis-milis. Saya betul-betul sedih,” ujarnya.

Leon pun terpaksa merevisi ulang naskah-naskah siap terbit tersebut. Maka, mau tidak mau, Leon harus naik turun gunung untuk mengirimkan naskahnya. Meski begitu, dia tidak pernah menyerah dengan kondisi itu. “Memang dibutuhkan tekad dan kesabaran untuk terus menulis dan berkarya. Sejarah menunjukkan, hanya orang-orang yang memiliki tekad kuat yang akan dapat menembus rintangan apa pun, bahkan yang melampaui batas nalar kita sendiri,” ungkapnya.

Pada 2009 hasrat menulisnya semakin menggebu. Dalam sebulan Leon bisa melahirkan 2-3 buku dengan topik dan isi yang berbeda. Misalnya, Trilogi Karmakala, Ragakala, dan Arcakala. Dia juga membuat trilogi buku yang lain, yaitu Kandelar, Genevieve, dan Saint Leon. Sebagian buku karya Leon menitikberatkan bangunan logika pemikiran, sebagian lagi pada perasaan atau seni mengelola perasaan.

Dia tidak ingin menyia-nyiakan setiap ide yang muncul di benaknya. Karena itu, begitu mendapatkan gagasan, dia langsung mewujudkannya di komputer. “Saya lebih mengutamakan kualitas tulisan daripada kuantitas buku yang saya ciptakan,” tutur pria yang masih betah melajang itu.

Peraih Anugerah Sastra Indonesia 2009 itu mengakui bantuan teman-temannya di komunitas sastra sangat mendukung dalam upayanya meraih prestasi. “Mereka membantu dalam banyak hal, seperti dorongan, perbandingan, kritik sastra, ulasan, publikasi, informasi, dan tahapan teknis lainnya,” tambahnya.

Tentang rekor Muri yang dicatatnya pada 7 Agustus 2010, Leon mengaku tak pernah memikirkannya. Yang ada dalam pikirannya hanya menulis dan menulis. Menurut dia, penghargaan Muri hanya simbolisasi dari suatu tindakan yang bermanfaat di bidang sastra. “Mencerdaskan masyarakat Indonesia dengan realitas kemajemukannya adalah tanggung jawab setiap penulis. Sejarah mencatat pentingnya sastra sebagai alat pembudayaan manusia,” ujarnya.

Sejak berusia 19 tahun Leon mulai menikmati sekaligus membuat karya-karya sastra. Namun, dia belum merasa maksimal. Karya-karyanya masih harus berproses hingga menuju bentuk yang ideal dan logis. “Kematangan dalam tulisan hanya dapat dinilai dan diapresiasi pada ruang publik. Tahap perjalanan usia adalah proses dan kualitas karya merupakan hasil proses itu,” sambungnya.

Buku-buka karya Leon tidak hanya dijual di pasar dalam negeri, tetapi sudah merambah pasar Malaysia, Singapura, Brunei, Tiongkok, Taiwan, Kanada, bahkan Eropa dan Amerika. Hingga kini dia sudah menghasilkan 50 buku karya sastra.

“Banyak penulis berbakat di Indonesia, sayang pemerintah belum mendukung upaya untuk go international. Seharusnya pemerintah menyediakan penerjemah gratis untuk memasarkan karya-karya mereka di luar negeri. Ini salah satu problematika dasar yang dialami penulis Indonesia,” sebutnya.

Kini, pria kelahiran Jakarta, 7 Desember 1977, ini memiliki kesibukan baru. Sejak sekitar dua bulan lalu, Leon membuka layanan SMS premium yang mengirimkan kata-kata cinta. “Ini kali pertama sebuah karya sastra bisa dinikmati melalui SMS premium,” ucapnya bangga.

Awalnya, Leon mendapat tawaran dari sebuah perusahaan penyedia konten (content provider). Idealnya, setiap hari Leon mengirimkan sebuah puisi cinta ke website perusahaan tersebut yang selanjutnya disebar ke para penggemarnya. Namun, karena faktor geografis, Leon terpaksa mengirim puisi-puisinya untuk sebulan. “Sampai sekarang saya nggak tahu berapa orang yang sudah daftar menjadi pelanggan SMS kata cinta dari saya itu,” ungkapnya.

Mengenai SMS premium itu, Leon berdalih hanya untuk menaklukkan zaman. Pasalnya, banyak hasil karya sastra Indonesia yang sulit diperoleh dan dinikmati masyarakat umum, khususnya masyarakat yang kurang peduli terhadap pentingnya budaya membaca. Karena itu, harus ada terobosan baru. “Kita harus menggunakan kemajuan teknologi untuk memajukan dunia sastra Indonesia,” jelasnya.

Sumber: Jawa Pos, 3 Oktober 2010

8 Comments

Saut Situmorang - 04. Okt, 2010 -

““Kalau mau ngirim e-mail atau memperbaiki komputer yang rusak, ya harus ke Medan yang ditempuh seharian dengan perjalanan darat,” kata peraih The Best Writer Nederlands 2007 itu.”

Bohong ini! Kota Pematang Siantar itu cukup besar dan ada layanan internetnya! Harus ke Medan yg berjarak 5 jam itu! Penulis gak jelas ini cuma ingin mengeksotiskan dirinya doang!

Kemudian, “Anugerah Sastra Indonesia 2009” itu apa? Lembaga mana yg memberikannya? Kenapa aku gak pernah dengar tentang “Anugrah” ini? Aku pun gak pernah dengar ada penulis “Sastra” Indonesia bernama “Leonowens SP”!!!

-Saut Situmorang

Tia Setiadi - 05. Okt, 2010 -

Spektakuler!!
dunia sastra kita akan jauh lebih miskin dengan adanya penulis The best Writer Nederlands 2007 ini.dua sampai tiga buku perbulan? 30 buku dalam setahun? bahkan naguib Mahfouz pun akan tercengang di alam kuburnya.
saya bertanya tanya kapan saatnya orang ini membaca sehingga bisa menghasilkan 3 buku perbulan. saya juga bertanya tanya sedemikian hebatkah karya orang ini hingga harus diterjemahkan ke bahasa asing. padahal saya pun tidak pernah sekalipun menjumpai karyanya entah di koran, maupun di toko buku, padahal sudah 50 buah karya yg dihasilkannya. lalu karya sastra lewat sms? wah keren! berani sekali sms disebut karya sastra. betapa mudahnya!
dunia sastra bukan dunia hiburan, seseorang yg memasukinya mungkin perlu sadar bahwa diperlukan kerja keras bahkan hanya untuk membaca karya2 sastra sejati seperti yg dihasilkan Pram, Pamuk, TS Elliot, neruda, dll, apalagi menuliskannya!
menulis produktif boleh2 saja, tapi mungkin mesti sadar diri untuk tidk menyebutnya karya sastra, melainkan sekedar buku hiburan.

Ronny Agustinus - 05. Okt, 2010 -

Maaf, belum pernah dengar sama sekali buku “penulis” ini diperbincangkan kualitasnya atau isinya atau apapun. Yang saya tahu cuma dia self-promo terus2an di milis Pasar Buku 🙂

Diolinfa - 07. Okt, 2010 -

ketika “penulis” satu ini mendapat anugerah MURI, saya jadi mempertanyakan dua hal:kenapa MURI memberinya anugerah, juga pemberi anugerah lainnya, perlu dipertanyakan; kedua, saya dengar “penulis” ini mendapat julukan yang muluk-muluk seperti Sang Maha,dll. Apa ga malu jadi lebai begitu? kayaknya prematur deh!

Daniels Pirince - 08. Okt, 2010 -

Dengan adanya seorang penulis……..
Apakah dengan adnya MURI kita dpt berkarya kembali….
dan menjadikan sesuatu yang bermanfaat….
bagi para pembaca…

zara - 31. Okt, 2010 -

hahaha… sangatlebay.com

semestinya tulisan yang baik disertai perilaku yang baik dan JUJUR, baru bisa dikatakan sebagai tulisan yg baik, jangan cuma tulisan aja yang terlihat bagus dan manis… tapi kelakuan bobrok… lalu apa yang dibanggakan dengan segala macam anugerah yg ‘tak dikenal’ itu… hiks, pathetic isn’t it?!

Muslikun - 28. Apr, 2011 -

Kelakuan bobrok yang gimana sich Zara? jadi penasaran nih…
Jangan-jangan dia ga jujur dengan tulisannya yang kelihatan manis itu????….

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan