-->

Kronik Toggle

Raditya Dika Patriotisme Modern

image.tempointeraktif.com_raditya dikaLain Sukmawati, lain pula dengan Raditya Dika. Pria yang akrab dipanggil Adit ini punya cara tersendiri dalam memaknai peringatan 17 Agustus.

“Menurut gue, bukan zamannya lagi patriotisme dalam kemasan yang jadul. Patriotisme era sekarang haruslah modern, tanpa meninggalkan jati diri Indonesia,” tuturnya saat disambangi dalam sebuah acara di Hong Kong Kafe, Sarinah, Jakarta.

Penulis buku-buku jenaka ini tercatat sebagai salah seorang pemuda yang aktif menulis di blog pribadi. Buku pertamanya, Kambing Jantan, masuk kategori best seller dan sudah dibuatkan film. “Gue ingin orang muda masa kini memiliki patriotisme dengan membuka kesempatan seluas-luasnya berkiprah di dunia internasional,” katanya bersemangat.

Adit kini memang rajin mengajak anak muda untuk masuk komunitas menulis aktif di blog dalam perspektif modern membicarakan Indonesia dalam bahasa asing, eperti bahasa Inggris dan Prancis. Dia mengajak komunitas tersebut untuk selalu berpikir kreatif dan menciptakan ide-ide cemerlang, sehingga tidak takut ikut ersaing dan berani uji nyanyi ke ajang atau kompetisi kreativitas internasional.

“Buat gue, enggak salah remaja sekarang suka ngomong dan berpikir ala Barat. Cuma, gue tetap mengingatkan bahwa mereka harus menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Indonesia,” ujarnya. Kemudian penulis buku Cinta Brontosaurus, Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa, dan Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang ini menegaskan, anak era sekarang sudah enggak zaman lagi harus mengikuti seremoni 17-an yang monoton.
“Makna patriotisme era kini harus dikemas secara modern, asalkan tidak ngawur atau bablas melupakan keindonesiaannya.” tuturnya, serius. Okelah, kalau begitu, Adit! | HADRIANI P

*) Dikronik dari Tempointeraktif 13 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan