-->

Tokoh Toggle

Aliman, Merangkai Kata di Atas Bantal

AlimanOleh Rusmanadi

Suatu malam di tahun 1990, di Desa Tibung, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalsel, suara gemeretak mesin tik terdengar jelas memecah kesunyian dari sebuah rumah, sehingga terasa mengganggu tetangga kiri dan kanan yang hendak beristirahat.

Karena itulah, wajar bila kemudian para tetangga mengajukan protes pada Aliman, sang ’pembuat keributan’ di malam hari dengan mesin tik tuanya itu.

Aliman Syahrani, begitu nama lengkap yang dimiliki oleh lelaki bertubuh kecil itu, dengan teramat terpaksa menghentikan kegiatannya mengetik untaian kata pada mesin tik tua yang pada beberapa bagian telah berkarat.

Ia yang saat itu tengah membuat sebuah karya sastra, harus mengalahkan egonya demi solidaritas terhadap tetangga yang ingin beristirahat.

Lelaki yang tengah memulai eksistensi sebagai seorang sastrawan itu harus memutar otak untuk menyiasati bagaimana caranya agar dalam menuangkan luapan emosi dan karya tidak sampai mengganggu orang lain.

Di saat terdesak manusia biasanya akan lebih kreatif, begitu kata pepatah mengatakan. Dan, Aliman pun membuktikannya.

Di tengah keterjepitan oleh keadaan dan hasrat yang menggelora, memunculkan ide bagus di otaknya hingga malam-malam berikutnya ia tetap dapat merangkai kata hingga larut malam sementara tetangga tidak merasa terganggu.

Dengan meletakkan di atas bantal, ternyata dapat meredam ributnya suara mesin tik tua. Meski masih mengeluarkan bunyi saat tuts mesin tik itu ditekan, namun setidaknya tidak lagi berisik seperti sebelumnya.

“Malam bagi saya adalah berbeda. Bukan karena malam lebih gelap daripada siang, tetapi malam adalah hamparan keleluasaan untuk menuangkan pikiran dan perasaan ke dalam karya sastra,” kata Aliman tersenyum kecil mengingat peristiwa itu.

Siang bagi penghasil puluhan karya sastra baik berupa puisi, cerpen, novel dan tulisan lainnya itu, adalah waktu untuk melihat, mendengar dan merasakan segala yang terjadi di sekitarnya.

Bermodal mesin tik tua, Aliman tahan duduk berjam-jam di kamar rumahnya, merangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah kalimat untuk kemudian merangkumnya dalam sebuah paragraf.

Secangkir teh manis dan kue kering, buku kamus tebal dan beberapa buah buku yang berserakan di lantai, adalah temannya hingga larut malam.

“Saat kesunyian malam datang, saya lebih bisa mengekplor imajinasi. Dalam satu malam, bila mood sedang bagus saya bisa menyelesaikan satu hingga dua cerpen sekaligus,”  ujar ayah dari Ahmeed Ziad Fedayeen Kalimantanu itu.

Tak jarang, hingga menjelang waktu subuh pinggangnya masih belum terasa penat karena asyiknya bergumul dengan kata-kata dan ungkapan, hingga terangkai dalam sebentuk karya sastra yang indah.

Di Kota Kandangan, ibu kota HSS, nama Aliman Syahrani sudah tidak asing lagi. Bahkan untuk lingkup Kalimantan Selatan, namanya  sudah banyak dikenal.

Popularitasnya tak lagi diragukan karena kiprah dan eksistensinya di dunia sastra. Aliman yang terlahir 30 Desember 1976 silam, dikenal sebagai sastrawan serba bisa. Selain menulis puisi, cerpen, esai budaya, ia juga menulis novel dan karya tulis keagamaan.

Sebagai wujud kecintaannya terhadap dunia sastra, suami Tri Purnasari ini sudah menghasilkan karya sastra yang tersebar di Kalimantan, Jawa, dan bahkan Malaysia.

Buku-buku Aliman yang telah terbit antara lain, Misteri Terbunuhnya Seorang Hakim (Novel Detektif), Misteri Pesan Orang Mati, Detektif Kocak vs Penjahat Romantis (Kumpulan Cerpen Detektif), Catatan yang Tersisa, Lingkar-Lingkar Retak (Novel), Senja Kala, Suci (Kumpulan Cerpen), Nyanyian Sepi, Shiluet Senja, Sajak lampu, Stanza (Antologi Puisi), Palas, Menangkis Jampi-Jampi Agama Memaknai Kembali Ritus, Ajaran dan Seremoni Agama.

Menurut pengakuan lelaki sederhana kelahiran Desa Datar Belimbing, Kecamatan Loksado ini, kebiasaan menulis didapatnya saat mengisi koran dinding di sekolahnya dahulu.

Kebiasaan itu berlanjut menjadi kesenangan hingga memicu tingkat kreativitasnya dalam menghasilkan karya sastra berupa cerpen.

“Inspirasi terkadang muncul tanpa mengenal waktu dan tempat. Bila sudah begitu, saya tidak akan sabar lagi menunggu malam tiba untuk menuangkannya dalam bentuk tulisan,” ujarnya yang mengaku hanya mengenyam pendidikan Madrasah Aliyah Darul Ulum Kandangan.

Tahun 1994 bagi Aliman merupakan awal langkahnya meniti dunia sastra dengan lebih serius. Untuk pertama kali, cerpennya yang berjudul Rembulan Yang Terkulai dimuat di Album Cerpen Anggi terbitan Surabaya, Jawa Timur.

“Melalui tulisan, saya ingin menyampaikan pesan moral kepada pembaca sekaligus sebagai pemenuhan kebutuhan batin yang selalu ingin minta dipenuhi. Dengan kata lain, menulis cerpen adalah kepuasan batin bagi saya,” katanya.

Pengetahuan agama yang didapatnya di bangku sekolah, menjadikannya mampu membuat tulisan dan karya sastra bernafaskan Islam. Mengangkat tema religi pada tulisan dan karya sastra, dianggapnya sebagai bagian dari dakwah kepada masyarakat.

Ia yang saat ini menjabat sebagai Ketua PD Pemuda Muhammadiyah HSS, mengaku belajar menulis secara otodidak, dengan banyak membaca buku sastra.

Atas dedikasinya di bidang sastra, tahun 2003 ia mendapatkan penghargaan seni dari Gubernur Kalimantan Selatan.

Saat ini, selain masih terus aktif memproduksi karya sastra dan menekuni profesi sebagai Instruktur Komputer di Kota Kandangan, ia juga sering diundang menjadi pembicara pada forum-forum diskusi sastra.

Menurut sastrawan Kalsel, Jamal T Suryanata, sampai saat ini barangkali hanya Aliman Syahrani satu-satunya generasi baru novelis Kalsel yang terus eksis.

“Semua itu berkat keberhasilannya menerbitkan novel Palas (2004). Sebab selepas Aliman tak tampak lagi novelis baru yang lebih menjanjikan,” ujarnya.

Untuk ukuran penulis cerpen di Kalsel, Aliman Syahrani tidak bisa dianggap enteng dibandingkan dengan mereka yang mengaku sastrawan namun hanya mengandalkan bayangan nostalgik status quo.

Sementara itu, pengamat sosial budaya dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin, Taufik Arbain menilai, Aliman bak zamrut yang berkilau indah, yang akan menerangi dunia sastra di Kalsel.

“Ia seorang sastrawan muda yang produktif dengan penekanan pada kritik sosial masyarakat, khususnya di wilayah HSS,” ujarnya yang juga seorang pengamat politik itu.

Karya-karya sastra Aliman senantiasa keras dan tegas dalam mengeritisi kebijakan-kebijakan pemerintah daerah dalam konteks pembangunan.

Latar belakang pendidikan dan keterlibatannya sebagai aktivis Muhammadiyah, dipandang sebagai unsur dasar dalam pembuatan karya sastra yang bernafaskan keagamaan.

Sosoknya yang sederhana, bersahaja, murah hati dan santun, menjadikan wujud kesederhanaan itu sebagai pendorong keinginan dalam membela kepentingan masyarakat.

“Kesederhanaan dalam diri Aliman menjadi pemicu untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat kecil. Dari kesederhanaannya pula terlihat jelas bahwa yang bersangkutan tidak bisa berleha-leha atau berenak-enak sementara orang di sekitarnya perlu diperjuangkan,” ujarnya.

Ia mengibaratkan sosok Aliman bak seorang pahlawan pembela kepentingan rakyat kecil di masa penjajahan.

Terlepas dari semua itu, Aliman memang seorang pahlawan. Setidaknya ia pahlawan bagi masyarakat sekitar daerahnya melalui tema-tema sosial dan keagamaan yang dihasilkannya, hingga tersebar dan diketahui masyarakat luas.

Dan seiring zaman, kini tetangga rumah Aliman tak perlu lagi khawatir terganggu oleh suara berisik mesin tik tua. Karena kini, sebuah komputer telah menemani malam-malam panjang seorang Aliman Syahrani.

*) Dikronik dari OASE KOMPAS, 3 September 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan