-->

Resensi Toggle

IL Postino

Oleh: Diana AV Sasa

Il PostinoIL Postino

Sutradara: Michael Radford

Pemain:Philippe Noiret, Massimo Troisi, Maria Grazia

Dilayarlebarkan bersandar pada novel Antonio Skarmeta, Il Postino (1995)

Jalan Puisi dalam Politik

Puisi itu terangkai seperti ini:

Di pulau ini, laut

Semuanya laut

Mengombak dari waktu ke waktu

Berkata ya, lalu tidak,

Lalu tidak

Dalam biru, dalam buih, dalam cangkang

Berkata tidak, lalu tidak

Tak pernah tenang

Laut namaku, ulangnya

Menerjang karang

Tanpa keyakinan

Lalu dengan tujuh lidah hijau dari tujuh macan hijau

Dari tujuh lautan hijau

Membelainya, mencumbunya, membasuhnya

dan menumpahkan di dadanya

Seraya menyebut namanya, akulah laut

Sebait sajak tentang laut itu ditulis senator yang juga diplomat dan politisi di Partai Komunis Chile. Ia peraih nobel kesusastraan dan pujangga paling diperhitungkan di abad 20. Pablo Neruda namanya.

Puisi kedua. Tapi bukan dari Pablo:

Senyummu menebar di seluruh wajahmu serupa kupu

Senyummu serupa mawar

Seperti sebatang galah yang menghujam air

Senyummu adalah buih perak yang menghentak

Aku bahagia ada di sisi perempuan muda yang perawan

Seperti berada di tepi samudera putih

Aku menyukainya

Aku suka diammu

Yang seperti tiada

……

Telanjang

Kau sesederhana telapak tanganmu

Lembut, berkuasa, dan kecil

Bulat, dan bening

Kau memiliki garis bulan, lekuk apel

Telanjang

Kau setipis gandum tak berkulit

Telanjang, kau biru seperti malam di Kuba

Ada anggur dan bintang di rambutmu

Telanjang, kau begitu luas dan kuning

Seperti musim panas di gereja bersepuh emas

Puisi kedua itu ditulis seorang anak nelayan yang tak ingin jadi nelayan. Ia memilih menjadi tukang pos yang setiap hari mengayuh sepeda ke atas bukit di Isla Negra, sebuah kota kecil di bibir pantai Italia.

Dengan tekun ia mengantar surat-surat pada laki-laki paruh baya bernama Pablo Neruda. Ia tinggal di atas bukit. Ke sanalah ia menyerahkan mandat sang pengirim. Hanya seorang, satu alamat, saban hari.

Anak nelayan bernama Mario Ruoppolo itu bukanlah seorang pujangga. Bahkan ia tak mengerti bagaimana menulis puisi. Ia hanya pengagum dari puisi-puisi Neruda. Sama seperti penggemar lainnya. Namun ia ingin sekali bisa menulis puisi. Maka belajarlah ia pada sang maestro yang kebetulan ia jumpai saat mengantar surat.

Bisakah seorang yang tak pernah menulis puisi membuat puisi? Mario mencoba meyakininya dengan mencoba belajar pada pujangga kawakan sekelas Pablo Neruda. Apa yang dilakukan Mario ini sama seperti yang dilakukan tokoh Jamal dalam film Finding Forrester yang belajar pada novelis kawakan William.

Mendapat kesempatan untuk belajar pada sang maestro tentu sebuah peluang emas. Tak setiap orang mendapatkannya.

Jamal sudah membuktikan dengan hasil yang tak mengecewakan. Mario pun sama, tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia bulatkan tekad untuk belajar. Modal dasar untuk menulis sudah ia punya, minat, dan kemauan untuk belajar. Kata Andrias Harefa dalam bukunya Agar Menulis Bisa Gampang, dua hal itu adalah prakondisi yang mesti dimiliki seseorang yang ingin menjadi penulis. Mario memilikinya sudah.

Usaha Mario untuk berkenalan dengan sang maestro bukanlah perjuangan yang mudah. Pablo adalah penulis kenamaan yang acap dielukan ribuan penggemar. Tulisannya mendapat apresiasi dari kalangan sastra dunia. Ia juga pejabat dan politisi yang cukup disegani. Demikian tinggi jarak yang mesti direngkuh Mario untuk menebas batas sosial itu. Seorang tukang pos dan penyair dunia cum politisi Komunis. Maka butuh keberanian yang tak kecil untuk mendekati dan mencoba berteman dengannya. Syukur bisa menjadi guru darimana secuil ilmu bisa mengalir di kepalanya.

Mario melakukan pendekatan dengan tawaran persahabatan. Beberapa cara ia coba. Pablo yang awalnya bersikap dingin, lambat laun menanggapi juga hasrat Mario.

Pablo perlahan mengenalkan jurus dasar menulis puisi, metafora. Ya, metafora. Sebuah langkah menemukan bahasa dengan cara yang tak klise. Di tepi samudera, Pablo menuntun Mario menemukan metaforanya sendiri. Caranya dengan memancing Mario menggunakan sebuah puisi tentang lautan, hingga Mario mampu mengungkapkan perasaannya ketika mendengarkan puisi itu dan mencari pengibaratan dari perasannya. Itulah awal pertama Mario menemukan metaforanya sendiri. Metafora yang segar tapi sekaligus mudah dipahami.

Olah mengolah metafora itu membuat Mario terbiasa mencari persamaan benda satu dengan benda lain, menghubungkan peristiwa satu dengan peristiwa lain. Dan gayung bersambut ketika ia jatuh cinta pada seorang gadis putri pemilik café yang bernama Beatrice Russo. Metafora Mario mengalir sendiri dengan alami dari mulut dan pikirannya yang sudah peka pada pengandaian kata. Perempuan muda itu pun takluk hatinya setelah mendapat serbuan syair demi syair dari tukang pos itu.

Hati terpaut oleh kata, maka pintu pernikahan pun terbuka dan mereka memasukinya berdua dengan Neruda sebagai wali nikah. Persahabatan mereka telah naik satu tingkat pada hubungan yang lebih akrab laiknya saudara.

Ikatan persahabatan itu tak lekang meski kemudian Pablo harus kembali ke negerinya, Chile, karena hukumannya sebagai buangan politik dicabut. Sebagai sahabat yang tak lupa pada kawan lamanya meski ia hanya seorang tukang pos dan anak nelayan kecil, Neruda mengirim surat bernada rindu pada kota kecil tempat tinggal Mario. Beberapa kali Mario dimintainya untuk merekam debur ombak, suara camar di gigir pantai, dan bunyi lonceng.

Ditinggal Pablo, Mario seperti duplikat. Tak hanya puisi cinta yang dikeramnya dari Pablo, tapi juga aktivitas politik. Puisi dan politik adalah anak kandung yang saling membutuhkan. Pernah suatu kali Mario mendengar Pablo mewejang soal prinsip kepenyairannya. Menurut Pablo, ia menulis puisi sebagai bentuk ekspresi dari menyuarakan orang-orang yang bahkan tak mengenal puisinya. Mereka adalah saudara-saudaranya yang terpinggirkan dan termarjinalkan oleh penguasa. Puisi yang ditulisnya mestilah membawa jiwa perlawanan arus bawah. Suara orang-orang paria yang memberangkatkannya ke kursi senator. Dan Mario menubatinya.

Suasana di lapangan riuh rendah saat aksi kudeta itu hendak digelar. Orator di atas panggung meneriakkan nama Mario untuk membacakan sebait dua bait puisi Pablo. Mario menyesak di antara kerumunan revolusioner. Namun belum sampai langkahnya berakhir, sepasukan tentara meringkus dan menghabisinya hingga tewas.

Puisilah menjadi musabab kematian Mario dan dibuangnya Pablo. Puisi memang berkerabat baik dengan politik. Namun kerap politik tak mengakui kekerabatan itu. Politik selalu menjadikannya musuh yang harus enyah. Di mana pun, penyair yang berpolitik kerap menemui nasib yang mengenaskan: Pablo Neruda, Garcia Lorca, Wiji Thukul, untuk menyebut beberapa nama.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan