-->

Kronik Toggle

Ali Sastroamidjojo Award untuk Buku ‘Making A World after Empire’

IMG_0991JAKARTA –The Asia Africa Academy menganugerahkan Ali Satroamidjojo Award kepada buku Making A World after Empire: The Bandung Moment and Its Political Afterlives.

Buku yang diterbitkan pada 2010 ini dinilai sebagai karya intelektual yang mengelaborasi kembali prinsip-prinsip Semangat Bandung dalam konteks semasa (kontemporer).

Dalam penjelasannya di Newseum Indonesia, Monas, Jakarta (30/10), tim penilai yang dipimpin Taufik Rahzen mengatakan, buku yang dieditori Christopher J Lee ini merupakan kerja kolaborasi oleh sebuah pertemuan lintas keahlian di Stanford University yang memeriksa secara kritis warisan dan implikasi Konferensi Asia Afrika Bandung bagi dunia. Sebuah kajian beragam yang memperlihatkan bagaimana Semangat Bandung ditunjukkan relevansinya secara tajam dalam masyarakat kontemporer saat ini.

Nama penghargaan ini dinisbahkan pada seorang tokoh penting lahirnya Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada 1955, yakni Ali Satroamidjojo.

“Dengan segenap kerendahan hati, kelihaian diplomasi, kelenturan, dan kesabarannya, Ali mampu memadukan sosok-sosok besar semasa seperti Sukarno, Jawarhal Nehru, Gamal Nasser maupun Chou En-Lai. Ia mengelola semua energi sosial semasa dalam satu gerak momentum sejarah penting; tak hanya di Indonesia, Asia, Afrika, tapi juga dunia secara keseluruhan,” kata Rahzen.

Karena itu, lanjut pendiri The Asia Africa Academy di Bandung ini, nama Ali Sastroamidjojo pantas diabadikan sebagai anugerah untuk sebuah pengabdian pada semangat-semangat humanisme, politik identitas bangsa, penghormatan atas kedaulatan dan martabat, sebagaimana tertuang dalam Dasasila Bandung.

Selain kategori untuk buku yang bersandar pada Semangat Bandung, penghargaan serupa juga diberikan kepada individu atau lembaga yang melakukan upaya-upaya kerjasama internasional dalam menghidupkan tatanan dunia baru dengan bersandar pada Semangat Bandung.

Untuk kategori ini, Prof Dr Ir Darwis Khudori, D.E.A. terpilih sebagai penerima anugerah. Ia dinilai sebagai sosok yang tanpa kenal lelah merintis kajian-kajian Asia Afrika. Tak hanya objek studinya tentang globalisasi yang dilakukan secara kritis dan terbuka, tetapi juga Darwis Khudori menggalang pelbagai riset secara kolaboratif sejak 2005. Acara “55 Asia Africa 55” yang baru saja dilakukan dalam sebuah road show yang panjang dengan melibatkan banyak pihak dengan lintas keilmuan di Asia dan Afrika tak luput dari ikhtiarnya.

The Asia Africa Academy yang menyelenggarakan kegiatan ini adalah lembaga para independepen scholar, seniman, dan aktivis sosial yang berdiri pada 1999 di Bandung untuk mendorong perkembangan Kerjasama Asia Afrika, khususnya di bidang kebudayaan. Dalam kiprahnya hampir satu dasawarsa ini, The Asia Africa Academi tela menyelenggarakan pelbagai peristiwa, antara lain Perkemahan Budaya Asia Afrika di Sindangbarang (2002), Pameran Poster 50 Tahun Asia Afrika di Bandung (2005), penerbitan buku, membentuk Radio Bandung Jurnal, merintis saluran siaran televisi lokal dengan program Asia Afrika, dan secara reguler memperingati Konferensi Asia Afrika setiap 18-24 April. (GM/IBOEKOE)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan