-->

Resensi Toggle

Prahara Budaya (Taufiq Ismail-DS Moeljanto) VS Lekra Tak Membakar Buku (Muhidin M Dahlan-Rhoma Ria Yuliantri)

“LTMB” Melawan “Prahara Budaya”

Oleh Zen Rachmat Sugito

Judul: Lekra Tak Membakar Buku (Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965)
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan
Penerbit: Merakesumba Yogyakarta, Oktober 2008
Tebal: 582 halaman

Judul: Prahara Budaya (Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk.)
Penulis: D. S. Moeljanto dan Taufiq Ismail
Penerbit: Mizan, Maret 1995
Tebal: 472 halaman

Sampul_Prahara Budaya01Jika buku Prahara Budaya: Kilas Balik Offensif Lekra susunan Taufik Ismail dan DS Moejanto bisa disebut sebagai “buku hitam Lekra”, maka buku Lekra Tak Membakar Buku bisalah disebut sebagai “buku putih Lekra”.

Prahara Budaya diklaim Taufik Ismail sebagai “upaya meluruskan sejarah yang pernah dibengkokkan”. Klaim itu dilontarkan Taufik saat peluncuran buku Prahara Budaya di Fakultas Sastra UI pada April 1995. Ketika itu, seorang mahasiswa—sembari terisak—bertanya: ”Apakah masih perlu juga pembalasan. Bukankah sudah cukup selama ini hukuman yang diterima mereka (maksudnya aktivis Lekra)?” (Media Indonesia, 2 Juli 1995)

Prahara Budaya dilansir pada 1995, 30 tahun setelah peristiwa 1965, rentang waktu di mana buku-buku sejarah yang beredar semua-muanya berisi stigma dan kampanye hitam terhadap PKI, Lekra dan semua hal yang tersangkut dengan keduanya. Tidak ada yang diluruskan oleh Taufik Ismail karena Prahara Budaya isinya segendang-sepenarian dengan isi buku-buku sejarah yang beredar selama 30 tahun sebelum Prahara Budaya diterbitkan.

Yang pasti, buku Prahara Budaya justru makin “menghitam-hitamkan” wajah Lekra yang sudah coreng-moreng dengan hitam jelaga yang dicipratkan secara laten oleh Orde Baru.

Sementara buku Lekra Tak Membakar Buku pantas disebut sebagai “buku putih Lekra” bukan semata karena sampul buku ini memang berwarna putih. Istilah buku putih biasanya digunakan untuk menjelaskan sikap resmi suatu lembaga (termasuk pemerintah) terhadap suatu isu atau topik tertentu, biasanya terkait dengan sesuatu yang kontroversial dan penuh silang sengkarut.

Bukan, buku ini bukan pernyataan/sikap resmi Lekra secara organisasi karena Lekra sudah tewas jauh sebelum buku ini terbit tanpa sempat membuat wasiat apalagi pleidoi. Buku ini bisa disebut sebagai “buku putih” (dengan tanda petik) karena seluruh isinya disusun berdasar riset terhadap lembar/rubrik kebudayaan Harian Rakyat yang memang seluruhnya digawangi oleh para aktivis Lekra.

Pembaca yang sudah mengkhatamkan Prahara Budaya dan belakangan membaca Lekra Tak Membakar Buku niscaya akan menemukan banyak sekali hal yang tak diungkapkan duet Taufik Ismail-DS Moejanto. Nyaris dalam segala aspeknya, Lekra tak punya wajah yang mulus di mata Prahara Budaya. Hanya ada Lekra yang berwajah hitam, bopeng-bopeng moralnya, penaka monster yang buas, seperti memedi yang pantas dijauhi oleh anak-anak.

Mari kita lihat beberapa kontras antara Prahara Budaya (selanjutnya ditulis PB) dengan Lekra Tak Membakar Buku (selanjutnya ditulis LTMB) dalam hal menggambarkan Lekra.

PB mencoba menegaskan kalau Lekra itu identik dengan PKI. Diksi “menegaskan” sengaja saya pakai karena apa yang dinyatakan PB hanya mengekor klaim resmi Orde Baru bahwa Lekra memang identik dengan PKI. Penegasan itu sudah muncul sedari sampul PB yang memasang anak judul: “Kilas Balik Offensif Lekra/PKI”. Pilihan menggunakan tanda hubung “/” punya implikasi linguistik yang tidak sederhana karena tanda “/” bisa dibaca “atau” dan sekaligus bermakna bahwa dua entitas yang dipisah oleh tanda “/” itu sama persis atau bahkan identik (bandingkan dengan versi resmi Orde Baru yang juga menyebutkan G 30S/PKI).

PKI pernah ditulis dengan cara itu oleh Soe Hok Gie dalam studinya tentang Peristiwa Madiun 1948. Gie menulis “PKI/FDR” (Front Demokratik Rakyat). Tapi cukup jelas, FDR yang terdiri dari sejumlah partai-partai kiri pada waktu itu secara resmi memang mengabungkan diri kepada PKI yang waktu itu baru saja diambil alih oleh Musso yang baru kembali dari Sovyet.

Sementara LTMB menggunakan tanda “—“ untuk menggambarkan hubungan antara Lekra dan PKI. Tanda “—“ digunakan oleh penyusun LTMB untuk menggambarkan bagaimana PKI dan Lekra beriringan dalam sejumlah hal tapi keduanya tak kembar identik. PKI dan Lekra memang sepaham dalam banyak soal, seperti dalam isu anti-kapitalisme dan imperialisme.

Tapi, keduanya tidak identik atau Lekra tak pernah secara resmi menginduk dengan PKI. LTMB tidak mengatakan bahwa Lekra dan PKI sama sekali tak ada hubungannya. Hubungan antara Lekra dan PKI memang nyata-nyata ada. Tapi menyebut Lekra sebagai kembar identik dengan PKI atau onderbouw resmi PKI (macam Pemuda Anshor bagi NU atau Gerakan Pemuda Ka’bah bagi PPP) tak pernah bisa dibuktikan kebenarannya. Lekra tak pernah bisa di-PKI-kan, karena itulah PKI membuat Konferensi Seni dan Sastra Revolusioner (KSSR) yang merupakan wadah resmi seniman dan budayawan PKI. (LTMB, hlm. 52-58)

“Lekra tak pernah menjadi underbow PKI. Lekra adalah organisasi merdeka yang tak masuk dalam kendali komando PKI…Walau tak bisa dipungkiri bahwa banyak pekerja budaya komunis yang menjadi anggota Lekra di pucuk-pucuk pimpinannya (LTMB, hlm. 61). …Menyebut Lekra bersih sama sekali dari pengaruh PKI adalah kesalahan fatal, tetapi menyebutnya menginduk kepada PKI juga keliru. Lebih tepat hubungan itu adalah hubungan kekeluargaan ideologi.” (LTMB, hlm. 63)

Frase “kekeluargaan ideologi” yang digunakan LTMB untuk menggambarkan hubungan Lekra dan PKI ini senapas dengan frase “sealiran politik” yang digunakan Keith Foulcher dalam buku Social Commitment in Litterature and the Arts atau frase “keluarga komunis” yang digunakan oleh Saskia Wieringa dalam buku Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia sewaktu menjelaskan hubungan antara PKI dan Gerwani yang juga gagal secara resmi di-PKI-kan. Istilah Keluarga Komunis oleh Antariksa dalam buku Tuan Tanah Kawin Muda: Hubungan Seni Rupa-Lekra disebut sebagai penggambaran yang lebih pas bagi hubungan-hubungan lentur daripada hubungan formal-organisatoris yang bisa diperintah semaunya.

LTMB sudah menjelaskan hal itu dalam bab “Mukaddimah” juga pada bab-bab selanjutnya secara lebih detail. Bisa dimengerti jika pembabaran tersebut sudah dimulai sejak bagian pembuka karena perkara tersebut memang merupakan titik yang krusial dan mendasar sebab dari situlah semua kampanye dan stigmatisasi Lekra identik dengan PKI berpangkal.

Dari hubungan Lekra dan PKI yang digarismiringkan (“/”) oleh PB itulah maka Taufik Ismail dan DS Moejanto menyusun—misalnya—bagian kelima PB yang diupayakan untuk mencitrakan betapa para penyair Lekra memang menghamba pada Lenin dan Komunisme dan bahkan dianggap sudah tahu peristiwa 1 Oktober 1965. PB menyebut puisi penyair Mawie yang berjudul “Kutunggu Bumi Memerah Darah” yang dimuat pada 21 Maret 1965 pada lembar budaya “Lentera” di harian Bintang Timur sebagai bukti (saya kutipkan langsung dari PB, hlm 219) “karena rupanya dia sudah tahu sebelumnya”. Maksudnya, penyair Mawie dianggap sudah tahu bahwa akan terjadi pertumpahan darah pada 1 Oktober 1965.

Saya kira itu tuduhan yang berlebihan karena bahkan tidak semua petinggi PKI tahu akan ada peristiwa 1 Oktober 1965. Argumen yang menyebut bahwa PKI adalah dalang peristiwa tersebut rata-rata menyebut peran Biro Khusus PKI yang merupakan organ non-struktural PKI dan dibentuk Aidit tanpa melalui rapat resmi. Jika Biro Khusus yang (kabarnya) merancang penculikan dan pembunuhan para jenderal saja tak diketahui petinggi PKI lainnya, apa lagi seorang penyair macam Mawie atau anggota Lekra lainnya yang secara organisatoris memang tak pernah menjadi organ resmi PKI.

Ini propaganda, saya kira, karena terlalu berlebihan menyebut Mawie tahu akan terjadi pertumpahan darah pada 1 Oktober 1965, apalagi PB tidak pernah menjelaskan argumen atas tuduhannya itu dalam sebiji kalimat pun. Dengan memvonis penyair Mawie sudah tahu peristiwa 1 Oktober 1965 jauh-jauh hari sebelumnya, kita dikesankan untuk percaya bahwa mereka semua memang terlibat, atau setidaknya, tahu.

PB tidak pernah (mungkin disengaja) menjelaskan bahwa puisi dengan nuansa “merah-darah” tidak ada hubungannya dengan peristiwa 1 Oktober karena para penyair yang bersimpati dengan Lekra sudah terbiasa menggunakan metafora macam itu bertahun-tahun jauh sebelum 1965. Itu bisa dibaca dari puisi Njoto berjudul “Merah Kesumba” yang diterbitkan pada Maret 1961 atau puisi Roemandung berjudul “Darah Merah di Wadjah Duka” yang ditulis di Pematangsiantar pada April 1958 dan diterbitkan Harian Rakjat pada 7 Juli 1962. Dua puisi itu bisa dibaca ulang pada buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra 1950–1965 yang juga disusun oleh penyusun LTMB.

Hal lain yang tampak kontras antara PB dan LMTB adalah dalam soal kerja-kerja dan proses kesenimanan orang-orang Lekra. Secara sistematis, PB coba membangun kesan bahwa Lekra tak lebih dari serombongan seniman dan penulis yang kerjaannya cuma berpolemik, menghasut, menghujat dan mengganyang lawan-lawannya, terutama orang-orang dari kubu Manikebu (Taufik Ismail termasuk di dalamnya).

Kartun-kartun buatan orang-orang Lekra yang bernada ofensif dan gahar ditebarkan sedemikian rupa di banyak halaman PB untuk membangun kesan betapa kasarnya cara orang-orang Lekra dalam menyerang lawan-lawan ideologisnya. PB tak pernah menjelaskan bagaimana penghayatan ideologis atas karya-karya rupa itu digodok dan diperjuangkan lewat perdebatan sengit di sidang-sidang kongres Lekra yang berkeringat (lihat bab “Senirupa” dalam LTMB).

Dengan meyakinkan dan disertai klipingan berita-berita, LTMB menampilkan wajah Lekra sebagai sekumpulan seniman yang punya metode kerja kreatif yang amat serius dan metodologis. Lekra punya asas kerja yang disebut “1-5-1”.

Angka satu di depan adalah arti bahwa perjuangan Lekra menempatkan politik sebagai panglima. Kemudian 5 di tengah adalah dasar kerja dan perjuangan Lekra: meluas dan meninggi, tinggi mutu idiologi dan tinggi mutu artistik atau 2 mutu, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kearfian massa, realisme sosial dan romantik revolusioner. Untuk melakukan lima hal itu dibutuhkan metode: turun ke bawah alias turba.

Maka jangan heran jika pada masanya para seniman Lekra dikirim ke kampung-kampung untuk mempelajari kehidupan rakyat. Mereka bukan hanya meneliti dan mengumpulkan bahan, tetapi tinggal bersama rakyat, makan dengan rakyat dengan makanan yang sama jenisnya. Pendeknya berkumpul hari demi hari bersama rakyat di pelosok-pelosok kampung. Ya, betul-betul hari demi hari karena mereka melakukan turba bukan sehari dua hari, tapi sampai berbulan-bulan lamanya, macam mahasiswa KKN kira-kira. Dan itu dilakukan secara massif, sistematis dan terorganisir. Tidak ada satu pun gerakan kebudayaan (sekali lagi gerakan, bukan perorangan) dalam sejarah Indonesia yang pernah melakukan hal ihwal demikian dengan begitu terorganisir.

Puncaknya, LTMB juga memaparkan betapa dalam hal isu-isu bacaan atau benda-benda cabul Lekra sebenarnya tidak lebih buruk atau tidak lebih baik dari Taufik Ismail, kreator utama PB. Kita tahu, Taufik Ismail merupakan juru kampanye paling utama dari gerakan anti sastra cabul, sastra syahwat, sastra kelamin, sastra lendir atau apalah sebutannya. Taufik Ismail menciptakan istilah Gerakan Syahwat Merdeka untuk menyerang segala hal yang mengutarakan kecabulan, ketidaksenonohan, atau perkelaminan, baik dalam sastra maupun film.

Hanya membaca PB, kita akan kehilangan kesempatan untuk menyadari bahwa PKI-Lekra amat getol mengampanyekan anti buku-buku cabul, majalah-majalah cabul, film-film cabul, sastra cabul hingga pakaian-pakaian cabul—kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh Taufik Ismail.

Pada bab “Buku” LTMB di halaman 475-476 kita baca informasi ihwal Wakil CC PKI Njoto yang pada 29 Desember 1954 naik mimbar di gedung bioskop Radjekwesi Bodjonegoro, Jawa Timur. Njoto tak mengepit berlembar-lembar kertas pidato, sebagaimana Doktor Honoris Causa Dokter Hewan Taufiq Ismail lakukan di Taman Ismail Marzuki ketika berpidato ihwal Gerakan Syahwat Merdeka (GSM). Njoto, malam itu, berbicara mengenai sikap PKI atas demoralisasi masyarakat, khususnya bagi anak-anak pelajar. Njoto bilang: “PKI menjokong setiap usaha jang akan memberantas demoralisasi, tidak sadja dikalangan peladjar, tetapi dikalangan manapun. Sekarang ini, tidak sedikit orang jang suka meremehkan pengaruh jg ditimbulkan oleh film2 tjabul, buku2 tjabul dan musik tjabul. Ibu2 dan bapak2, djuga guru2, lebih daripada saja tentu tahu betapa merusaknja barang2 tjabul itu bagi watak dan sifat anak2 kita.”

Lekra cabang Jogja pernah membuat program melakukan sweeping atas pemakai baju-baju norak nekolim atau you-can-see. Bagi PKI dan eksponen Lekra, pakaian-pakaian cabul semacam you-can-see dan bikini, film cabul, sastra cabul, maupun majalah cabul bukan soal sepele. Ia adalah bagian dari arus revolusi kebudayaan yang mesti dibersihkan dari perikehidupan masyarakat.

Dan mereka konsisten dengan sikap penentangan itu. Ada sekira sepuluh tahun rentang antara pidato Njoto dan tindakan Panglima Daerah Angkatan Kepolisian X Jawa Timur di Surabaya, Drs Soemarsono, yang menyerukan bahwa “disamping terhadap lagu2 ngak-ngik-ngok sebangsa the beatle, rok n roll, AKRI akan mengambil tindakan tegas terhadap mode2 pakaian jang berbau nekolim”.

Pada 8 Juli 1961, Harian Rakjat bersikap keras terhadap film-film Amerika yang dianggap dipenuhi adegan mesum, seks dan mengajarkan kekerasan. Tulisan yang secara jelas menerangkan sikap mereka dalam hal tulisan dan tayangan seks dan kekerasan itu terpajang manis dalam judul “Hanja Menghendaki Sex dan Kekerasan”. (untuk melihat detail sikap Lekra atas film Amerika silakan baca LTMB, bab “Film” hlm 254-270).

Majalah-majalah yang dianggap cabul seperti Playboy dirazia yang dalam bahasa kartun Harian Rakjat edisi 8 Agustus 1965 merupakan sampah-sampah berbau Amerika yang sepantasnya dibuang (bandingkan dengan beberapa Ormas yang mengatasnamakan Islam yang juga menyerbu kantor Playboy edisi Indonesia beberapa waktu silam).

Jika Taufik Ismail dan DS Moejanto menggunakan tanda hubung “/”(PKI/Lekra) untuk menjelaskan keterkaitan antara PKI dan Lekra dalam segala aspeknya, bolehlah saya bilang bahwa tanda hubung yang sama bisa digunakan untuk menjelaskan hubungan dan semangat yang sama antara Taufik Ismail dan Lekra (Taufik Ismail/Lekra) dalam soal isu tulisan atau barang-barang cabul.

Kerja dan sikap Lekra semacam itu tak pernah diberi tempat dalam satu halaman pun buku PB yang disusun oleh Taufik Ismail dan DS Moejanto. PB tak pernah menjelaskan bahwa sebagai sebuah gerakan kebudayaan dan kesenimanan Lekra punya identitas, azas dan ideologi, hingga metode kerja yang sistematis dan didaktik. Dalam hal metode kerja “turba” yang membuat seniman-seniman Lekra turun ke pelosok-pelosok secara terorganisir dan massif (bukan atas inisiatif individual), Lekra bahkan tak punya padanannya dalam sejarah kebudayaan di Indonesia, bahkan jika dibandingkan dengan Manikebu sekali pun.

Membaca buku LTMB membuat kita—setidaknya—bisa mengerti dan tahu bahwa sebagai sebuah gerakan, Lekra bukan hanya bisa menyerang lawan-lawannya dengan kata-kata yang tajam dan kasar, tapi juga telah menghasilkan ribuan puisi dan prosa. Ribuan puisi dan prosa orang-orang Lekra adalah sumbangsih kebudayaan yang pantas untuk diberi tempat dan dikaji. Pemberangusan Lekra telah membuat ribuan puisi dan prosa orang-orang Lekra itu lenyap dan membuat karya-karya itu kehilangan peluang untuk dikaji dan dibaca sebanyak orang-orang mengkaji dan membaca karya-karya orang-orang Manikebu.

Untuk itulah, buku LTMB ini akan lebih lengkap jika dibaca satu paket dengan buku Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra 1950 – 1965 yang mengumpulkan sekira 450 judul puisi dari 111 penyair Lekra dan buku Laporan dari Bawah: Sehimpunan Cerita Pendek Lekra 1950-1965 yang menampilkan 100 cerita pendek yang ditulis oleh eksponen budaya Lekra untuk memberitahu bagaimana gaya realisme sosialis “ditemukan”, “diadaptasi”, dan “dipraktikkan” di lapangan kesusastraan Indonesia. Dua buku terakhir ini juga disusun oleh orang yang sama dengan yang menulis buku LTMB.

Buku LTMB memang tidak berpretensi untuk menjelaskan secara utuh sepakterjang Lekra. Buku ini hanya mencoba menampilkan seperti apa wajah Lekra berikut kiprah kebudayaan dan kesenimanannya seperti yang terpapar dalam lembar kebudayaan Harian Rakyat yang disebut Jenderal Achmad Yani pada 1964 sebagai koran yang “dapat dibariskan didepan sebagai harian jang dinamis progresif dan revolusioner dapatlah selalu menggugah semangat Rakjat untuk tetap tjinta dan setia kepada tjita2 dan tudjuan pokok Revolusi Indonesia” (LTMB, hlm. 80).

Lekra dalam LTMB ditampilkan apa adanya. Tak ada klaim “meluruskan sejarah” seperti yang diusung Taufik Ismail dan DS Moejanto saat menyusun PB. Yang ada hanya menampilkan banyak hal yang selama ini tak pernah dihadirkan dalam buku sejarah resmi yang diajarkan di sekolah-sekolah dan—tentu saja—tidak juga dalam PB yang secara laten memang hanya menampilkan wajah garang Lekra saja.

Anda, sidang pembaca sekalian, yang akan menentukan sendiri mana yang lebih patut untuk dipercaya!

* Zen Rachmat Sugito, esais dan penghayat sejarah. Menulis rutin di www.pejalanjauh.com. Saat ini tinggal di Jakarta.

* Dinukil dari Majalah Basis Edisi Januari-Februari 2009

|| Dapatkan Buku “Trilogi Lekra Tak Membakar Buku” di sini

4 Comments

Mahalia Purba - 01. Jul, 2009 -

Sejak awal saya sudah percaya bahwa Lekra memang tidak pernah seburuk yang digambarkan oleh para Manikebuis! Saya beruntung telah memiliki buku Lekra Tak Membakar Buku (LTMB).

virus - 11. Agu, 2009 -

tolak art pour art

mambakti - 05. Okt, 2010 -

Knpa kok br skrang membuat pledoinya bung?
Saya kurang tahu apakah wktu almarhum Muchtar Lubis mengembalikan ramon magsasay award-nya krn pramudya dpt award yg sama, kubu lekra pernah memberikan “perlawanan” lewat media?
Trima kasih atas diterbitkannya LTMB ini, smoga dpt menjawab pertanyaan2 saya lainnya soal lekra dan kondisi sosial yg melatarbelakangi aksi2-nya….

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan