-->

Lainnya Toggle

Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara (Sidang #7)

Sandeq, sampulMuhammad Ridwan Alimuddin (MRA) | Ombak, Forum Studi dan Dokumentasi Sejarah dan Kebudayaan Mandar, Yayasan Ad-Daras Matakali | lxi+266 hlm | 2009

Sidang Pembaca yang terhormat!

Sidang buku kali ini tidak seperti biasanya. Semestinya ada tiga jaksa yang bertugas “mengadili” buku ini. Namun, karena lain dan sebab lain-lain, dua jaksa berhalangan menyerahkan draft tuntutannya. Karena itu, pengadilan ini hanya berisi satu tuntutan dari jaksa tamu kami: Bustan Basir Maras. Bustan adalah antropolog UGM yang lahir dan besar di tanah Mandar, subjek bangsa yang diulas buku ini.

Izinkan kami menyodorkan amar tuntutan dari jaksa tunggal Sidang Pembaca kali ini: Bustan Basir Maras. Juga ulasan pendamping yang ditulis Muhidin M Dahlan tentang posisi penulis buku ini dalam penulisan buku maritim di Indonesia (Ridwan, Ia Yang Menulis Laut). (Muhidin M Dahlan, Panitera Sidang Pembaca #7)

MEMBACA BUKU SANDEQ

Oleh: Bustan Basir Maras

Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan sebelum lebih jauh mengulas buku berikut ini. Pertama, bahwa saya diberi tugas oleh Indonesia Buku (IBOEKOE) agar mengulas secara kritis buku ini dalam posisi saya sebagai ‘jaksa’ terhadap buku ini (demikianlah pasal aturannya).

Artinya, bahwa buku berikut ini tentu memiliki banyak kelebihan di balik segala kekurangannya, sehingga perlu mendapat penghargaan dan apresiasi yang baik. Namun dalam konteks ini, saya diberi tugas untuk melakukan telaah kritis terhadap buku ini. Bukan sebaliknya; mengungkap berbagai kelebihan buku ini, sebab buku ini tentu memiliki kelebihannya sendiri di antara deretan kekurangannya.

Dengan dasar pemikiran: agar lebih objektif, alangkah baiknya jika buku ini juga mendapat kritik dari pembacanya, sebagaimana saya. Dengan demikian saya harus menjalankan amanah itu dengan baik. Sehingga apa pun telaah saya atas buku ini nantinya, tentu dalam konteks apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap buku ini, semoga dimaknai sebagai upaya kritik yang konstruktif, etis dan jauh dari keinginan-keinginan lain yang dapat memicu kita semua untuk ber-negatif thinking ria. Baik hubungannnya dengan buku ini, IBOEKOE, dan juga saya.

Kedua, saya sendiri tentu bukanlah satu-satunya penelaah yang baik untuk mengapresiasi buku ini. Sehingga tentu di balik semua telaah saya itu juga memiliki banyak kekurangan. Tetapi minimal bahwa saya juga telah ikut berinvestasi pengetahuan melalui buku ini, terhadap perkemabangan kebudayaan Mandar ke depan. Setidaknya itulah sekilas yang dapat saya tangkap dari keinginan IBOEKOE, sehingga saya diberi amanah dalam mengeksplorasi buku ini, tentu dengan dasar (materi historisnya) antara lain, bahwa saya mungkin dianggap sedikit mengerti tentang Mandar, lantaran saya dilahirkan dan separuh hidup saya dihabiskan di Mandar. Mungkin demikianlah konteksnya yang paling sederhana. Baiklah !

Menyoal ‘Endorsement’ Halim H.D.

Membaca buku Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara, karya Muhammad Ridwan Alimuddin (MRA), yang akrab disapa Iwan (terbitan Ombak dan kerjasama sejumlah lembaga lainnya 2009), serasa seperti membaca tumpukan koran-koran tua hasil koleksi Iwan.

Artinya, kumpulan tulisan yang disatukan di dalam buku ini, hanya memindahkan tulisan-tulisan tersebut dari berbagai media, baik online maupun cetak, atau mungkin hanya beberapa dokumen atau catatan pribadi Iwan, ke dalam sebuah bentuk lain yang lazim disebut dengan buku.

Sebelum lebih jauh menyisir bagian-bagian di dalam buku ini, terlebih dahulu saya harus menyampaikan apresiasi dan perhargaan yang tinggi kepada kawan, saudara, atau mungkin kanda saya, Iwan, atas mewujudnya karya ini, sebagai konsekuensi logis kerja-kerja intelektualitas dan perjalanan panjang yang dilakukannya sepanjang tahun. Ini berarti, bahwa apa yang dilakukan Iwan dalam proses kreatifnya sebagai seorang yang konsen terhadap isu-isu dan berbagai problematika kelautan dan seluruh dialektika kebudayaan yang berkaitan dengan laut, patut kita hargai di tengah-tengah kian minusnya kerja-kerja positif generasi bangsa ini terhadap lingkungan sekitarnya.

Meski demikian adanya, ketika pertama kali membaca dan menonton tampilan buku ini, saya juga tiba-tiba dikagetkan oleh endorsmen yang disampaikan oleh Halim HD sang pejalan dan pencatat dari Solo itu, di buku ini.

Di cover belakang buku ini, Halim berkomentar agak ngawur dan serampangan. Sedikit emosional, dibumbui prasangka, kurang dewasa (padahal wes tue’) sehingga terjebak ke dalam perangkap kekanakan. Hehehe..! lucu !

Agar tak panjang lebar sebab ini tak terlalu penting dan bukan substansi buku ini, Halim berkomentar kurang lebih: “Secara pribadi, saya sangat berharap sekali kepada Ridwan ini suatu hari menerbitkan sandeq dari berbagai seginya…..dst…(sampai di sini komentar Halim masih objektif)…..lalu lanjutannya:….Saya hanya bisa berharap kepada satu sosok ini. Sebab di Mandar, rasanya nggak ada penulis yang sedalam, setekun dan segigih Ridwan. Lainnya sibuk dengan diri sendiri, yang ingin disebut sastrawan, seniman, sementara data dan fakta yang tersisa dari khasanah seni budaya Mandar kian surut, dan mereka sibuk dengan berbagai proyek pribadi yang entah untuk apa..dst..dst…”.

Duh, Halim… Halim… komentar kok emosional gini..kalo punya masalah dengan tikus, jangan bakar lumbung padi dong. Emang Halim tau apa tentang Mandar. Sungguh begitu banyak budayawan besar yang masih konsisten dalam gerakan kebudayaan di Mandar. Seperti Suradi Yasil (penulis inseklopedi Mandar ribuan entri) yang ia kerjakan dengan rijid selama bertahun-tahun, Andi Ando di Mamuju Utara yang konsisten dengan kajian Mamuju-Kali-nya, A. Muis Mandra yang sudah menerjemahkan banyak lontar, dan banyak lagi lainnya.

Apakah Halim kenal dengan semua orang-orang ini? Tolong cabut pernyataannya di buku ini!

Jujur, secara pribadi, saya tak punya persoalan dengan endorsmen ini. Tetapi ketersinggungan banyak budayawan sepuh di Mandar (sebagaimana yang disampaikan ke saya) atas komentar ini membuat Halim kehilangan martabatnya sebagai manusia yang konon memiliki keberpihakan pada kemanusiaan.

Ah, sudahlah. Namun sungguh saya sangat berdosa jika pernyataan ini tidak saya sampaikan, sebab ini adalah amanah banyak kawan dan sesepuh di Mandar.

Judul Provokatif

Judul buku ini memang cukup provokatif: “Sandeq: Perahu Tercepat Nusantara”. Dari judul ini secara pribadi, saya sebagai orang yang berdarah Mandar, tentu bangga dengan judul yang demikian. Tetapi apakah judul ini tak berlebihan tanpa melalui sebuah riset yang cukup.

Sebab sepanjang pembacaan saya terhadap buku ini, tak satu pun data dan perbandingan yang dilakukan melalui sebuah riset mendalam yang dapat membuktikan bahwa sandeq adalah perahu tercepat Nusantara. Bahkan di dalam ulasannya di buku ini, Iwan kadangkala menyebut dengan istilah tercepat, terkeras dan terjauh.

Di sisi lain Iwan kadang menabrakkan sendiri datanya atara satu dengan yang lainnya. Judul buku ini menyebut sandeq sebagai perahu tercepat Nusantara, sementara di sisi lain (halaman 126) Iwan menyebut pula sandeq sebagai perahu terkeras, tercepat, dan terjauh di dunia.

Di sinilah letak paradoksnya. Ambigu. Yang benar yang mana? Tercepat, terkeras, dan terjauh Nusantara atau dunia? Iwan tampak ragu lantaran statemen ini tidak berdasar pada sebuah riset yang dalam.

Di buku ini, Iwan memang menyebut beberapa data namun tak mendalam, sebab tak diulas lebih jauh lewat perbandingan dengan pelbagai perahu-perahu bercadik lainnya di Nusantara atau di dunia yang dibahas secara rijid di dalam sebuah bab pembahasan dan membeberkan data-data dan fakta itu.

Apa yang disebutkan Iwan di sini tentang sandeq sebagai perahu tercepat dan lain-lain, itu sifatnya masih berupa klaim dan statemen-statemen. Sebab secara umum di dalam buku ini pun hanya bercerita tentang banyak hal yang mebeberkan cerita berulang-ulang, tidak fokus dan tak mendalam. Inilah resiko sebuah kumpulan tulisan, sebagaimana nasib buku ini.

Kelemahan Umum

Kelemahan secara umum dari buku ini, disebabkan karena isinya adalah kumpulan tulisan yang ditulis oleh Iwan pada waktu tertentu di waktu lampau, dan tidak dilakukan editing serta adaptasi yang baik atas buku ini sebelum diterbitkan, bahkan cenderung tulisan-tulisan dari waktu lampau itu dibiarkan tampil begitu saja sehingga nampak berdiri sendiri antara satu dan lainnya.

Yang paling fatal sebagai resiko sebuah buku kumpulan tulisan pada umumnya, apalagi tidak disiapkan dengan baik, adalah pengulangan yang berkali-kali atas berbagai tema dan berbagai hal lain yang dibicarakan di dalam buku ini.

Sebagai contoh, untuk menjelaskan karakteristik sandeq dan segala apa pun yang berhubungan dengannya saja, Iwan harus melakukan pengulangan penjelasan berkali-kali pada setiap sub bab.

Dengan demikian buku ini hadir dalam kemasannya sebagaimana layaknya sebuah kumpulan dokumen tulisan Iwan. Sehingga resiko yang harus ditanggung buku ini, adalah lahir sebagai buku prematur yang tidak disiapkan sedemikian rupa, sehingga di sana-sini banyak hal yang ganjal berceceran di sana-sini, Mulai dari hal-hal terkecil, seperti kesalahan penulisan, sampai ke peristilahan-peristilahan lokal yang dipaparkan secara serampangan begitu saja, tanpa mempertimbangkan apakah pembaca mengerti dengan istilah itu atau tidak.

Meski pada buku ini, Iwan menyiapkan sejumlah entri glosari, namun ternyata masih cukup banyak istilah yang tak terakomodir di dalam glosari tersebut, sehingga sangat mungkin menyesatkan pembacanya tanpa dituntun langsung Iwan sendiri atau seseorang yang mengerti berbagai peristilahan Mandar dan sandeq-nya terutama.

Buku ini tentu sebuah buku yang baik dan perlu dibaca, namun ketergesahan Iwan bersama seluruh komponen yang terlibat di dalam kerja-kerja penerbitan buku ini, menyebabkan luka dan cedera pada buku ini. Padahal saya cukup paham, sungguh terdapat banyak kawan, kolega, dan jaringan Iwan yang cukup fasih dalam hal menyiapkan sebuah buku, mulai dari editing hingga ke hal-hal yang lebih prinsip lainnya di dunia perbukuan.

Bahkan kehadiran Halim HD. sebagai salah satu komentator buku ini, jika memang serius punya perhatian terhadap kebudayaan Mandar, kenapa tidak diikutkan sekalian dalam persiapan buku ini, syukur-syukur mau jadi editor. Sehingga buku ini kelak akan tampil lebih anggun dan elegan, dibanding dengan kondisinya saat ini yang penuh luka.

Pendek kata, buku ini sebenarnya belum siap terbit, namun didesakkan agar segera terbit dan lahirlah bayi prematur dengan segala keterbatasannya yang demikian. Di sisi lain, tentu saya sangat salut terhadap ketekunan Iwan dalam memunguti banyak peristilahan Mandar yang kemudian diusahakan sekeras mungkin menemukan konteks bahasanya dalam bahasa Indonesia.

Dalam hal ketekunan Iwan ketika melakukan riset di lapangan dan metodenya memaparkan data dan fakta di dalam buku ini, saya harus banyak memakluminya. Pada bagian tiga misalnya (“Mengikuti Jejak Sandeq”), dalam ulasannya, pada saat terjadi ritual penebangan pohon bakal sandeq, ada beberapa ritual yang dilakukan dan dikatakan sang penebang pohon yang tidak dimengerti Iwan. Ia kemudian membiarkan peristiwa itu berlalu begitu saja tanpa berusaha mengejar dan mengerti apa yang dimaksud si penebang pohon itu.

Sandeq, RidwanDalam situasi semacam ini, Iwan hanya lebih banyak berlindung di balik kata; “Saya tidak tahu!”.  Dalam konteks inilah saya harus memaklumi posisi Iwan. Apakah dalam konteks ini ia berposisi sebagai peneliti, sebagaimana seorang antropolog, atau ia hanya seorang pejalan sunyi yang mencatatkan banyak hal yang ia saksikan sepanjang perjalanannya, tanpa perlu mengejar lebih jauh makna-makna setiap peristiwa yang ia temui di sepanjang perjalanannya itu?

Di sinilah konteks pemakluman saya itu. Artinya, saya tidak bisa memaksa Iwan untuk menjadi antropolog, misalnya, atau peneliti ilmu budaya lainnya, atau sekedar pencatat banyak peristiwa yang ia saksikan. Terserah Iwan mau berposisi di mana.

Tetapi yang saya bayangkan, alangkah indahnya jika Iwan dalam konteks ini berposisi sebagai antropolog, sebab ia tidak akan membiarkan banyak makna-makna yang ia temui di jalan, berlalu begitu saja tanpa harus mengerti dan mengejarnya lebih jauh. Sebab salah satu tugas antropolog adalah mengungkap berbagai pemaknaan masayarakat atas sesuatu, terutama dengan berbagai makana symbol. Sebab simbol juga adalah teks, sebagaimana kata Geertz.

Sekali lagi, dalam konteks ini saya harus banyak memaklumi Iwan dan memberikan penghargaan yang tinggi padanya atas keuletannya sebagai pencatat ulung, terutama dalam banyak dialektika budaya bahari ke-Mandar-an. Saya tentu maklum pula posisi Iwan sebagai salah seorang aktivis kelautan yang juga berlatar belakang pendidikan kelautan atau mungkin perikanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, dan mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk kebudayaan bahari di Mandar dan Indonesia pada umumnya. Sebuah kerja yang luar biasa tentunya.

Atau jika Iwan ingin lebih jauh detail meriset tentang berbagai hal yang berhubungan dengan kebudayaan bahari Mandar, Iwan juga mestinya menyertakan sejumlah istilah latin dari nama-nama kayu yang digunakan sebagai cikal bakal perahu sandeq, sehingga akan dapat menjelaskan berbagai kekayaan budaya bahari Mandar dalam konteks mistisismenya, maupun dalam konteks keilmiahannya, atau dengan apa yang disebut oleh Durkheim dengan istilah  macrocosmos dan microscosmos dalam wacana kosmologi.

Artinya, bahwa dalam berbagai data dan fakta yang dibeberkan Iwan, saya melihat adanya ruang-ruang kosmologis yang tidak dieksplorasi dengan baik oleh Iwan.

Sketsa yang Kabur

Selebihnya, dalam hal penyajian buku ini, terdapat sejumlah sketsa atau gambar yang ditampilkan Iwan yang akhirnya sia-sia, sebab terdapat beberapa bagian yang tidak terbaca. Apakah ini kesalahan bermula dari file Iwan ketika disampaikan ke penerbit, atau penerbit ikut melakukan investasi kesalahan, lantaran tidak profesional menyetting tampilan gambar-gambar di buku ini.

Kemudian Iwan sebagai penulis budaya maritim di Mandar, tentu akan lebih asyik dalam mengeksplorasi berbagai tulisannya, jika mampu memperluas cakrawala berpikirnya lebih jauh, memperbanyak referensi, sehingga tidak hanya mengandalkan seorang Horst saja dalam berbagai kutipan referensinya.

Ya, Horst memang dikenal sebagai peneliti bahari yang unggul hari ini, terutama di wilayah Sulawesi dan Indonesia pada umumnya. Tetapi juga alangkah lebih indahnya jika ada perbandingan dengan referensi lainnya, sehingga Iwan tidak terkesan seperti juru bicara Horst atau malah menjadi seorang Horst mania. “Iwan, sukses selalu!”

Terakhir, seperti yang saya nyatakan di awal, bahwa eksplorasi saya dalam tulisan ini, sungguh merupakan wujud kecintaan saya kepada saudara, kawan, luluare’u atau kanda saya M. Ridwan Alimuddin dan kecintaan saya terhadap berbagai dialektika kebudayaan Mandar, dalam konteks apa pun, sehingga perlu ikut serta merekonstruksinya, sehingga diharapkan akan mencapai kegemilangan yang indah, dalam peradaban manusia.

5 Comments

baso korpala - 04. Okt, 2010 -

it’s important to keep spirit… Sandeq is the faster boat on the world… Original by Mandar…

halim hd. - 07. Okt, 2010 -

pak mandra tak pernh tersinggung. dan saya kenal pribadi. yang tersiunggung dengan meminjam nama pak mandra adalah mereka yang selalu menjual mandar, dan ngobyek atas nama mandar.
endosrment saya untuk menyatakan dukungan kepada iwan alimuddin yang tak pernah merengek, tak pernah mengajukan, menyodor-nyodorkan proposal seper6ti kaum ‘inbtelektual’ mandar yang nongkrong ‘dipusat kebudayaan’ jawa.
jenis ‘intelektual’ dan ‘sasterawan’ jenis ini biasanya cuma jualan.

jika sdr. bustam mau buka diskusi publik, dengan senang hati, dan kapan saja.

halim hd. - 08. Okt, 2010 -

satu hal yang perlu juga saya sampaikan di sini, apa yang saya nyatakan di atas menjadi pertanggungjawaban saya dalam memandang kapasitas sdr. mohammad ridwan alimuddin, yang sependek pengetahuan saya adalah anak muda yang memang paling berhak menyandang pakar-analis tentang sandeq lopi.
saya jadi teringat satu draft iwan, panggilan akrab MRA, SEKITAR AWAL TAHUN 2000-an yang disodorkan kepada saya, dan dengan terkejut saya memandang draft itu, dan kian terkejut setelah seminggu kemudian saya membacanya. seorang mahasiswa yang baru saja 3 tahun menginjak kuliah mampu dan bisa menulis calon buku yang demikian tebal. bukan hanya ketebalannya saja, tapi juga data yang dimiliki dan analisanya tentang kebudayaan bahari.
draft itu setelah setahun-dua diantara editing dan proses penerbitan oleh gramedia, merupakan suatu buku yang bagi saya bisa mengantarkan orang awam dan siapa saja dari luar kebudayaan mandar untuk mengetahui dan memahami khasanah kebudayaan bahari melalui mandar. peluncuran buku itu di toko buku gramedia jogjakarta, dan kebetulan saya diminta untuk memberikan komentas bersama almukharoum mandra (alm).
mungkin ada baiknya komen dari holtz, pakar bahari dari jerman yang punya pendapat tentang draft yang juga dibacanya, katanya, sebuah calon disertasi yang hanya tinggal diberi pengantar teori.

Bustan Basir Maras - 09. Okt, 2010 -

Pakde Halim, soal diskusi publik, sya tentu akan sngat senang jika itu bisa dilakukan, agar semuanya menjadi klir. artinya terbangun sebuah pola kominikasi yg konstruktif dan bukan debat kusir….eman-eman energinya…..hehehe…konon IBUKU akan sgera melakukannya. atau yg memungkinkan, komunitas gubuk indonesia setiap tgl 9 (setiap bulannya) menggelar obrolan sampai larut, ah…disana jg bisa diobrolkan (FB: Gubuk Kita Community). Kemudian, Iwan itu jg kan saudara saya, kami sma2 kuliah di jogja dan sling mengerti suka duka kami. sya menerima tawarn ibuku tuk membaca buku iwan ini jg sebagai niatan mengantr mandar agar lebih memasuki ruang sosialnya. beberapa hari seblm tulisan ini saya kirim ke IBUKU, sya jg sudh krim pesan ke Iwan akan tulisan ini, dan saya katakan bahwa perdebatan ini adalah ranah mengasah kepekaan belajar kami…..slm sukses selalu…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan