-->

Resensi Toggle

Surat-Surat Politik (1964-1966) | Iwan Simatupang

SURAT-SURAT POLITIK IWAN SIMATUPANG 1964-1966 Penerbit: LP3ES, Jakarta, 986, 257 halaman
Iwan Simatupang, penulis sejumlah novel ganjil, cerita pendek yang aneh, lakon-lakon yang tak biasa, dan esei-esei yang sulit, tampaknya bakal dikenang juga sebagai semacam Ibu Kartini.
Dia pastilah orang kedua setelah putri bupati Jepara itu yang menggunakan surat sebagai bentuk ekspresi yang lengkap, dalam jumlah yang begitu besar dan dengan isi yang bisa jadi bahan rekaman tentang situasi Indonesia di suatu masa.
H.B. Jassin, kritikus termasyhur itu, juga pernah menerbitkan kumpulan surat-suratnya di tahun 1984. Tapi kelebihan surat-surat Iwan Simatupang bukan saja bentuknya yang panjang, dengan fokus yang jelas, melainkan juga kemampuannya mengungkapkan sesuatu yang tak sehari-hari. Kumpulan ini disebut “surat-surat politik”: di dalamnya memang tampak suatu sikap terhadap suasana politik yang mencekam dalam satu periode gawat sejarah Indonesia modern, tahun-tahun menjelang dan segera setelah peristiwa “Gerakan 30 September 1965”.
Di masa itu, surat memang bisa jadi alat pernyataan sikap dan ekspresi yang tak terelakkan. Di masa itu (seperti halnya di masa kini), tak semua orang dapat menyatakan pikirannya secara terbuka tentang keadaan. Dan yang bisa pun tak akan sepenuhnya berterus terang. Pers dalam masa akhir “Demokrasi Terpimpin” itu umumnya dikuasai oleh mereka yang sebarisan dengan PKI, yang waktu itu berpengaruh besar dl bidang media dan pemikiran. Banyak penulis lebih baik diam, atau mencoba memahami keadaan sembari mencoba menjaga pendiriannya sendiri, atau menulis dengan nama samaran, bila namanya sudah termasuk daftar hitam. Atau, seperti halnya Iwan, menulis surat kepada teman sendiri.
Kelebihan Iwan ialah bahwa ia memang gemar menulis surat. Ketika saya berada di Eropa tahun 1965-1966, saya juga ikut menerima beberapa pucuk suratnya (Juga “surat politik”): semuanya panjang, sampai empat halaman, ditulis tangan dengan huruf yang bagus serta rapi.
Ia menulis seperti ia bicara: iramanya retoris, pesonanya menemui suatu audtence dengan kembang api warna-warni kata-kata. Iwan kita adalah Iwan yang fasih, Iwan yang bijak bestari. Ia sangat mencintai kata-kata, khususnya yang keluar dari mulutnya sendiri dalam nada bariton yang lantang, atau dari guratan tangannya sendiri yang artistik.
Ada satu kalimat dalam Le Petit Prince yang bagi saya cocok untuk Iwan yang fasih ini: jika kita suka memakai ungkapan yang segar, menarik, lucu, dan terdengar cerdas, jika kita ingin bermain dalam I’esprit, kita harus berbohong sedikit.
Dalam kasus Iwan Simatupang, I’esprit itu begitu kuat mendorong, hingga kita tiap kali harus berhati-hati mana yang dipergunakan Iwan untuk cari efek, mana yang hasil imajinasi yang dimaksudkan untuk menghidupkan pembicaraan, dan mana yang betul-betul mengandung fakta.
Yang terakhir ini persentasenya sering kecil. Surat-surat Iwan karena itu bukan sepenuhnya rekaman keadaan. Ia harus hanya dilihat sebagai bahan rekaman.
Kumpulan ini berguna bagi mereka yang kini, dalam umur antara 20 dan 30 tahun, kurang bisa membayangkan bagaimana seorang intelektual seperti Iwan menghadapi masa yang genting itu.
Artinya, kumpulan ini penting sebagai ilustrasi sejarah. Toh artinya lain dari yang misalnya kita dapatkan dalam catatan harian Rosihan Anwar yang kemudian diterbitkan, Sebelum Prahara.
Rosihan, seorang wartawan ulung, adalah pencatat yang teliti. Iwan bukan: akurasi bahkan baginya sering seperti penghambat kenikmatan bercerita. Data, baginya, bisa membebani tubuh sebuah prosa yang asyik ingin terbang.
Namun, Iwan bisa mengagumkan dalam hal kemampuannya menganalisa keadaan. Baca saja teorinya tentang beberapa kemungkinan motif “Gerakan 30 September”, dan tentang kemungkinan-kemungkinan politik sebelum Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaannya. Bahkan di bulan Agustus 1965, sementara orang banyak belum mengenal Soeharto, Iwan telah menyebut nama perwira tinggi ini sebagai salah satu “jaminan bangsa kita” (hal. 91).
Itu dilakukannya waktu mencoba menyusun skenario “masa-depan-tanpa-Sukarno”. Tentu saja harus dicatat: Iwan adalah seorang antikomunis dalam bentuknya yang paling marah, juga seorang anti-Soekarno dalam bentuknya yang paling tajam. Ia memang pernah menyebut diri “Marxis” dalam suratnya, juga menyebut kekagumannya pada Bung Karno — tapi rasanya itu cuma sejenis teknik memperkukuh pernyataan. Saya tak mendapat kesan bahwa Iwan pernah berusaha memahami keadaan masa itu, pernah mencoba memahami Marxisme-Leninisme yang sedang berdengung, pernah mencoba menerima pikiran-pikiran Bung Karno. Dalam banyak surat ia bahkan menunjukkan sikap yang simplistis di dalam perkara ini.
Tapi mungkin justru di situlah kekuatannya dalam menghadapi kebingungan ideologis masa itu: iman antikomunis Iwan adalah iman yang sederhana dan teguh. Saya teringat, dalam suatu konperensi sastrawan di tahun 1964, yang berusaha dengan cara konyol menahan tekanan kuat PKI dan doktrin “Politik Sebagai Panglima”, Iwan bicara keras menentang ajaran penguasa waktu itu Manipol.
Semua orang, termasuk saya, jadi cemas atau bingung. Tapi Iwan dengan tenang tetap — lalu menghilang dari ruang konperensi ….
Ada tampaknya selalu yang kurang enak dalam pendirian semacam itu, tapi ada sikap Iwan yang bisa meluas bagai laut: Ia bisa membicarakan tokoh-tokoh politik waktu itu dengan semangat benci yang bahkan mengandung fitnah, juga sampai-sampai menyangkut soal keturunan, tapi Iwan juga bisa menulis begini: “Aidit harus diganyang dan seterusnya dan seterusnya — akur! Tapi jangan ikut kebuang prestasi-prestasi sosial yang sudah menjadi kenyataan di tanah air kita berkat Aidit dan kawan-kawan!”. Itu termuat dalam suratnya tertanggal 11 Oktober 1965. (Goenawan Mohamad)
Sumber: TEMPO, 28 Juni 1986
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1986/06/28/BK/mbm.19860628.BK33638.id.html

Surat-surat seorang yang antikomunis

Oleh: Goenawan Mohamad

Surat Politik Iwan SimatupangSURAT-SURAT POLITIK IWAN SIMATUPANG 1964-1966 Penerbit: LP3ES, Jakarta, 986, 257 halaman

Iwan Simatupang, penulis sejumlah novel ganjil, cerita pendek yang aneh, lakon-lakon yang tak biasa, dan esei-esei yang sulit, tampaknya bakal dikenang juga sebagai semacam Ibu Kartini.

Dia pastilah orang kedua setelah putri bupati Jepara itu yang menggunakan surat sebagai bentuk ekspresi yang lengkap, dalam jumlah yang begitu besar dan dengan isi yang bisa jadi bahan rekaman tentang situasi Indonesia di suatu masa.

H.B. Jassin, kritikus termasyhur itu, juga pernah menerbitkan kumpulan surat-suratnya di tahun 1984. Tapi kelebihan surat-surat Iwan Simatupang bukan saja bentuknya yang panjang, dengan fokus yang jelas, melainkan juga kemampuannya mengungkapkan sesuatu yang tak sehari-hari. Kumpulan ini disebut “surat-surat politik”: di dalamnya memang tampak suatu sikap terhadap suasana politik yang mencekam dalam satu periode gawat sejarah Indonesia modern, tahun-tahun menjelang dan segera setelah peristiwa “Gerakan 30 September 1965”.

Di masa itu, surat memang bisa jadi alat pernyataan sikap dan ekspresi yang tak terelakkan. Di masa itu (seperti halnya di masa kini), tak semua orang dapat menyatakan pikirannya secara terbuka tentang keadaan. Dan yang bisa pun tak akan sepenuhnya berterus terang. Pers dalam masa akhir “Demokrasi Terpimpin” itu umumnya dikuasai oleh mereka yang sebarisan dengan PKI, yang waktu itu berpengaruh besar dl bidang media dan pemikiran. Banyak penulis lebih baik diam, atau mencoba memahami keadaan sembari mencoba menjaga pendiriannya sendiri, atau menulis dengan nama samaran, bila namanya sudah termasuk daftar hitam. Atau, seperti halnya Iwan, menulis surat kepada teman sendiri.

Kelebihan Iwan ialah bahwa ia memang gemar menulis surat. Ketika saya berada di Eropa tahun 1965-1966, saya juga ikut menerima beberapa pucuk suratnya (Juga “surat politik”): semuanya panjang, sampai empat halaman, ditulis tangan dengan huruf yang bagus serta rapi.

Ia menulis seperti ia bicara: iramanya retoris, pesonanya menemui suatu audtence dengan kembang api warna-warni kata-kata. Iwan kita adalah Iwan yang fasih, Iwan yang bijak bestari. Ia sangat mencintai kata-kata, khususnya yang keluar dari mulutnya sendiri dalam nada bariton yang lantang, atau dari guratan tangannya sendiri yang artistik.

Ada satu kalimat dalam Le Petit Prince yang bagi saya cocok untuk Iwan yang fasih ini: jika kita suka memakai ungkapan yang segar, menarik, lucu, dan terdengar cerdas, jika kita ingin bermain dalam I’esprit, kita harus berbohong sedikit.

Dalam kasus Iwan Simatupang, I’esprit itu begitu kuat mendorong, hingga kita tiap kali harus berhati-hati mana yang dipergunakan Iwan untuk cari efek, mana yang hasil imajinasi yang dimaksudkan untuk menghidupkan pembicaraan, dan mana yang betul-betul mengandung fakta.

Yang terakhir ini persentasenya sering kecil. Surat-surat Iwan karena itu bukan sepenuhnya rekaman keadaan. Ia harus hanya dilihat sebagai bahan rekaman.

Kumpulan ini berguna bagi mereka yang kini, dalam umur antara 20 dan 30 tahun, kurang bisa membayangkan bagaimana seorang intelektual seperti Iwan menghadapi masa yang genting itu.

Artinya, kumpulan ini penting sebagai ilustrasi sejarah. Toh artinya lain dari yang misalnya kita dapatkan dalam catatan harian Rosihan Anwar yang kemudian diterbitkan, Sebelum Prahara.

Rosihan, seorang wartawan ulung, adalah pencatat yang teliti. Iwan bukan: akurasi bahkan baginya sering seperti penghambat kenikmatan bercerita. Data, baginya, bisa membebani tubuh sebuah prosa yang asyik ingin terbang.

Namun, Iwan bisa mengagumkan dalam hal kemampuannya menganalisa keadaan. Baca saja teorinya tentang beberapa kemungkinan motif “Gerakan 30 September”, dan tentang kemungkinan-kemungkinan politik sebelum Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaannya. Bahkan di bulan Agustus 1965, sementara orang banyak belum mengenal Soeharto, Iwan telah menyebut nama perwira tinggi ini sebagai salah satu “jaminan bangsa kita” (hal. 91).

Itu dilakukannya waktu mencoba menyusun skenario “masa-depan-tanpa-Sukarno”. Tentu saja harus dicatat: Iwan adalah seorang antikomunis dalam bentuknya yang paling marah, juga seorang anti-Soekarno dalam bentuknya yang paling tajam. Ia memang pernah menyebut diri “Marxis” dalam suratnya, juga menyebut kekagumannya pada Bung Karno — tapi rasanya itu cuma sejenis teknik memperkukuh pernyataan. Saya tak mendapat kesan bahwa Iwan pernah berusaha memahami keadaan masa itu, pernah mencoba memahami Marxisme-Leninisme yang sedang berdengung, pernah mencoba menerima pikiran-pikiran Bung Karno. Dalam banyak surat ia bahkan menunjukkan sikap yang simplistis di dalam perkara ini.

Tapi mungkin justru di situlah kekuatannya dalam menghadapi kebingungan ideologis masa itu: iman antikomunis Iwan adalah iman yang sederhana dan teguh. Saya teringat, dalam suatu konperensi sastrawan di tahun 1964, yang berusaha dengan cara konyol menahan tekanan kuat PKI dan doktrin “Politik Sebagai Panglima”, Iwan bicara keras menentang ajaran penguasa waktu itu Manipol.

Semua orang, termasuk saya, jadi cemas atau bingung. Tapi Iwan dengan tenang tetap — lalu menghilang dari ruang konperensi ….

Ada tampaknya selalu yang kurang enak dalam pendirian semacam itu, tapi ada sikap Iwan yang bisa meluas bagai laut: Ia bisa membicarakan tokoh-tokoh politik waktu itu dengan semangat benci yang bahkan mengandung fitnah, juga sampai-sampai menyangkut soal keturunan, tapi Iwan juga bisa menulis begini: “Aidit harus diganyang dan seterusnya dan seterusnya — akur! Tapi jangan ikut kebuang prestasi-prestasi sosial yang sudah menjadi kenyataan di tanah air kita berkat Aidit dan kawan-kawan!”. Itu termuat dalam suratnya tertanggal 11 Oktober 1965. (Goenawan Mohamad)

Sumber: TEMPO, 28 Juni 1986

1 Comment

Irina - 14. Sep, 2010 -

Aku pernah baca potongan surat Iwan Simatupang yang menyinggung soal Njoto — tentu dari perspektif negatif. Di bukunya itu ada versi utuhnya nggak ya?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan