-->

Kronik Toggle

Peneliti Inggris Tulis Buku Tari Keraton

Peneliti Inggris Tulis Buku Tari Keraton
Senin, 6 September 2010 | 03:33 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS – Peneliti Inggris, Felicia Hughes Freeland, meluncurkan bukunya tentang tarian Keraton Yogyakarta berjudul ”Komunitas yang Mewujud: Tradisi Tari dan Perubahan di Jawa”. Buku ini merupakan terjemahan dari buku berbahasa Inggris yang diterbitkan tahun 2008. Buku tersebut ia tulis berdasarkan penelitian panjang yang dilakukannya tahun 1982-1999 untuk disertasi tentang tradisi tari Keraton di Yogyakarta.
Dalam buku setebal 396 halaman ini, Felicia mencoba melihat tari sebagai bentuk produksi sosial. Tari merupakan bagian dari suatu sistem representasi sekaligus bentuk aksi yang mewujud. Oleh karena itu, ia mengajukan tesis yang berbeda dari tesis Ben Anderson tentang komunitas terbayang. ”Tari adalah seni yang mewujud, bukan imajinasi,” katanya.
Menurut dia, komunitas tari dan peran penari terus berubah sesuai konteks politik yang melingkupinya. Di Jawa, terutama Keraton Yogyakarta, tari menjadi semacam jembatan untuk menghubungkan masa kini dengan sejarah kejayaan masa lalu. Tarian keraton juga bukan kelanjutan alami dari tradisi tari pada masa sebelumnya, tetapi dikonstruksi dengan komunitas politik yang ada saat itu.
Nin Bakdi Soemanto selaku penerjemah buku ini menuturkan, Felicia merupakan peneliti yang sangat mengagumi tari Jawa. Dia melakukan penelitian dengan tekun selama puluhan tahun.
”Dia yang bukan orang Jawa sangat kagum pada tarian Jawa, sedangkan sebagian dari kita yang orang Jawa tidak bisa melihat keindahan tarian itu,” ujarnya. (ARA)
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/03331429/peneliti.inggris.tulis.buku.tari.keraton

YOGYAKARTA – Peneliti Inggris, Felicia Hughes Freeland, meluncurkan bukunya tentang tarian Keraton Yogyakarta berjudul ”Komunitas yang Mewujud: Tradisi Tari dan Perubahan di Jawa”. Buku ini merupakan terjemahan dari buku berbahasa Inggris yang diterbitkan tahun 2008. Buku tersebut ia tulis berdasarkan penelitian panjang yang dilakukannya tahun 1982-1999 untuk disertasi tentang tradisi tari Keraton di Yogyakarta.

Dalam buku setebal 396 halaman ini, Felicia mencoba melihat tari sebagai bentuk produksi sosial. Tari merupakan bagian dari suatu sistem representasi sekaligus bentuk aksi yang mewujud. Oleh karena itu, ia mengajukan tesis yang berbeda dari tesis Ben Anderson tentang komunitas terbayang. ”Tari adalah seni yang mewujud, bukan imajinasi,” katanya.

Menurut dia, komunitas tari dan peran penari terus berubah sesuai konteks politik yang melingkupinya. Di Jawa, terutama Keraton Yogyakarta, tari menjadi semacam jembatan untuk menghubungkan masa kini dengan sejarah kejayaan masa lalu. Tarian keraton juga bukan kelanjutan alami dari tradisi tari pada masa sebelumnya, tetapi dikonstruksi dengan komunitas politik yang ada saat itu.

Nin Bakdi Soemanto selaku penerjemah buku ini menuturkan, Felicia merupakan peneliti yang sangat mengagumi tari Jawa. Dia melakukan penelitian dengan tekun selama puluhan tahun.

”Dia yang bukan orang Jawa sangat kagum pada tarian Jawa, sedangkan sebagian dari kita yang orang Jawa tidak bisa melihat keindahan tarian itu,” ujarnya.

Sumber: Kompas, 6 September 2010

1 Comment

Von Krueger - 09. Sep, 2010 -

Jangan sampai terjadi “wong Jowo ilang Jawane” dan “orang Indonesia hanya kulitnya saja”

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan