-->

Kronik Toggle

Ngamen Puisi Wiji Thukul di Mojokerto

Cak Cip | Jabbar Abdullah

Cak Cip | Jabbar Abdullah

MOJOKERTO — Setelah ngamen puisi di Pondok Jula Juli Karya Budaya pada 28 Agustus lalu, ngamen puisi Wiji Thukul dilanjutkan ke Mojosari. Ba’da Maghrib (29/08) kami meluncur ke Mojosari. Di sana kami menyinggahi rumah kreatif dua perupa, yakni rumah Bapak Hadi Sucipto (Cak Cip) dan Alfie Fauzie Art Space-nya Alfie Fauzie. Di rum…ah Cak Cip, kami (Jabbar, Abdul Malik dan Glewo) serta Cak Cip membacakan 5 puisi Wiji Thukul. Cak Cip membaca “Reportase dari Puskesmas”, aku memilih “Lingkungan Kita si Mulut Besar” dan “Tanah”. Glewo membacakan “Puisi Menolak Patuh”, dan Abdul Malik menjatuhkan pilihannya pada “Derita Sudah Naik Seleher”. Dengan ber-background lukisan dan di kelilingi vespa-nya Cak Cip, kami berempat membacakan puisi-puisi Wiji Thukul secara bergantian.

Sehabis baca puisi, kami jagongan sembari nyruput kopi buatan Bu Cip. Tentu saja tak lupa menghisap rokok. Pulangnya kami disangoni 20 ribu untuk beli bensin dan 2 pak rokok, Surya 12 untukku dan Sampoerna A MILD isi 16 untuk Glewo. Maturnuwun untuk Cak Cip. Semoga Allah memberi ganti dengan yang lebih baik. Amiin.
———-

Selanjutnya kami meluncur ke Alfie Fauzie Art Space, rumah kreatif Alfie Fauzie. Di rumah Alfie yang temboknya dipenuhi dengan lukisan abstrak, baca puisi semakin terasa khusyu’. Glewo mengawali ngamen puisi dengan membaca “Apa Yang Berharga Dari Puisiku” dan mengambil ruang baca di sudut timur. Lalu menyusul Arief “Che” Hariyanto yang membacakan “Catatan Hari Ini” dengan ruang baca di pojok sebelah barat berlampu remang-remang sehingga tampak siluet ketika membacanya.

Giliranku tiba. Ruang bacaku di seberang ruang bacanya Glewo. Di situ aku membaca “Tanah” dan “Sajak Kota”-nya Wiji Thukul. Alfie Fauzi tak mau ketinggalan. Di ruang baca yang sama denganku, sembari merokok, dia mendaraskan “Catatan Malam” Wiji Thukul dengan gayanya sendiri. Ngamen puisi malam itu diakhiri oleh bacaan puisi Abdul Malik dengan judul “Catatan 88”

Setelah baca puisi rampung, kami berlima jagongan sambil menikmati makanan lontong berlauk tahu telor bersambal kacang-kecap. Kami membeli makanan itu dengan urunan. Alhamdulillah..! Sebaik-baik buah memang buah silaturrohim. Awet dan tahan lama. (Jabbar Abdullah)

Sumber: Facebook Jabbar Abdullah

1 Comment

hadi sucipto - 01. Mei, 2011 -

menarik sekali maka proses kreatif seperti ini sedikit memaksa perupa menjadi pembaca puisi dengan kemampuan apresiasi pas pasan tapi tak ada yang memarahi…minimal menjadi suatu pengalaman yang menarik cak Malik,Mas.Glewo dan Cak Jabbar..mestinya kegiatan ini bisa terus dilanjutken…begitu kata SENTILUN…hehehehe.sukses..

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan