-->

Lainnya Toggle

Ridwan yang Menulis Laut (Sidang #7)

Sandeq, RidwanOleh: Muhidin M Dahlan

Secara objektif kita bisa mengatakan bahwa dua pertiga atau 5,8 juta kilometer persegi wilayah Indonesia adalah laut. Dan sisanya, 1,9 juta kilometer persegi adalah daratan. Dari 81 ribu kilometer panjang pantai, yang dimanfaatkan masih 30 persennya. Sisanya melompong dan memancing hasrat orang-orang asing untuk secara ilegal.

Indonesia adalah negeri yang selalu dicemburui (karena lautnya) dan sekaligus negara yang tak berdaya mengelola kekayaannya sendiri. Tidak hanya tunadaya di soal pengelolaan kekayaan laut, perhatian para akademisi atau periset-periset untuk mengeksplorasi laut sebagai kehidupan yang kaya dan pusparagam juga tergolong sangat payah.

Walaupun tuduhan ini masih bisa diperdebatkan, tapi lihat berapa banyak buku tentang laut yang diriset dan dibuat secara serius. Dan di antara sekian itu kita dapatkan nama-nama antara lain Edward L Poelinggomang, Makassar Abad XIX: Studi Tentang Kebijakan Perdagangan Maritim (2002), Susanto Zuhdi, Cilacap 1830-1942: Bangkit dan Runtuhnya Pelabuhan di Jawa (2002), Adrian B Lapian, Orang Laut-Bajak Laut-Raja Laut (2009),  Baharuddin Lopa, Hukum Laut, Pelayaran dan Perniagaan (1982), Kusnadi, Nelayan: Strategi, Adabtasi, dan Jaringan Sosial (2000), Sudirman Saad, Hak Pemeliharaan dan Penangkapan Ikan (masih berbentuk disertasi), Horst H Liebner (tiga penelitiannya sudah diterbitkan) maupun Osozama Katsyu.

Dan hampir semua nama yang tersebutkan itu menulis untuk kebutuhan disertasi. Walau kita tak meragukan kecintaan dan pengabdiannya, tapi penelitian itu dipaksa oleh tuntutan akademis. Dan agak ironis memang, dari sekian nama yang disebutkan itu orang asinglah yang menjadi pelopor-pelopor kegiatan-kegiatan bahari Indonesia yang mendapat liputan mahaluas dari media massa.

Sebut saja Horst Liebner, antropolog Jerman, yang pada 1999 memplopori kegiatan Sandeq. Acara yang pada Agustus nanti memasuki tahun ketujuh ini merupakan perlombaan adu cepat perahu-perahu tradisional Mandar (Sandeq) yang dilakukan saban tahun dengan menempuh jarak 250 mil laut Majene-Makassar). Atau pada 2003, Erik Petersen yang melakukan rekonstruksi perahu Borobudur di Kalimantan dan dipunggawai Yamamoto San memulai tur pelayarannya dari Jakarta menuju Ghana di pesisir barat Afrika menyusuri kembali rute perjalanan Kapal Barabudur abad 9: jalur perdagangan kayumanis (The Cinnamon Route) melalui Seychelles dan Madagaskar.

Dan baru-baru ini diselenggarakan sebuah tur  bertema Spirit of Asian Voyagers Expedition: Save The Pacivic dengan menguji kekuatan perahu Sandeq milik suku Mandar melayari Samudera Pasifik sejauh 40 ribu kilometer yang lagi-lagi diinisiatifi oleh Yamamoto-San dari Jepang dengan dukungan dana asosiasi asal Taiwan dan Jepang.

Dari pemandangan yang menyesakkan dada, ironik, dan regresi keasingan itu, kita disegarkan oleh kelahiran seorang anak muda pribumi pencinta bahari yang tekun. Namanya M Ridwan Alimuddin (27). Dua buku hasil pengamatannya, Mengapa Kita Belum Cinta Laut? (Ombak, 2004) dan Orang Mandar Orang Laut (KPG, 2005) adalah bukti konkret tentang itu. Ridwan saat menyelesaikan dua buku itu dan kabarnya sedang  merampungkan riset berikutnya Saya dan Bom Ikan masih tercatat sebagai mahasiswa perikanan UGM. Jadi, buku-bukunya itu ditulisnya semasa masih berstatus mahasiswa. Luar Biasa!

Dosen-dosen kita yang sangat berhasrat naik jabatan pun berliur melihat prestasi itu. Belum lagi kalau kita baca bukunya Orang Mandar Orang Laut, buku itu hanya terpaut satu dua digit dari kualitas disertasi seorang doktor (sebelum dipangkas 2/3 halamannya oleh Penerbit KPG).

Menurut Ridwan, usahanya menulis pernik-pernik tentang laut, peradabannya, manusia-manusianya, kegelisahan dan kegigihan orang-orang laut, didasari oleh rasa malu yang tak tertahankan melihat begitu sedikitnya akademisi dan intelektual yang menuliskan tentang laut.

Contoh rasa malu itu adalah bagaimana mereka sebagai mahasiswa perikanan di hampir semua perguruan tinggi Indonesia dan negeri yang digdaya dengan kekuatan baharinya di masa silam harus belajar dasar-dasar ikan dari literatur asing berjudul Ichtylogi karangan Lagler (1977, New York) ataupun diktat dosen yang tak lebih adalah rangkuman dari buku-buku asing.

Ada lagi yang dijadikan textbook mahasiswa perikanan. Judulnya Biology of Fishes karya Carl E Bond dan diterbitkan di Philadelphia. Malaysia yang tak pernah menyebut diri sebagai negeri maritim sudah menerjemahkan buku itu.

Indonesia? Jangan terlalu berharap muluk.

Dari riset yang dilakukan Ridwan di toko buku dan perpustakaan, dan dituangkannya dalam salah satu bab Mengapa Kita Belum Cinta Laut?, kita jadi tahu bahwa buku tentang maritim hanya ada 24 judul. Tinggal 2 yang belum dipunyainya. Dan dari 22 judul itu memiliki ciri sama: bahasanya kaku karena memang 99 persen saduran dari tesis, disertasi, atau laporan penelitian.

Ia tidak atau belum menemukan satu pun tulisan yang bergaya populer yang mirip dengan gaya pelaporan jurnalistik orang pertama atau kedua seperti dilakukan majalah National Geographic di mana pembaca bisa terlibat langsung atau kalaupun tidak terlibat, sekurang-kurangnya  turut merasakan apa yang dirasakan penulisnya.

Dan Ridwan memang meracik gaya itu lewat dua bukunya yang sudah terbit.Dalam dua buku itu ia menggabungkan tradisi bertutur dengan aksen mandar yang kental dan penulisan perjalanan yang detail dan cermat. Hasilnya, mereka yang tidak tahu berenang sekalipun akan berminat juga mencobai bagaimana menangkap ikan terbang dan telurnya dengan terjun bebas ke laut-dalam.

Bisa jadi Ridwan adalah segelintir anak muda yang sadar melakukan riset independen dengan donor dana yang diambil dari kantong sendiri.Tak secuil pun ia mendapat bantuan dari almamaternya yang sedang sibuk-sibuknya membangun gedung-gedung baru. Tak juga ia mengiba-iba kepada lembaga-lembaga donor sebagaimana kebiasaan sebagian periset kita: ada uang baru riset dan menulis, tak ada uang jangan harap.

“Kalau mau sombong, UGM tak menyumbang apa pun atas riset ini. Saya tak menyangka begini parah lingkungan dan sistem pendidikan kita,” katanya suatu kali.

Dengan menenteng kamera digital dan blocknote seperti kaum jurnalis, ia harus keluar masuk pulau kecil seperti Kalatoa, Masalembo, Pulau Seribu, Bonerate, Togian untuk melakukan riset orang Bajo, riset tradisi pemboman ikan, melihat langsung pelelangan ikan, menangkap ikan bersama nelayan, riset migrasi orang mandar, maupun mencari tahu sumber kayu untuk pembuatan perahu.

Usaha Ridwan menyambangi sekian pulau kecil itu seperti hendak mengatakan, bahwa benar kelima  pulau besar kita dipagari ribuan pulau yang terus-menerus dicucupi buih. Dan apa yang dilakukan dan disuntuki Ridwan tersebut adalah secauk harapan, bahwa kaum intelektual kita yang cinta dan menuliskan laut belum habis benar.

Kehadirannya serupa kunang dalam gelap taram riset bahari kita.

3 Comments

ridwan munawwar - 26. Sep, 2010 -

iaahh…kirain ridwan gue gus….hahahaha

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan