-->

Kronik Toggle

Sepasang Suami Istri Tuna Netra Buat Al-Quran Huruf Braille

Surabaya – Jemari Anik Indrawati sepertinya telah terlatih menekan tombol-tombol mesin ketik khusus huruf braille. Wanita 34 tahun ini tak sedikit pun ragu meski pandangan matanya tak sempurna lagi.

Dengan telaten, ia menyusun huruf-huruf Arab Braille pada kertas karton manilla. Tiap juz yang berhasil ia cetak, disumbangkan  orang Yayasan Pendidikan Tuna Netra Islam Karunia (Yaptunik)

Dibantu sang suami, Suharto (40), keduanya sejak tahun 2005 berusaha mencetak Al-Quraanul Karim dalam huruf Arab Braille. Pasangan tuna netra ini adalah sebagian orang yang mendapat pinjaman mesin ketik kuno dari Yaptunik di jalan Darmokali gang Tugu nomor 1. Dengan misi kemanusiaan, keduanya berniat bekerja untuk pengetahuan sesamanya.

“Kami ingin bekerja yang sekaligus bermanfaat bagi sesama tuna netra. Maklum, orang orang yang cacat seperti kami ini kebanyakan kondisi ekonominya menengah ke bawah. Mereka tidak mampu jika harus membeli Al-Quran di luar, mahal harganya. Alat ketiknya saja mahal ini mbak, tidak ada di Indonesia,” ungkap Anik saat ditemui di kediamannya di Jalan Simo Pomahan Baru XII nomor 15, Rabu (23/8/2010).

Niat Anik untuk bisa lebih bermanfaat bagi sesama memang baik, namun kini dalam kesehariannya ia pun mengaku kesulitan. Apa yang ia kerjakan dan korbankan belum senilai dengan apa yang ia dapatkan. Tiap juz yang berhasil ia selesaikan, dirinya mendapat Rp 20 ribu dari Yaptunik.

Dengan sebuah mesin ketik merek Parking Broiller bikinan Amerika tahun 1970, ia mengaku hanya mampu menyelesaikan 1 juz dalam seminggu. Sedangkan kebutuhan hidup sehari-hari menuntut mereka untuk lebih keras bekerja.

“Kalau dibandingkan dengan pengeluaran kami, ya belum cukup. Tapi kami selalu berdoa semoga ketekunan kami ini membuahkan hasil. Siapa tahu produk kami nanti bisa dikenal di banyak daerah. Kami juga menerima pesanan,” harapnya.

Selain mencetak Al-Quraanul Karim, Anik juga menerima pesanan buku Yasiin Tahlil, Asmaul Husna, buku doa-doa hingga buku penuntun sholat. Semuanya tertulis dalam huruf Braille. Bila ada yang ingin memesannya lengkap dengan terjemahan, ia pun mampu memenuhinya.

“Saya juga pernah menerima pesanan buku Yasiin Tahlil, Asmaul Husna, buku doa-doa dan juga untuk penuntun sholat. Kalau ada yang minta lengkap dengan terjemahannya, ya saya lengkapi,” tutur Anik.

Memasuki Ramadan ini, pesanan tak kunjung bertambah. Padahal, menurutnya, sudah banyak media yang meliput produksi Al- Quraanul Karim miliknya. Ia berharap, dengan munculnya ia di banyak media, publikasi terkait usaha rumah tangganya ini juga bisa ikut terangkat. Ia pun mengaku membutuhkan bantuan dan donatur dari banyak pihak.

“Semoga suatu saat nanti, orang-orang banyak yang mengenal usaha saya ini. Otomatis banyak juga yang pesan,” harap Anik.

(wln/wln)

*) Surabayadetik, 25 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan