-->

Lainnya Toggle

Buku Merah dan Ciuman Senja (Puisi untuk Neruda)

2010 09 23_Buku_Buku Merah dan Ciuman Senja, Neruda_PUISIPuisi Rama Prabu

:/pablo neruda


di jalanan, dalam pertarungan, tubuh yang tunggal, hari yang tunggal, satu hari nanti, ketika hanya ada sunyi. *)
kau mengajakku kembali menapaki selembar jalan tanpa petunjuk arah
membiarkan kita tertumbuk disudut entah

dalam kesetiaan engkau yang tak berbatas aku pun bangkit menjejaki rumput itu, memasuki puisi, meninjau ke saujana
jendela, ke semesta benda-benda *)

yang kau telah tuliskan bahwa kata-kata adalah lentera, adalah penerang ketakutanku
merangkak di lorong-lorong waktu

Kukirim isyarat merah ke arah matamu yang hampa yang menampar lembut seperti laut di pantai rumah api. **)

Tapi itu hanya sisi, laut tak selamanya biru, tak selalu berbuih putih
Isyarat merah membuat kita tetap menatap, lentera yang tak bisa dipadamkan
Tak mungkin dihilangkan, karena yang telah tertulis akan abadi selamanya

Di jalan, di pantai rumah api
Isyarat merah dan cinta yang sedang rekah
Merajut sepucuk soneta dibatas senja
Kau sekali lagi beri kekuatan, untuk bangkit
Seperti luas tanah dikebun bunga
Telah membuka dadanya untuk kau peluk, kau cium pada dahan bibirnya

satu tanaman yang baru saja ditanam, dengan wajahmu di bekas ciuman dari tanah liat, engkau pergi lalu datang lagi
memekarkan bunga, ***)
bunga merah, bunga yang mengirimkan beribu lembar kisah
antara jejak hujan, lentera, kedip isyarat kekasihku
perempuan merah yang sedang berkebun: tanganmu yang berkerabat dengan bumi ***)
sesekali menagih janji untuk ku jamah kembali

dan dari jendela ini pula,
Ketika akhirnya sebuah buku kututup aku membuka hidup. ****)
Menatap untuk kedua kali tubuh yang tunggal, hari yang tertinggal
Mencari hati, tapi tak ada sebuah buku yang mampu membungkusku dalam kertas ****)
Mempertemukan kita, menyatukan cinta

Pada akhirnya, perjalanan aku bertumpu, berkaki satu
Walau aku cinta buku yang penuh petualangan ****)
Tapi tetap tak berani berkirim bunga tanda sepadan
Sepaham, sejalur kelindan
Aku hanya menitipkan coret merah disetiap jirah

Ketika hanya ada sunyi, aku pernah memohon pada lembaran buku:
biarkan aku pergi menjauhimu. Aku bukan hendak mengenakan baju dalam jilid-jilid,
aku tidak hendak beranjak keluar untuk memunguti karya-karyaku, karena sajak-sajakku tak menyantap sajak-sajak ****)
karena sajak-sajakku tak pernah jadi serigala atau sebangsa angsa
hanya jadi rona buat sepasang pipimu

hingga sekali lagi, lembut laut, karangan bunga untuk sebatang cinta
hanya mengingatkanku padamu, pada Pinggul dan dadamu, noktah kembar merah lembayung putingmu, lekuk matamu mengalir,
mengalir, bibirmu: ranum buah, rambutmu: ikal merah, menara kecilku. *****)
yang ditanahku, dikebunku pernah jadi primadona
walau kini layu bukan dimakan waktu
seseorang telah memisahkannya dari gelaran
memutus ruas-ruasnya, memadamkan menara hingga tinggal jadi lentera
sepasang cinta yang tetap kesepian!

Note:
*) dari ode bagi pakaian, neruda
**) dari bersandar pada senja, neruda
***) dari ode bagi perempuan sedang berkebun, neruda
****) dari ode bagi buku, neruda
*****) dari kakimu, neruda

:[atas permintaan sahabat Muhidin M Dahlan dan Zen Rahmat Sugito Puisi dilahirkan, sebagai peringatan cinta untuk sang Neruda]

Bandung,22 Septeber 2010
http://www.ramaprabu.com/
http://www.dewantarainstitute.com/

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan