-->

Lainnya Toggle

Pablo Neruda Pernah di Batavia

Sigit2Oleh Sigit Susanto

Seorang manusia telah lahir di dunia
di antara banyak
manusia yang dilahirkan
dia hidup membaur dengan mereka
yang telah ada sebelumnya,
dan tak menggenggam sejarah
hanya pertiwi,
Chile bagai pusar bumi, dimana
gudang minuman anggur mengkerutkan rambut kehijauan
buah anggur dipintal cahaya
minuman anggur lolos dikonsumsi warga

Parral nama tempat itu
di situ aku dilahirkan
pada musim dingin

Hujan dan Angsa


Sepenggal puisi Pablo Neruda di atas berjudul “Kelahiran“ dari sebuah buku “Pablo Neruda, Memorial von Isla Negra“. Parral, sebuah desa di Chile selatan, tempat Pablo Neruda dilahirkan. Desa itu terdapat hamparan tanaman anggur yang menggunung. Pasangan José del Carmen sebagai masinis kereta api dan Rosa Neftali Basoalto sebagai guru sekolah dasar telah melahirkan seorang penyair terkenal pada 12 Juli 1904. Bayi itu diberi nama Neftali Ricardo Reyes y Basoalto. Ketika bayi itu masih berusia enam minggu, ibunya meninggal karena penyakit tebese. Sedang kakeknya bernama Don José Angel Reyes, hanya sebagai petani kecil yang memiliki sepetak kebun, tapi punya anak banyak. Kemudian Jose del Carmen pada tahun 1906 berpindah ke kota Temuco dan kawin lagi dengan Dona Trinidad Candia Marverde. Ketika penyair muda ini menginjak usia 14 tahun, dia mulai liar membaca buku-buku dengan melompat-lompat. Bacaannya dari Jules Verne ke Vargas Vila, Strindberg, Gorky, Felipe Trigo, Diderot, Rimbaud, Lautréamont, Whitman, Majakowski, Aragon, Breton, Apollinaire dan Trakl. Tahun 1920 dia tamat dari sekolah menengah atas. Pada bulan Oktober tahun yang sama dia terpaksa harus merubah nama aslinya Neftali Ricardo Reyes y Basoalto dengan nama samaran Pablo Neruda. Alasannya karena kecurigaan ayahnya pada puisi-puisinya yang dimuat di media. Secara tak sengaja dia mengambil nama seorang sastrawan Cheko Jan Nepomuk Neruda (1834-1891). Kemudian Neruda terpilih sebagai pimpinan media sastra “Ateneo Literario“. Pada usia 16 tahun, dia telah memenangkan lomba menulis puisi dan mendapat penghargaan tertinggi.

Neruda menceritakan, betapa dia merasa malu dan takut bertemu Gabriela Mistral. Seorang kepala sekolah perempuan. Dia diberi hadiah oleh Mistral buku-buku sastrawan Rusia antara lain dari Tolstoy, Dostojewsky dan Chekhov. Belakangan justru ketiga penulis Rusia itu menjadi bacaan favoritnya. Setelah itu Neruda melanjutkan belajar ke Santiago de Chile.

Pada buku berjudul “Aku mengakui bernama NERUDA, aku telah hidup“ (Ich bekenne NERUDA ich habe gelebt) dikisahkan masa kecil dia memang suka berkelahi, namun lemah dan kurang cerdik. Masih pada buku itu disebutkan, salah satu kenangan masa kecilnya yang tak pernah dilupakan adalah pada hujan. Hujan yang sebulan penuh, bahkan setahun tanpa henti. Neruda mengintip dari jendela rumahnya. Jalan di depan rumahnya digambarkan berubah menjadi lautan lumpur. Rumah-rumah penduduk miskin terendam banjir dan terapung seperti kapal. Gunung api Llaima bangkit dan bumi bergetar. Kepekaan Neruda bukan hanya pada alam, tapi juga pada unggas. Di masa kecilnya dia merasa tidak pernah belajar menulis puisi. Akan tetapi ketika dia berada di danau Budi dekat laut Puerto Saavedra, tiba-tiba dia diberi seekor angsa yang hampir mati oleh seorang pemburu. Angsa itu dia rawat lukanya dan disuapi dengan roti dan tumbukan ikan. Berkali-kali dalam sehari dia membawa angsa itu ke sungai lewat lorong yang sempit dan dibawa pulang ke rumahnya lagi. Angsa itu sebesar tubuhnya sendiri. Setelah 20 hari, angsa itu sembuh dan bisa berenang bersama-sama.

Neruda menunjukkan dasar sungai yang berbatu dan berpasir serta menunjukkan ikan yang tubuhnya mengkilat seperti perak. Angsa itu mengira Neruda sebagai temannya sendiri.  Angsa dengan leher yang hitam, diibaratkan seperti kain sutera. Paruhnya berwana oranye serta matanya merah. Sungguh sebuah angsa yang indah. Namun matanya tetap sedih menunggu ajal. Ketika kegelisahan Neruda memuncak dan mendorong untuk membuat coretan-coretan tangan, dia mengakui hasil coretan-coretannya menjadi terasa asing dan berbeda dengan bahasa harian. Itulah puisi awal Neruda. Dia menulis dengan perasaan was-was yang dalam, antara rasa takut dan kesedihan. Setiap hari dia mampu menulis antara dua sampai lima puisi. Biasanya menjelang malam, ketika matahari akan terbenam. Dia menulis di teras rumah. Oleh sebab itu buku pertamanya tahun 1923 terbit dengan judul “Fajar dan Senja“ (Crepusculario). Dia menjual mebel satu-satunya yang dimiliki dan menggadaikan jam pemberian ayahnya. Uang itu dia gunakan untuk membiayai penerbitan buku perdananya. Sering kali dia bertengkar dengan penerbitnya. Penerbitnya keras hati, tak boleh satu eksemplar pun dibawa, sebelum lunas semua. Tapi Neruda cukup gembira. Tahun 1924 disusul karyanya kedua berjudul “Dua Puluh Puisi Cinta dan Sebuah Lagu Kebimbangan“ (Veinte poemas de amor y una cancion desesperada).

Di Batavia

Antara tahun 1927-1932 Neruda bertugas sebagai konsul Chile di Asia, antara lain Rangun, Colombo, Batavia dan Singapura. Kedatangan Neruda pertama kali di Batavia menyimpan kisah konyol dengan hotel boy. Ketika dia hendak menulis telegram untuk pemerintahnya di Chile, karena kedatangannya ditolak oleh pejabat Belanda. Tiba-tiba tintanya habis. Neruda memanggil seorang hotel boy untuk meminta tinta dengan memperagakan sebuah pensil di tangan sembari bilang, “Ink, ink”. Hotel boy berseragam putih tanpa alas kaki itu hanya bengong, tidak mengerti arti bahasa Inggris “Ink”. Maka ada tujuh atau delapan hotel boy berdatangan. Ketika Neruda mengulangi bilang: “This, this”. Kontan seperti suara kor mereka berucap ramah, “Tinta! Tinta”. Akhirnya Neruda baru sadar, ternyata bahasa Spanyol “Tinta“, juga sama dengan bahasa Melayu.

Tak lama tinggal di hotel, Neruda berpindah ke rumah baru di jalan Probolinggo. Dia bertugas sebagai konsul baru  negeri Chile dan merasa berakhirlah petualangannya keliling dunia. Setelah dia berkenalan dengan Maria Antonieta Agenaar. Gadis blasteran Belanda-Melayu kelahiran Jawa itu akhirnya tahun 1930 resmi jadi istri Neruda. Pada film berjudul “Sosok Penyair Amerika Selatan“ (Porträt des südamerikanischen Dichters) menayangkan figur Maria Antonieta Agenaar ini tinggi dan cantik. Di situ juga disebutkan, kalau Neruda sempat beberapa bulan di Batavia tanpa kegiatan berarti dan hanya membaca buku Proust berulang-ulang selama empat kali. Perkawinannya juga dia kabarkan pada bekas pacarnya Albertina Rosa yang punya nama muda Angel Cruchaga Santa Maria. Pada buku “Surat-Surat Cinta Pablo Neruda pada Albertina Rosa“ (Pablo Neruda Liebesbriefe an Albertina Rosa) terdapat tiga surat yang ditulis dari Batavia, salah satu surat itu seperti berikut:

Batavia, Jawa, 26 Januari 1931

Angel sayangku, terima kasih atas bukumu yang indah dan lengkap serta suratmu. Aku tulis sesuatu untuk mu, yang akan aku kirim ke media sastra “Atenea”. Aku sudah kawin. Demi aku, sebarkanlah persembahan foto istriku yang indah ini pada media “Zig-Zag”. Di situ mungkin aku dinilai negatif. Harus kukatakan, bukan karena apa, tetapi karena sebuah rasa kecintaan. Istriku tentu sudah kenal sekali denganmu. Wajahmu meyakinkan di rumah itu. Kirimkanlah untukku dua eksemplar dari media “Zig-Zag”, bila sudah terbit. Tetapi jangan lupa, bahwa kamu bisa merusak sebuah keluarga yang damai! Marahkah kamu.

Pablo Neruda

Tahun 1934 Neruda berpindah tugas ke Barcelona dan di sana mereka dikaruniai seorang anak perempuan bernama Malva Marina. Pada waktu yang sama Neruda berkenalan dengan Delia del Carril, seorang perempuan asal Argentina. Kedatangan Neruda ke Spanyol sebetulnya tanpa memberitahukan siapapun. Namun Federico Garcia Lorca, sahabatnya tiba-tiba sudah menjemputnya di stasiun kereta api sambil membawa karangan bunga. Persahabatan kedua penyair makin akrab, mereka sering berjalan-jalan ke sebuah taman. Dan mereka bermain sandiwara di taman itu. Neruda mengakui banyak belajar dari Lorca. Tahun 1936 pecah perang saudara di Spanyol. Neruda menyaksikan banyak peristiwa tragis dan dia mengkritik rezim fasis Franco. Akhirnya Neruda ditarik dari jabatan sebagai konsul Chile di Spanyol. Pada saat yang sama dia cerai dengan istrinya. Tahun 1939 dia bertugas sebagai konsul Chile di Paris. Di Paris dia mengorganisasi pengungsi Spanyol untuk diberangkatkan ke Chile dengan kapal barang “Winnipeg“. Kemudian Neruda diangkat sebagai konsul jenderal di Meksiko. Tak berapa lama lagi anak perempuan Neruda yang sering sakit-sakitan meninggal pada usia delapan tahun. Pada tahun 1945 Neruda resmi masuk partai komunis Chile dan pertama kali bertemu Matilda Urruti.

Sebagai penganut marxist dia sempat bertemu Fidel Castro, namun hanya berangkulan akrab. Castro menolak untuk berfoto bersama, hal itu yang membuat Neruda tidak mengerti. Dia membandingkan pertemuannya dengan Che Guevara yang dinilai cukup akrab dan suka berkelakar. Bahkan Neruda terharu mendengarkan cerita Che, kalau salah satu karyanya dibacakan Che pada para gerilya di Sierra Maestra di Kuba. Beberapa tahun kemudian Neruda gemetar mendengar Che meninggal. Apalagi dia diberitahu oleh Regis Debray, kalau dalam ransel Che di hutan Bolivia hanya terdapat dua buku, buku Aritmatika dan buku karya Neruda. Nasib menimpa Neruda, partai komunis dilarang di Chile tahun 1948. Neruda bereksil ke Amerika, Eropa dan Asia (India dan RRC) dari tahun 1949-1952. Neruda sempat tinggal di pulau Capri, Italia bersama Matilda Urruti. Pulau Capri di seberang kota Napoli itu pernah dipakai eksil Maxim Gorky antara tahun 1907-1913. Pada awal eksilnya 1949 Neruda mendapat undangan ke Rusia untuk menghadiri ulang tahun ke 150 penyair Puschkin. Tahun 1952 Neruda kembali dari masa pengasingannya dan membawa 6000 buku. Buku-buku tersebut dia sumbangkan pada Universitas Santiago de Chile.

Tahun 1955 dia berpisah dengan pasangannya Delia del Carril. Pada akhirnya Neruda kawin lagi dengan Matilda Urutti pada tahun 1966. Selama kurun waktu itu sudah banyak karya Neruda dihasilkan dan diterbitkan. Sementara itu terjadi perubahan politik di Chile. Salvador Allende menjadi presiden Chile tahun 1970.

Pro-Kontra Nobel Sastra

Karl-Ragnar Gierow, sekretaris akademi Swedia mengumumkan peraih nobel sastra pada 21 Oktober 1971 bernama Neftali Ricardo Reyes y Basoalto, sebagai duta besar Chile di Paris. Sesaat para wartawan dan juru foto bengong, tak pernah mendengar nama sastrawan tersebut. Tak berapa lama pidato diteruskan, kalau sastrawan tersebut punya pseudonim Pablo Neruda. Selama 15 tahun Neruda dicadangkan sebagai peraih nobel sastra. Pertama kali tahun 1956 yang merekomendasikan adalah seorang profesor di fakultas sastra di Aix-en Provence, Prancis. Tercatat Neruda sebagai ketiga peraih nobel sastra dari kawasan Amerika Latin, setelah Gabriela Mistral dari Chile tahun 1945 dan Miguel Asturias dari Guatemala tahun 1967. Keputusan akademi Swedia sering mengundang pendapat pro dan kontra di berbagai negara. Buku “Nobelpreis für Literatur“ mengutip berbagai media, antara lain “Le Monde“ di Prancis menyambut gembira. Koran nasional Swiss “Neue Zürcher Zeitung“ menurunkan berita, kini saatnya pemerhati karya Neruda memetik hasilnya. Di Inggris “The Guardian“ menulis, sebuah humanisme murni, yang peka terhadap perang saudara di Spanyol dan tanggap terhadap kemiskinan. Di Mailand koran “Corriere della Sera“ mempercayai keputusan akademi Swedia dan tanpa kritik. Sebaliknya beberapa media yang mengkritik antara lain dari “Le Figaro“ media borjuis liberal di Prancis ini mengatakan, politik kepenyairan kadang ikut berperan. Sebuah koran katholik “La Croix“ di Prancis berkomentar, nobel sastra sebuah fenomena politik. Media ekstrem kanan Prancis “L`Aurore“ menuduh peraih nobel sastra pada Neruda, sebuah kemenangan komunis internasional.

Lepas dari banyak pendapat berseberangan, Neruda dan Matilda menikmati masa-masa tuanya di sebuah bangunan rumah berarsitektur kapal di pinggir pantai pasifik. Rumah itu dia namakan “Pulau Hitam“ (Isla Negra). Tiga bangunan yang langsung menghadap pantai, menambah mereka hidup dengan damai. Mereka ditemani dua ekor anjing yang dibawa Neruda dari China. Kedua anjing itu diberi nama Panda dan Tschu Tu. Pada hari-hari akhir hidupnya Neruda mengatakan, “Aku selalu mengerjakan hal yang sama. Aku tak pernah akan berhenti melakukan hal itu, menulis puisi. Menulis bagiku seperti pekerjaan tukang sepatu, yang tidak makin baik atau makin buruk.“ Neruda menganggap membaca dan menulis merupakan pekerjaan yang sama pentingnya. Akan tetapi dia sangat tidak suka mencari definisi dan etiket pada sebuah karya. Apalagi membicarakan estetika, menurutnya sangat membosankan. Dia juga tak mau membandingkan karya dan menganggap rendah karya lain. Dia hanya merasa lahirnya sebuah karya sama asingnya dengan hasil karya itu sendiri. Neruda menyitir ungkapan dari Walt Whitman, “Aku tidak ingin pengaruh luar menguasaiku.“

Pada 11 September 1973 presiden Allende dibunuh di istana. Pergantian kekuasaan dengan cara kudeta oleh jenderal Augusto Pinochet sempat didengarkan oleh Neruda melalui radio di pagi hari. 12 hari berikutnya, tepatnya 23 September menjelang jam sebelas malam Neruda meninggal di Santiago de Chile, karena menderita penyakit kanker. Mayat Neruda dikuburkan di dekat rumahnya Isla Negra.

*) Sigit Susanto, tukang keliling dan tinggal di Swiss. Buku hasil kelilingnya Menyusuri Lorong-Lorong Dunia (Buku 1 dan 2)

Sumber: esai ini diunduh dari situs ini Indonesia Art News

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan