-->

Resensi Toggle

Bintang Merah | CC P.K.I.

1945_Bintang Merah Madjalah

Bintang Merah: Jalan Baru Bagi Kembalinya PKI di Atas Panggung

Terbit pertama kali pada November 1945, Bintang Merah adalah ladang bagaimana pemikiran intelektual-intelektual angkatan muda Partai Komunis Indonesia (PKI) dipupuk. Inilah jurnal yang menjadi penanda kepada publik bahwa PKI bangkit kembali setelah diprovokasi dan dikubur oleh pemerintah kolonial pada 1926. Namun nahas, Bintang Merah ikut terberangus bersamaan dengan kalahnya mereka di Madiun pada September 1948.

Sejak awal berdiri Bintang Merah telah memperkenalkan diri sebagai majalah politik dan diterbitkan Sekretariat Agit-Prop CC PKI. Dengan mengusung jargon ”Mingguan untuk Demokrasi Rakjat” Bintang Merah yang terbit sebanyak dua lembar ini adalah tempat Aidit, Njoto, dan tokoh-tokoh teras PKI menuangkan gagasannya. Masalah kepartaian dan pengumuman tentang CC PKI selalu menghiasi halamannya.

Namun sejak muncul larangan terbit Bintang Merah pimpinan PKI di Yogyakarta kala itu tidak berani menerbitkan kembali.

“Bintang Merah mengetengahkan satu hal bahwa PKI sangat sadar betapa efektifnya media cetak. Bagi PKI, jurnal atau koran bukanlah soal bisnis, tapi soal ideologi, sebagaimana dianut pendahulu-pendahulunya pada periode sebelum 1926. Yang menarik adalah setelah organisasi mereka dikropjok oleh pemerintah, mereka bangkit dengan mula-mula mengorganisasi ide mereka lewat jurnal. Dalam keyakinan anak-anak muda progresif seperti Njoto dan Aidit, Bintang Merah adalah jalan baru dan sekaligus buku pedoman kader membangun dan mendisiplinkan partai.”

Tahun 1949 setelah D.N. Aidit kembali dalam masyarakat, sejak peristiwa razia penangkapan September 1948 di Solo, Aidit dan Lukman segera menerbitkan kembali Bintang Merah untuk “memusatkan seluruh Partai pada satu pimpinan sentral”.

Dalam pengumuman redaksinya, jurnal Bintang Merah terbit kembali sejak 15 Agustus 1950 atau bersamaan dengan waktu peralihan RIS menjadi RI. Duduk di kursi sekretaris redaksi adalah Peris Pardede yang turut serta sebagai redaksi sejak permulaan terbit pada 1945. Pada terbitan ini P. Pardede, M. H. Lukman, D.N. Aidit, dan Njoto menjadi dewan redaksi tatkala terpilih menjadi pimpinan harian politbiro PKI. Di kediaman Pardede, Jalan Kernolong 4 Jakarta, Bintang Merah memasak gagasan-gagasan ideologi mereka sepanjang 1950-1951.

Artikel editorial yang dimuat dalam nomor pertama menyeru kepada semua kaum komunis, kaum patriot dan progresif supaya berkerumum di sekitar Bintang Merah untuk menjadi senjata memperkuat organisasi dan idiologi Partai Komunis Indonesia.

Sejatinya, kelompok yang berkumpul di sekitar Bintang Merah di Jakarta sudah cukup kuat, dan berkembang di seluruh negeri hanya dalam beberapa bulan. Kemajuan itu bisa dilihat dari cetakannya yang semula dicetak 3000, terus naik menjadi 5000, meningkat lagi 7500 dan pada tahun 1951 cetakan kedua mencapai 10.000. Jumlah ini  pun disinyalir terus mengalami peningkatan hingga cetakan-cetakan selanjutnya. Bagi jurnal serius dengan motto Madjalah untuk Demokrasi Rakjat, jumlah cetak itu sudah luar biasa.

Bintang Merah kita memberikan sinar tjemerlang menerangi djalan jang harus ditempuh oleh anggota Partai dan kaum buruh jang sedar akan klasnja. Demikianlah tidak bisa diungkiri lagi, bahwa tersusunnja kembali organisasi-organisasi Partai di-daerah-daerah adalah sebagian besar atas dorongan dan pimpinan BintangMerah kita. Ketjuali itu, bersamaan dengan memberikan dorongan dan pimpinan dalam menjusun kembali organisasi-organisasi Partai didaerah-daerah Bintang Merah kita sekaligus memberikan dasar dan pimpinan untuk memakai sendjata kritik dan self-kritik… ” (Bintang Merah, edisi 1-2 Djanuari 1951)

Jurnal setebal 86 halaman ini memuat artikel-artikel bandingan bagaimana pasang naiknya partai-partai komunis di dunia, baik di Rusia, Tiongkok, maupun Eropa, khususnya Prancis.

Bintang Merah juga memberi dasar-dasar pemahaman bagi Marxisme-Leninisme. Aidit kebagian tugas menulis dengan serius bagian ini, sebagaimana terbaca dalam artikelnya”Dasar-dasar Leninisme” dan ”Karl Marx” yang dimuat bersambung hingga lima kali.

Dari Bintang Merah kita bisa dipahamkan bagaimana anak-anak muda Aidit dan Lukman berselisih dengan rekan-rekannya di Menteng 21 seperti Wikana. Keduanya berkeras memberi tafsir dan makna atas Proklamasi Agustus. Bagi Aidit dan Lukman peristiwa Proklamasi Agustus adalah refleksi besar atas Revolusi Agustus di Uni Soviet.

Bintang Merah memang menjadi mesin penggodokan dan pematangan ideologi organisasi. Maka mereka yang diizinkan menulis di sini hanyalah segelintir orang dalam politibiro, terutama sekali Lukman, Aidit, dan Njoto. Nama yang terakhir ini dalam sebuah artikel panjanganya yang berjudul ”Pemalsuan Marxisme” menolak pengakuan Hatta sebagai seorang komunis. Pernyataan Hatta itu dilansir Njoto dari Harian Sin Po 3 November 1950: ”Apa bedanja antara saja dan seorang komunis? Bedanja jalah melainkan halnja saja masih memegang teguh igama dan seorang komunis tidak mau tahu igama. Lain dari dalam hal igama, tidak bedanja antara saja dan seorang komunis.”

Njoto jelas-jelas menolak pernyataan Hatta itu dengan mengatainya sebagai pengkhianatan atas Marxisme. Sebab di lapangan ekonomi, Hatta sebagaimana dalam percakapannya dengan Liem Koen Hian di Sit Po menganjurkan pembangunan ekonomi secara sosialis tapi menolak nasionalisasi. Terutama nasionalisasi atas perkebunan.

Itu hanya satu contoh bagaimana intelektual-intelektual PKI menyaring sedemikian rupa gagasan yang ”membelokkan” makna Marxisme. Ini terjadi oleh sebab jurnal ini sekaligus menjadi buku panduan bagi kader memahami Marxisme versi Partai Komunis Indonesia.

Pada akhirnya, Bintang Merah adalah jalan baru kedua PKI—setelah ”jalan baru” Musso di Madiun—yang dikelola dan digerakkan oleh anak-anak muda progresif, militan, dan radikal. Jurnal ini merupakan lokomotif pendorong hingga PKI menjadi partai yang diperhitungkan pada Pemilu 1955.  (Rhoma Dwi Aria Yuliantri)

1 Comment

komik upn - 01. Okt, 2010 -

darah rak’jat masih berjalan menderita lapar dan miskin…tiba saatnya pembalasan kita lah yang menjadi hakim…

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan