-->

Penerbit Toggle

Balai Poestaka

Oleh: Muhidin M Dahlan

Balai Pustaka, radjanovelbekasblogspotcomBalai Poestaka/Volkslectuur didirikan dalam rangka Politik Etis di samping lembaga-lembaga lain, yaitu sebagai alat untuk menyisipkan dan menyebarkan sejumlah konsep dan nilai Barat bercap modern di Hindia Belanda, sekaligus untuk menjaga tatanan kolonial. Di sini, tulis Jedamski (2009) dan Jerome (2009) Balai Poestaka (BP) telah berfungsi sebagai “penyebar peradaban, penyebar modernisasi, penenang”.

Menurut J.S. Furnivall (2009), Biro untuk Bacaan Rakyat atau BP ini dihadirkan untuk menyediakan literatur yang layak untuk Jawa modern lantaran bacaan yang tersedia untuk Pribumi “murahan dan memuakkan”.

Kehadiran BP itu, lanjut Furnivall, adalah salah satu bukti yang menonjol dari gagasan etis bahwa rakyat yang belajar membaca perlu buku, dan bahwa di antara rakyat yang tidak pernah membaca buku perlu disuntikkan kebiasaan membaca. Perkara ini tidak sama sekali diabaikan selama banjir pertama Liberalisme, ketika semangat balas budi pada 1848—irigasi, imigrasi, edukasi—belum lagi tenggelam oleh pertimbangan praktis.

Sudah sejak 1851 upaya dilakukan untuk mendorong publikasi buku-buku yang pantas, dan pada 1855, dan sekali lagi pada 1858, pemerintah menawarkan hadiah untuk “cerita atau sajak moral, lebih disukai dengan konteks Timur, atau cerita Barat yang mudah disesuaikan dengan lingkungan Timur”.

Van Deventer bolehlah disebut Bapak Politik Etis di Hindia, tapi Van Heutsz pada 1908 yang merombak model pendidikan dengan menawarkan sekolah desa. Menurut Heutsz, tak banyak guna mengajar anak membaca kecuali kalau mereka punya buku untuk dibaca setelah meninggalkan sekolah. Dan dibentuklah Komite untuk meneliti semua itu. Namun tak banyak yang dilakukan hingga 1910 tatkala Dr D.A. Rinkes dari Departemen Urusan Pribumi diangkat sebagai ketua Balai Pustaka.

Pemahamannya yang mendalam akan kehidupan pribumi memungkinkan dia sadar bahwa perlu sekali mengatur permintaan akan buku; sekadar menerbitkannya hanya perkara membelanjakan uang, tapi kecuali yang dibaca, dan akan menjadi uang yang tersia-sia. Orang yang tak pernah membaca atau melihat buku tak punya kebiasaan membaca, dan kesulitan utama adalah menciptakan kebiasaan membaca; kalau dia bisa mengorganisasikan permintaan akan buku tak akan ada kesulitan dengan suplai.

Solusinya adalah bahwa rakyat, yang tak mau membuang uang untuk membeli buku, bisa dibujuk membayar sedikit untuk meminjam, dan bahwa, kalau anak-anak bisa diajar menikmati bacaan, mereka mungkin akan terus membaca setelah meninggalkan sekolah. Karena itu Rinkes berusaha mendirikan perpustakaan di setiap sekolah Kelas Kedua atau sekolah standar dan pada 1914 ada perpustakaan kecil di 680 sekolah. Segera tampak bahwa ada juga permintaan untuk buku-buku Belanda, dan pada 1916 buku-buku berbahasa Belanda disediakan di 100 perpustakaan.

Anak sekolah diperbolehkan meminjam buku dengan gratis, tapi orang dewasa harus membayar 2,5 sen sejilid. Manajer sekolah, sebagai pustakawan, didorong untuk mempromosikan pembacaan dengan diperbolehkan menyimpan sewa yang diterima dari buku yang dipinjamkan.

Ketika permintaan di tempat mana pun memperlihatkan bahwa mungkin ada pembeli di sana, Rinkes menunjuk seorang agen lokal sebagai penjual buku, yang biasanya berhasil untuk beberapa waktu. Tapi karena kecilnya ukuran pasar, penjualan segera menurun, dan agen kehilangan minat pada bisnis itu. Untuk mengatasi masalah ini mobil-buku disebar, dan sebagian agen yang diserahi pekerjaan ini berhasil menjual hingga 2.500 buku per bulan dengan nilai f 1000. Mobil-buku ini terus-menerus berpindah.

Tapi untuk setiap publikasi baru selalu ada pembeli potensial yang tak tercapai di mobil ini, dan BP mengatasinya dengan mengirimkan edaran. Usaha ini terbatas pada mereka yang melek huruf dan dengan mengirimkan edaran kepada semua pemilih, BP mampu membangun daftar kuat pelanggan reguler.

Buku-buku yang dikirimkan ke perpustakaan biasanya adalah terbitan BP sendiri dan terdiri dari cerita pribumi yang ditulis ulang untuk generasi berikutnya, atau diadaptasi dari karya-karya Barat. Buku-buku yang ditulis untuk dunia Barat biasanya tak terbaca atau bahkan tidak bisa dimengerti bila dipindahkan ke dalam bahasa Timur.

Tapi BP mengatasi kesulitan ini dengan mengontrakkan sebagaian besar pekerjaan itu kepada penulis-penulis luar yang bayarannya sebagian bergantung pada hasil penjualan buku, dan cara ini BP menyusun teknik untuk penerjemahan dan adaptasi.

Menurut Jedamski (2009), umumnya naskah yang diterjemahkan mencerminkan: (1) minat ilmiah atau hobi anggota Commisie; (2) pandangan mereka yang Eropa-sentris tentang penduduk pribumi dan kebutuhan mereka. Buku-buku berbahasa Belanda diterjemahkan ke bahasa sasaran seperti Melayu, Sunda, Jawa, dan Madura. Karena proyek penerjemahan itu adalah proyek politik untuk menandai wilayah kuasa, maka bahasa sasaran terbanyak adalah Sunda, Jawa, dan Madura. Terjemahan ke bahasa Melayu sangat sedikit. Dan fenomena ini bertahan hingga awal 1920.

Yang dipilih Commissie sebagai terbitan Volkslectuur yang pertama, untuk menunjuk contoh, ialah saduran Jawa dari versi Belanda yang dibuat Juynboll dari naskah Kawi Serat Mahabarata yang asalnya dari saduran bahasa Sanskerta. Yang lain-lain umumnya bertema soal mental hubungan antara pribumi yang menjadi jongos bagi tuan majikan orang Belanda.

Samuel (2009) memerinci tiga kriteria penerjemahan ke bahasa Melayu: pengarang atau penerjemah harus (1) menyusun kalimat yang sangat pendek; (2) menghindari bentuk berimbuhan; dan (3) mengutamakan kosa kata yang lazim dipakai tanpa memandang baku tidaknya. Sebaliknya tata bahasa harus tetap mengikuti patokan-patokan yang ditentukan van Ophuysen.

Di antara karya-karya yang sudah diadaptasi berdasarkan kriteria-kriteria itu terdapat The Old Curiosity Shop, Oliver Twist, Baron Munchausen, Le Gendre de M. Poirier, dan L’Avare; dan di antara yang diterjemahkan terdapat Monte Cristo, The Three Musketeers, Twenty Years After, Tom Sawyer, The Jungle Book, Gulliver’s Travels, dan Ivan the Fool.

Karya-karya lain termasuk Sejarah Jawa, Panduan untuk Tukang Kayu, Tukang Batu, dan Tukang Listrik, dan buku-buku soal pertanian, higiene, dan sebagainya, sebagaimana yang menjadi konsens tema yang termuat dalam majalah Sri Poestaka yang terbit pertama kali pada 1918.

Setelah memiliki mesin cetak sendiri pada 1921, BP mengembangkan sayapnya dan menerbitkan majalah Pandji Pustaka pada 1923 yang terbit tiap pekan. Majalah ini berisi berita-berita penerangan dari pemerintah dan memuat cerita-cerita pendek. Cerita-cerita pendek itu kebanyakan reproduksi dari sastra lisan tradisional yang sudah dikenal sejak lama sebagai cerita pelipur lara. Sifatnya adalah hiburan semata dan dapat dikategorikan sebagai bacaan di waktu senggang.

Jika pun ada terbitan BP yang sedikit “melawan”, umumnya sudah mengalami domestifikasi, publikasi terbatas, dan sudah dinyatakan “aman”. Itulah yang ditemukan pada roman seperti Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, dan Salah Asuhan yang juga merupakan cara BP merekrut penulis-penulis dari kaum pergerakan untuk “meluluhkan” kaum pergerakan yang makin hari makin intens penyerangannya terhadap pemerintah.

Sitti Nurbaya, misalnya, sering menjadi alamat bagi adat kawin paksa yang banyak dihujat. Padahal, Sitti Nurbaya dalam roman ini tidaklah terpaksa menikah lantaran adat, melainkan soal lain: ekonomi.

Kejanggalan lainnya adalah asumsi prokolonial yang dikandungnya: Samsulbahri dilukiskan sebagai serdadu yang memerangi rakyat yang menolak belasting atau pajak yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial. Adapun Datoek Meringgih digambarkan sebagai tokoh yang luar biasa jahat. Dengan gambaran ini posisi Datuk Meringgih sebagai orang yang menentang pajak dan kekuasaan kolonial secara terbuka pupus.

Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana sudah mulai “bertendens”, walau tak lugas sebagaimana kita lihat pada “bacaan liar”. Roman ini mengajukan ide-ide cemerlang tentang hal ini, terutama tentang emansipasi
perempuan.

Sedangkan Belenggu bergerak semakin mendalam dengan melampaui batas sosial dan memasuki ranah psike. Monolog interior dalam Belenggu belum biasa digunakan pada masa roman ini terbit. Namun yang lebih belum biasa lagi adalah sikap dan ide yang diajukannya tentang hubungan pernikahan, peran intelektual dalam masyarakat, dan peran sosial perempuan. Saking janggalnya bagi masanya, novel ini ditolak awal-awal Balai Poestaka dan mau menerbitkannya dengan catatan dipotong di sana-sini.

Puncak dari usaha BP merekrut tenaga penulis Indonesia untuk mau menulis atau menjadi penerjemah di penerbitan pemerintah ini adalah lahirnya angkatan baru dalam kesasteraan Indonesia yang menyebut diri dengan Poedjangga Baroe dengan merujuk pada majalah terbitan mereka: Poedjangga Baroe. (Dari pelbagai sumber. Kuplet ini bagian dari riset panjang tentang “Keaksaraan Membangun Peradaban”)

Foto: radjanovelbekas.blogspot.com

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan