-->

Lainnya Toggle

Dari Haji Turun ke Buku

jusufOleh Jusuf An

Mekah dan Madinah adalah dua kota yang paling sering dibicarakan sekaligus dirindukan oleh orang Islam. Bukan hanya karena pesona yang dimiliki dua kota tersebut, melainkan lebih pada eksistensi historisnya yang menyimpan sejarah religiusitas agama hanif. Gua Hira’, Ka’bah, bukit Shafa dan Marwa, Masjid Nabawi, Hajar Aswad, dan Arafah merupakan di antara sederet tempat yang menyimpan jejak para Nabi sehingga sangat wajar kalau membuat hati seorang muslim rindu untuk menziarahinya dengan tujuan untuk menyempurnakan keislamannya, yakni dengan menjalankan ibadah haji.

Sekitar 2,5 juta ummat muslim dari berbagai belahan dunia setiap tahunnya berkumpul menjadi satu di Tanah Suci untuk menjalankan rukun Islam yang kelima itu. Orang-orang rela antri, menabung (uang dan harapan), dan belajar dengan keras tentang tata cara ibadah haji. Pelatihan-pelatian digelar dan buku tuntunan pelaksanaan ibadah haji menjadi benda yang sangat dibutuhkan oleh calon jamaah haji.

Selain kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) dan Departemen Agama yang rutin menerbitkan buku praktis seputar ibadah haji, beberapa penerbit juga ada yang tertarik menerbitkannya.

Namun nasib buku-buku praktis ibadah haji tidak seperti buku praktis ‘kehamilan dan melahirkan’ yang laris manis. Buku praktis ibadah haji lumayan seret di pasar, barangkali karena para calon jamaah sebagai target utama diterbitkannya buku macam itu sudah mendapat buku gratis dari pemerintah, KBIH, maupun dari pihak lainnya.

Buku-buku tuntunan ibadah haji tentunya sangat berguna bagi calon jama’ah haji. Betapa seseorang mesti memiliki ilmu yang cukup sebelum dilepas di tempat yang sebelumnya hanya dilihat di televisi dan sajadah. Sekian syarat, rukun, dan doa-doa haji, serta norma dan etika di Tahan Suci mesti dipahami benar sebelum berangkat. Karena itu, semakin banyak buku yang dibaca semakin bagus untuk menambah referensi.

Namun demikian, tidak semua buku tuntunan ibadah haji harus ditelan mentah-mentah. Karena sekitar dua tahunan lalu, Kabupaten Lebak, Banten dihebohkan dengan beredarnya buku tuntunan ibadah haji setebal 86 halaman yang isinya menyesatkan dan berpotensi memecah belah ummat. Buku berjudul Risalah Upacara Ibadah Haji yang dikarang  Drs. H. Amos (diduga nama paslu) itu dibagikan secara gratis dengan diletakkan di tempat-tempat umum. Buku itu sangat meresahkan masyarakat karena di dalamnya, antara lain diterangkan bahwa ibadah haji sebagai ibadah menyembah berhala.

Pengalaman Spiritual

Bukanlah Ka’bah, Hijir Ismail, makam Nabi Muhammad dan jejak kaki Ibrahim yang dijadikan sesembahan, melainkan hanya Dzat Yang Mahakuasa. Tawaf, Sa’i, lempar jumrah, wukuf di padang Arafah, Tahalul, dan serentetan ritual penuh makna lainnya adalah upaya menyempurnakan agama dan mendekatkan diri pada Sang Khaliq. Ibadah haji bukan sekadar ritual tahunan atau wisata spiritual yang menelan banyak ongkos.

Tidak sedikit jamaah haji yang pulang ke Tanah Air membawa banyak pengalaman spiritual selama kurang lebih 40 hari berada di Tanah Suci, tetapi tidak sedikti pula yang pulang hanya membawa air Zamzam, kurma, daging unta, atau bunga Mariam. Sebagian orang ada yang menceritakan pengalaman hajinya lewat lisan, sebagian lagi menelorkannya lewat tulisan untuk kemudian diterbitkan menjadi buku.

Ya, orang yang sudah pernah pergi ke Tahan Suci untuk berhaji memang mempunyai hak untuk bercerita atau menulis tentang pengalamannya, tidak peduli apakah ia seorang pejabat, sastrawan, pegawai bank, atau pedagang. Setiap orang memiliki pengalaman spiritual yang berbeda-beda sehingga buku-buku yang berisi catatan selama menjalankan ibadah haji selalu menarik untuk dibaca.

Sastrawan Danarto pada tahun 1984 menulis buku Orang Jawa Naik Haji, 100 Keajaiban di Tanah Suci yang kocak sekaligus menggetarkan. Soekirno, seorang aktivis LSM, membeberkan apa yang dialaminya selama menjalankan ibadah haji dalam buku Meniti Cahaya (2003). Juga ada Slamet Ristanto, seorang pewagai bank yang juga penulis buku Humor-Humor CALO(n) Haji (2004) dan Penggeli dari Tanah Suci (2005), menulis pengamalan hajinya dalam buku Di Atas Pusaran Ka’bah (2004). Selain itu ada buku Pengalaman Seorang Mualaf: Haji Kelana Mencari Ilahi (1996) oleh Ahmad Thomson, Haji: Sebuah Pengalaman Perjalanan Air Mata, Pengalaman Beribadah Haji 30 Tokoh (1993) oleh Musthafa W Hasyim.

Membaca buku-buku memoar perjalanan ibadah haji memiliki keasyikan tersendiri, khususnya bagi pembaca yang belum pernah naik haji. Alam kota Mekah dan Madinah yang eksotis dimana jutaan manusia (juga jin dan malaikat) berkumpul, serta cerita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar nalar manusia merupakan jenis bacaan yang tidak membosankan. Membaca buku-buku tersebut di atas, beberapa kali saya tertawa-tawa, tersenyum, tercengang, sekaligus merasa ditantang, “Kalau tak percaya, kau dapat membuktikannya?”

Bagi kita yang pada musim haji tahun ini tetap bertahan di Tahan Air, barangkali tepat untuk kembali mengingat kisah hidup Ibn Mubarrak. Ibn Mubarrak adalah orang yang gagal berangkat haji karena telah mengorbankan hartanya untuk membantu anak yatim dan janda miskin keturunan Bani Allawiyah. Orang sekampungnya yang tahun itu pergi berhaji, banyak yang melihat Ibn Mubarrak ada di Tanah Suci, padahal saat itu dia ada di kampungya. Dalam mimpinya kemudian, Rasulullah SAW mengatakan bahwa Tuhan telah mengutus malaikat menyerupai wajah Ibn Mubarrak untuk menunaikan hajinya, karena dia telah ikhlas memberikan hartanya untuk orang miskin.

Jusuf AN, penyair. Pernah terlibat dalam penciptaan Puisi Nusantara, IBUMI yang mendapatkan Anugerah Dharmawangsa 2010 dari Yayasan Garuda Wisnu Kencana, Bali

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan