-->

Kronik Toggle

Diskusi Buku Sastra, "Kliwon: Perjalanan Seorang Saya"

YOGYAKARTA – Karya-karya ilmiah ada baiknya disajikan dalam wujud tulisan bergaya cerita. Cara ini akan lebih menarik dan memudahkan pembaca awam memahami isi tulisan.

Demikian mengemuka dalam diskusi buku “Kliwon: Perjalanan Seorang Saya” karya Mukhotib MD di Yogyakarta, Kamis (7/10). Hadir sebagai narasumber Abdur Rozaki (peneliti Institute for Research and Empowerment yang juga dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Fakultas Dakwah, Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam), Abidah El Khaleqy (sastrawan), Muhkotib MD (penulis buku dan aktivis Perkumpuan Keluarga Berencana Indonesia DIY).

“Dengan gaya penulisan cerita, sebuah gagasan serius, sebuah pergulatan pemikiran, bisa diungkap dengan gaya bahasa yang sederhana sehingga pembaca akan mudah memahaminya,” ucap Abdur Rozaki.

Abdur mengatakan, diperkirakan jumlah pembaca buku-buku ilmiah hanya sekitar 20 persen, sisanya memilih membaca buku-buku cerita, seperti novel dan komik. Penulisan buku-buku ilmiah yang cenderung kaku dan formal sering kali justru membatasi minat orang untuk membaca. Pendekatan menulis menjadi sesuatu yang penting, metode penulisan penting diperhatikan penulis dengan melihat siapa pembacanya.

Ia mencontohkan, karya ilmiah ataupun hasil penelitian dari lembaga-lembaga swadaya masyarakat saat ini masih banyak ditulis secara kaku dengan banyak catatan kaki. Padahal, segmen pembaca yang disasar adalah kelompok-kelompok marjinal yang mereka dampingi sehingga menjadi sulit memahami isi tulisan .

Kelebihan dari gaya tutur bercerita seperti novel atau komik yaitu memiliki daya fleksibilitas dan kelenturan menarasikan dialektika pergulatan teoritis dengan pengalaman keseharian sehingga mudah dipahami pembaca awam. Penting juga, penulis membuat tulisan pendek karena saat ini pembaca membutuhkan tulisan yang sekali baca langsung selesai.

Mukhotib mengungkapkan, buku “Kliwon: Perjalanan Seorang Saya” memotret persoalan-persoalan sosial, seperti hak perempuan, diskriminasi, kesehatan reproduksi, dan politik negeri.

“Kenapa disajikan dalam bentuk dialogis, karena sering kali beberapa isu yang muncul ketika disampaikan dengan bentuk formal bisa jadi lebih sensitif dan sulit dipahami. Ketika disampaikan dalam bentuk bercerita, isu tersebut dapat lebih dicerna pembaca,” ungkapnya. (RWN)

Sumber: kompas, 8 Oktober 2010, “Gaya Bercerita Lebih Mudah Dipahami”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan