-->

Penerbit Toggle

Balai Poestaka dan Penjina'an “Batjaan Liar”

Oleh: Muhidin M Dahlan

Student HidjoSalah satu tugas utama Balai Poestaka (BP) adalah menjinakkan apa yang mereka sebut “bacaan liar” atau meminjam istilah Furnivall sebagai bacaan “murahan dan memuakkan”. Dan umumnya “bacaan liar” itu adalah buku atau naskah-naskah yang diproduksi aktivis pergerakan dan organ-organ kebangsaan yang bekerja habis-habisan untuk membibitkan kesadaran kolektif kebangsaan.

Tugas menghalau “bacaan liar” itu disebutkan Rinkes dalam kalimat berikut ini: “Tambahan lagi harus pula dicegah, janganlah hendaknya kepandaian membaca dan kepandaian berpikir yang dibangkitkan itu menjadi hal yang kurang baik dan kurang patut, sehingga merusakkan tertib dan keamanan negeri dan lain-lain… hasil pengajaran itu boleh juga mendatangkan bahaya, kalau orang-orang yang tahu membaca itu mendapatkan kitab-kitab bacaan yang berbahaya dari saudagar kiab yang kurang suci hatinya dan dari orang-orang yang bermaksud hendak mengharu.”

Yang dimaksud “bacaan liar” adalah jenis bacaan yang diterbitkan swasta (Pribumi, Tionghoa, dan Indo Peranakan) yang tak mengikuti aturan kebahasaan yang sudah ditetapkan pemerintah Hindia Belanda, yakni bahasa “Melayu Tinggi” sebagaimana yang “dibakukan” Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim pada 1901. Hasil pembakuan itu dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

Adapun bahasa Melayu terdahulu mereka berikan atribut merendahkan seperti “Bahasa Melayu Rendah”, “Bahasa Melayu Gado-Gado”, “Bahasa Melayu Kacau”, dan sebagainya. Dan bahasa itulah yang dipakai aktivis pergerakan menerbitkan brosur dan tulisan-tulisan yang dianggap “liar”.

Mengulas “bacaan liar”, kita mestilah menyebut nama Tirto Adhi Soerjo sebagai salah satu pribadi yang dengan sadar memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi di Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia. Tokoh ini pula yang menyatakan pendapat ketaksetujuannya ketika pemerintah mendirikan BP pertama kali. Menurut Tirto, kenapa dana itu tak diberikan kepada rakyat saja untuk mengongkosi bacaan mana yang mereka butuhkan dalam kehidupan.

Apa yang dilakukan Tirto mendorong pribadi-pribadi lain mengikuti jalan “bacaan liar” ini, seperti Soeardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Tjokroaminoto, Abdul Muis, Mas Marco Kartodikromo, Misbach, Soerjopranoto, Abdul Muis, Semaoen, Darsono, dan aktivis pergerakan lainnya. Mereka semua menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin (kromo). Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Bacaan itu juga membeberkan pemahaman dan kesadaran politik kekuasaan kolonial.

Salah satu “bacaan liar” yang cukup terkenal adalah tulisan Soeardi Soerjaningrat “Seandainya Saya Seorang Belanda,” yang ditulisnya dalam rangka menyambut perayaan bebasnya Nederland dari kekuasaan Prancis.
Dalam menulis brosur tersebut Soeardi dibantu kedua sahabatnya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan ini diumumkan dalam suratkabar Indissche Partij, De Expres, yang saat itu tirasnya mencapai 1.500. Gara-gara tulisan tersebut penerang Indissche Partij itu ditangkapi dan dibuang ke Belanda yang 10 tahun kemudian membelokkan Soeardi dari gerakan politik menjadi aktivis pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa pada 1923.

Penulis “bacaan liar”—dan berkembang menjadi “literatuur socialistich”—selalu menyesuaikan tulisannya dengan kebutuhan para pembacanya (pendukung), sehingga bahasa maupun ungkapan yang ditampilkan dalam bacaan, sarat dengan ekpresi dan ideologi pendukungnya. Umpamanya untuk menjelaskan perkembangan modal, diciptakan istilah “setan oeang” atau kebebasan diganti dengan “mardika”.

Harganya pun dibuat bersaing dengan harga bacaan BP. Harganya rata-rata di atas f.0,30,- dan bahkan untuk Sjair Internationale yang diterjemahkan oleh Soeardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada 1921 menjadi Darah Ra’jat, dijual dengan harga f. 0,15.

Jelas harga yang murah merupakan kesengajaan dari para penulis dan penerbit buku-buku “bacaan liar” agar bisa bersaing dengan BP. Dalam hal distribusi bacaan, pesan-pesan penerbit “bacaan liar” lebih dapat diterima oleh para pembaca. Penyebaran bacaan, biasanya beriringan dengan rapat-rapat umum.

Misalnya saja Sjair Internasionale dinyanyikan pada rapat-rapat umum, sebagaimana ditegaskan Marco dalam Rasa Merdika: “berbareng dengen keloeranja orang-orang itoe maka terdengerlah soeara dalem vergadering itoe lagoe-lagoe socialisme dinjanjikan orang, jang maksoednja membangoenkan hati persaudaraan bersama.” Syair ini juga didengungkan pada saat pemogokan besar di Solo pada tahun 1923, di mana massa Sarekat Islam menjanjikan Sjair Internasionale.”

Alhasil, bacaan yang dianggap “bacaan liar” itu sesungguhnya “bacaan politik”. Hampir semua bacaan yang diproduksi oleh para pemimpin pergerakan apakah bentuknya novel, roman, surat perlawanan persdelicht dan cerita bersambung, isinya menampilkan kekritisan dan perlawanan terhadap tata-kuasa kolonial.

Salah satu tokoh pergerakan Aliarcham mengatakan: “Ada kaoem intelektuil jang tida soeka tjampoer dengan pergerakan kita karena merasa maloe, tetapi mereka djoega akan berhoeboengan dengan fihak sana djoega tidak lakoe, paling2 djadi orang soeroehan. Tapi kita kaoem intelektuil proletar berdjoeang oentoek mendirikan koeltoer baroe, dimana tida terdjadi orang minoem darah orang lain. Dari sekarang pendidikan haroes dimoelai dari sekolah rendahan. Kita haroes banjak mengeloearkan batjaan oentoek anak2 Ra’jat kita. Batjaan ini boekannja mengadjar orang takoet sama pemerentah tapi mendidik rasa mardika dan rasa berkoempoel dan nafsoe berdjoeang melawan batjaan2 jang dikeloearkan pemerentah.”

Selain “roman politik” dan “literatuur socialis”, yang turut masuk dalam “bacaan liar” adalah cerita-cerita silat yang diproduksi percetakan dan disiarkan lewat pers-pers Tionghoa dan juga roman-roman karya keturunan Indo seperti F.H. Wiggers, H. Kommer, dan F. Pangemanan. (Dari pelbagai sumber)

* Penjelajahan lebih dalam tentang “Batjaan Liar”, bisa dilihat dari artikel panjang yang ditulis Razif. Klik di sini.

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan