-->

Resensi Toggle

Elegy | Isabel Coitex | 2007 (Film-Buku)

Elegy: Kisah Prof Tua yg Malang

Oleh Muhidin M Dahlan

elegyELEGY

Sutradara: Isabel Coitex; Pemain: Ben Kingsley dan Penelope Cruz; Tahun: 2007 (diadaptasi dari novel Philip Roth, The Dying Animal)

Matikan HP. Dan bersantailah sejenak dengan menonton film sendirian. Di rumah yang semua-muanya putih. Seperti rumah terakhir yang menakjubkan. Kali ini giliran film bertitel: Elegy. Kisah seorang tua yang merebut sisa akhir hidupnya dengan buku, sastra, dan kelas mengajar.

Terlalu banyak seks dalam film ini. Tapi yang terpenting adalah sikap Prof David Kepesh atas dunia tua, sebagaimana kata Tolstoy: “Kebahagiaan besar seorang manusia adalah masa tua.” Nyaris nukilan memo Tolstoy itu berseberangan dengan sikap keras kepala filsuf Nietzche yang bilang: “Hidup termalang dan terlaknat justru umur yang melesat sampai tua.”

Mula-mula–dan akhirnya ini yang menguasai nyaris sepanjang film–adalah pengejaran atas intimasi. Ditemukannya tambatan itu pada diri mahasiswinya yang seksi, cerdas, dan menjanjikan: Consuela Castillo. Bersama Consuela, sang prof tua membentangkan perjanjian yang tak pernah terikat.

Prof David adalah khas intelektual pragmatis tua yang selalu merasa isi kepalanya selalu muda. Ia menguasai dengan baik semiotika, kritik seni, menghapal nama dan tempat-tempat yang akrap disebut dalam buku sastra dan sejarah seni Eropa dan Amerika, khatam kajian budaya pop, tanpa cela menyebut deretan nama minuman seperti glenfiddich, bourbon, vodka, cointreu, greund marnies, armagrac. Juga fasih menjelaskan tokoh srikandi cantik dari rimba Amazon, Hippolyta, yang memotong payudara kanannya supaya anak panahnya melesat tepat sasaran tanpa harus membungkuk.

Mirip dengan tema film yang diadaptasi dari novel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera, ini kisah tentang dunia seks kaum tua. Prof David adalah profesor terkemuka lantaran nyaris setiap pekan tampil dalam acara review buku di televisi atau radio, khusus membahas buku-buku bertema budaya pop. Dan tentu saja seks.

Menurut profesor ini, setiap melakukan seks dengan wanita para hamba sahaya umur ini adalah upaya menuntaskan balas dendam atas semua hal yang mengalahkan mereka dalam hidupnya.

Di sebuah diskusi buku di radio, Prof David membahas buku D.H. Lawrence yang dengan indah menulis kisah cinta Lady Chatterly. Bukan soal skandalnya dengan tukang kebunnya, melainkan pertanyaan tentang kesepian kaum tua yang mengejar impian yang terlewat. Dan seks berada dalam daftar impian itu.

Itu dia. Seks. Hanya seks. Bukan pernikahan. Prof David, pemuja warna hitam dan putih, adalah libertarian yang menolak institusi pernikahan dalam hidupnya. Ia menjadi si tua yang sinis. Tapi dia berusaha mengelak dari tuduhan itu. Katanya itu hanya sekadar sikap realistis. Dan dia bersembunyi di sana. Mengajar semiotika, kebudayaan mutakhir, mereview buku setiap pekan di radio ataupun televisi, menulis di New Yorker, bercakap puisi, bercengkerama di kafe favorit, dan macam-macam kegiatan purnadewasa.

Jadinya, film Elegy adalah memoar intelektual dan tindakan sehari-hari menjalani masa tua yang binal, ironi, dan kesepian yang menyertainya. Ia gigih membayar keheningan yang sama setiap harinya; sebuah bahaya halus yang mengintai dari usia yang terus tua; grigisan yang menerus layu.

Inilah kisah profesor tua yang malang yang dengan kesatriaan terakhirnya menolak olok-olok bahwa hidup sampai tua tiada lain adalah hidup yang laknat.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan