-->

Tokoh Toggle

Mas Hikmatul Azimah: Juara Cipta Puisi Kandungan Alquran Pospenas 2010

2010 08 16_TOKOH_JP_Mas Hikmatul AzimahHatiku perahu di samudera
Saat kicau burung menyambut mentari
Engkau bernyanyi
Menggores luka

ROJIFUL MAMDUH, Mojokerto

SEPENGGAL puisi di atas adalah karya Mas Hikmatul Azimah yang berjudul Jauh. Gadis berparas ayu ini lahir di Surabaya 25 April 1992. Ia keturunan KH Mas Baidlowi dan ibu Nyai Mas Nur Zaenab dari Sidoresmo Dalem Surabaya.

Setelah lulus MI (setingkat SD) At-Tauhid Sidoresmo, Azimah, panggilan akrab Mas Hikmatul Azimah, tidak melanjutkan ke jenjang sekolah formal. Tapi memilih masuk ke Pondok Pesantren Darul Falah Jerukmacan, Sawo, Jetis, Kabupaten Mojokerto mengambil program tahfid Alquran dan madrasah diniyah.

Pada 2004 ia mengikuti program wajar dikdas tingkat wustha (setingkat SMP) dan dinyatakan lulus ujian nasional pada tahun 2007.

Penampilannya manis mungil, sederhana dan rendah hati. Ia suka bergaul dan tidak canggung akrab dengan teman-temannya. Meski dia termasuk keluarga berdarah biru. Di pondok ia lebih suka menyembunyikan identitasnya. Kerendahan hati memang betul-betul yang ditanamkan kedua orang tuanya.

Termasuk setelah memenangi Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) V di Jatim bulan lalu. Orang tuanya berpesan supaya kemenangannya tidak menjadikannya takabur, tetapi justru menjadikannya lebih rendah hati dan tawadu. Baik kepada teman maupun guru-gurunya.

Di Pondok Darul Falah Jerukmacan, ia termasuk santri yang tekun menghafal dan belajar. Dia suka membaca buku-buku sastra. Untungnya di pesantren ini tidak dilarang membaca buku-buku sastra, justru malah dianjurkan.

Ia bersama teman-temannya sangat menikmati nadhom-nadhom Alfiyah yang dibaca bareng-bareng diantara salat jamaah Maghrib dan isya. Maklum, terjemahan nadhom Alfiyah tersebut oleh Gus Muhammad, salah seorang pengasuhnya diterjemah dengan gaya syair berbahasa Jawa. Sehingga lebih mudah dan lama-lama hafal sendiri karena istikamah dibaca bersama-sama.

”Saya beruntung dibimbing langsung oleh Gus Chamim Kohari,” ujarnya. Sebab Gus Chamim merupakan penulis antologi ”Pehpeh”. Gus Chamim merupakan aktivis Komunitas Sastrawan Pesantren Jawa Timur. ”Alhamdulillah, dibawah bimbingannya, saya mampu meraih juara satu Lomba Cipta Puisi Kandungan Alquran Pospenas V di Surabaya 5-11 Juli lalu.

Untuk memenangi kejuaraan itu, Azimah harus melalui jalan terjal. Saat lomba berlangsung, ia sempat terlambat lebih dari 30 menit. Sebab ia tidak diberi tahu pendampingnya saat technical meeting, bahwa jadwalnya dimajukan sehari dari jadwal semula 7 Juli.

Ia baru tahu saat dihubungi oleh salah seorang panitia kalau perlombaan sudah berlangsung selama 30 menit. Mendengar hal itu, ia pun bergegas mencari ojek menuju tempat lomba yang jaraknya dua kilometer dari tempatnya menginap.

Untung saa tiba di lokasi masih diperbolehkan mengikuti lomba oleh penyelenggara dengan tanpa perpanjangan waktu.

Di sini, Azimah menunjukkan mental juaranya. Dia cukup tenang dan sabar dalam mengerjakan karya puisinya. Meskipun aturannya sangat ketat, di antaranya tidak boleh ada coretan dalam lembar kertasnya.

Karena sudah terbiasa dengan menulis puisi, dan memang setiap Sabtu mengikuti latihan secara serius. ”Tugas penyair yang paling berat adalah menaklukkan kata dan realitas dengan imajinasi,” begitu wejangan Gus Chamim untuk Azimah.

Mas Hikmatul Azimah bergabung dengan Komunitas Sastrawan Pesantren pada 2007. Bakat menulis puisinya semakin terasah sejak dibina oleh Gus Chamim di kelas X. Madrasah Aliyah Unggulan Darul Falah Jerukmacan. Banyak karya puisi yang telah ditulisnya. Suatu saat ia berkeinginan menerbitkannya dalam bentuk antologi.

Di sela-sela takrir untuk menguatkan hafalan Alquran, ia juga aktif mengikuti diskusi-diskusi, baik yang diadakan oleh Pondok Pesantren, Dewan Kesenian atau komunitas-komunitas sastra. Dia juga sering membacakan puisi di mana-mana. Penyair yang paling berpengaruh dalam perkembangan kreatifnya adalah Ibnu Malik dari Andalusia yang mampu merangkum ilmu gramatika Arab menjadi seribu nadham.

Juga Syaikh An-Nidhami yang mampu menguraikan cinta Qais dan Laila menjadi abadi, dan masih banyak lagi yang lain seperti Rabindranat Tagore yang mampu merubah apa saja yang dirasa dan yang dilihatnya menjadi indah. Satu kutipan yang menjadi penyemangat proses kreatif menulisnya datang dari A. Su’udi, Kemarin adalah hari ini, dan esok adalah impian masa kini. Seni itu panjang, agama itu dalam, dan hidup itu pendek. (yr)

*)Radar Mojokerto, 16 Agustus 2010

5 Comments

Kholiliya - 17. Sep, 2010 -

ok. penting di apresiasi n dicontoh

Lian Pratama hasibuan - 10. Okt, 2010 -

hebat betul kamu dalam permainan kta2, sampai juara satu pospenas…

saya kagum sama kamu, klo saya cuma dapat harapan dua…
sukses selalu ya…

danang dwi santoso - 10. Okt, 2010 -

smangat terus neng kami temen 1 pondok selalu mendukungmu semoga darul falah punya hikmah hikmah yang lain agar juara terus dalam perlombaan

Arief Rahman Heriansyah - 17. Des, 2010 -

Salam,
Saya peserta cipta puisi dari Kalimantan Selatan
Alhamdulillah kemaren sempta ketemu, dan saya juara III (Medali Perunggu) Putera.
Selamat untukmu, dan Salam kreatif selalu

Agung Khuluq - 05. Apr, 2011 -

Wah……hikmah..gak sengaja browsing ada brita ini. Sebagai rekan pospenas dgn mu, aku salut kamu memilih jalur sastra islami khas pesantren (ya ku nilai dari bacaan di atas). semoga kita bs ktmu lg. btw, klo gabung le komunis sastrawan pesantren gmna caranya ?

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan