-->

Tokoh Toggle

Prapti Wahyuningsih, Pendidikan Baca-Tulis

Ningsih dan Pendidikan Baca-Tulis
Kamis, 19 Agustus 2010 | 03:23 WIB
KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG
Cornelius Helmy
”Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan.Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi pakaian.Bila saat ini dipandang hina karena keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah.”
Doa itulah yang disampaikan Prapti Wahyuningsih pada malam Idul Fitri puluhan tahun lalu. Doa kala lapar karena tak punya uang ternyata memberikan kekuatan dalam perjalanan hidupnya. Setelah berdoa, mendadak rasa laparnya hilang. Bahkan, ia bersemangat menjalani pekerjaannya sebagai buruh. Ibunya pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh anak-anak tetangga.
”Tuhan mungkin ingin agar kami tidak menyerah, mungkin ada hal lain yang Dia inginkan untuk kami lakukan,” ujar Ningsih, panggilannya.
Tahun berganti, perjalanan hidupnya tak berubah. Pangkat tertinggi sebagai buruh hanya pengawas keuangan. Namun, karena melihat banyak ketidakadilan terhadap buruh dan mulai berkenalan dengan organisasi buruh, ia lantas bergabung dengan salah satu organisasi buruh.
”Saya mulai banyak membaca berbagai macam buku. Entah mengapa, saya mudah menangkap isi buku tentang buruh. Mungkin karena saya adalah salah satunya,” kata Ningsih yang menjadi buruh sejak berusia 11 tahun.
Tahun 1999 ia berhenti bekerja dan memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin. Ia merintis Sanggar Budaya Anak Indonesia (Sang Budi) yang mengajarkan bernyanyi dan membaca anak di sekitar tempat tinggalnya.
Hasil dari banyak membaca buku, ia yakin pendidikan itu amunisi utama yang harus dimiliki kaum miskin di Indonesia. Tanpa pendidikan, mereka terus tertindas.
”Saya teringat doa saya ketika ingin membuka sekolah. Dalam bayangan saya, sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan sekadar gedung,” ujarnya.
Sekolah hijau
Ningsih lalu berkelana. Pengalaman pertamanya terjadi di Cibenda, Ciampel, Karawang, tahun 2002. Desa itu terletak di tengah pabrik-pabrik besar. Malam hari, saat cerobong asap tak berhenti membuat polusi, kampung gelap dan sunyi.
Idenya membuat sekolah muncul saat melihat petani ditipu bandar dalam jual-beli jagung. Bandar mengklaim hasil timbangan lebih ringan daripada seharusnya. Tak ada protes dari petani karena ia tak bisa baca-tulis.
Namun, ia ditertawakan warga saat mengusulkan membuat sekolah. Dia lalu mengajari anak-anak. ”Tempatnya berpindah-pindah, di tepi sungai atau di lapangan. Tadinya hanya seorang anak yang mau belajar, baru diikuti belasan anak lain,” ujarnya.
Usaha Ningsih membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, saat ada lagi petani ditipu, anak didiknya mengatakan bahwa timbangan itu salah. Untuk pertama kali, sang bandar ketahuan ”belangnya”.
Tempat kedua Ningsih adalah Desa Tapos, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pada 2003. Di sini anak-anak hanya mendapatkan pendidikan agama. Mereka fasih berbahasa Arab, tapi kurang paham bahasa Indonesia.
Saat ia bertanya siapa yang pernah ke Kota Bogor, hanya sedikit anak yang mengacungkan tangan. Saat dia tanya siapa yang pernah ke Jawa Barat dan Indonesia? Justru tak ada seorang pun yang mengangkat tangan.
”Itu artinya, pendidikan belum dinikmati semua anak Indonesia. Saya lalu mengajar baca-tulis dan menyanyi, seperti di Sang Budi,” ujar Ningsih yang menolak beasiswa pendidikan tinggi di luar negeri dari salah satu perusahaan karena perbedaan prinsip.
Sempat pulang ke Solo untuk merawat orangtuanya yang sakit, tahun 2007 Ningsih pergi ke Bandung. Ia bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menggarap isu masyarakat dan lingkungan.
Tinggal di kota besar membuatnya akrab dengan sampah plastik. Ia membuat warung kepercayaan, di mana masyarakat bebas mengambil, membayar, bahkan memasak sendiri. Cara itu ternyata meringankan orang-orang di sekitarnya. Namun, sampah plastik muncul menjadi masalah.
Berbekal keterampilan menganyam daun kelapa saat kanak-kanak, ia mengolah sampah plastik menjadi kerajinan pedang-pedangan hingga dompet. Ia lalu menularkan keterampilannya itu kepada warga yang mau belajar.
Dengan pinjaman uang dari Suster Irene OSU dari Santa Angela, ia menyewa rumah di daerah Cigending, Ujungberung, Bandung. Di sini ia kembali memperkenalkan produk berbahan baku sampah plastik. Hasilnya, banyak ibu rumah tangga yang mau belajar membuat produk serupa. Di sinilah konsep sekolah hijau benar-benar ia terapkan.
”Sekolahnya tidak formal. Saya fokus pada pengolahan sampah dan pemahaman pola hidup sehat, seperti tidak menggunakan penyedap rasa buatan. Warga juga merintis taman kanak-kanak yang pengajarnya pun warga yang bisa baca-tulis,” kata Ningsih yang ikut mendirikan organisasi Sarikat Hijau Indonesia.
Zakat sampah
Ningsih kemudian membuat program zakat sampah. Di sini sampah plastik rumah tangga dikumpulkan, lalu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan. Cara ini berhasil membesarkan sekolah hijau.
Awal 2010 Ningsih meninggalkan Cigending karena ingin warga bisa mengelola secara mandiri program sekolah hijau yang telah dirintisnya. Ia ingin mengembangkan sekolah hijau di banyak tempat lain.
”Saya sempat sedih karena dianggap tak bertanggung jawab. Namun, saya juga bahagia karena warga mau meneruskan konsep sekolah hijau itu. Ini berarti semangat sekolah hijau sudah tertanam,” ujarnya.
Maka, sejak Maret 2010, Ningsih berada di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ia melakukan pendekatan yang sama, yakni lewat zakat sampah. Di sini pun upayanya relatif berhasil, warga secara mandiri mendirikan taman kanak-kanak.
”Berbagi itu rupanya sudah menjadi hal langka,” kata Ningsih yang mengaku hidup dari bantuan masyarakat. Buktinya, apa pun yang ia tawarkan kepada warga relatif mendapat sambutan hangat.
Setelah usahanya membuat semakin banyak orang bisa baca-tulis relatif berhasil, Ningsih sering diminta oleh berbagai pihak untuk berbagi ilmu. Ia pernah didaulat menjadi guru tamu yang mengajarkan tentang wirausaha dan lingkungan di hampir semua kota dan kabupaten se-Jawa Barat.
Pada peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Ningsih menjadi salah satu penerima penghargaan A Tribute to Woman 2010 dari Plaza Semanggi, Village Mall, dan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Ia dianggap mampu mengubah hal kecil menjadi bermakna bagi masyarakat.
http://cetak.kompas.com/read/2010/08/19/03232731/ningsih.dan.pendidikan.baca-tulis.
Prapti Wahyuningsih | Kompas

Prapti Wahyuningsih | Kompas

”Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi makanan.Bila ada umur panjang, izinkanlah aku berbagi pakaian.Bila saat ini dipandang hina karena keadaanku, izinkanlah suatu saat aku mempunyai sekolah.”

Doa itulah yang disampaikan Prapti Wahyuningsih pada malam Idul Fitri puluhan tahun lalu. Doa kala lapar karena tak punya uang ternyata memberikan kekuatan dalam perjalanan hidupnya. Setelah berdoa, mendadak rasa laparnya hilang. Bahkan, ia bersemangat menjalani pekerjaannya sebagai buruh. Ibunya pun mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga dan pengasuh anak-anak tetangga.

”Tuhan mungkin ingin agar kami tidak menyerah, mungkin ada hal lain yang Dia inginkan untuk kami lakukan,” ujar Ningsih, panggilannya.

Tahun berganti, perjalanan hidupnya tak berubah. Pangkat tertinggi sebagai buruh hanya pengawas keuangan. Namun, karena melihat banyak ketidakadilan terhadap buruh dan mulai berkenalan dengan organisasi buruh, ia lantas bergabung dengan salah satu organisasi buruh.

”Saya mulai banyak membaca berbagai macam buku. Entah mengapa, saya mudah menangkap isi buku tentang buruh. Mungkin karena saya adalah salah satunya,” kata Ningsih yang menjadi buruh sejak berusia 11 tahun.

Tahun 1999 ia berhenti bekerja dan memilih konsentrasi berjuang untuk masyarakat miskin. Ia merintis Sanggar Budaya Anak Indonesia (Sang Budi) yang mengajarkan bernyanyi dan membaca anak di sekitar tempat tinggalnya.

Hasil dari banyak membaca buku, ia yakin pendidikan itu amunisi utama yang harus dimiliki kaum miskin di Indonesia. Tanpa pendidikan, mereka terus tertindas.

”Saya teringat doa saya ketika ingin membuka sekolah. Dalam bayangan saya, sekolah adalah tempat berbagi ilmu dan pengetahuan antarmanusia, bukan sekadar gedung,” ujarnya.

Sekolah hijau

Ningsih lalu berkelana. Pengalaman pertamanya terjadi di Cibenda, Ciampel, Karawang, tahun 2002. Desa itu terletak di tengah pabrik-pabrik besar. Malam hari, saat cerobong asap tak berhenti membuat polusi, kampung gelap dan sunyi.

Idenya membuat sekolah muncul saat melihat petani ditipu bandar dalam jual-beli jagung. Bandar mengklaim hasil timbangan lebih ringan daripada seharusnya. Tak ada protes dari petani karena ia tak bisa baca-tulis.

Namun, ia ditertawakan warga saat mengusulkan membuat sekolah. Dia lalu mengajari anak-anak. ”Tempatnya berpindah-pindah, di tepi sungai atau di lapangan. Tadinya hanya seorang anak yang mau belajar, baru diikuti belasan anak lain,” ujarnya.

Usaha Ningsih membuahkan hasil. Beberapa hari kemudian, saat ada lagi petani ditipu, anak didiknya mengatakan bahwa timbangan itu salah. Untuk pertama kali, sang bandar ketahuan ”belangnya”.

Tempat kedua Ningsih adalah Desa Tapos, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, pada 2003. Di sini anak-anak hanya mendapatkan pendidikan agama. Mereka fasih berbahasa Arab, tapi kurang paham bahasa Indonesia.

Saat ia bertanya siapa yang pernah ke Kota Bogor, hanya sedikit anak yang mengacungkan tangan. Saat dia tanya siapa yang pernah ke Jawa Barat dan Indonesia? Justru tak ada seorang pun yang mengangkat tangan.

”Itu artinya, pendidikan belum dinikmati semua anak Indonesia. Saya lalu mengajar baca-tulis dan menyanyi, seperti di Sang Budi,” ujar Ningsih yang menolak beasiswa pendidikan tinggi di luar negeri dari salah satu perusahaan karena perbedaan prinsip.

Sempat pulang ke Solo untuk merawat orangtuanya yang sakit, tahun 2007 Ningsih pergi ke Bandung. Ia bergabung dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), menggarap isu masyarakat dan lingkungan.

Tinggal di kota besar membuatnya akrab dengan sampah plastik. Ia membuat warung kepercayaan, di mana masyarakat bebas mengambil, membayar, bahkan memasak sendiri. Cara itu ternyata meringankan orang-orang di sekitarnya. Namun, sampah plastik muncul menjadi masalah.

Berbekal keterampilan menganyam daun kelapa saat kanak-kanak, ia mengolah sampah plastik menjadi kerajinan pedang-pedangan hingga dompet. Ia lalu menularkan keterampilannya itu kepada warga yang mau belajar.

Dengan pinjaman uang dari Suster Irene OSU dari Santa Angela, ia menyewa rumah di daerah Cigending, Ujungberung, Bandung. Di sini ia kembali memperkenalkan produk berbahan baku sampah plastik. Hasilnya, banyak ibu rumah tangga yang mau belajar membuat produk serupa. Di sinilah konsep sekolah hijau benar-benar ia terapkan.

”Sekolahnya tidak formal. Saya fokus pada pengolahan sampah dan pemahaman pola hidup sehat, seperti tidak menggunakan penyedap rasa buatan. Warga juga merintis taman kanak-kanak yang pengajarnya pun warga yang bisa baca-tulis,” kata Ningsih yang ikut mendirikan organisasi Sarikat Hijau Indonesia.

Zakat sampah

Ningsih kemudian membuat program zakat sampah. Di sini sampah plastik rumah tangga dikumpulkan, lalu dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga ramah lingkungan. Cara ini berhasil membesarkan sekolah hijau.

Awal 2010 Ningsih meninggalkan Cigending karena ingin warga bisa mengelola secara mandiri program sekolah hijau yang telah dirintisnya. Ia ingin mengembangkan sekolah hijau di banyak tempat lain.

”Saya sempat sedih karena dianggap tak bertanggung jawab. Namun, saya juga bahagia karena warga mau meneruskan konsep sekolah hijau itu. Ini berarti semangat sekolah hijau sudah tertanam,” ujarnya.

Maka, sejak Maret 2010, Ningsih berada di Kampung Cikasimukan, Desa Mandala Mekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Ia melakukan pendekatan yang sama, yakni lewat zakat sampah. Di sini pun upayanya relatif berhasil, warga secara mandiri mendirikan taman kanak-kanak.

”Berbagi itu rupanya sudah menjadi hal langka,” kata Ningsih yang mengaku hidup dari bantuan masyarakat. Buktinya, apa pun yang ia tawarkan kepada warga relatif mendapat sambutan hangat.

Setelah usahanya membuat semakin banyak orang bisa baca-tulis relatif berhasil, Ningsih sering diminta oleh berbagai pihak untuk berbagi ilmu. Ia pernah didaulat menjadi guru tamu yang mengajarkan tentang wirausaha dan lingkungan di hampir semua kota dan kabupaten se-Jawa Barat.

Pada peringatan Hari Kartini, 21 April lalu, Ningsih menjadi salah satu penerima penghargaan A Tribute to Woman 2010 dari Plaza Semanggi, Village Mall, dan Lembaga Kantor Berita Nasional Antara. Ia dianggap mampu mengubah hal kecil menjadi bermakna bagi masyarakat. (Cornelius Helmy)

Sumber: Kompas, 19 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan