-->

Kronik Toggle

Kronologi Intimidasi Bedah Buku "Bencana Industri: Relasi Negara, Perusahaan, dan Masyarakat Sipil"

Catatan Aan Anshori

Senin, 9 Agustus 2010. Meski tidak hadiri beberapa orang karena berbagai kesibukan, rapat final checking Bedah Buku “Bencana Industri: relasi Negara, Pengusaha, dan Masyarakat Sipil” di aula GKJW tetap berlangsung.

Acara tersebut rencananya akan dihadiri Paring W Utomo, penulis, dan Faishal Aminuddin, dosen ilmu politik Univ. Brawijaya Malang. Rapat yang semestinya digelar pukul 10, akhirnya dimulai pada pukul 11.00. Hanya ada saya dan 2 orang majelis gereja, pak Edy dan Pak Sholeh.

Salah satu agenda yang dibicarakan adalah menentukan siapa perwakilan gereja/lintas agama yang akan memberikan sambutan/ucapan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kelompok muslim. Rapat akhirnya mensepakati beberapa nama pendeta antara lain Pendeta Eddy K, Pendeta Sunardi, dan Pendeta Eko.

Hajatan bedah buku ini sendiri memang dimaksudkan untuk menandai hijrah kantornya LINK sekaligus menyambut datangnya bulan suci ramadlan. Oleh karena selama ini LINk concern dalam gerakan antariman maka disepakati akan ada sambutan dari kelompok non muslim untuk menyampaikan pesan perdamaian bagi seluruh umat.
Rapat ditutup sekitar pukul 11.30 dan diakhiri dengan menset-up ruang untuk acara besok pagi. Meja dan kursi pun ditata agar muat 50 orang undangan.
Sekitar pukul 12.30 Pak Edi datang ke kantor LINK. Dengan nada agak kuatir dia menceritakan bahwa dia baru saja dihubungi oleh penjaga gereja karena ada 2 orang yang mengaku dari kepolisian menanyakan surat izin atas acara bedah buku besok. Pak edi meminta agar saya membuatnya.

Meski meyakini bahwa ini adalah acara intelektual dan dilakukan di lingkungan terbatas, dengan mempertimbangkan faktor psikologis pihak gereja akhirnya saya memilih untuk tidak mendebat permintaan tersebut.

Setelah selesai diketik, surat pemberitahuan tersebut saya antar sendiri ke Polres Jombang dengan terlebih dahulu mengontak salah satu petugas di jajaran Intelkam.

Tiba di Mapolres saya ditemui oleh Pak Ponidi dan Pak Timo, keduanya adalah petugas senior di Intelkam Polres. Setelah menyerahkan surat pemberitahuan dan undangan kepada Kapolres untuk hadir di acara tersebut, kami mengobrol santai.

Dengan nada guyon saya sempat menyindir sejak kapan Jombang tidak aman lagi sehingga acara bedah buku di gereja harus membuat surat izin terlebih dulu. Setelah saya jelaskan maksud acara tersebut, mereka bisa memahami dan tidak mempermasalahkannya.

Menjelang pukul 16.00 wib, saya menerima sms dari pak Edi agar segera merapat ke GKJW karena ada hal yang sangat penting menyangkut acara besok. Setelah tiba, saya menelpon Riyadi (ketua PMII Jombang) agar juga segera merapat. Selain LINK dan GKJW, acara bedah buku ini juga melibatkan PMII, Ikatan sarjana NU Jombang, dan Persaudaraan Lintas Agama & Etnis/Prasasti Jombang). Di GKJW, sudah menunggu Pak Soleh dan Pak Edi.

Dengan terlihat agak risau dan bingung, Pak soleh menceritakan bahwa baru saja ia ditelpon Kepala Bakesbanglinmas, yang pada prinsipnya dia meminta tolong dengan sangat agar GKJW menggagalkan acara bedah buku besok dengan alasan kondusivitas. Menurut Pak Soleh, Kesbanglinmas juga sudah berkordinasi dengan BKSG mengenai hal tersebut.

Pak soleh juga menuturkan bahwa sebelum adanya telpon tersebut, ada 2 orang intel Bakesbanglinmas yang mendatangi rumahnya. Mereka menanyakan izin acara dan meminta agar acara besok tidak perlu digelar. Keduanya mengaku sudah berkordinasi dengan Polres dan Kodim. Dua institusi itu diklaim tidak sepakat dengan acara tersebut dan meminta agar tidak usah diselenggarakan.

Ditengah pembicaraan kami, Pdt. Eko (pengurus Prasasti dan BKSG) menelpon meminta informasi acara besok. Dia mengaku kebingungan karena menerima telpon dari beberapa “pihak” yang meminta dirinya untuk “mempersuasi” GKJW agar tidak usah menyelenggarakan bedah buku.

Setelah saya jelaskan akhirnya dia bisa memahami dan mendukungnya.
Setelah menerima telpon tersebut, saya mencoba menghubungi Kepala Bakesbanglinmas . Saya meprotes upaya penekanan pihak GKJW atas kegiatan ini. Setelah saya jelaskan mengenai acara tersebut, saya meminta penjelasan alasan pelarangan kegiatan tersebut. Belum sempat menjawab, telpon tiba-tiba mati. Beberapa kali saya coba hubungi kembali namun gagal.
Semuanya menunggu, apakah rezim intimidatif ini akan berubah menjadi rezim represif. Akan kita buktikan besok pada pukul 9 pagi di GKJW Pasamuan Jombang!.

Disalin dari catatan Facebook Aan Anshori, 10 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan