-->

Kronik Toggle

Naskah Keislaman di Keraton Ngajogjakarta

YOGYAKARTA — Naskah-naskah keislaman yang tersimpan di Keraton Ngajogjakarta Hadiningrat Yogyakarta akan diungkap dan dibedah untuk kepentingan masyarakat dan bangsa Indonesia. Dengan begitu, masyarakat mengetahui akar budayanya.

Ketua Yayasan Kebudayaan Islam Indonesia (YKII) Keraton Ngajogjakarta Hadiningrat,  GBPH H Joyokusumo, mengatakan, langkah tersebut perlu dilakukan agar nilai-nilai budaya yang telah ditanamkan tak terkikis habis oleh budaya global.

“Jumlah naskah yang tersimpan di Keraton Ngajogjakarta mencapai 1.000 lebih dan akan dilakukan inventarisasi ulang,” ujar Joyokusumo di sela-sela acara penandatanganan kerja sama penelitian dan bedah naskah-naskah yang tersimpan di Keraton Ngajogjakarta Hadingrat, khususnya yang bersifat keagamaan, di Dalem Joyokusumo, Ahad (15/8).

Kerja sama itu melibatkan YKII Keraton Ngajogjakarta Hadiningrat dan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. Sebelumnya, Keraton Ngajogjakarta dengan Universitas Islam Negeri  (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta telah melakukan kerja sama serupa.

Joyokusumo mengungkapkan, sebenarnya pihaknya telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Agama untuk mengungkap naskah-naskah itu sejak era menteri Munawar Sadzali. Menurut dia, YKII dan UIN Sunan Kalijaga baru menerjemahkan sekitar 30 naskah.

Tindak lanjut kerja sama pelestarian naskah-naskah yang tersimpan di Keraton Ngajogjakarta itu antara lain diwujudkan dengan dibukanya Program Studi Islam dan Budaya Jawa di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selain itu, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi DIY mulai tahun ini akan memasukkan Budaya Keraton Ngajogjakarta, khususnya mengenai Islam, dalam muatan lokal di madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan madrasah aliyah (MA).

Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY, Afandi, menambahkan, saat ini, pihaknya mulai melatih guru untuk menyiapkan muatan lokal tersebut. Madrasah di DIY yang akan mendapatkan muatan lokal tersebut berjumlah 21 madrasah ibtidaiyah negeri, 35 madrasah tsanawiyah negeri, dan 15 madrasah aliyah negeri.

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Amin Abdullah, menegaskan, kerja sama pelestarian naskah-naskah keislaman yang tersimpan di Keraton Ngajogjakarta Hadiningrat sebagai langkah yang tepat. Ia menilai, upaya itu sebagai tugas sejarah agar masyarakat memahami akar budayanya.

“Hasil kerja sama UIN Sunan Kalijaga dengan Keraton Ngajogjakarta dalam penelitian yang terkait dengan naskah Keraton Ngajogjakarta telah menghasilkan lima buku sejarah abad ke-17, 18, dan 19 yang sangat bagus. Kita bisa mengetahui bagaimana proses inkulturasi serta akulturasi antara budaya Islam, Jawa, dan budaya-budaya lain,” tutur dia.

Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, Prof Dr HM Atho Mudzhar, menambahkan, kerja sama itu tidak dibatasi waktunya dan diharapkan akan berjalan terus selama kedua institusi masih ada. Menurut dia, Kementerian Agama akan mengalokasikan anggaran secara bertahap setiap tahunnya.

“Besarnya anggaran belum ditetapkan, tapi kami mengusulkan sekitar Rp 200-400 juta khusus anggaran tahun 2011,” ujar Prof Atho. Kerja sama itu merupakan bagian  program dari Lektur dan Khazanah Keagamaan Balitbang dan Diklat Kementerian Agama.

Hingga kini, papar dia, Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama telah melakukan digitalisasi sebanyak 640 naskah dari berbagai keraton di seluruh Indonesia.

Sumber: Republika, 16 Agustus 2010, “Mengungkap Naskah Keislaman Warisan Nenek Moyang”

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan