-->

Lainnya Toggle

Mochamad Ariyo Farid Zidni, Pendongeng dari Bencana ke Bencana

M ariyo farid zidniTerkesan Surat Anak Aceh, Terapi Bocah Trauma Hujan

Hobi mendongeng Mochamad Ariyo Farid Zidni kini menuai manfaat bagi ratusan anak yang pernah menyaksikan penampilannya. Pria 30 tahun itu kerap menghibur dan menumbuhkan kembali semangat anak-anak korban bencana alam.

‘MENDONGENG bagi saya bukan profesi. Itu hobi,” ujar Ariyo saat ditemui Jawa Pos pada Rabu lalu (1/9). Sosok Ariyo sebagai pendongeng tampak sederhana. Saat ditemui di sekretariat Rumah 1001 Buku, lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu datang dengan menumpang ojek. ”Pakai ojek begini lebih praktis, mengurangi kemacetan di Jakarta,” kata pria yang sehari-hari berprofesi sebagai konsultan perpustakaan itu.

Layaknya pengalaman orang lain, masa anak-anak Ariyo juga banyak mendengar dongeng lewat tutur para orang tua. Namun, seperti halnya dengan orang lain, dongeng itu pun hilang saat Ariyo memasuki masa remaja. ”Baru tertarik lagi saat kuliah,” ujarnya.

Ketika mengenyam pendidikan di bangku universitas itulah, ada salah satu mata kuliah bacaan anak yang diberikan dosen. Mata kuliah itu mengajarkan psikologi anak, termasuk bagaimana menarik minat anak untuk membaca. Salah satu metodenya melalui mendongeng. Ariyo tertarik mata kuliah itu sehingga membuat penelitian khusus tentang mendongeng.

Namun, penelitian saja tidak cukup. Memahami dongeng tentu harus dilakukan dengan mempraktikkan. ”Suatu hari, dosen saya mengajak saya mendongeng di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Red),” tuturnya.

Setiap dua minggu Ariyo membantu dua dosennya, Nina dan Murti Gunanta, untuk mendongeng di hadapan pasien anak-anak di bangsal kelas III RSCM. Selain dengan membacakan buku, Ariyo mendongeng dengan narasi.

Pelajaran mendongeng tidak hanya didapat Ariyo dari dua dosennya tersebut. Justru sosok yang paling berpengaruh dalam memotivasi Ariyo untuk menggeluti dunia mendongeng adalah Suyadi atau yang dikenal sebagai Pak Raden. Beberapa kali Ariyo ikut mendampingi Pak Raden mendongeng keliling di sekitar daerah Jakarta. Dia menyatakan kagum dengan motivasi yang diberikan Pak Raden dalam mendongeng.

”Saat kecil saya sering melihat penampilan Pak Raden. Sampai saya kuliah, ternyata beliau masih sangat bersemangat. Karakter suara beliau juga masih sama,” puji Ariyo.

Bersama Pak Raden, Ariyo belajar banyak hal tentang mendongeng. Pak Raden sama sekali tidak mengajarkan teori mendongeng. Yang penting, kata Ariyo menirukan ucapan Pak Raden, mendongeng itu harus jujur, sekalipun yang dihadapi anak-anak. ”Pak Raden meminta saya merasakan ekspresi anak-anak,” ujarnya.

Saat anak terperangah, melongo, matanya berbinar-binar, maka pesan dongeng itu pasti tersampaikan. ”Sederhana saja, nggak perlu baju mencolok, tidak perlu menjadi badut,” sebut Ariyo.

Dari belajar itulah, Ariyo kemudian mulai bisa mendongeng sendiri. Dan, intensitas mendongengnya terus meningkat saat Ariyo lulus dari bangku kuliah. Beberapa temannya yang mendirikan TK gratis ataupun pendidikan anak usia dini (PAUD) di kolong-kolong jembatan Jakarta kerap meminta Ariyo mendongeng. Untuk itu, Ariyo mengaku tidak pernah memungut sesen pun imbalan atas penampilannya tersebut.

”Karena ini hobi, saya ya ayo saja. Asalkan waktunya tepat, saya pasti datang,” ujar dosen tamu UI itu.

Pengalaman tampil di berbagai tempat membuat Ariyo memiliki cara tersendiri untuk mendongeng. Bagi dia, mendongeng ibarat berkomunikasi dengan teman dekat. Karena itu, Ariyo selalu ingin mengenal terlebih dahulu siapa anak-anak yang akan menonton pertunjukannya. Pendekatan itu perlu supaya dirinya memiliki pesan yang pas untuk anak-anak. Dengan alasan itu pula, dia tidak perlu melakukan persiapan khusus setiap akan tampil. ”Karena itu, saya harus menyimpan banyak dongeng di kepala,” ujarnya.

Ariyo menilai, anak-anak di satu lingkungan memiliki karakter dan harapan yang berbeda-beda. Misalnya, mendongeng di rumah sakit tentu berbeda dengan mendongeng di hadapan anak-anak pinggir jalan. Mendongeng kepada anak-anak sakit pun sebaiknya tidak perlu lama, cukup 15 menit hingga 20 menit untuk dua buah cerita. ”Pendongeng tidak perlu menganggap mereka sedang sakit, supaya mereka termotivasi,” jelasnya.

Berbagai pengalaman mendongeng itu kemudian membawa Ariyo ke pengalaman yang lebih jauh. Terhitung sejak musibah bencana tsunami Aceh, Ariyo selalu dimintai bantuan untuk menghibur anak-anak korban gempa. Setelah Aceh, Ariyo diundang untuk menghibur anak-anak korban gempa di Jogja, Bengkulu, Padang, Pangandaran, dan Tasikmalaya. Ariyo diminta untuk mendongeng kepada anak-anak sebagai trauma healing pascabencana alam. ”Saya banyak mendapat kesan berharga dari situ,” kenangnya.

Salah satu yang paling berkesan adalah pascabencana tsunami Aceh Desember 2004. Seorang anak korban bencana itu mengirimi surat kepada Ariyo. Tulisannya jelek, butuh waktu dua jam bagi Ariyo untuk membaca pesan si anak. Setelah dibaca serius, ternyata isinya, ”Abang kelinci, jangan lupa kasih wortelnya ya.”

Pesan anak itu mengharukan Ariyo. Dia amat terkesan. Sebab, hanya dengan dongeng dirinya selalu diingat anak-anak di mana pun bercerita. ”Saat di Aceh, saya memang banyak mendongengkan kelinci,” ujarnya. ”Saya menjadi terkenal gara-gara dongeng,” tambahnya lantas tertawa.

Peristiwa berharga juga terjadi saat bencana di Situ Gintung, Tangerang Selatan. Longsornya tanggul Situ Gintung ternyata membuat seorang anak bernama Arya mengalami trauma berat. Bocah TK itu takut kepada hujan gara-gara pemberitaan media yang terlalu mengeksploitasi penderitaan korban Situ Gintung. ”Ada mendung saja Arya sudah ketakutan,” ujar Ariyo.

Trauma berat itu nyaris membuat putus asa orang tua dan gurunya. Ariyo yang mendengar kisah pilu tersebut menyarankan Arya diterapi dengan mendengarkan dongeng. Dongeng itu harus dilakukan orang terdekat Arya, orang tua atau guru. ”Saya hanya memantau keadaannya ketika itu,” tuturnya.

Tapi, terapi dengan dongeng tidak bisa dilakukan secara instan. Pada awalnya, Arya dihibur dengan cerita-cerita dongeng dari buku. Secara bertahap, Arya diberi pengertian betapa pentingnya air, termasuk tentang hujan bahwa hujan tidak sejahat yang dibayangkan anak itu.

Ariyo tidak bisa memastikan berapa lama proses terapi itu berlangsung. Intensitas mendongeng sebagai terapi juga dipengaruhi oleh penerimaan anak atas cerita. Namun, dalam hitungan bulan, Arya bisa kembali normal. ”Sekarang Arya sudah berani hujan-hujanan,” kata Ariyo bangga.

Berbagai pengalaman tersebut terus memotivasi Ariyo untuk memasyarakatkan dongeng. Sebulan sekali Ariyo menggelar workshop gratis untuk mendongeng. Siapa pun boleh ikut. Di komunitas Rumah 1001 Buku, Ariyo juga memotivasi para anggota untuk aktif mendongeng. Ariyo lalu mendirikan komunitas reading books demi memasyarakatkan hobinya tersebut. ”Orang tua harus punya waktu mendongeng untuk anaknya,” ujar Ariyo.  (Tri Mujoko Bayuaji)

Sumber: Jawapos, 5 September 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan