-->

Kronik Toggle

Penantian Panjang Perpustakaan Maya

JAKARTA, KOMPAS.com — Eka Meifrina Suminarsih, peraih predikat pustakawan berprestasi terbaik tingkat nasional 2010, mengaku bermimpi perpustakaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), tempatnya bekerja, bisa menjadi perpustakaan maya.

Saat ini perpustakaan kami masih merupakan perpustakaan digital, masih perlu waktu panjang menjadi perpustakaan maya.
— Eka Meifrina Suminarsih

“Saat ini perpustakaan kami masih merupakan perpustakaan digital, masih perlu waktu panjang menjadi perpustakaan maya,” kata Eka, yang baru saja dinobatkan menjadi pustakawan terbaik nasional pada 17 Agustus 2010.

Perpustakaan digital, menurut dia, merupakan perpustakaan modern yang menyediakan koleksi buku sebagian besar dalam bentuk format digital yang bisa diakses secara elektronik dengan jaringan komputer. Saat ini BPPT memiliki sekitar 1.000 judul karya tulis, yakni hasil riset, prosiding, dan lainnya, dari para penelitinya yang sudah siap tampil dalam format digital dan sekaligus full text atau seluruh karya bisa ditampilkan secara penuh.

“Tentu saja untuk full text itu perlu izin dari pemilik karya. Kalau penelitinya tak mengizinkan, kami hanya berani menampilkannya dalam bentuk abstrak. Saat ini kami menyediakan sekitar 13.000 judul karya tulis dalam bentuk katalog dan abstraknya. Jika ada yang berminat, bisa memberi tahu kami untuk mendapat password-nya, tergantung dari izin pemilik karya,” kata Eka, Rabu (25/8/2010).

Jika perpustakaan digital ini ingin ditingkatkan menjadi perpustakaan maya, lanjut dia, perpustakaan BPPT perlu mempersiapkan semua koleksinya agar bisa diakses pada jaringan internet sehingga bisa dibaca siapa pun, di mana pun, dan kapan pun. Ia juga bermimpi, perpustakaan maya ini bisa menjadi rujukan para ilmuwan dan peneliti di Indonesia yang bisa menghindarkan kemungkinan tumpang-tindihnya penelitian dan mendorong peneliti untuk melakukan riset yang merupakan perkembangan dari riset sebelumnya.

“Dengan cara ini penelitian di Indonesia bisa lebih berkembang pesat karena setiap peneliti mengetahui peta riset, yang sudah dan yang belum, sehingga mereka memulai dari yang sudah ada untuk menemukan yang baru,” katanya.

Perpustakaan maya seperti ini, menurut dia, tentu saja memerlukan kerja sama antara perpustakaan dari sejumlah lembaga ilmiah, universitas, badan litbang pemerintah dan lainnya. Di negara-negara maju seperti AS, ujarnya, berbagai lembaga riset dan teknologi sudah bisa saling melihat perpustakaan sejawatnya.

*) Kompas.com 25 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan