-->

Kronik Toggle

Kisah Hasyim Asy'ari Diluncurkan

Jumat, 29 Oktober 2010 pukul 08:59:00
Kisah Hasyim Asy’ari Diluncurkan
Dyah Ratna Meta Novia,
Muhammad Akbar
JAKARTA – Novel yang berisi kisah tentang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari diluncurkan di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (28/10). Novel berjudul Bulan di Atas Ka’bah ini ditulis Damien Dematra. “Kami sangat menghargai penulisan ini,” kata Sekjen PBNU Iqbal Sullam dalam acara peluncuran.
Iqbal merasa sangat cocok kisah Kiai Hasyim Asy’ari dituliskan dalam sebuah novel. Ia beralasan Kiai Hasyim Asy’ari  bukan hanya tokoh NU, tetapi juga seorang pahlawan nasional yang luar biasa. “Beliau sangat peduli dengan kemerdekaan Indonesia dan nasib bangsa kita kala itu,” tuturnya.
Terlihat jelas dari peran Kiai Hasyim Asy’ari  dalam pembentukan tentara pembela tanah air dan Hisbullah untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.
Melalui peluncuran novel ini, sosok Kiai Hasyim Asy’ari menjadi teladan masyarakat. Termasuk dalam menyikapi perbedaan dalam beragama.
Caranya menghargai perbedaan dalam agama bisa terlihat dari persahabatannya dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. “Sudah selayaknya kita mencontoh persahabatan mereka,” ujar Iqbal. Ia menambahkan, hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan novel ini adalah jangan sampai menyimpang dari kebenaran.
Anggota DPR Lily Wahid menuturkan, Kiai Hasyim Asy’ari adalah inspirator perjuangan, yang memiliki kekuatan spiritual dan dakwah. Karena ilmunya yang mumpuni maka sang kiai pernah diminta mengajar agama di Masjidil Haram. Ia mengatakan, kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran ulama.
Lahirnya NU pada 1926 menjadi pertanda bangkitnya peran ulama dalam melawan penjajahan. “Kiai Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh yang mengobarkan revolusi jihad hingga terjadi peristiwa 10 Nopember yang kini dikenal sebagai hari pahlawan,” kata cucu Kiai Hasyim Asy’ari ini.
Damien mengatakan, kisah Kiai Hasyim Asy’ari ini akan diangkat ke layar lebar. Ia berharap, hal ini terwujud pada Januari tahun depan. “Ceritanya akan kita kembangkan dari novel. Yang pasti, konflik di filmnya akan sangat kuat karena saya akan mengangkatnya dari konflik kehidupan langsung,” katanya. ed: ferry kisihandi
http://koran.republika.co.id/koran/14/121980/Kisah_Hasyim_Asy_ari_Diluncurkan

JAKARTA – Novel yang berisi kisah tentang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asy’ari diluncurkan di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (28/10). Novel berjudul Bulan di Atas Ka’bah ini ditulis Damien Dematra. “Kami sangat menghargai penulisan ini,” kata Sekjen PBNU Iqbal Sullam dalam acara peluncuran.

Iqbal merasa sangat cocok kisah Kiai Hasyim Asy’ari dituliskan dalam sebuah novel. Ia beralasan Kiai Hasyim Asy’ari  bukan hanya tokoh NU, tetapi juga seorang pahlawan nasional yang luar biasa. “Beliau sangat peduli dengan kemerdekaan Indonesia dan nasib bangsa kita kala itu,” tuturnya.

Terlihat jelas dari peran Kiai Hasyim Asy’ari  dalam pembentukan tentara pembela tanah air dan Hisbullah untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Melalui peluncuran novel ini, sosok Kiai Hasyim Asy’ari menjadi teladan masyarakat. Termasuk dalam menyikapi perbedaan dalam beragama.

Caranya menghargai perbedaan dalam agama bisa terlihat dari persahabatannya dengan KH Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. “Sudah selayaknya kita mencontoh persahabatan mereka,” ujar Iqbal. Ia menambahkan, hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan novel ini adalah jangan sampai menyimpang dari kebenaran.

Anggota DPR Lily Wahid menuturkan, Kiai Hasyim Asy’ari adalah inspirator perjuangan, yang memiliki kekuatan spiritual dan dakwah. Karena ilmunya yang mumpuni maka sang kiai pernah diminta mengajar agama di Masjidil Haram. Ia mengatakan, kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran ulama.

Lahirnya NU pada 1926 menjadi pertanda bangkitnya peran ulama dalam melawan penjajahan. “Kiai Hasyim Asy’ari, salah satu tokoh yang mengobarkan revolusi jihad hingga terjadi peristiwa 10 Nopember yang kini dikenal sebagai hari pahlawan,” kata cucu Kiai Hasyim Asy’ari ini.

Damien mengatakan, kisah Kiai Hasyim Asy’ari ini akan diangkat ke layar lebar. Ia berharap, hal ini terwujud pada Januari tahun depan. “Ceritanya akan kita kembangkan dari novel. Yang pasti, konflik di filmnya akan sangat kuat karena saya akan mengangkatnya dari konflik kehidupan langsung,” katanya.

Sumber: Republika, 29 Oktober 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan