-->

Ruang Toggle

Gelaran Jambu: Tadarus Sastra di Kampung

Tadarus Sastra di Kampung Jambu
oleh A Iwan Kapit pada 23 September 2010 jam 2:32
Jumat, 3 September 2010
Sore itu begitu cerah. Cukup membuat gerah. Tidak seperti hari kemaren. Tak nampak mendung hitam berarak. Pertanda hujan enggan turun hari ini.
Sepulang berjumatan saya mulai sibuk mempersiapkan “tadarus” yang akan dimulai ba’da ashar. Saya tidak sendiri. Ada seorang yang membantu. Namanya Abdul Yazid. Biasa disapa Yazid. Remaja berusia 18 tahun. Adik ipar sekaligus teman berdiskusi.
Seperti kebanyakan remaja di kampung kami dia putus sekolah. Walau secara kemampuan dan kapasitas diri sangat mumpuni. Namun apa mau dikata bila ekonomi tidak bersahabat. Hanya sampai di kelas XI saja dia bisa menikmati pendidikan formal sekolah. Rasa kecewa tentu ada. Karena tak mampu menyandang ijazah SMK. Dan harus bersyukur hanya berijazah MTs.
Satu hal yang kami yakini dari suatu diskusi yang pernah kami lakukan. Bahwa belajar tidak hanya di sekolah. Bahwa belajar bisa di mana saja. Kapan saja. Dengan siapa saja. Dan membaca buku niscaya tak membuat kami miskin ilmu. Setidaknya inilah yang membuat dia masih mempunyai asa, harapan, dan mimpi-mimpi. Dengan suka cita dan antusias dia sedia membantu saya mengkondisikan hajat yang akan kami lakukan. Menyebar woro-woro ke teman-teman sebaya melalui sms. Bahkan menyatroni rumah mereka.
Taman baca masyarakat di kampung kami bernama Gelaran Buku Jambu “Daar El Fikr”. Kami memaknainya Rumah Berpikir. Letaknya di desa Jambu kecamatan Kayen Kidul kabupaten Kediri Jawa Timur. 15 Km sebelah utara pusat kota. Bila sudara hendak beranjang kemari tak sulit untuk mencari. Tinggal masuk wilayah kediri lalu bertanya kemana arah desa Jambu kecamatan Kayen Kidul. Jika sudah sampai di jalan masuk desa cukup bertanya dengan penduduk sekitar letak masjid Jambu atau rumah bapak Khoiri Kepala Madrasah Tsanawiyah Miftahul Huda Jambu. Tentu dengan sigap sudara akan ditunjukkan arahnya. Sekali lagi, sunguh tidak sulit untuk mencarinya.
Ide pendirian taman baca ini mulai dirintis akhir tahun 2008. Kami memulai dengan mengumpulkan buku-buku dari para pezakat buku. Baik personal yang kami kenal dengan karib maupun teman-teman penerbit. Pun Indonesia Buku dari Jogjakarta dengan salah seorang kerani bukunya Muhidin M Dahlan yang banyak membantu proses pengadaan buku taman baca ini di kampung kami.
Hingga pada 28 Pebruari 2010 lalu taman baca ini mulai dilaunching berbareng dengan peluncuran buku perdana yang berjudul Aku dan Ibuku. Buku tentang catatan bakti sepekan yang ditulis anak-anak desa Jambu terhadap ibunya.
Membaca bagi masyarakat Jambu merupakan hal yang langka. Bahkan tradisi ini selama beberapa generasi belum menjadi budaya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca sama sekali belum terbentuk. Ironisnya mayoritas penduduk beranggapan bahwa kegiatan membaca hanyalah kegiatan bagi mereka yang “berpendidikan”. Artinya hanya orang yang bersekolah saja yang berkeperluan dan bersinggungan dengan buku. Padahal kenyataan yang terjadi orang-orang yang bersekolah pun di desa ini minat bacanya juga masih rendah. Maka dari itu keberadaan taman baca di kampung kami ini menjadi satu ikhtiar agar budaya baca bisa tumbuh dan berkembang.
*
Segala persiapan sudah selesai. Kami berdua duduk-duduk sambil mengobrol ringan seputar kegiatan yang sama sekali baru dan belum pernah ada sebelumnya di Jambu. Sembari menunggu peserta tadarus datang. Ya, ini adalah kali pertama dilakukan di kampung kami. Kalau umumnya tadarus di desa ini adalah mengaji Al Qur’an, kitab kuning, serta kitab-kitab lain, tadarus kali ini adalah dengan mengaji karya sastra. Tadarus Sastra. Begitu kami memberi nama hajat ini.
Adalah Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karya Pramoedya Ananta Toer buku pertama yang akan ditadaruskan. Dan selaiknya bertadarus, buku karya penulis besar Indonesia ini akan dibaca, disimak, dan didiskusikan bersama-sama oleh peserta yang hadir.
“Assalamua’laikum”, uluk salam terdengar serempak dari beberapa peserta perempuan yang datang awal
“Wa’alaikumsalam”, jawab kami berdua kompak
“Ayo masuk”, saya mempersilakan. Mereka pun masuk dan kami berjabat tangan.
“Mana temanmu yang lain?”
“Tidak tahu, pak”, jawab salah seorang di antaranya
Mereka adalah Nadhirotul Choiroh, Nurul Mubarokah, Nasrul Amaliyatun Naja(kelas VII MTs), dan Rozi Nur Yanti(kelas VIII MTs). Yazid pun mulai membagi buku yang telah di foto copy satu per satu kepada mereka
Tak lama kemudian menyusul beberapa peserta laki-laki. Di antaranya Koko Atamimi, Haris Busthomi, Zainur(kelas VII MTs), Rizqi Pratama(kelas VI MI), dan Aris Setiawan(kelas X SMK).  Selain itu datang pula 2 orang guru MTs Miftahul Huda Jambu. Iskanatur Rodliyah(pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia) dan M. Saifudin Azzudi(pengajar Bahasa Inggris)
Karena sudah molor sekira 15 menit lebih kami pun segera memulai tadarusnya. Saya membuka forum dengan uluk salam dan penjelasan singkat tentang maksud tujuan tadarus sastra ini. Serta sedikit gambaran teknis kegiatan.
“Ada sebuah kalimat bijak yang pernah saya baca. Ditulis oleh salah seorang teman di facebook. Dia juga seorang penulis. Dia asli Indonesia tetapi tinggal di luar negeri. Intinya bila kita mengaji kitab suci membuat kita meraih surgawi. Bila kita mengaji sastra membuat kita menjadi lebih manusiawi”, saya pun mulai memberi sugesti.
Setelah semua peserta tadarus memperoleh buku, kami mulai membuka halaman pengantar dari Lentera Dipantara. Ada selarik kalimat Pram yang cukup menggugah. Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain. Di situ kami membaca gambaran umum tentang isi buku. Dimana Pram menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan raya yang beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia republik ini. Sejarah kelam dari bangsa yang bernama Indonesia.
Dalam tadarus ini kami sepakat setiap peserta akan membaca satu halaman secara bergantian. Peserta yang lain menyimak. Kami juga sepakat bacaan akan dibatasi di tiap-tiap kota dalam buku ini. Kemudian mendiskusikannya. Perlahan memang. Hal ini tak lain agar peserta tadarus bisa memahami alur cerita. Dan bila ada kata-kata sulit atau kurang dipahami bisa langsung ditanyakan.
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mulai kami baca.
Blora-Rembang
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1.000 kilometer sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya. Dengan jatuhnya Hindia Belanda pada 1942, disusul masa pendek pendudukan militerisme Jepang sampai 1945, berlanjut dengan Revolusi 1945-1949, orang sudah tak peduli lagi bahkan tidak ingat lagi padanya.
Kami pun begitu khidmat membaca dan menyimak bagian Blora–Rembang. Saya yang pertama memulai membaca. Menyusul kemudian halaman berikutnya oleh Risqi, Zainur, Haris, Koko, dan seterusnya. Hingga tak berasa 20 menit lebih terlewati.
Aku sendiri suka bermain di koepel ini. Keluarga Residen tak pernah kulihat bercengkrama di sini. Lebih suka lagi adalah bermain pada kakinya yang dilindungi tumpukan batu karang. Di situ aku menangkapi ikan-ikan kecil sampai sekali waktu dengan sendirinya saja menjerit. Seekor ikan kecil telah mematil tanganku. Seorang anak pantai memperingatkan agar aku segera pulang karena sebentar lagi akan terserang demam. Mengikuti nasihatnya aku pulang, dan tak kena demam. Sejak itu tak lagi berani menangkap ikan di situ. Di deretan rumah-rumah peninggalan Kompeni, juga dalam kerindangan pepohonan asam dan cemara, terdapat pemandian tempat para elite kota berenang, dan sebuah pabrik es dengan pipa-pipanya yang silang–melintang di udara.
*
“Pram, adalah seorang penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia” begitu saya memulai diskusi setelah tadarus selesai.
“Dia lahir di Blora Jawa Tengah pada tahun 1925. Dia begitu kenyang hidup di penjara. Beberapa karya besarnya adalah tetralogi pulau Buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Baca. Di gelaran ini cuma ada beberapa koleksi buku Pram. Di antaranya Arus Balik, Jejak Langkah, Gadis Pantai, dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang kita baca sekarang ini.” Lanjut saya. Peserta tadarus diam menyimak.
“Dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini kita bisa tahu bagaimana Jalur Pantai Utara atau biasa disebut jalur Pantura yang juga menjadi jalur ekonomi di Jawa sekarang ini dulu dilebarkan oleh Daendels dengan memakan banyak korban jiwa. Ini adalah salah satu genosida atau tragedi kemunusiaan terbesar yang pernah terjadi di negeri ini.”
Dalam diskusi ini saya sekaligus menunjukkan peta jalur utara Jawa terhadap peserta tadarus. Dengan pinjaman laptop serta proyektor dari MTs Miftahul Huda di kampung kami, diskusi menjadi lebih mudah. Saya juga menunjukkan beberapa foto-foto Pram, Daendels, dan kota-kota yang dilalui jalur ini. Peserta masih menyimak dan melihat gambar-gambar di dinding yang dipancarkan oleh proyektor.
“Dari pembacaan buku tadi ada yang ditanyakan?” saya mulai membuka pertanyaan ke forum.
“Koepel itu apa,pak?” tanya Haris
“Koepel ejaan lama yang dibaca Kupel dalam kamus Bahasa Indonesia itu artinya Kubah. Namun bangunan ini dulu dibuat untuk tempat bersantai melihat laut oleh para pembesar di wilayah itu.”
“Kalau residen apa, pak” tanya Risqi menyambung
“Baik, mungkin ada yang pernah dengar istilah ini dan tahu artinya?” saya pun melempar pertanyaan ke seluruh peserta tadarus. Semua tampak terdiam. Dan memang ini pertama kali mereka berdiskusi di sebuah forum. Mereka tampak malu-malu dan belum berani mengelaborasi pendapatnya. Dan setidknya dengan adanya tadarus sastra ini kelak mereka mampu belajar lebih dan berani memberikan argumennya. Begitu harapan saya dalam hati.
Melihat para peserta diam Iska pun menjelaskan
“Residen bisa diartikan pegawai pamong praja yang mengepalai suatu wilayah bagian dari propinsi yang meliputi beberapa kabupaten. Semisal Kediri itu mengepalai wilayah Tulungagung, Blitar, Trenggalek, serta Nganjuk. Makanya Kediri juga disebut karesidenan Kediri.”
Jam sudah menunjuk 17.00 tepat. Sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Kami pun mengakhiri tadarus sastra kali ini. Setelah ditutup para peserta tadarus beranjak pulang.
Ada rasa puas dan bangga terbesit dalam hati saya. Setidaknya hajat ini bisa terlaksana dengan lancar. Semoga ikhtiar ini kelak bisa membuat budaya baca di kampung kami bisa berkembang. Amien.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=478175990490&ref=notif&notif_t=note_tag

Iwan JambuOleh Ahmad Ikhwan Susilo

Sore itu, 3 September 2010, begitu cerah. Cukup membuat gerah. Tidak seperti hari kemaren. Tak nampak mendung hitam berarak. Pertanda hujan enggan turun hari ini.

Sepulang berjumatan saya mulai sibuk mempersiapkan “tadarus” yang akan dimulai ba’da ashar. Saya tidak sendiri. Ada seorang yang membantu. Namanya Abdul Yazid. Biasa disapa Yazid. Remaja berusia 18 tahun. Adik ipar sekaligus teman berdiskusi.

Seperti kebanyakan remaja di kampung kami dia putus sekolah. Walau secara kemampuan dan kapasitas diri sangat mumpuni. Namun apa mau dikata bila ekonomi tidak bersahabat. Hanya sampai di kelas XI saja dia bisa menikmati pendidikan formal sekolah. Rasa kecewa tentu ada. Karena tak mampu menyandang ijazah SMK. Dan harus bersyukur hanya berijazah MTs.

Satu hal yang kami yakini dari suatu diskusi yang pernah kami lakukan. Bahwa belajar tidak hanya di sekolah. Bahwa belajar bisa di mana saja. Kapan saja. Dengan siapa saja. Dan membaca buku niscaya tak membuat kami miskin ilmu. Setidaknya inilah yang membuat dia masih mempunyai asa, harapan, dan mimpi-mimpi. Dengan suka cita dan antusias dia sedia membantu saya mengkondisikan hajat yang akan kami lakukan. Menyebar woro-woro ke teman-teman sebaya melalui sms. Bahkan menyatroni rumah mereka.

Taman baca masyarakat di kampung kami bernama Gelaran Buku Jambu “Daar El Fikr”. Kami memaknainya Rumah Berpikir. Letaknya di desa Jambu kecamatan Kayen Kidul kabupaten Kediri Jawa Timur. Sekira 15 Km sebelah utara pusat kota. Bila sudara hendak beranjang kemari tak sulit untuk mencari. Tinggal masuk wilayah kediri lalu bertanya kemana arah desa Jambu kecamatan Kayen Kidul. Jika sudah sampai di jalan masuk desa cukup bertanya dengan penduduk sekitar letak masjid Jambu atau rumah bapak Khoiri Kepala Madrasah Tsanawiyah Miftahul Huda Jambu. Tentu dengan sigap sudara akan ditunjukkan arahnya. Sekali lagi, sunguh tidak sulit untuk mencarinya.

Ide pendirian taman baca ini mulai dirintis akhir tahun 2008. Kami memulai dengan mengumpulkan buku-buku dari para pezakat buku. Baik personal yang kami kenal dengan karib maupun teman-teman penerbit. Pun Indonesia Buku dari Jogjakarta dengan salah seorang kerani bukunya Muhidin M Dahlan yang banyak membantu proses pengadaan buku taman baca ini di kampung kami.

Hingga pada 28 Pebruari 2010 lalu taman baca ini mulai dilaunching berbareng dengan peluncuran buku perdana yang berjudul Aku dan Ibuku. Buku tentang catatan bakti sepekan yang ditulis anak-anak desa Jambu terhadap ibunya.

Membaca bagi masyarakat Jambu merupakan hal yang langka. Bahkan tradisi ini selama beberapa generasi belum menjadi budaya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca sama sekali belum terbentuk. Ironisnya mayoritas penduduk beranggapan bahwa kegiatan membaca hanyalah kegiatan bagi mereka yang “berpendidikan”. Artinya hanya orang yang bersekolah saja yang berkeperluan dan bersinggungan dengan buku. Padahal kenyataan yang terjadi orang-orang yang bersekolah pun di desa ini minat bacanya juga masih rendah. Maka dari itu keberadaan taman baca di kampung kami ini menjadi satu ikhtiar agar budaya baca bisa tumbuh dan berkembang.

* * *

Segala persiapan sudah selesai. Kami berdua duduk-duduk sambil mengobrol ringan seputar kegiatan yang sama sekali baru dan belum pernah ada sebelumnya di Jambu. Sembari menunggu peserta tadarus datang. Ya, ini adalah kali pertama dilakukan di kampung kami. Kalau umumnya tadarus di desa ini adalah mengaji Al Qur’an, kitab kuning, serta kitab-kitab lain, tadarus kali ini adalah dengan mengaji karya sastra. Tadarus Sastra. Begitu kami memberi nama hajat ini.

Adalah Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karya Pramoedya Ananta Toer buku pertama yang akan ditadaruskan. Dan selaiknya bertadarus, buku karya penulis besar Indonesia ini akan dibaca, disimak, dan didiskusikan bersama-sama oleh peserta yang hadir.

“Assalamua’laikum”, uluk salam terdengar serempak dari beberapa peserta perempuan yang datang awal

“Wa’alaikumsalam”, jawab kami berdua kompak

“Ayo masuk”, saya mempersilakan. Mereka pun masuk dan kami berjabat tangan.

“Mana temanmu yang lain?”

“Tidak tahu, pak”, jawab salah seorang di antaranya

Mereka adalah Nadhirotul Choiroh, Nurul Mubarokah, Nasrul Amaliyatun Naja(kelas VII MTs), dan Rozi Nur Yanti(kelas VIII MTs). Yazid pun mulai membagi buku yang telah di foto copy satu per satu kepada mereka

Tak lama kemudian menyusul beberapa peserta laki-laki. Di antaranya Koko Atamimi, Haris Busthomi, Zainur(kelas VII MTs), Rizqi Pratama(kelas VI MI), dan Aris Setiawan(kelas X SMK).  Selain itu datang pula 2 orang guru MTs Miftahul Huda Jambu. Iskanatur Rodliyah(pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia) dan M. Saifudin Azzudi(pengajar Bahasa Inggris)

Karena sudah molor sekira 15 menit lebih kami pun segera memulai tadarusnya. Saya membuka forum dengan uluk salam dan penjelasan singkat tentang maksud tujuan tadarus sastra ini. Serta sedikit gambaran teknis kegiatan.

“Ada sebuah kalimat bijak yang pernah saya baca. Ditulis oleh salah seorang teman di facebook. Dia juga seorang penulis. Dia asli Indonesia tetapi tinggal di luar negeri. Intinya bila kita mengaji kitab suci membuat kita meraih surgawi. Bila kita mengaji sastra membuat kita menjadi lebih manusiawi”, saya pun mulai memberi sugesti.

Setelah semua peserta tadarus memperoleh buku, kami mulai membuka halaman pengantar dari Lentera Dipantara. Ada selarik kalimat Pram yang cukup menggugah. Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain. Di situ kami membaca gambaran umum tentang isi buku. Dimana Pram menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan raya yang beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia republik ini. Sejarah kelam dari bangsa yang bernama Indonesia.

Dalam tadarus ini kami sepakat setiap peserta akan membaca satu halaman secara bergantian. Peserta yang lain menyimak. Kami juga sepakat bacaan akan dibatasi di tiap-tiap kota dalam buku ini. Kemudian mendiskusikannya. Perlahan memang. Hal ini tak lain agar peserta tadarus bisa memahami alur cerita. Dan bila ada kata-kata sulit atau kurang dipahami bisa langsung ditanyakan.

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mulai kami baca.

Blora-Rembang

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1.000 kilometer sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya. Dengan jatuhnya Hindia Belanda pada 1942, disusul masa pendek pendudukan militerisme Jepang sampai 1945, berlanjut dengan Revolusi 1945-1949, orang sudah tak peduli lagi bahkan tidak ingat lagi padanya.

Kami pun begitu khidmat membaca dan menyimak bagian Blora–Rembang. Saya yang pertama memulai membaca. Menyusul kemudian halaman berikutnya oleh Risqi, Zainur, Haris, Koko, dan seterusnya. Hingga tak berasa 20 menit lebih terlewati.

Aku sendiri suka bermain di koepel ini. Keluarga Residen tak pernah kulihat bercengkrama di sini. Lebih suka lagi adalah bermain pada kakinya yang dilindungi tumpukan batu karang. Di situ aku menangkapi ikan-ikan kecil sampai sekali waktu dengan sendirinya saja menjerit. Seekor ikan kecil telah mematil tanganku. Seorang anak pantai memperingatkan agar aku segera pulang karena sebentar lagi akan terserang demam. Mengikuti nasihatnya aku pulang, dan tak kena demam. Sejak itu tak lagi berani menangkap ikan di situ. Di deretan rumah-rumah peninggalan Kompeni, juga dalam kerindangan pepohonan asam dan cemara, terdapat pemandian tempat para elite kota berenang, dan sebuah pabrik es dengan pipa-pipanya yang silang–melintang di udara.

* * *

“Pram, adalah seorang penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia” begitu saya memulai diskusi setelah tadarus selesai.

“Dia lahir di Blora Jawa Tengah pada tahun 1925. Dia begitu kenyang hidup di penjara. Beberapa karya besarnya adalah tetralogi pulau Buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Baca. Di gelaran ini cuma ada beberapa koleksi buku Pram. Di antaranya Arus Balik, Jejak Langkah, Gadis Pantai, dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang kita baca sekarang ini.” Lanjut saya. Peserta tadarus diam menyimak.

“Dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini kita bisa tahu bagaimana Jalur Pantai Utara atau biasa disebut jalur Pantura yang juga menjadi jalur ekonomi di Jawa sekarang ini dulu dilebarkan oleh Daendels dengan memakan banyak korban jiwa. Ini adalah salah satu genosida atau tragedi kemunusiaan terbesar yang pernah terjadi di negeri ini.”

Dalam diskusi ini saya sekaligus menunjukkan peta jalur utara Jawa terhadap peserta tadarus. Dengan pinjaman laptop serta proyektor dari MTs Miftahul Huda di kampung kami, diskusi menjadi lebih mudah. Saya juga menunjukkan beberapa foto-foto Pram, Daendels, dan kota-kota yang dilalui jalur ini. Peserta masih menyimak dan melihat gambar-gambar di dinding yang dipancarkan oleh proyektor.

“Dari pembacaan buku tadi ada yang ditanyakan?” saya mulai membuka pertanyaan ke forum.

“Koepel itu apa,pak?” tanya Haris

“Koepel ejaan lama yang dibaca Kupel dalam kamus Bahasa Indonesia itu artinya Kubah. Namun bangunan ini dulu dibuat untuk tempat bersantai melihat laut oleh para pembesar di wilayah itu.”

“Kalau residen apa, pak” tanya Risqi menyambung

“Baik, mungkin ada yang pernah dengar istilah ini dan tahu artinya?” saya pun melempar pertanyaan ke seluruh peserta tadarus. Semua tampak terdiam. Dan memang ini pertama kali mereka berdiskusi di sebuah forum. Mereka tampak malu-malu dan belum berani mengelaborasi pendapatnya. Dan setidknya dengan adanya tadarus sastra ini kelak mereka mampu belajar lebih dan berani memberikan argumennya. Begitu harapan saya dalam hati.

Melihat para peserta diam Iska pun menjelaskan

“Residen bisa diartikan pegawai pamong praja yang mengepalai suatu wilayah bagian dari propinsi yang meliputi beberapa kabupaten. Semisal Kediri itu mengepalai wilayah Tulungagung, Blitar, Trenggalek, serta Nganjuk. Makanya Kediri juga disebut karesidenan Kediri.”

Jam sudah menunjuk 17.00 tepat. Sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Kami pun mengakhiri tadarus sastra kali ini. Setelah ditutup para peserta tadarus beranjak pulang.

Ada rasa puas dan bangga terbesit dalam hati saya. Setidaknya hajat ini bisa terlaksana dengan lancar. Semoga ikhtiar ini kelak bisa membuat budaya baca di kampung kami bisa berkembang. Amien.

Ahmad Ikhwan Susilo, Kontributor Indonesia Buku di Kediri

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan