-->

Kronik Toggle

Orang yang Mengaku Intel Intimidasi Panitia Bedah Buku di Jombang

JOMBANG – Panitia acara bedah buku “Bencana Industri Relasi Negara, Perusahaan, dan Masyarakat Sipil” mengatakan diintimidasi orang-orang yang mengaku intelijen kepolisian, Kodim, dari Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglinmas) Jombang.

Panitia penyelenggara terdiri dari sejumlah organisasi. Di antaranya LINK (Lingkar Indonesia untuk Keadilan), dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Kabupaten Jombang. “Sejak persiapan acara, orang-orang itu terus menelepon panitia menanyakan izin, jumlah peserta, tujuan, hingga isi buku. Bahkan ada beberapa yang datang ke lokasi hendak melarang acara,” kata Aan Anshori, koordinator LINK, Selasa (10/8).

Para ‘intel’ itu beralasan menjalankan perintah petinggi Kodim dan Kepolisian Daerah Jawa Timur. Mereka bermaksud melakukan pengawasan. Sebab, sebelumnya telah ada acara serupa di Mojokerto, yakni bedah buku terlarang karangan eks anggota Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), dan eks tahanan politik pada masa Orde Baru. Karena dilarang, acara dipindahkan ke Jombang.

“Katanya, ya, seperti itu. Mereka ingin keadaan kondusif. Tidak ada polemik karena aksi-aksi provokatif,” ujar Aan mengutip alasan yang dikemukakan para ’intel’ tersebut. Aan mengatakan dirinya sudah menghadap Kepolisian Resor (Polres) dan Bakesbanglinmas Jombang untuk menyampaikan acara bedah buku yang digelar di ruang pertemuan Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) itu.

Paring Waluyo, penulis buku, yang sekaligus didaulat sebagai pembicara mengecam reaksi inteligen itu. Dia menganggap aparat terlalu berlebihan dalam melakukan pengawasan. Apalagi acara bedah buku bukan aksi makar, melainkan hanya kajian akademik. “Jika mereka sudah berani mengintervensi, apalagi mengintimidasi ruang publik, berarti ini kecelakaan demokrasi,” ujar aktivis yang getol memperjuangkan nasib korban lumpur Lapindo itu.

Menurut Paring, cara yang dipraktekkan aparat itu adalah cara-cara lama. Sejumlah aparat penegak hukum masih paranoid dengan kegiatan para aktivis pemuda sekalipun itu berkaitan dengan bedah buku. Dengan demikian, kebebasan menulis untuk menuangkan ide dikekang. Paring menduga, praktek berdalih pengawasan itu ada kaitanya dengan rencana investasi perusahaan minyak kelas dunia di Jombang.

“Saya menduga ini ada kaitanya dengan investasi besar di Jombang. Aparat ingin masyarakat tak kritis, sehingga rencana investasi minyak Exxon Mobil berjalan sempurna, tanpa protes dan perlawanan warga,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, para petinggi Polres, Kodim, dan Bakesbanglinmas, tidak ada yang bisa dihubungi. Telepon seluler mereka aktif tapi tidak diangkat ketika dihubungi Tempo. MUHAMMAD TAUFIK.

*) Dikronik dari Tempointeraktif, 10 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan