-->

Kronik Toggle

Festival Kalangwan dan Peneguhan Hari Aksara 14 Oktober

“Duli baginda, Dharmawangsa Teguh Anantawikramotunggadewa, beginilah sejauh saya ingat. Kita mulai membaca cerita ini pada hari ke-15 bulan gelap dalam bulan Asuji; harinya tungle, kaliwon, Rabu, pada waktu Pahang dalam tahun 918 penanggalan Saka. Dan sekarang ialah mawulu, wage, Kamis dalam wuku Madangkungan, pada hari ke-14 paro petang dalam bulan Karttika. Jadi waktunya genap satu bulan kurang satu hari. Pada hari kelima Baginda tidak menitahkan diadakannya suatu pertemuan, karena Baginda terhalang oleh urusan lain. Menterjemahkan cerita ini kedalam bahasa Jawa kuno minta waktu yang cukup banyak. Duli mengharapkan, agar pembawaaan tidak melampaui kesabaran Baginda dan tidak dianggap terlalu panjang.”

Kutipan akhir yang terselip dalam Wirataparwa, satu dari serangkaian parwa-parwa yang diterjemahkan secara besar-besaran pada akhir abad kesepuluh, menandai munculnya masa pencerahan peradaban Nusantara. Kisah-kisah Mahabharata dalam bahasa Sanskerta diterjemahkan secara sistematis, terencana, dan bertujuan ke bahasa Jawa kuno untuk dibacakan secara berurutan dalam perjamuan di alun-alun Kediri.

Para kawi, raja, dan rakyat untuk pertama kalinya duduk bersama bermalam-malam sejak 14 Oktober hingga 12 November 996 yang diikat dalam perayaan bersama mendengarkan naskah dibacakan, mengolah bahasa, dan memperkaya budi.

Peristiwa bersejarah yang berlangsung seribu tahun silam itu yang ingin disuguhkan kembali dalam Festival Kalangwan dalam konteks masyarakat kontemporer Indonesia oleh Yayasan Garuda Wisnu Kencana.

Acara yang dibuka pada 14 Oktober 2010 di Newseum Indonesia, Jakarta Pusat, dan berlangsung sebulan kurang sehari itu, menyuguhkan serangkaian acara. Antara lain pemberian Anugerah Dharmawangsa, simposium, lokakarya, pameran, hingga pertunjukan seni.

“Selain pameran lukisan Negarakrtagama, juga ditampilkan musik kakawin dari Ayu Laksmi, Cok Sawitri, dan Dayu Ani dari Jawa-Bali maupun Tari Pinasthi dan Dian Islami dari Sunda. Dan tentu saja kita meneguhkan 14 Oktober yang terjadi serbu tahun lampau di Kediri itu sebagai Hari Aksara Nusantara,” kata Taufik Rahzen di Jakarta (12/10).

Menurutnya, apa yang dilakukan hari ini atau seribu tahun silam, ingin meneguhkan apa yang dikerjakan Dharmawangsa Teguh di abad ke-10 yang bisa ditandai sebagai tonggak renaisans pertama peradaban Nusantara.

Di masa ini sedikit sekali ditemukan prasasti batu. Medium penulisan banyak memakai lontar yang bisa dipahami secara baru bagaimana tradisi tulis digunakan secara kolektif.

Di masa inilah, lanjut Taufik, lahir para kawi yang nama-namanya masih kita warisi hingga kini. Ada Mpu Kuturan yang memberi dasar pijakan penataan Bali dengan kampung Adat yang masih terlihat hingga saat ini, Mpu Kanwa yang melahirkan kisah Arjuna Wiwaha, Mpu Baradah, dan seterusnya.

Renaisans yang muncul pada masa dinasti Dharmawangsa Teguh dan satu generasi setelahnya itu mirip dengan renaisans Eropa yang berlangsung dan dikerjakan pada masa dinasti Medisi di Florence, Italia, di akhir abad 14 M. Antara lain dinasti ini memunculkan sosok-sosok seperti Michelangelo (1475-1564), Leonardo da Vinci (1452-1519), hingga Galileo Galilei yang merupakan tokoh-tokoh penanda Renaisans Eropa.

“Ciri yang memberikan kesamaan itu antara lain, memiliki perhatian pada sastra klasik, mencintai keindahan, memperjuangkan kedaulatan manusia dan pemberian otonomi khusus kepada kawasan-kawasan,” kata Taufik. Dan kedua dinasti ini juga, lanjut Taufik, sama-sama berakhir dengan tragis. Pada 1016, Dharmawangsa Teguh dibunuh sekeluarga, kratonnya dibakar, dan manuskrip-manuskrip terbinasakan serta. Sementara itu, pada 1478, sebuah konspirasi berkomplot hendak membunuh Lorenzo de’ Medici (1449-1492) dan saudaranya Giuliano. Yang paling terkenang tentu saja adalah ketika Galileo Galilei menghadapi meja pancungan.

Anugerah Dharmawangsa

Dalam Festival Kalangwan ini juga Garuda Wisnu Kencana menganugerahkan penghargaan Anugerah Dharmawangsa kepada karya sastra atau buku yang melakukan penjelajahan kreativitas dengan bersandar pada kisah atau serat babad lampau dengan bahasa pengungkapan masa kini.

Untuk Prosa, Anugerah Dharmawangsa diberikan kepada Sutasoma karya Cok Sawitri yang merekam kembali teks abad ke-13 dengan merekonstruksi ulang bagaimana moralitas kekuasaan bekerja dalam bentuk pengungkapan novel kontemporer.

Sementara kategori Puisi diberikan kepada Ibumi: Kisah-Kisah Negeri di Bawah Angin yang merupakan upaya bersama yang dikerjakan kelompok Penyair Nusantara dengan mengembangkan penulisan puisi yang bersandar pada cerita-cerita rakyat pada ungkapan puitik semasa.

Adapun bidang Kritik atau Esei, Anugerah Dharmawangsa diserahkan kepada Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia. Buku yang disunting Henri Chambert-Loir ini dianugerahi lantaran upayanya lewat penjelajahan ekstensif atas sejarah praktik penerjemahan dan penyaduran naskah di Nusantara yang bukan saja mutu kajian, melainkan upaya kolaboratif yang dilakukannya. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan