-->

Kronik Toggle

Aksara Minang Tidak Diketahui

Aksara Minang Tidak Diketahui
Senin, 6 September 2010 | 04:18 WIB
Padang, Kompas – Keberadaan aksara asli Minangkabau, yang merupakan perpaduan antara huruf Sanskerta dan aksara Arab kuno, tidak diketahui lagi. Ketidaktahuan itu disebabkan tidak ada lagi naskah-naskah kuno yang tersisa dengan tulisan dalam aksara asli Minangkabau.
Kepala Taman Budaya Provinsi Sumbar Asnam Rasyid, Minggu (5/9), mengatakan, selama ini yang cenderung diketahui masyarakat adalah aksara Arab gundul dan huruf Sanskerta. ”Kalau yang saya ketahui di Sumatera Barat, ya, huruf Arab buta atau gundul,” kata Asnam.
Pengajar pada Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, Dr Herwandi, pada hari yang sama mengatakan, persoalan yang dihadapi ialah ketiadaan bukti naskah yang ditulis dalam aksara asli Minangkabau itu.
Herwandi, yang pernah melakukan penelitian soal goresan serupa tulisan di Batu Batulih Borobono yang terdapat di wilayah Dusun Talago, Taeh Bukik, Kabupaten Limapuluh Kota, menjumpai keterkaitan goresan itu dengan naskah Tambo Rueh Buku yang disebutkan oleh Darwas Datuk Rajo Malano yang diduga ditulis dalam aksara asli Minangkabau.
”Tambo Rueh Buku itu berada di Sulit Air, Solok. Tetapi waktu kita datang ke sana, naskah itu juga tidak ditemukan. Mungkin sudah dibawa Belanda,” kata Herwandi.
Ia mengatakan, studinya dilakukan dengan membandingkan goresan-goresan di Batu Batulih Borobono dengan model aksara asli Minangkabau yang pernah diungkapkan sebelumnya oleh Darwas Datuk Rajo Malano dan Zuber Usman. Selain itu, ia lalu membandingkannya dengan aksara asli dari Kerinci, Jambi, dan menjumpai semacam kemiripan serta keberlanjutan bentuk sekalipun secara metodologis tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
”Soal aksara asli Minangkabau tidak ada naskah dalam bentuk aslinya sehingga tidak ada pembandingnya,” ujar Herwandi.
Ia menambahkan, penemuan aksara asli di wilayah Rejang Lebong (Bengkulu), Nanggore Aceh Darussalam, dan Kerinci (Jambi) membuat keberadaan aksara asli Minangkabau dengan naskah aslinya semestinya juga menjadi keniscayaan. ”Karena seharusnya, wilayah di tengah (Minangkabau) bisa lebih jelas temuannya,” ujar Herwandi.
Sementara itu, menurut Kepala Seksi Pemeliharaan, Perawatan, Penyajian Museum Adityawarman, Riza Mutia, terdapat dua jenis aksara asli Minangkabau yang dibedakan dari asal daerahnya.
Masing-masing adalah aksara Pariangan yang berasal dari daerah yang kini termasuk ke dalam wilayah Kota Padang Panjang dan aksara Sulit Air yang kini masuk dalam kawasan Kabupaten Solok. Namun, kata Riza, upaya pencarian naskah dalam aksara asli Minangkabau itu ke tempat-tempat yang diduga sebagai tempat penyimpanannya belum juga membuahkan hasil.
Ia menambahkan, masyarakat kemungkinan besar masih relatif sensitif jika disinggung mengenai soal tersebut. ”Mungkin waktu Perang Padri dahulu naskah-naskah itu ikut dibakar dan diganti dengan aksara Arab kuno,” kata Riza.
Menurut Riza, dirinya juga sudah berupaya melacak keberadaan naskah dengan aksara asli Minangkabau itu hingga ke Universitas Leiden di Belanda, namun upaya tersebut belum juga membuahkan hasil.
Aksara Minangkabau itu kemungkinan muncul di masa peralihan antara kekuasaan bercorak Hindu-Buddha di Minangkabau menjadi Islam. (INK)
http://cetak.kompas.com/read/2010/09/06/04183942/aksara..minang.tidak.diketahui

PADANG – Keberadaan aksara asli Minangkabau, yang merupakan perpaduan antara huruf Sanskerta dan aksara Arab kuno, tidak diketahui lagi. Ketidaktahuan itu disebabkan tidak ada lagi naskah-naskah kuno yang tersisa dengan tulisan dalam aksara asli Minangkabau.

Kepala Taman Budaya Provinsi Sumbar Asnam Rasyid, Minggu (5/9), mengatakan, selama ini yang cenderung diketahui masyarakat adalah aksara Arab gundul dan huruf Sanskerta. ”Kalau yang saya ketahui di Sumatera Barat, ya, huruf Arab buta atau gundul,” kata Asnam.

Pengajar pada Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, Dr Herwandi, pada hari yang sama mengatakan, persoalan yang dihadapi ialah ketiadaan bukti naskah yang ditulis dalam aksara asli Minangkabau itu.

Herwandi, yang pernah melakukan penelitian soal goresan serupa tulisan di Batu Batulih Borobono yang terdapat di wilayah Dusun Talago, Taeh Bukik, Kabupaten Limapuluh Kota, menjumpai keterkaitan goresan itu dengan naskah Tambo Rueh Buku yang disebutkan oleh Darwas Datuk Rajo Malano yang diduga ditulis dalam aksara asli Minangkabau.

”Tambo Rueh Buku itu berada di Sulit Air, Solok. Tetapi waktu kita datang ke sana, naskah itu juga tidak ditemukan. Mungkin sudah dibawa Belanda,” kata Herwandi.

Ia mengatakan, studinya dilakukan dengan membandingkan goresan-goresan di Batu Batulih Borobono dengan model aksara asli Minangkabau yang pernah diungkapkan sebelumnya oleh Darwas Datuk Rajo Malano dan Zuber Usman. Selain itu, ia lalu membandingkannya dengan aksara asli dari Kerinci, Jambi, dan menjumpai semacam kemiripan serta keberlanjutan bentuk sekalipun secara metodologis tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

”Soal aksara asli Minangkabau tidak ada naskah dalam bentuk aslinya sehingga tidak ada pembandingnya,” ujar Herwandi.

Ia menambahkan, penemuan aksara asli di wilayah Rejang Lebong (Bengkulu), Nanggore Aceh Darussalam, dan Kerinci (Jambi) membuat keberadaan aksara asli Minangkabau dengan naskah aslinya semestinya juga menjadi keniscayaan. ”Karena seharusnya, wilayah di tengah (Minangkabau) bisa lebih jelas temuannya,” ujar Herwandi.

Sementara itu, menurut Kepala Seksi Pemeliharaan, Perawatan, Penyajian Museum Adityawarman, Riza Mutia, terdapat dua jenis aksara asli Minangkabau yang dibedakan dari asal daerahnya.

Masing-masing adalah aksara Pariangan yang berasal dari daerah yang kini termasuk ke dalam wilayah Kota Padang Panjang dan aksara Sulit Air yang kini masuk dalam kawasan Kabupaten Solok. Namun, kata Riza, upaya pencarian naskah dalam aksara asli Minangkabau itu ke tempat-tempat yang diduga sebagai tempat penyimpanannya belum juga membuahkan hasil.

Ia menambahkan, masyarakat kemungkinan besar masih relatif sensitif jika disinggung mengenai soal tersebut. ”Mungkin waktu Perang Padri dahulu naskah-naskah itu ikut dibakar dan diganti dengan aksara Arab kuno,” kata Riza.

Menurut Riza, dirinya juga sudah berupaya melacak keberadaan naskah dengan aksara asli Minangkabau itu hingga ke Universitas Leiden di Belanda, namun upaya tersebut belum juga membuahkan hasil.

Aksara Minangkabau itu kemungkinan muncul di masa peralihan antara kekuasaan bercorak Hindu-Buddha di Minangkabau menjadi Islam.

Sumber: Kompas, 6 September 2010

1 Comment

adnan kasry - 09. Sep, 2010 -

Saya pernah membaca dan memiliki aksara dasar Minangkabau (sedang dicari, kalau tidak salah sumbernya dari salah satu majalah nasional

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan