-->

Kronik Toggle

Pengajian di Maroko Pakai Makalah dan Dibukukan

Rabat – Mengisi ‘ad-Durus al-Hasaniah’. Itulah jadwal yang bakal dilakoni Ketum PBNU Ketum PBNU dalam lawatannya ke Maroko. Kegiatan itu merupakan agenda inti PBNU yang sudah sepekan berada di Maroko.

Ad-Durus al-Hasaniah, adalah nama majelis pengajian bergengsi, yang bertempat di Istana Raja Maroko. Kegiatan itu dilaksanakan menjelang maghrib, setiap hari selama bulan Ramadan. Rupanya Said Aqil Merupakan orang Indonesia pertama yang akan ceramah di majelis pengajian bergengsi tersebut.

Hal itu disampaikan mahasiswa NU di Maroko yang juga fungsionaris PCI NU(Pengurus Cabang Istimewa) Maroko, Nasrulloh Afandi kepada detikcom, Kamis (26/8/2010)

Rencananya, Said Agil akan mengisi pengajian pada Kamis (26/8) ini sekitar pukul 23.30 WIB dengan didampingi tokoh NU yang juga Duta Dubes RI Tosari Widjaja. Tosari pun menyambut gembira dengan diundangnya Ketua PBNU untuk mengisi acara tersebut.

“Kami sangat gembira dengan diundangnya Ketua PBNU sebagai orang Indonesia pertama untuk ceramah di ad-Durus al-Hasaniah, semoga bisa mengharumkan nama bangsa dan Islam Indonesia,” ujar Tosari.

ad-Durus al-Hasaniah adalah rutinitas yang dilaksanakan sejak puluhan tahun lalu. Kegiatan itu merupakan warisan Raja Hasan As-Sani yang merupakan pendiri Kerajaan Maroko. Nama ‘ad-Durus Al-Hasaniah’ diambil dari nama Raja Hasan.

Itulah nama pengajian yang kemudian diambil dan dinisbatkan. Sebagaimana juga latar belakang didirikannya Institut Islam bernama ‘Dar Al-hadits Al-Hasaniah’ yang terkenal di Ibukota Maroko, Rabat.

Dalam perkembangannya, atas perintah raja, pengajian tersebut kini dikoordinir oleh Wizaroh al-Auqof wa As-Syu’un Al-Iislamiyah (Kementrian Waqaf dan Keislaman) Maroko.

Penjelasan tersebut disampaikan Dr Idris Khalifah, dekan Fakultas Ushuluddin Universitas al-Qurawiyin, Tetouan, Maroko yang juga pengurus pusat al-Majlisb al-Ilmi al-A’la (Organisasi Ulama) Maroko.

Menurut Idris, materi dalam pengajian tersebut sangat akademis dan kontemporer. Setiap harinya majelis tersebut diisi penceramah yang selalu berganti-ganti. Selain ulama pilihan asal Maroko, dihadirkan pula para ilmuwan Islam papan atas, seperti dari Mesir, Arab Saudi, Kuwait, Sudan, Emirat Arab, Qatar, dan negara lainnya.

Kumpulan makalah dari setiap pengajian tersebut, dikumpulkan dan diterbitkan menjadi buku oleh Kementerian Wakaf dan Keislaman Maroko. Bahkan ada pula yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Peserta pengajian ini hanyalah untuk kalangan terbatas, seperti para petinggi Istana dan para tokoh Maroko tertentu. Sedangkan tamu undangannya adalah para ulama tertentu dari dalam dan luar Maroko. Selain itu diundang pula para duta besar negara sahabat. Bila ingin mengikuti pengajian tersebut, masyarakat umum hanya bisa menyaksikan lewat siaran televisi dari rumah masing-masing.

“Juga diikuti oleh Raja Mohammad As-Sadis sebagai tuan rumah, didampingi oleh adiknya Pangeran Rasyid,” tutur Idris Khalifah yang juga pernah menjadi salah satu narasumber di  Konferensi Cendekiawan Muslim Dunia (International Conference of Islamic Scholars/ICIS) yang dilaksanakn oleh PBNU di Jakarta beberapa tahun lalu itu.

( vta / ayu )

*) ramadhan.detik 26 Agustus 2010 dengan judul asli “Ketum PBNU Akan Mengisi Pengajian di Istana Raja Maroko”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan