-->

Literasi dari Sewon Toggle

Koleksi Ki Ageng Suryomentaram

Ki agengPostingan ini ada karena Anton Dwisunu Hanung Nugrahanto mengunggah catatan tentang Ki Ageng Suryomentaram. Beberapa kutipan catatan Anton itu:

… Pada suatu ketika Pangeran Suryomentaram merasa menemukan jawaban bahwa yang menyebabkan ia tidak pernah bertemu orang, adalah karena hidupnya terkurung di lingkungan kraton. Hal itulah yang menyebabkan ia merasa tidak betah lagi tinggal dalam lingkungan kraton. Penderitaannya semakin mendalam dengan kejadian-kejadian sedih yang terjadi secara berturutan yaitu: * Patih Danurejo VI, kakek yang memanjakannya, diberhentikan dari jabatan patih dan tidak lama kemudian meninggal dunia. * Ibunya dicerai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan dikeluarkan dari kraton, kemudian diserahkan kepada dirinya. * Istri yang dicintainya meninggal dunia dan meninggalkan putra yang baru berusia 40 hari.

… Pada tahun 1921 ketika Pangeran Suryomentaram berusia 29 tahun, Sri Sultan Hamengku Buwono VII mangkat. Dia ikut mengantarkan jenazah ayahandanya ke makam Imogiri dengan mengenakan pakaian yang lain daripada yang lain. Para Pangeran mengenakan pakaian kebesaran kepangeranan, para abdi dalem mengenakan pakaian kebesarannya sesuai dengan pangkatnya, Pangeran Suryomentaram memikul jenazah sampai ke makam Imogiri sambil mengenakan pakaian kebesarannya sendiri yaitu ikat kepala corak Begelen, kain juga corak Begelen, jas tutup berwarna putih yang punggungnya ditambal dengan kain bekas berwarna biru sambil mengempit payung Cina.

Dalam perjalanan pulang ia berhenti di Pos Barongan membeli nasi pecel yang dipincuk dengan daun pisang, dimakannya sambil duduk di lantai disertai minum segelas cao. Para pangeran, pembesar, maupun abdi dalem yang lewat tidak berani mendekat karena takut atau malu, mereka mengira Pangeran Suryomentaram telah menderita sakit jiwa. Namun ada pula yang menganggapnya seorang wali.

… Kurang lebih 40 tahun Ki Ageng menyelidiki alam kejiwaan dengan menggunakan dirinya sebagai kelinci percobaan.

Pada suatu hari ketika sedang mengadakan ceramah di desa Sajen, di daerah Salatiga, Ki Ageng jatuh sakit dan dibawa pulang ke Yogya, dirawat di rumah sakit. Sewaktu di rumah sakit itu, Ki Ageng masih sempat menemukan kawruh yaitu bahwa “puncak belajar kawruh jiwa ialah mengetahui gagasannya sendiri”.

Rasa tidak puas dan tidak betah makin menjadi-jadi sampai pada puncaknya, ia mengajukan permohonan pada ayahanda, Sri Sultan Hamengku Buwono VII, untuk berhenti sebagai pangeran, tetapi permohonan tersebut tidak dikabulkan.

Pada kesempatan lain ia juga mengajukan permohonan untuk naik haji ke Mekah, namun ini pun tidak dikabulkan. Karena sudah tidak tahan lagi, diam-diam ia meninggalkan kraton dan pergi ke Cilacap menjadi pedagang kain batik dan setagen (ikat pinggang). Di sana ia mengganti namanya menjadi Notodongso….

Berikut ini koleksi buku Ki Ageng dan atau tentang sosoknya di Perpustakaan Indonesia Buku:

1951 Jiwa Persatuan dan Jiwa Buruh

1974 Ukuran Keempat

1974 Filsafat Rasa Hidup

1975 Wejangan Pokok Ilmu Bahagia

1976 Rasa Bebas

1985 Ajaran-Ajaran Ki Ageng Suryomentaram

Kunjungi selalu perpustakaan kami di Jalan Patehan Wetan No. 3, Alun-Alun Kidul, Kec Kraton, Yogyakarta. Mulai tanggal 30 Oktober buka dari jam 10.00-24.00. (Muhidin M Dahlan)

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan