-->

Resensi Toggle

Penoentoen Kaoem Boroeh | Semaoen

Semaoen Menoentoen
Oleh: Zen RS

“Seorang bocah beperawakan pendek, bercelana panjang, dan berkemaja pendek, semua serba putih, dengan gesitnya menghidangkan air teh. Setelah meletakkan gelas-gelas, ia berdiri tegak dan dalam bahasa Belanda yang lancar mengucapkan selamat datang…. Setelah itu ia membungkuk seperti seorang pengawal kerajaan di istana-istana Eropa dan memerkenalkan namanya: Namaku Semaeon…. (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, 1988: hlm. 239)

Penuntun BuruhPara buruh Indonesia kembali bangkit dari kuburnya. Dipicu oleh revisi Undang-undang Ketenagakerjaan yang dinilai terlampau doyong ke pihak pengusaha, para buruh berbareng bergerak dalam arus yang mengumbalang ruas jalan-jalan protokol di kota-kota besar, dengan mengusung satu isu yang sama, dan dengan eskalasi yang terus membubung.

Ancaman mereka untuk melakukan mogok nasional jika para buruh tak dilibatkan dalam proses revisi Undang-undang pemicu sumbu itu ditanggapi serius. Presiden bahkan mengundang perwakilan mereka ke istana. Hasilnya jelas: tuntutan mereka agar revisi Undang-undang Ketengakerjaan di bahas ulang dengan melibatkan para buruh pun kabul. Ancaman mogok nasional pada 1 Mei 2006 yang bertepatan dengan Hari Buruh pun akhirnya urung.

Semaoen, seorang ektivis pergerakan yang bisa disebut sebagai salah satu bapak moyang gerakan buruh di negeri ini, pasti senang menyaksikan soliditas kaum buruh dalam hal isu terakhir ini. Apa yang ia harap dan bayangkan ketika menulis brosur Penoentoen Kaoem Boeroeh di penjara Wirogunan Yogyakarta pada 1919, sedikit banyak sudah menuai hasil.

Sebetulnya Semaoen tak perlu menunggu puluhan tahun kemudian untuk menyaksikan para buruh bisa berbareng bergerak, isitilah yang sering ia pakai untuk memerikan satu situasi di mana para buruh bisa bergerak dan berjuang dalam satu barisan yang solid. Semasa ia menjadi pemimpin Sarekat Islam Semarang, yang lazim dikenal sebagai Sarekat Islam Merah, Semaoen sudah berhasil mengorganisir belasan pemogokan dan demonstrasi kaum buruh, yang beberapa di antaranya menuai hasil baik.

***

Sesuai judulnya, Penoentoen Kaoem Boeoroeh (selanjutnya disebut Peneoenton saja) memang diniatkan betul-betul untuk dijadikan panduan, semacam buku ajar, untuk kaum buruh di Hindia Belanda yang berniat mendirikan serikat buruh (vakbond).

Peneoenton terdiri atas 10 bab. Semaoen membuka buku itu lewat sebuah analisis ekonomi politik Hindia Belanda dan dunia secara ringkas dan padat lewat sebuah bab yang dijuduli, Penjebab di Indonesia Ada Perkoempoelan. Semaoen kemudian melaju dengan memerikan 3 tipe perkumpulan buruh yaitu perkumpulan politik yang berorientasi perubahan struktur politik, koperasi yang bertujuan (terutama) mensejahterakan ekonomi kaum buruh dan serikat kerja yang sengaja dibuat untuk membangun solidaritas dan menegakkan kekuatan kaum buruh, baik secara ekonomi maupun politik.

Jika pada dua bab awal Semaoen seperti memerankan seoran analis sosial, pada bab tiga-lah Semaoen hadir sebagai “guru kaum buruh”. Sejak bab itulah, hingga bab 9, Semaoen secara rigid dan mendetail memberikan panduan ihwal bagaimana caranya mendirikan serikat kerja. Di sini Semaoen hadir dengan aura betul-betul sebagai seorang guru kaum buruh yang mengajar bukan dengan teori, melainkan dengan pengalaman seorang pemimpin buruh yang sudah kenyang asam garam medan perlawanan kaum buruh.

Dalam panduannya ini, Semaoen bahkan secara telaten memberi contoh konkrit dari apa yang sedang ia paparkan. Jangan heran jika mulai bab tiga hingga bab 9, Peneoenton kaya oleh contoh-contoh. Ketika ia berbicara tentang maksud didirikannya serikat kerja, ia mencontohkan bagaimana redaksi maksud pendirian sebuah serikat dalam berbaris-baris kalimat yang bisa dipakai dalam statuten (Anggaran Dasar).

Hal yang sama terus berulang tiap kali Semaoen memaparkan pokok-pokok penting daripendirian sebuah serikat kerja, dari mulai bagaimana membuat rumusan asas, bentuk organ, penyusunan kepengurusan, jenis-jenis ikhtiar yang bisa dipakai, hingga teknis pengelolaan uang hasil iuran anggota. Ia juga memberi contoh bagaimana sebuah kartu anggota serikat kerja disusun.

Ketika sedang menguraikan jenis-jenis ikhtiar yang bisa dilakukan serikat kerja dalam bab berjudul Ikhtiar, Alat dan Senjata Vakbond, Semaoen memaparkan apa yang sebaiknya dilakukan oleh sebuah serikat kerja sewaktu hendak menggelar sebuah demonstrasi, aksi boycott (boikot) dan pemogokan. Ketika itulah ia sudah berbicara tentang arti penting “kas mogok” yang bisa dimaksimalkan untuk membantu keuangan anggota serikat yang melakukan mogok maupun yang dipecat.

Pada paragraf terakhir bab itulah Semaoen menuliskan kalimatnya yang kemudian menjadi mayshur: “Pemogokan adalah senjata kaum buruh yang (paling) tajam, tetapi kalau kaum buruh kurang pintar memakainya maka senjata itu bisa membunuh kaum buruh sendiri (senjata makan tuan).”

***

Yang segera membikin takjub tiap kali orang membaca Semaoen adalah betapa di usia yang masih sangat belia ia sudah menjadi salah satu pemimpin pergerakan.

Ia memulai karirnya dengan menjadi anggota aktif Sarekat Islam (SI) afdeling (cabang) Semarang pada usia 13 tahun. Perkenalannya dengan Snevliet, simbah kaum kiri di Hindia Belanda, pada usia 15 tahun membuat laju Semaoen sebagai propagandis makin kencang. Tak lama dari perkenalannya itulah ia sudah menjadi sekretaris ISDV, organ pergerakan radikal yang kebanyakan diisi oleh orang Belanda dan Indo.

Salah satu capaian paling spektakuler dari Semaoen adalah ia sukses “merebut” (SI) Semarang dengan menjadi komisaris pada usia 18 tahun, menggantikan Mohammad Joesoef yang merupakan wakil generasi tua SI. Jalan masuk Semaoen ke puncak tertinggi SI Semarang terjadi setelah ia terlibat polemik yang begitu keras dengan Joesoef soal bagaimana menyikapi penangkapan Marco Kartodikromo. Semaoen berada di sisi ekstrim dengan menyarankan agar SI aktif secara terang-terangan dalam membela Marco (sikap ini didukung mayoritas anggota SI Semarang), berkebalikan dengan Josoef yang condong menjura-jura dan memohon-mohon pada eyang Gubernur Jenderal.

Segera setalah ia sukses merebut kepemimpinan SI Semarang dari angkatan tua, Semaoen langsung membawa SI Semarang tancap gas: menjadi cabang SI paling radikal yang selain progresif dan paling terang benderang menyatakan perang terhadap kolonialisme Belanda. Di bawah suluh ide-ide sosialisme yang terang-terangan merujuk pada Marx itulah, Semaoen menjadi aktor terpenting yang membikin SI Semarang dicap sebagai SI Merah.

Pada 1919 Semaoen akhirnya dijebloskan ke penjara Wirogunan Yogyakarta. Pemicu utamanya karena ia menerjemahkan tulisan Snevliet, Kelaparan dan petonedjoekan Koeasa. Tapi sesungguhnya, pemenjaraan itu sudah direncanakan sejak Semaoen dianggap sebagai propagandis yang berada di balik serangkaian pemogokan buruh selama 1918.

***

Dengan menerbitkan Penoentoen Kaoem Boeoroeh, Semaoen telah mendahului Tan Malaka, Tjokroaminoto, Haji “Merah” Misbach, Soekarno atau Hatta dalam dua hal sekaligus: (1) mengikhtiarkan membumikan ide-ide sosialisme dengan Marx sebagai acuan utama dalam struktur pengetahuan dan kesadaran kaum pergerakan dan (2) dalam hal mencari sebentuk penyesuaian ide-ide itu untuk penduduk Hindia Belanda yang punya struktur sosial, ekonomi, politik dan mental yang berbeda dengan Eropa.

Berbeda dengan kaum sosialis Belanda seperti Sneevliet, Baars, atau Bergsma yang lebih mengedepankan hal-hal yang prinsipil dari ideologi sosialisme dan agar dipraksiskan secara konsisten dengan prinsip dasar ideologi itu, Semaoen (karena menyadari ide sosialisme belum banyak diketahui dan dimengerti) lebih menitikberatkan pada upaya untuk memberi pemahaman rakyat Hindia-Belanda dan para aktivis pergerakan tentang ide-ide sosialisme dan mengupayakan pemahaman itu dengan cara yang lebih mudah.

Penoentoen, seperti yang sudah dipaparkan secara singkat di awal, yang lebih dipenuhi contoh-contoh ketimbang teori-teori yang sofistikatif, adalah upaya Semaoen, yang dilakukan semampu ia bisa dan dengan berbuntal-buntal keterbatasan seorang anak muda, untuk memberi pengertian tentang apa arti sosialisme. Dengan memberi contoh bagaimana menyusun statuten (anggaran dasar), asas, cita-cita dan model perjuangan dalam bentuk konrit berupa redaksi kata-kata yang sudah diselipi dengan kosa kata dan konsep dasar sosialisme, Semaoen telah berupaya merealisasikan hal pertama tadi.

Sementara poin kedua yang menjadi upaya Semaoen bisa diendus jejaknya dari bagaimana Semaoen, lewat Penoentoen itu, memberi titik tekan bahwa perjuangan kaum buruh, tentu juga perjuangan sosialisme, adalah dalam rangka mencapai penghidupan yang selamat pikiran maupun badan, singkatnya menuju kesmepurnaan batin.

Jadi, tak perlu diherankan jika dalam Penoentoen Tuhan Yang Maha Esa masih sering ditemukan dalam sejumlah paragraf; dan dengan itulah Semaoen mendahului (berhasil atau tidaknya usaha Semaoen ini adalah soal lain) Tjokroaminoto, Misbach, Seokarno dan Hatta yang kemudian hari mencoba mengawinkan sosialisme yang berasal dari Eropa dengan struktur keyakinan religius-mitis bangsa Indonesia, dan juga mendahului Tan Malaka, yang juga mencoba “mengawinkan” secara kreatif sosialisme-komunisme dengan kondisi kha Indonesia dengan cara yang berbeda banyak dengan tokoh lain yang disebutkan tadi.

Semua itu mesti diberi satu catatan penting: Semaoen sudah melakukannya pada usia belasan tahun.

——————————————

Buruh yang Bergerak,
Semaoen yang Menuntun
Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boeroeh dari Hal Vakbond-vakbond
Penulis: Semaoen
Penerbit: Anonim, Semarang
Cetakan: I, Mei 1920
(Ini edisi pertamanya)

Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boroeh dari Hal Sarekat Sekerdja
Penulis: Semaoen
Penerbit: Soeloeh Sosialis 2, Pesindo, Surakarta
Catakan: I, 1946
(Ini edisi yang terbit pasca proklamasi)

Judul Buku: Penoentoen Kaoem Boroeh
Penulis: Semaoen
Penerbit: Jendela, Yogyakarta
Cetakan: I, Juli 2001
Halaman: xiii + 113 halaman
(Ini edisi abad 21. Cover di atas kuambil dari edisi terakhir ini)

Zen RS, Kontributor Utama Indonesia Buku

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan