-->

Lainnya Toggle

Perjuangan Trio Penulis Ingusan

Blog Kompasiana

Blog Kompasiana

Oleh: Herman Hasyim

Kedua mataku serasa ditusuk-tusuk ketika tanpa permisi sinar matahari menerobos lewat jendela kamar kosku. Aku segera melek. Kukucek-kucek mataku, lalu kutengok jam dinding. Oh, baru jam 8 pagi. Aku tarik sarungku ke atas untuk menutupi mukaku. Dan aku tidur lagi.

“Bangun, Man!” Mendadak teriakan kencang menerpa kupingku. Aku gelagapan. Buyar lagi mimpi yang baru saja kurajut. Padahal pagi itu aku berharap bisa bermimpi melihat Marcella Zalianty menyanyi dangdut.

“Memangnya ada apa?” kataku, dengan muka masih tersembunyi di balik sarung.

“Nih, ada kabar bagus,” ujarnya. Dari intonasi suaranya, aku tahu dia tidak berbohong.

“Bilang saja, kabar bagus apa? Aku barusan tidur. Jangan ganggu aku!”

Dia menepuk-tepukkan sesuatu ke badanku. Kuyakin kertas, sebab tak terlalu keras. Aku bergeming, hingga dia berteriak lagi, “Tulisanmu dimuat di Kompas Jatim!”

Seperti menghindari sengatan kalajengking, aku langsung melompat. Kusambar koran yang dipegangnya. Kupolototi rubrik opini. Wow, benar saja. Artikelku berjudul “Pers Daerah dan Pilkada” nangkring di situ.

“Jangan lupa, traktir aku di warung Cak Kan ya,” seloroh temanku.

* * *

Sabtu, 22 Januari 2005, adalah hari yang takkan terhapus dalam ingatanku. Hari itu aku merasa ada, eksis, bukan lagi sekedar seonggok jasad tanpa sejarah. Walau terlalu berlebihan bila kusebut sebagai titik balik kehidupanku, setidaknya hari itu kurarayakan sebagai pesta kecil atas rangkaian “trial and error” yang bersambung-sambung kualami.

Sejak hari itu aku juga bisa berjalan dengan dada sedikit membusung. Bukan maksudku berlagak sombong. Ini hanya isyarat bahwa rasa maluku mulai terkikis. Sebelumnya, aku hampir selalu dihinggapi perasaan kurang percaya diri tiap kali berhadapan dengan teman-temanku yang sudah berkali-kali berhasil menulis artikel di media massa. Aku cuma bisa menulis di pers kampus IAIN Surabaya. Betapa remehnya.

“Selamat ya,” kata Muh Kholid AS, sambil menjabat tanganku, di warung kopi. Temanku yang satu ini sudah berhasil puluhan kali menembus halaman opini surat kabar Jawa Timur seperti Jawa Pos, Kompas Jatim, Surya, dan Radar Surabaya. Tema tulisannya berupa-rupa: agama, pendidikan, sosial hingga politik.

Walau begitu, perjuangannya untuk bisa menaklukkan para redaktur opini tidaklah mudah. “Aku baru berhasil menembus Kompas Jatim pada saat aku telah mengirim lebih dari 30 artikel. Makanya, kamu harus bersyukur, baru sekali kirim artikel langsung tembus,” tuturnya.

Tak lama kemudian, temanku yang satu lagi, Choirul Mahfud, ikut nimbrung. Setelah mengucapkan selamat, dia nyeletuk, “Sekarang, kamu sudah boleh lulus kuliah, Man. Hahaha.”

Sebelumnya, dia memang pernah memanas-panasiku. Katanya, aku tidak layak jadi sarjana jika belum bisa menulis artikel di media massa. Kata-kata Mahfud itu laksana cambuk yang diayunkan kencang sekali, membekas, dan aku mesti membuktikan bahwa aku bisa memajang artikelku di media massa sebelum diwisuda dan menyandang gelar sarjana.

Saat itu Mahfud telah belasan kali mengorbitkan namanya di koran-koran. Dia bermental badak. Apapun medianya, diserudug saja. Soal apakah tanduknya berhasil mengenai sasaran atau tidak, dia tak ambil pusing. Jatuh bangun juga dialaminya. Pernah suatu ketika Mahfud mendapat teguran dari seorang redaktur gara-gara dia mengirim artikel yang sama ke dua media yang berbeda. Dalam dunia tulis-menulis, ini adalah sebuah pelanggaran. Sebab, ada aturan bahwa seorang penulis dilarang mengirim artikel yang sama ke media yang berbeda dalam waktu bersamaan.

Pernah pula, Mahfud disemprot pembaca lantaran dinilai menjiplak karya orang lain. Setelah melalui proses verifikasi, terbukti bahwa beberapa paragraf di artikel Mahfud memang berasal dari penulis lain dan Mahfud tidak menuliskan sumbernya. Gara-gara kasus itu, dia kena black list. Setahun lamanya, dia tidak boleh mengirimkan karyanya ke sebuah koran.

Kami bertiga suka membaca buku, nongkrong bareng, membincangkan apa saja, walau kadang-kadang diselingi hantam-hantaman argumen. Aku suka menjuluki kami bertiga sebagai trio penulis ingusan, sebab tampang kami memang kumal. Jauh dari kesan intelektual. Kami tidak memakai kaca mata—sebagai pertanda kutu buku. Juga tidak menggotong-gotong laptop karena memang tidak punya.

Sama sepertiku, Kholid dan Mahfud adalah mahasiswa-mahasiswa kere yang mengandalkan ketajaman otaknya dan kelincahan jemarinya untuk mengais nafkah. Bedanya, kedua temanku itu jauh lebih giat, lebih gigih, dan lebih tahan banting ketimbang aku. Mereka juga mengambil start lebih dulu ketika aku belum menyadari sepenuhnya bahwa kemahiran menulis bisa didadayagunakan untuk mengukuhkan identitas sekaligus menyabet rupiah, selain untuk mengungkapkan gagasan. Awalnya, aku berpendirian, menulis adalah wahana mengungkapkan isi kepala. Tak lebih dari itu.

Maka, sejak artikelku berhasil menembus Kompas Jatim, aku kian terlecut menulis artikel lebih banyak lagi. Aku bertekad membuntuti dua temanku yang telah melaju lebih awal itu. Terus terang, paling banter aku hanya sanggup membuntuti atau membayangi. Kalau mau menyalip, rasa-rasanya tidak mungkin. Jadi, bisa membuntuti saja sudah bagus.

Benar kata Kholid dan Mahfud, dimuatnya tulisan perdana berarti jalan bagi lolosnya tulisan-tulisan berikutnya terbentang lebar. Menjelang dan tak lama setelah wisuda, Maret 2006, artikelku terpampang lagi di Kompas Jatim, tiga kali di Jawa Pos, dan sekali di Media Watch. Tak hanya itu, aku juga sempat menjuarai lomba reportase jurnalistik kategori mahasiswa pada acara Kompas-Gramedia Fair 2005 di Surabaya.

“Tapi kamu nggak boleh bangga dulu, Man,” Mahfud menasehati.

Mahfud sepenuhnya benar. Orang-orang yang terlalu asik menikmati kesuksesan biasanya akan segera tumbang. Mereka terlena dalam kemapanan sementara. Mereka tak segera beranjak untuk mencapai prestasi-prestasi berikutnya. Yang paling fatal, mereka jadi sosok romantis: suka mengagung-agungkan masa lalu, seakan-akan masa depan sudah habis. Dan aku tak mau seperti itu.

Dibanding Kholid dan Mahfud, aku lulus paling belakang. Kholid adalah mahasiswa satu angkatan di atasku. Jadi wajar bila dia lulus lebih dulu. Tapi Mahfud luar biasa. Dia sebenarnya satu tingkat di bawahku, tapi pada semester tujuh telah berhasil menyudahi episodenya sebagai mahasiswa strata satu.

Kholid dan Mahfud lulus dengan embel-embel cum laud. IPK-nya menjulang. Mahfud bahkan jadi alumnus terbaik di fakultasnya. Tidak hanya itu, skripsinya berhasil dibukukan dan diterbitkan oleh Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Judulnya: “Pendidikan Multikultural”.

September 2006, aku menjejakkan kaki ke Jakarta dan bekerja sebagai jurnalis di sebuah media online. Sehari-hari aku meliput peristiwa, menulis berita, dan semakin jarang menulis artikel opini. Belakangan aku pindah tempat kerja, ditempatkan di bagian dokumentasi dan informasi, dan lagi-lagi masih berurusan dengan dunia tulis-menulis.

Di Surabaya, Kholid juga terus menekuni dunia tulis-menulis, selain bergiat di Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim. Artikel-artikelnya yang nangkring di media massa kian berjibun. Terakhir, dia menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Matan—majalah bulanan yang diterbitkan PWM Jatim.

Sementara itu, Mahfud terjun ke dunia akademis, juga tanpa meninggalkan kegemarannya menulis artikel. Walau sempat gagal menggondol beasiswa S-2 yang disediakan pemerintah Australia, dia berhasil mendapatkan sponsor untuk kuliah pascasarjana di dua kampus yang berbeda: Unair dan IAIN Surabaya. Dua-duanya sudah rampung dia tempuh.

Kini Mahfud menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Dia menerbitkan satu buku lagi berjudul “39 Tokoh Sosiologi Politik Dunia”. Terakhir kulihat artikelnya terpampang di The Jakarta Post. Belum lama ini, dia juga diundang dalam sebuah seminar internasional di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk memperbincangkan persoalan hubungan antar umat beragama.

So, trio penulis itu kini tidak ingusan lagi….

Jakarta, 31 Agustus 2010

Sumber: Media.kompasiana.com, 31 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan