-->

Kronik Toggle

"Di Sini, Makamku" — Mula Harahap

Mula Harahap, suatu kali menulis. Tentang dirinya. Tentang kematiannya. “Tapi perjalanan berziarah ke sebuah makam di Jakarta ternyata bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Dari mulai pinggir jalan hingga ke makam kita berhadapan dengan aneka tukang palak.Dan belum lagi, kalau musim penghujan, makam penuh dengan lumpur dan nyaris tak bisa dilalui. Saya pikir, kalau nanti saya mati, saya tak mau membuat orang merasa terbeban dan repot. Saya mau dikremasi saja dan—whush—abu jenazah saya silakan dibuang. Kalau para kekasih hati saya ingin menziarahi makam saya maka mereka tak perlu berurusan dengan para tukang palak dan lumpur yang tebal. Dari meja tulisnya masing-masing, dimana pun mereka berada, mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog ini.”
Dan inilah yang terjadi. Hari ini, 16 September 2010, pukul 10.00. Di Jakarta. Berikut ini rekaman ucapan belasungkawa di dinding facebooknya:
Ompu Datu Rasta Sipelebegu: “Turut berduka cita sedalamnya atas meninggalnya Bpk Mula Harahap, kawan FB yang tulisan-tulisannya mencerahkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapinya.”
Sigit Darmawan: “Pak Mula Harahap. Anda telah memberikan inspirasi bagi banyak orang, melalui kesederhanaan hidup anda, gagasan-gagasan dan pemikiran anda -yang selalu segar, tidak pernah usang dan orisinil itu – serta melalui tulisan-tulisan anda. Anda tidak pernah bosan memyemangati kaum muda untuk berpikir kritis dalam menyikapi berbagai hal. Selamat jalan pak Mula Harahap.” (GM/IBOEKOE)
Bambang Trim Selamat jalan, Bang; guru, sahabat di kancah perbukuan nasional. Salah seorg penting di balik karier saya di perbukuan. Doa kami menyertaimu, B

Mula Harahap 2Mula Harahap, suatu kali menulis. Tentang dirinya. Tentang kematiannya.

“Tapi perjalanan berziarah ke sebuah makam di Jakarta ternyata bukanlah sebuah pengalaman yang menyenangkan. Dari mulai pinggir jalan hingga ke makam kita berhadapan dengan aneka tukang palak.Dan belum lagi, kalau musim penghujan, makam penuh dengan lumpur dan nyaris tak bisa dilalui.

“Saya pikir, kalau nanti saya mati, saya tak mau membuat orang merasa terbeban dan repot. Saya mau dikremasi saja dan—whush—abu jenazah saya silakan dibuang. Kalau para kekasih hati saya ingin menziarahi makam saya maka mereka tak perlu berurusan dengan para tukang palak dan lumpur yang tebal.

“Dari meja tulisnya masing-masing, di mana pun mereka berada, mereka cukup melakukan ziarah dengan sekali klik dan tiba di makam saya, yaitu blog ini.”

Dan inilah yang terjadi. Hari ini, 16 September 2010, pukul 10.00. Di Jakarta. Berikut ini rekaman ucapan belasungkawa di dinding facebooknya:

Saut Situmorang: “Turut berduka cita sedalamnya atas meninggalnya Bpk Mula Harahap, kawan FB yang tulisan-tulisannya mencerahkan. Semoga keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapinya.”

Sigit Darmawan: “Pak Mula Harahap. Anda telah memberikan inspirasi bagi banyak orang, melalui kesederhanaan hidup anda, gagasan-gagasan dan pemikiran anda -yang selalu segar, tidak pernah usang dan orisinil itu – serta melalui tulisan-tulisan anda. Anda tidak pernah bosan memyemangati kaum muda untuk berpikir kritis dalam menyikapi berbagai hal. Selamat jalan pak Mula Harahap.”

Bambang Trim: “Selamat jalan, Bang; guru, sahabat di kancah perbukuan nasional. Salah seorg penting di balik karier saya di perbukuan. Doa kami menyertaimu…” (GM/IBOEKOE)

5 Comments

Esther Delima Nadeak - 16. Sep, 2010 -

Pribadi unik dan menarik, seperti itulah sosok seorang Armyn Mulauli Harahap, Bapauda Mula demikian aku memanggilnya. Tidak begitu banyak kenangan yang kuingat tentang beliau, hanya cerita dari Bapak dan Mama, serta Namboru-namboruku yang sempat melewati masa-masa kecil dengan beliau. Tiada kesan yang tidak baik yang dilukiskan keluarga, melainkan pelajaran “down to earth” yang ditinggalkannya sebagai kenangan terkhusus untukku sebagai ‘penggemar berat’ tulisan-tulisannya… Selamat jalan Uda… Tuhan mencintaimu…

Tiro - 16. Sep, 2010 -

RIP Pak Mula
Saya doakan surga bagi bapak.

Anasthasia Sadrach - 16. Sep, 2010 -

Sastra perjalanan!! Apakah kalian setuju dengan pendapat saya mengenai hal tsb, dlm buku perjalanan/traveling?? –> saya menganggukan kepala dgn mantab, hati dan pikiran saya, “dahsyat niy orang”! Kamu mulai dari blog sebelum menjadi buku?? Teruskan!! Begitu ucapnya.. Selamat melakukan perjalanan akhir, bapak sastra perjalanan ku..

willaz - 17. Sep, 2010 -

SELAMAT JALAN ABANG, JESUS Love U

Pipiet Senja - 17. Sep, 2010 -

Selamat jalan, Bang….
Makammu akan selalu dikunjungi, karena engkau seorang yang penuh perhatian dan tulus.
Saya selalu teringat suatu masa dulu, era 75-an, anda mengarahkan s aya dengan naskah di tangan ke sebuah penerbitan. Maka, sejak itulah buku-buku saya berlahiran.
Terimakasih dan sampai jumpa….jika saatku tiba…

Wassalam
Pipiet Senja

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan