-->

Kronik Toggle

Bedah Buku 'Guru-Guru Keluhuran'

Ketekunan dan Kesetiaan Memudar
Rabu, 1 September 2010 | 02:55 WIB
KOMPAS/JOHNNY TG
Wartawan senior Rosihan Anwar (kiri) memberikan tanggapan dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku Guru-Guru Keluhuran Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman, Selasa (31/8) di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. Acara ini menghadirkan pengamat politik Mochtar Pabottingi, budayawan Mohamad Sobary, dan dosen Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Karlina Supelli, dengan moderator Fadjroel Rachman. Buku terbitan Penerbit Buku Kompas ini berisi tulisan 23 tokoh nasional berbagai bidang yang mengalami zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.
Jakarta, Kompas – Ketekunan dan ketahanan untuk tetap setia mendalami suatu persoalan hingga tuntas dan berakhir dengan solusi kian pudar. Apalagi pada generasi muda yang lebih mementingkan citra dan memiliki impian meraih kesuksesan dengan cara instan. Sikap generasi muda ini berbeda dengan generasi anak tiga zaman yang pernah menjalani zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.
Dosen Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Karlina Supelli, mengemukakan hal itu pada Peluncuran dan Bedah Buku Guru-Guru Keluhuran Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman, Selasa (31/8) di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. ”Tingkat intelektual dangkal. Generasi muda hanya menyentuh persoalan di permukaan dan perhatiannya mudah sekali berganti pada persoalan lain,” ujarnya.
Namun, dalam pandangan budayawan Mohamad Sobary, lebih baik impian anak muda dibiarkan berbeda karena mereka berasal dari generasi yang berbeda. ”Biarkan anak muda memimpikan masa depannya,” ujarnya.
Pengamat politik Mochtar Pabottingi mengemukakan, sebagian besar dari 23 tokoh nasional yang menulis dan mengungkapkan cerita tentang impian, cita-cita, dan harapannya di dalam buku setebal 303 halaman itu mengaku telah mencapai impiannya. ”Tetapi, impian sebagai bangsa belum terwujud. Bahkan, ada kemunduran,” ujarnya.
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef berharap, buku berisi catatan sejarah dan pengalaman hidup masing-masing penulis itu bisa menjadi bahan pelajaran bagi generasi muda.
Buku terbitan Penerbit Buku Kompas itu berisi cerita impian, cita-cita, dan harapan 23 tokoh nasional yang menjalani zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Ke-23 tokoh nasional itu berkiprah di berbagai bidang. (LUK)
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/01/0255329/ketekunan.dan.kesetiaan.memudar

JAKARTA – Ketekunan dan ketahanan untuk tetap setia mendalami suatu persoalan hingga tuntas dan berakhir dengan solusi kian pudar. Apalagi pada generasi muda yang lebih mementingkan citra dan memiliki impian meraih kesuksesan dengan cara instan. Sikap generasi muda ini berbeda dengan generasi anak tiga zaman yang pernah menjalani zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.

Dosen Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Karlina Supelli, mengemukakan hal itu pada Peluncuran dan Bedah Buku Guru-Guru Keluhuran Rekaman Monumental Mimpi Anak Tiga Zaman, Selasa (31/8) di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta. ”Tingkat intelektual dangkal. Generasi muda hanya menyentuh persoalan di permukaan dan perhatiannya mudah sekali berganti pada persoalan lain,” ujarnya.

Namun, dalam pandangan budayawan Mohamad Sobary, lebih baik impian anak muda dibiarkan berbeda karena mereka berasal dari generasi yang berbeda. ”Biarkan anak muda memimpikan masa depannya,” ujarnya.

Pengamat politik Mochtar Pabottingi mengemukakan, sebagian besar dari 23 tokoh nasional yang menulis dan mengungkapkan cerita tentang impian, cita-cita, dan harapannya di dalam buku setebal 303 halaman itu mengaku telah mencapai impiannya. ”Tetapi, impian sebagai bangsa belum terwujud. Bahkan, ada kemunduran,” ujarnya.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef berharap, buku berisi catatan sejarah dan pengalaman hidup masing-masing penulis itu bisa menjadi bahan pelajaran bagi generasi muda.

Buku terbitan Penerbit Buku Kompas itu berisi cerita impian, cita-cita, dan harapan 23 tokoh nasional yang menjalani zaman kolonial Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Ke-23 tokoh nasional itu berkiprah di berbagai bidang. (LUK)

Sumber: Kompas, 1 September 2010, “Ketekunan dan Kesetiaan Memudar”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan