-->

Kronik Toggle

'Ibumi', Penerima Anugerah Dharmawangsa (Puisi)

AN Ismanto menerima Anugerah dari I Gde Ardika

AN Ismanto (Foto: M Hanif/IBOE-GIM)

“Ini adalah upaya kami untuk menunjukkan bahwa masa lalu yang berserakan dalam serat, dongeng, cerita-cerita rakyat Nusantara, bukan sesuatu yang mesti dilupakan, tapi bisa menjadi inspirasi untuk penciptaan puisi dalam pengucapan baru. Terimakasih atas penghargaan ini yag saya berdiri di sini hanya sebagai perwakilan karena kebetulan sekali saya hanya koordinator dari proses penulisan puisi dalam buku ini. Terimakasih kepada Yayasan Garuda Wisnu Kencana atas penghargaan ini,” demikian sekilatan ucapan AN Ismanto setelah menerima penghargaan yang diserahkan langsung Ketua Yayasan GWK I Gde Ardika (14/10) di Newseum, Jakarta. Dengan demikian, Yayasan GWK mengekalkan Ibumi sebagai KITABUKU.

Dan setelahnya, penyair Puisi Nusantara menunjukkan salah satu puisi Kisah Nusantara, “Pleidoi Malin Kundang” karya Indrian Koto, lewat sebuah deklamasi.

Dan inilah Ibumi:

Selama hampir dua tahun, tiga puluh seniman, penulis cerita, dan penyair bekerja untuk menciptakan seratus cerita, seratus puisi, dan seribu lukisan. Dan ketika akhirnya pekerjaan mereka selesai, mereka telah sampai di posisi baru, bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang luar biasa.

IBUMI adalah sepertiga bagian dari sebuah buku yang lebih besar, yakni perpaduan antara intuisi dan kesegaran bahasa para penyair, kefasihan berkisah para prosais, serta imajinasi  visual para perupa. Kerja ketiga jenis kreativitas itu yang disebut gerakan katarupa dengan mengail cerita rakyat, dongeng, legenda, pantun, epos, atau hikayat di Nusantara sebagai sumber inspirasinya.

Umumnya penyair yang terlibat dalam IBUMI berasal dari empat suku bangsa: Jawa, Madura, Bali, Sunda, dan Melayu. Ke-19 dari mereka disodorkan seratus cerita rakyat dari tujuh kawasan Nusantara yang disadur ulang penulis prosa dan divisualkan perupa dalam seribu lukisan: Sumatra, Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara, Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.

Kisah-kisah Nusantara itulah yang kemudian, tak hanya ditafsir dengan pengucapan puitik baru,  dengan menyodorkan kesegaran pengungkapan, tapi juga merevitalisasi dan memberi pemaknaan baru atas khasanah masa silam dalam 99 baris.

Atas upaya kolektifnya mengembangkan penulisan puisi yang bersandar pada cerita-cerita rakyat pada ungkapan puitik semasa, maka hari ini, Kamis, 14 Oktober 2010, Yayasan Garuda Wisnu Kencana dan Newseum, dengan bangga mempersembahkan Anugerah Dharmawangsa kepada IBUMI karya Penyair Nusantara yang diterbitkan Indonesia Buku. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan