-->

Kronik Toggle

Sekolah Disuruh Gelar Sanlat Tapi Tak Boleh Jual Buku

Bandung – Selama bulan Ramadan, sekolah di Kota Bandung dianjurkan untuk melakukan kegiatan pesantren kilat (sanlat). Namun untuk kegiatan tambahan tersebut, sekolah dilarang menjual buku tambahan pada siswanya.

“Seluruh sekolah memang dianjurkan untuk melakukan sanlat selama Ramadan. Kagiatan itu di luar mata pelajaran yang biasa,” ujar Oji Mahroji, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung saat dihubungi detikbandung via ponselnya, Jumat (13/8/2010).

Namun dalam penyelenggaraan sanlat tersebut, sekolah tidak boleh menjual buku tambahan baru yang harus dibeli siswa. “Bagaimanapun sekolah bukan tempat penjualan, jadi tidak boleh menjual buku untuk kegiatan sanlat. Gunakan saja buku agama yang ada. Kalau buku ceramah, ya gunakan saja buku tulis yang ada,” jelasnya.

Ia pun menjamin, tak akan ada sekolah yang berani menjual buku pada siswa. “Tidak akan ada yang berani jual buku. Tapi beda soal kalau siswa yang beli,” tuturnya.

Selama bulan Ramadan, jam sekolah pun akan dikurangi. Satu mata pelajaran yang lamanya, 45 menit akan dikurangi 5 menit menjadi 40 menit. Tak hanya pulang lebih cepat, selama Ramadan, mata pelajaran olahraga yang biasanya diisi kegiatan fisik pun diganti dengan pemberian materi. Begitu juga dengan kegiatan ekstrakurikuler siswa.

“Kegiatan fisik kan butuh tenaga, kasian, jadi olahraga diganti dengan teori. Ekstrakurikuler juga begitu,” tutup Oji.

(tya/ern)

*) Dikronik dari bandung.detik.com 13 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan