-->

Lainnya Toggle

Provokasi Pembakaran Alquran

RohmanOleh Rohman Al Bantani

DI tengah perayaan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, umat Islam mendapat ujian kesabaran cukup berat. Seorang warga Amerika yang mengatasnamakan umat Kristen, Dr Terry Jones, aktivis Dove World Outreach Center, melalui situs internet dan jejaring sosial mengajak seluruh umat kristiani sedunia untuk membakar Alquran pada 11 September 2010 nanti atau tepat pada hari kedua umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri.

Bernaung dalam kampanye September 11th International Burn a Koran Day, Terry menuduh umat Islam secara keseluruhan dan syariat yang diyakini oleh umat Islam berperan dalam aksi teror terhadap World Trade Center pada 11 September 2001 yang lalu. (Kompas, 20 Agustus 2010). Sebagai seorang pastor senior, ajakan Terry Jones yang disiarkan dalam blog Dove World Outreach Center jelas akan memiliki dampak luas, paling tidak di Amerika Serikat yang sentimen terhadap Islam-nya masih demikian tinggi. Buktinya, sejak pertama digulirkan sampai tulisan ini dibuat, kurang lebih 5.500 aktivis jejaring sosial Facebook sudah menyatakan “kesukaan”-nya pada ajakan tersebut.

Lebih jauh, dalam isi ceramahnya yang diterbitkan dalam situs resmi Dove World Outreach Center, Terry mengajak kaum kristiani dan gereja agar sadar akan fenomena bangkitnya Islam dan bergerak dengan turun ke jalan, memberikan donasi, dan memperteguh keimanan dengan kembali ke gereja untuk membendung Islam yang telah “menguasai” publik Inggris dan akan menguasai Amerika.

Pertanyaannya kemudian adalah sisi mana yang salah dari Islam dalam kacamata Terry? Jika ada satu atau dua kelompok kecil muslim yang dipandang bersalah, mengapa harus menggeneralisasi dengan menganggap Islam dan semua muslim harus ditakuti dan dicurigai? Mengapa kemudian Alquran dijadikan sasaran provokasi?

Bukan Agama Kekerasan

Terlepas dari beberapa kelemahan dan kontroversinya, kebanyakan tokoh yang mengampanyekan perang terhadap Islam pada era post cold war (pascaperang dingin) terinspirasi dari tesis Samuel Huntington tentang benturan peradaban antara Islam-Barat.

Huntington (1993) dalam The Clash of Civilizations beranggapan bahwa dunia muslim merupakan problem terbesar bagi Barat sebagai kelanjutan dari konflik yang sudah berusia lebih dari 1.300 tahun. Lebih dari itu, meningkatnya populasi muslim di seluruh dunia menjadikan Islam sebagai potensi yang harus diwaspadai oleh Barat dalam rangka memelihara otoritas politik setelah runtuhnya Uni Soviet.

Tesis ini kemudian seperti menemukan justifikasinya setelah gedung World Trade Center (WTC) di New York diluluhlantakkan pada 11 September 2001 oleh serangan brutal yang ditengarai dilakukan oleh kelompok Islam garis keras dengan pesawat komersial bajakan. Momen tersebut kemudian digunakan sebagai tonggak untuk menyudutkan Islam bahwa agama ini sama dengan kekerasan. Bahkan, ajaran Islam disejajarkan dengan terorisme. Terry dan kelompoknya termasuk pendukung pemahaman ini.

Hal pertama yang harus diklarifikasi adalah bahwa jelas kekerasan yang selama ini digembar-gemborkan oleh media barat dan oleh aktor-aktor pro peperangan itu sendiri sama sekali bukan ajaran Islam. Memang dalam beberapa ayat Alquran (misalnya QS 9:5) ada perintah untuk berperang. Namun, konteks ayat-ayat itu adalah ketika umat Islam dalam kondisi berperang. Jadi, tidak mungkin ketika dalam kondisi perang, umat Islam hanya berdiam diri.

Sebagai sebuah ajaran yang merupakan rahmat bagi seluruh alam, Islam jelas bukan sekadar agama yang mengajarkan doktrin-doktrin ritual keagamaan yang harus diyakini sebagai inti ajaran oleh umat Islam. Jika dianalogikan sebagai sebuah pohon, ajaran Islam dapat dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah bagian akar yang berfungsi menopang keimanan. Ajaran ini terkait dengan ketauhidan yang mengajarkan keesaan Tuhan yang bertujuan agar seorang hamba benar-benar mengenal penciptanya.

Bagian kedua adalah jihad yang berfungsi seperti batang dan dahan yang menopang tubuh sebuah pohon. Secara bahasa, jihad berasal dari kata jahada yang berarti sebuah usaha yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Dengan jihadlah, kemudian metabolisme sebuah pohon akan terjaga untuk terus hidup, tumbuh, dan berkembang. Karena itu, ajaran jihad yang menopang seluruh aktivitas ibadah merupakan bagian yang tidak mungkin dipisahkan dari Islam. Paling tidak, pandangan tentang jihad seperti itulah yang dipraktikkan oleh mainstream Islam.

Bagian ketiga adalah buahnya. Di sini, berbagai macam bentuk konkret dan praktis yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia dihasilkan dan dipraktikkan oleh seorang muslim sebagai hasil dari kesungguhan dan keseriusan (jihad) seorang muslim dalam mempraktikkan ajaran tauhidillah.

Hampir seluruh aspek ritual keagamaan dalam Islam memiliki dimensi dan substansi kemanusiaan. Dalam ritual puasa dan zakat misalnya, muslim diajari untuk menyatukan diri dengan keterbatasan dan kekurangan yang dirasakan oleh kaum duafa. Sementara salat selain mengajarkan kedisiplinan juga berdimensi kebersihan, kesehatan, dan moralitas. Dengan ajarannya itu, Islam pernah memimpin peradaban dunia selama beberapa abad lamanya. Dari sini Islam jelas tidak sama, apalagi linear, dengan kekerasan.

Hal inilah yang tidak didalami secara serius oleh masyarakat Barat yang telanjur disuguhi oleh media dan tokoh-tokoh pro peperangan dengan pemaknaan Islam yang terbelakang dan “kejam” dan ajaran jihad yang hanya dimaknai dengan perang dan kekerasan. Terry yang dalam ceramahnya secara tegas menuduh Islam sebagai agama yang menakutkan, tampaknya, juga tidak lepas dari pengaruh ini.

Sementara pemilihan simbol yang sedikit bergeser dari karikatur Nabi Muhammad menuju yang paling ekstrem berupa pembakaran Alquran menunjukkan bahwa para pemuja perang menginginkan isu yang lebih provokatif dan sensasional agar jangkauan provokasi dapat mencapai seluruh lapisan dan kelompok masyarakat Islam. Tidak hanya sunni atau shi’i, namun juga kelompok-kelompok lain dalam tubuh umat Islam. Provokasi itu mencoba membangkitkan amarah 1,5 miliar lebih muslim karena teks-teks Alquran secara mutawattir dipercaya sebagai otoritas tertinggi dalam islam ( Abou El Fadl, 2001).

Menghadapi provokasi itu, sikap yang paling tepat bagi umat Islam adalah menahan diri, bersabar, dan jangan sampai terjebak dengan meresponnya secara berlebihan. Sebab, hal itu justru akan contra productive bagi umat Islam sendiri. Jadikanlah provokasi yang melukai hati umat Islam itu sebagai bagian dari ujian akan kesabaran kita di bulan Ramadan yang mulia ini. (*)

*) Rohman Al Bantani, mahasiswa Leiden University, The Netherlands

**)Jawapos, 9 september 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan