-->

Tokoh Toggle

Harry A Poeze, Pengabadi Tan Malaka

Harry A Poeze, Pengabadi Tan Malaka
Pahlawan nasional Indonesia yang terlupakan, Tan Malaka, bagian dari kelompok kiri. Dia memilih jalannya sendiri selama perjuangan. Dia kerap berseberangan dengan tokoh nasional saat itu. Sebagian orang menilai sepak terjangnya di dunia politik cenderung menjauhi kekuasaan politik.
”Dia datang ke Indonesia dengan nama samaran setelah 20 tahun mengembara. Awalnya Tan Malaka berjuang sembunyi-sembunyi. Kemudian dia tampil di depan umum sebagai pemimpin gerakan radikal,” kata Direktur KITLV Harry A Poeze, Senin (17/11) di Universitas Negeri Medan saat peluncuran buku berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia.
Harry menceritakan, peran Tan Malaka kerap berseberangan dengan tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Amir Sjafroeddin. Dalam bukunya, Harry menulis, sepak terjang Datoek Tan Malaka di dunia politik dilakukan di Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik Indonesia (Pari) yang didirikan di Bangkok, dan Partai Murba yang didirikan pada tahun 1948.
Peran Tan Malaka di balik layar salah satunya ada pada rapat akbar Ikada di Jakarta. Harry menemukan foto yang merekam gambar Tan Malaka ada di belakang Soekarno.
Harry menulis buku ini melalui riset sejarah selama 10 tahun. Sebagian sumber sejarah ini berasal dari karya Tan Malaka sendiri. Pria kelahiran 1894 di Pandan Gadang, Sumatera Barat, ini baru kembali ke Indonesia dengan nama samaran, di antaranya Hussein dan Bayah, pada 1942.
Buku rencananya terbit dalam enam jilid dengan penerbitan dua jilid dalam setahun. Buku ini aslinya memang terlalu panjang setebal 2.000 halaman lebih.
Pengamat politik USU, Ridwan Rangkuti, mengatakan, sosok Tan Malaka merupakan pejuang ideolog terbaik Indonesia. Bahkan karyanya berjudul Madilog (materialisme, dialektika, logika) dia nilai sejajar dengan karya penulis hebat seperti Karl Max dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.
”Dia orang ketiga di dunia yang bisa menguraikan konsep sosialisme dengan baik,” katanya. Selain Madilog, salah satu karya Tan Malaka yang dinilai fenomenal adalah Massa Aksi.
Karya dan sepak terjang Tan Malaka seakan satu garis. Ide pergerakan dia praktikkan saat memobilisasi kaum buruh di Sumatera Timur. Kejadian ini, katanya, memaksa Pemerintah Hindia Belanda menyetujui sebagian tuntutan buruh pada 1920. Perannya di Sumatera Timur jejaknya masih terlihat hingga kini saat dia menjadi guru di kawasan perkebunan.
Korupsi sejarah
Buku ini juga mengulas pergulatan Tan Malaka dengan PKI. Peristiwa penting yang selanjutnya menjadi stigma negatif partai ini adalah pemberontakan Madiun 1948. Meski Tan Malaka tidak terlibat, stigma ini selama puluhan tahun menjadi alat politik penguasa menyingkirkan kaum kiri.
Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed Ichwan Azhari mengatakan, peranan komunis sebelum dan sesudah 1945 sangat berbeda. Menurut dia, komunis sebagai ideologi pergerakan memberikan kontribusi positif terhadap proses kemerdekaan Indonesia. Pemerintah, katanya, perlu meluruskan sejarah tentang hal ini.
”Studi tentang hal ini sebelum era kemerdekaan belum banyak. Yang banyak ditonjolkan pemerintah adalah sepak terjang mereka setelah kemerdekaan 1945,” katanya.
Ini membuat opini masyarakat tentang komunis menjadi versi pemerintah. Pendapat serupa disampaikan antropolog Unimed, Usman Pelly. ”Hanya separuh dari fakta sejarah Indonesia yang benar. Selebihnya tidak jelas. Banyak fakta sejarah yang dikorupsi oleh penguasa,” katanya.
Buku Harry merupakan sepenggal bukti sejarah nasional yang berharga. Bukan saja mengenai gambaran pejuang kiri, melainkan juga peristiwa yang melingkupinya selama perjuangan revolusi kemerdekaan.
Kuburan Tan Malaka: Ditawan Sebelum Akhirnya Dibunuh
Setelah hampir setengah bulan rasa penasaran berkecamuk, tepatnya usai press release yang dilakukan  sejarawan Belanda Harry A. Poeze yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) di Jakarta yang menjelaskan berdasarkan riset yang dilakukannya terkait kematian Tan Malaka, menyebutkan Tan dibunuh di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, akhirnya Imam Mubarok RADAR Surabaya mendapatkan titik terang tentang lokasi kejadian eksekusi sang Pahlawan Nasional  itu. Keputusasaan sempat berkecamuk dalam otak  saya ketika gagal mendapatkan informasi seperti apa yang disampaikan  Harry A Poeze tentang TAN MALAKA di Desa Selopanggung. Namun berkat kesabaran itulah RADAR Surabaya berhasil bertemu dengan Syamsuri (43) mantan Kepala Desa Selopanggung (1990-1998).
Atas jasanya itulah RADAR Surabaya diajak bertemu dengan Tolu (84) warga Selopanggung yang berada di lembah bawah Gunung Wilis yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kota Kediri.Tolu yang sudah agak berkurang pendengaranya itu, kaget ketika RADAR Surabaya datang bertanya tentang rumah kakeknya yang dijadikan tempat persembunyian Brigade S saat agresi Belanda kedua terjadi sekitar tahun 1948.
Dan lebih kaget lagi ketika disebutkan nama TAN MALAKA.Tolu terdiam sejenak untuk mengambil nafas, kemudian dia menghisap rokok tembakau yang dibungkus daun  jagung dalam-dalam. Sambil mengeluarkan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya kemudian ia memerintahkan kepada anak perempuanya untuk membuatkan kopi kepada RADAR Surabaya sebagai bentuk rasa “gupuh” (repot) dan perwujudan penghormatan pada tamu.
Setelah kopi dihidangkan, kemudian ia bercerita,” Kala itu saya masih berumur sekitar 10 tahun. Saya tinggal bersama kakek saya, Mbah Yasir namannya.  Rumah kakek saya itulah yang ditempati pasukan TRI yang melarikan diri dari kejaran Belanda.,” katanya sambil menikmati rokoknya.
Ditambahkan Tolu, dari para anggota TRI tersebut dia masih ingat nama-nama pentolannya,” Mereka adalah priyayi yang berpakaian bagus, berpendidikan, membawa senjata, membawa buku dan juga mesin ketik. Mereka antara lain Letkol Surahmat, Letnan Dua Sukotjo,Soengkono, Sakur, Djojo dan Dayat. Merekalah para komandan yang membawahi kurang lebih 50 pasukan yang saat itu berjuang melawan Belanda,” imbuhnya.
Disebut nama Soekotjo, Soerahmat,dan juga Soengkono RADAR Surabaya teringat akan nama itu yakni sama persis dengan riset Harry A. Poeze yang menyatakan Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari 1949 oleh Brigade S atas perintah Letnan Dua Sukotjo . Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda kedua  itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigade-nya Letkol Soerahmat.
Hal ini juga diperkuat dalam buku Otobiografi Letkol Soerahmat (Komandan Brigade S, tinggal di Kediri) yang ditulis salah satu putranya Ir Suyudi memang menyebutkan bahwa Brigade Sikatan atau yang lebih dikenal dengan Brigade S adalah yang menembak mati Tan Malaka di Kediri pada 21 Pebruari 1949.
Penangkapan hingga penembakan mati Tan Malaka oleh Briagade S atas perintah Petinggi militer di Jawa Timur  menilai seruan Tan Malaka yang menilai penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya dianggap membahayakan stabilitas.
Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje Nganjuk dan akhirnya dieksekusi di Selopanggung Kediri.Tentang TAN MALAKA sendiri, Tolu saksi sejarah yang masih hidup mengaku antara ingat dan tidak. Untuk mengembalikan memori ingatanya RADAR Surabaya mencoba membukakan gambar wajah TAN MALAKA. Dari situlah kemudian dia kembali teringat.“Orang ini adalah orang yang menjadi tawanan TRI, dia diamankan khusus. Waktu itu yang menjaga adalah dibawah pengawasan Pak Dayat langsung. Entah bagaimana ceritanya ketika itu setelah ditawan saya mengetahui dia meninggal yakni tepatnya sebelum akhirnya pasukan TRI meninggalkan desa kami sekitar awal tahun 1949,” jelasnya.
Disoal dimana lokasi si tawanan itu meninggal dunia dan kemudian dikuburkan, Tolu terdiam. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia keluar rumah dan menunjukkan pohon petai di depan bekas rumah kakeknya Yasir yang kini sudah rata dengan tanah.
“Disanalah TAN Malaka hilang, itu yang hanya saya tahu, ini juga saya katakan pada orang Belanda Harry A. Poeze yang datang menemui saya sepuluh tahun lalu. Kemudian oleh Harry tempat tersebut disuruh menandai dengan tulisan “ Disinilah Tempat Hilangnya Datuk Ibrahim/TAN MALAKA,” katannya.
Sedikit mengingatkan Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Kediri Jawa Timur, 21 Februari 1949  adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.Di usianya yang masih 16 tahun tepatnya tahun 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda. *
Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda. PerjuanganPada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda.
Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat.
Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain).Kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan. Ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin.
Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.Perjaungan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.
Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia.
Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu.
Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia“.
Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.
Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….” Inilah bukti bahwa TAN MALAKA bukan lelaki sembarangan yang diakui keberadaanya baik di Indonesia maupun diluar negeri. Berjuang tanpa pamrih bagi kemerdekaan merah putih , meski akhirnya harus tewas ditangan bangsanya sendiri.Setelah dalam ceritanya yang panjang lebar tentang pasukan Brigade Sikatan, tempat persembunyian dari kejaran penjajah Belanda.
Tolu (84) lelaki yang menjadi saksi kunci tentang misteri kematian TAN MALAKA warga Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri kembali bercerita kepada Imam Mubarok wartawan RADAR Surabaya.Meski agak bersusah payah untuk sekedar mengingat kejadian 58 tahun silam, Tolu tergolong lelaki cerdas. Dengan bantuan nama-nama yang dibawa RADAR Surabaya yakni tentang Brigade S dan foto-foto pasukan Brigade S. Tolu kembali teringat tentang  Sutan Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan TAN Malaka lelaki kelahiran  Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 itu
“Setelah Pak Dayat menyembunyikan tawanannya yang akhirnya tewas, yang saya duga adalah Sutan Ibrahim. Kemudian pasukan Brigade S meninggalkan Desa Selopanggung setelah setahun  bersembunyi. Sebelum meninggalkan desa kami pasukan membakar berkas yang dibawa. Seingat saya ada ratusan buku yang dibakar saat itu. Bahkan sangking banyaknya buku itu tidak habis terbakar selama satu minggu,”  kata Tolu.
Lalu kemana tawanan Dayat yang kemudian mati itu dikubur setalah pasukan TRI meninggalkan desa” Saya tidak tahu itu sebab saat itu kami orang desa hanyalah orang suruhan dan hanya bias membantu yang bisa kami Bantu. Misal mengantarkan surat, membuat makanan dan menjaga kerahasiaan keberadaan para anggota TRI ini dari musuh,” tambahnya.
Menurut Tolu tawanan yang tewas terbunuh itu tentunya tidak akan dikubur jauh dari desanya. Kemudian dia teringat akan kuburan Mbah Selopanggung orang yang dipercaya kali pertama membabat hutan dan menghuni Desa Selopanggung dan memberikan nama Selopanggung yang berada di dekat batu besar yang tepat berada di belakang rumahnya.
“Kira-kira 50 meter dari lokasi batu besar yang oleh warga setempat diyakini sebagai tempat wingit atau angker ada makam Mbah Selopanggung. Ada dua pohon kamboja tua satu diyakini warga merupakan nisan makam Mbah Selopanggung. Dan ada satu lagi yang usianya dibawah pohon kamboja yang ada di makam Mbah Selopanggung, mungkin itulah makamnya” ungkapnya.
Karena usianya yang lanjut dan kesulitan jalan, akhirnya Tolu memerintahkan Syamsuri mantan Kepala Desa Selopanggung dan Solikin tokoh pemuda setampat untuk mengantarkan RADAR Surabaya ke makam yang dimaksud.Setelah melakukan perjalanan melalui jalan batu yang turun naik di kaki Gunung Wilis kurang lebih 500 meter, akhirnya sampailah di makam yang dimaksud.
Dari kejauhan RADAR Surabaya melihat ada makam dalam sebuah lembah yang terlihat angker. Dengan mengucap Basmallah akhirnya kami turun dengan dipandu Syamsuri. RADAR Surabaya mengamati satu per satu makam tua yang ada tempat tersebut , memang benar apa yang diceritakan Tolu ada dua pohon kamboja tua ditempat tersebut.“ Itu pohonya yang paling tua adalah makam Mbah Selopanggung orang yang pertama kali membuka daerah ini. Dan ini adalah makam misteri yang yang dimaksudkan Pak Tolu itu,” kata Syamsuri menunjukkan makam yang dimaksud yang hanya berjarak tiga meter dari makam Mbah Selopanggung.
Dalam hati kecil saya berkata, sangat dimungkinkan makam tersebut adalah makam TAN MALAKA. Sebab jika ditarik garis lurus dengan tempat tinggal Mbah Yasir yang digunakan tempat tinggal pasukan Brigade S, lokasi makam tersebut  pas sekali.
Dan disitulah patut diduga makam TAN MALAKA setalah ditembak mati oleh Letnan Dua Sukotjo yang juga mantan Walikota Surabaya itu.
“Jaman dulu kan belum ada nisan seperti sekarang ini, orang dulu hanya mengingat lokasinya dan biasanya ditandai dengan pohon kamboja (adinium jawa),” kata Syamsuri.Keberadaan makam misteri tersebut juga dibenarkan Sukoto (87) warga Selopanggung seangkatan Tolu yang pernah menjadi kurir Brigade Sikatan,” Makam tua hanya satu yakni makam Mbah Selopanggung, seingat saya makam kedua itu muncul setelah pasukan TRI meninggalkan desa kami,” kata Sukoto yang ditemui RADAR Surabaya usai mendatangi makam misteri di lembah atau yang lebih dikenal di Selopanggung dengan nama makam ledokan itu.
Setelah mendapat keterangan dari dua orang yang paham ketika tahun-tahun tersebut. RADAR Surabaya kemudian berdiskusi kecil dengan Syamsuri dan kawan-kawan tentang misteri TAN MALAKA yang namannya tetap harum hingga sekarang sebelum akhirnya kembali ke Kota Kediri untuk menulis kisah misteri kematian TAN MALAKA. Hanya ada satu cara yang bisa digunakan untuk membuktikan itu semua adalah test DNA setalah makam misteri itu dibongkar, namun semua itu masih menjadi misteri dan biarlah TAN MALAKA menghilang namun namannya tetap dikenang. Wallahua’lam.
Sumber: Berita Kediri, 16 Agustus 2007, “Mengungkap Kematian TAN MALAKA di Selopanggung Kediri (Bagian 1 dan 2)”; Kompas, 18 November 2008, “Tan Malaka Pejuang Sejarah Sebelum Kemerdekaan Perlu Diluruskan”

harry a poezePahlawan nasional Indonesia yang terlupakan, Tan Malaka, bagian dari kelompok kiri. Dia memilih jalannya sendiri selama perjuangan. Dia kerap berseberangan dengan tokoh nasional saat itu. Sebagian orang menilai sepak terjangnya di dunia politik cenderung menjauhi kekuasaan politik.

”Dia datang ke Indonesia dengan nama samaran setelah 20 tahun mengembara. Awalnya Tan Malaka berjuang sembunyi-sembunyi. Kemudian dia tampil di depan umum sebagai pemimpin gerakan radikal,” kata Direktur KITLV Harry A Poeze, Senin (17/11) di Universitas Negeri Medan saat peluncuran buku berjudul Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia.

Harry menceritakan, peran Tan Malaka kerap berseberangan dengan tokoh nasional seperti Soekarno, Hatta, Syahrir, dan Amir Sjafroeddin. Dalam bukunya, Harry menulis, sepak terjang Datoek Tan Malaka di dunia politik dilakukan di Partai Komunis Indonesia (PKI), Partai Republik Indonesia (Pari) yang didirikan di Bangkok, dan Partai Murba yang didirikan pada tahun 1948.

Peran Tan Malaka di balik layar salah satunya ada pada rapat akbar Ikada di Jakarta. Harry menemukan foto yang merekam gambar Tan Malaka ada di belakang Soekarno.

Harry menulis buku ini melalui riset sejarah selama 10 tahun. Sebagian sumber sejarah ini berasal dari karya Tan Malaka sendiri. Pria kelahiran 1894 di Pandan Gadang, Sumatera Barat, ini baru kembali ke Indonesia dengan nama samaran, di antaranya Hussein dan Bayah, pada 1942.

Buku rencananya terbit dalam enam jilid dengan penerbitan dua jilid dalam setahun. Buku ini aslinya memang terlalu panjang setebal 2.000 halaman lebih.

Pengamat politik USU, Ridwan Rangkuti, mengatakan, sosok Tan Malaka merupakan pejuang ideolog terbaik Indonesia. Bahkan karyanya berjudul Madilog (materialisme, dialektika, logika) dia nilai sejajar dengan karya penulis hebat seperti Karl Max dan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.

”Dia orang ketiga di dunia yang bisa menguraikan konsep sosialisme dengan baik,” katanya. Selain Madilog, salah satu karya Tan Malaka yang dinilai fenomenal adalah Massa Aksi.

Karya dan sepak terjang Tan Malaka seakan satu garis. Ide pergerakan dia praktikkan saat memobilisasi kaum buruh di Sumatera Timur. Kejadian ini, katanya, memaksa Pemerintah Hindia Belanda menyetujui sebagian tuntutan buruh pada 1920. Perannya di Sumatera Timur jejaknya masih terlihat hingga kini saat dia menjadi guru di kawasan perkebunan.

Korupsi sejarah

Buku ini juga mengulas pergulatan Tan Malaka dengan PKI. Peristiwa penting yang selanjutnya menjadi stigma negatif partai ini adalah pemberontakan Madiun 1948. Meski Tan Malaka tidak terlibat, stigma ini selama puluhan tahun menjadi alat politik penguasa menyingkirkan kaum kiri.

Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed Ichwan Azhari mengatakan, peranan komunis sebelum dan sesudah 1945 sangat berbeda. Menurut dia, komunis sebagai ideologi pergerakan memberikan kontribusi positif terhadap proses kemerdekaan Indonesia. Pemerintah, katanya, perlu meluruskan sejarah tentang hal ini.

”Studi tentang hal ini sebelum era kemerdekaan belum banyak. Yang banyak ditonjolkan pemerintah adalah sepak terjang mereka setelah kemerdekaan 1945,” katanya.

Ini membuat opini masyarakat tentang komunis menjadi versi pemerintah. Pendapat serupa disampaikan antropolog Unimed, Usman Pelly. ”Hanya separuh dari fakta sejarah Indonesia yang benar. Selebihnya tidak jelas. Banyak fakta sejarah yang dikorupsi oleh penguasa,” katanya.

Buku Harry merupakan sepenggal bukti sejarah nasional yang berharga. Bukan saja mengenai gambaran pejuang kiri, melainkan juga peristiwa yang melingkupinya selama perjuangan revolusi kemerdekaan.

Kuburan Tan Malaka: Ditawan Sebelum Akhirnya Dibunuh

Setelah hampir setengah bulan rasa penasaran berkecamuk, tepatnya usai press release yang dilakukan  sejarawan Belanda Harry A. Poeze yang yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara) di Jakarta yang menjelaskan berdasarkan riset yang dilakukannya terkait kematian Tan Malaka, menyebutkan Tan dibunuh di Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri, akhirnya Imam Mubarok RADAR Surabaya mendapatkan titik terang tentang lokasi kejadian eksekusi sang Pahlawan Nasional  itu. Keputusasaan sempat berkecamuk dalam otak  saya ketika gagal mendapatkan informasi seperti apa yang disampaikan  Harry A Poeze tentang TAN MALAKA di Desa Selopanggung. Namun berkat kesabaran itulah RADAR Surabaya berhasil bertemu dengan Syamsuri (43) mantan Kepala Desa Selopanggung (1990-1998).

Atas jasanya itulah RADAR Surabaya diajak bertemu dengan Tolu (84) warga Selopanggung yang berada di lembah bawah Gunung Wilis yang berjarak kurang lebih 30 kilometer dari Kota Kediri.Tolu yang sudah agak berkurang pendengaranya itu, kaget ketika RADAR Surabaya datang bertanya tentang rumah kakeknya yang dijadikan tempat persembunyian Brigade S saat agresi Belanda kedua terjadi sekitar tahun 1948.

Dan lebih kaget lagi ketika disebutkan nama TAN MALAKA.Tolu terdiam sejenak untuk mengambil nafas, kemudian dia menghisap rokok tembakau yang dibungkus daun  jagung dalam-dalam. Sambil mengeluarkan asap yang keluar dari hidung dan mulutnya kemudian ia memerintahkan kepada anak perempuanya untuk membuatkan kopi kepada RADAR Surabaya sebagai bentuk rasa “gupuh” (repot) dan perwujudan penghormatan pada tamu.

Setelah kopi dihidangkan, kemudian ia bercerita,” Kala itu saya masih berumur sekitar 10 tahun. Saya tinggal bersama kakek saya, Mbah Yasir namannya.  Rumah kakek saya itulah yang ditempati pasukan TRI yang melarikan diri dari kejaran Belanda.,” katanya sambil menikmati rokoknya.

Ditambahkan Tolu, dari para anggota TRI tersebut dia masih ingat nama-nama pentolannya,” Mereka adalah priyayi yang berpakaian bagus, berpendidikan, membawa senjata, membawa buku dan juga mesin ketik. Mereka antara lain Letkol Surahmat, Letnan Dua Sukotjo,Soengkono, Sakur, Djojo dan Dayat. Merekalah para komandan yang membawahi kurang lebih 50 pasukan yang saat itu berjuang melawan Belanda,” imbuhnya.

Disebut nama Soekotjo, Soerahmat,dan juga Soengkono RADAR Surabaya teringat akan nama itu yakni sama persis dengan riset Harry A. Poeze yang menyatakan Tan Malaka ditembak mati tanggal 21 Februari 1949 oleh Brigade S atas perintah Letnan Dua Sukotjo . Eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda kedua  itu didasari surat perintah Panglima Daerah Militer Brawijaya Soengkono dan Komandan Brigade-nya Letkol Soerahmat.

Hal ini juga diperkuat dalam buku Otobiografi Letkol Soerahmat (Komandan Brigade S, tinggal di Kediri) yang ditulis salah satu putranya Ir Suyudi memang menyebutkan bahwa Brigade Sikatan atau yang lebih dikenal dengan Brigade S adalah yang menembak mati Tan Malaka di Kediri pada 21 Pebruari 1949.

Penangkapan hingga penembakan mati Tan Malaka oleh Briagade S atas perintah Petinggi militer di Jawa Timur  menilai seruan Tan Malaka yang menilai penahanan Bung Karno dan Bung Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya dianggap membahayakan stabilitas.

Mereka pun memerintahkan penangkapan Tan Malaka yang sempat ditahan di Desa Patje Nganjuk dan akhirnya dieksekusi di Selopanggung Kediri.Tentang TAN MALAKA sendiri, Tolu saksi sejarah yang masih hidup mengaku antara ingat dan tidak. Untuk mengembalikan memori ingatanya RADAR Surabaya mencoba membukakan gambar wajah TAN MALAKA. Dari situlah kemudian dia kembali teringat.“Orang ini adalah orang yang menjadi tawanan TRI, dia diamankan khusus. Waktu itu yang menjaga adalah dibawah pengawasan Pak Dayat langsung. Entah bagaimana ceritanya ketika itu setelah ditawan saya mengetahui dia meninggal yakni tepatnya sebelum akhirnya pasukan TRI meninggalkan desa kami sekitar awal tahun 1949,” jelasnya.

Disoal dimana lokasi si tawanan itu meninggal dunia dan kemudian dikuburkan, Tolu terdiam. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian dia keluar rumah dan menunjukkan pohon petai di depan bekas rumah kakeknya Yasir yang kini sudah rata dengan tanah.

“Disanalah TAN Malaka hilang, itu yang hanya saya tahu, ini juga saya katakan pada orang Belanda Harry A. Poeze yang datang menemui saya sepuluh tahun lalu. Kemudian oleh Harry tempat tersebut disuruh menandai dengan tulisan “ Disinilah Tempat Hilangnya Datuk Ibrahim/TAN MALAKA,” katannya.

Sedikit mengingatkan Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka (lahir Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 – wafat di Kediri Jawa Timur, 21 Februari 1949  adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.Di usianya yang masih 16 tahun tepatnya tahun 1912, Tan Malaka dikirim ke Belanda. Tahun 1919 ia kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru disebuah perkebunan di Deli. Ketimpangan sosial yang dilihatnya di lingkungan perkebunan, antara kaum buruh dan tuan tanah menimbulkan semangat radikal pada diri Tan Malaka muda.

Tahun 1921, ia pergi ke Semarang dan bertemu dengan Semaun dan mulai terjun ke kancah politik Saat kongres PKI 24-25 Desember 1921, Tan Malaka diangkat sebagai pimpinan partai. Januari 1922 ia ditangkap dan dibuang ke Kupang. Pada Maret 1922 Tan Malaka diusir dari Indonesia dan mengembara ke Berlin, Moskwa dan Belanda. PerjuanganPada tahun 1921 Tan Malaka telah terjun ke dalam gelanggang politik. Dengan semangat yang berkobar dari sebuah gubuk miskin, Tan Malaka banyak mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Pemuda cerdas ini banyak juga berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda.

Selain itu juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat.

Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.Melihat hal itu Tan Malaka mempunyai niat untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Juga dengan alasan pertama: memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain).Kedua, memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan. Ketiga, untuk memperbaiki nasib kaum miskin.

Untuk mendirikan sekolah itu, ruang rapat SI Semarang diubah menjadi sekolah. Dan sekolah itu bertumbuh sangat cepat hingga sekolah itu semakin lama semakin besar.Perjaungan Tan Malaka tidaklah hanya sebatas pada usaha mencerdaskan rakyat Indonesia pada saat itu, tapi juga pada gerakan-gerakan dalam melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Seperti dikatakan Tan Malaka pada pidatonya di depan para buruh “Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner”.Pergulatan Tan Malaka dengan partai komunis di dunia sangatlah jelas. Ia tidak hanya mempunyai hak untuk memberi usul-usul dan dan mengadakan kritik tetapi juga hak untuk mengucapkan vetonya atas aksi-aksi yang dilakukan partai komunis di daerah kerjanya. Tan Malaka juga harus mengadakan pengawasan supaya anggaran dasar, program dan taktik dari Komintern (Komunis Internasional) dan Profintern seperti yang telah ditentukan di kongres-kongres Moskwa diikuti oleh kaum komunis dunia.

Dengan demikian tanggung-jawabnya sebagai wakil Komintern lebih berat dari keanggotaannya di PKI.Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu.

Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.Tan Malaka yang berada di luar negeri pada waktu itu, berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok. Di ibu kota Thailand itu, bersama Soebakat dan Djamaludddin Tamin, Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia“.

Itu ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Terbitnya buku itu pertama kali di Kowloon, Hong Kong, April 1925.

Prof. Mohammad Yamin, dalam karya tulisnya “Tan Malaka Bapak Republik Indonesia” memberi komentar: “Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah….” Inilah bukti bahwa TAN MALAKA bukan lelaki sembarangan yang diakui keberadaanya baik di Indonesia maupun diluar negeri. Berjuang tanpa pamrih bagi kemerdekaan merah putih , meski akhirnya harus tewas ditangan bangsanya sendiri.Setelah dalam ceritanya yang panjang lebar tentang pasukan Brigade Sikatan, tempat persembunyian dari kejaran penjajah Belanda.

Tolu (84) lelaki yang menjadi saksi kunci tentang misteri kematian TAN MALAKA warga Desa Selopanggung Kecamatan Semen Kabupaten Kediri kembali bercerita kepada Imam Mubarok wartawan RADAR Surabaya.Meski agak bersusah payah untuk sekedar mengingat kejadian 58 tahun silam, Tolu tergolong lelaki cerdas. Dengan bantuan nama-nama yang dibawa RADAR Surabaya yakni tentang Brigade S dan foto-foto pasukan Brigade S. Tolu kembali teringat tentang  Sutan Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan TAN Malaka lelaki kelahiran  Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 itu

“Setelah Pak Dayat menyembunyikan tawanannya yang akhirnya tewas, yang saya duga adalah Sutan Ibrahim. Kemudian pasukan Brigade S meninggalkan Desa Selopanggung setelah setahun  bersembunyi. Sebelum meninggalkan desa kami pasukan membakar berkas yang dibawa. Seingat saya ada ratusan buku yang dibakar saat itu. Bahkan sangking banyaknya buku itu tidak habis terbakar selama satu minggu,”  kata Tolu.

Lalu kemana tawanan Dayat yang kemudian mati itu dikubur setalah pasukan TRI meninggalkan desa” Saya tidak tahu itu sebab saat itu kami orang desa hanyalah orang suruhan dan hanya bias membantu yang bisa kami Bantu. Misal mengantarkan surat, membuat makanan dan menjaga kerahasiaan keberadaan para anggota TRI ini dari musuh,” tambahnya.

Menurut Tolu tawanan yang tewas terbunuh itu tentunya tidak akan dikubur jauh dari desanya. Kemudian dia teringat akan kuburan Mbah Selopanggung orang yang dipercaya kali pertama membabat hutan dan menghuni Desa Selopanggung dan memberikan nama Selopanggung yang berada di dekat batu besar yang tepat berada di belakang rumahnya.

“Kira-kira 50 meter dari lokasi batu besar yang oleh warga setempat diyakini sebagai tempat wingit atau angker ada makam Mbah Selopanggung. Ada dua pohon kamboja tua satu diyakini warga merupakan nisan makam Mbah Selopanggung. Dan ada satu lagi yang usianya dibawah pohon kamboja yang ada di makam Mbah Selopanggung, mungkin itulah makamnya” ungkapnya.

Karena usianya yang lanjut dan kesulitan jalan, akhirnya Tolu memerintahkan Syamsuri mantan Kepala Desa Selopanggung dan Solikin tokoh pemuda setampat untuk mengantarkan RADAR Surabaya ke makam yang dimaksud.Setelah melakukan perjalanan melalui jalan batu yang turun naik di kaki Gunung Wilis kurang lebih 500 meter, akhirnya sampailah di makam yang dimaksud.

Dari kejauhan RADAR Surabaya melihat ada makam dalam sebuah lembah yang terlihat angker. Dengan mengucap Basmallah akhirnya kami turun dengan dipandu Syamsuri. RADAR Surabaya mengamati satu per satu makam tua yang ada tempat tersebut , memang benar apa yang diceritakan Tolu ada dua pohon kamboja tua ditempat tersebut.“ Itu pohonya yang paling tua adalah makam Mbah Selopanggung orang yang pertama kali membuka daerah ini. Dan ini adalah makam misteri yang yang dimaksudkan Pak Tolu itu,” kata Syamsuri menunjukkan makam yang dimaksud yang hanya berjarak tiga meter dari makam Mbah Selopanggung.

Dalam hati kecil saya berkata, sangat dimungkinkan makam tersebut adalah makam TAN MALAKA. Sebab jika ditarik garis lurus dengan tempat tinggal Mbah Yasir yang digunakan tempat tinggal pasukan Brigade S, lokasi makam tersebut  pas sekali.

Dan disitulah patut diduga makam TAN MALAKA setalah ditembak mati oleh Letnan Dua Sukotjo yang juga mantan Walikota Surabaya itu.

“Jaman dulu kan belum ada nisan seperti sekarang ini, orang dulu hanya mengingat lokasinya dan biasanya ditandai dengan pohon kamboja (adinium jawa),” kata Syamsuri.Keberadaan makam misteri tersebut juga dibenarkan Sukoto (87) warga Selopanggung seangkatan Tolu yang pernah menjadi kurir Brigade Sikatan,” Makam tua hanya satu yakni makam Mbah Selopanggung, seingat saya makam kedua itu muncul setelah pasukan TRI meninggalkan desa kami,” kata Sukoto yang ditemui RADAR Surabaya usai mendatangi makam misteri di lembah atau yang lebih dikenal di Selopanggung dengan nama makam ledokan itu.

Setelah mendapat keterangan dari dua orang yang paham ketika tahun-tahun tersebut. RADAR Surabaya kemudian berdiskusi kecil dengan Syamsuri dan kawan-kawan tentang misteri TAN MALAKA yang namannya tetap harum hingga sekarang sebelum akhirnya kembali ke Kota Kediri untuk menulis kisah misteri kematian TAN MALAKA. Hanya ada satu cara yang bisa digunakan untuk membuktikan itu semua adalah test DNA setalah makam misteri itu dibongkar, namun semua itu masih menjadi misteri dan biarlah TAN MALAKA menghilang namun namannya tetap dikenang. Wallahua’lam.

Sumber: Berita Kediri, 16 Agustus 2007, “Mengungkap Kematian TAN MALAKA di Selopanggung Kediri (Bagian 1 dan 2)”; Kompas, 18 November 2008, “Tan Malaka Pejuang Sejarah Sebelum Kemerdekaan Perlu Diluruskan”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan