-->

Tokoh Toggle

Heru Minandar, Kamus Online Pertama

Heru Minandar | kbbi online

Heru Minandar | kbbi online

Saat mengawali proyek bersejarahnya, membuat kamus bahasa Indonesia online, Heru Minandar tak bermimpi muluk-muluk. Sarjana teknik sipil jebolan Universitas Udayana, Bali, tersebut terusik oleh permintaan putri kesayangannya.

Suatu malam pada November 2007, Ghina Aurilia, putrinya yang duduk di bangku kelas 4 SD, merengek karena PR bahasa Indonesia-nya belum juga selesai. Tugasnya sederhana, mengartikan lima kata yang sebenarnya sudah populer di telinga. Tapi, karena betul-betul tidak mengerti, Heru sempat kelimpungan. Padahal, tugas sang anak harus dikumpulkan besok paginya.

“Saya dibuat bingung permintaan putri saya. Seandainya pagi, mungkin bisa beli kamus. Tapi, hari itu sudah malam,” ungkap Heru kepada Lombok Post (Grup Jawa Pos) di rumahnya di Karang Tumbuk, Selagalas, Mataram.

Sebagai seorang penjelajah internet, pilihan Heru jatuh pada dunia maya. Dia berpikir, semua hal yang ditanyakan pasti ada jawabannya di internet. Apalagi sekadar beberapa kata. Pilihan awalnya, dia mencoba browsing situs-situs pendidikan yang ada. Namun, hasilnya nihil. Tak ada satu pun yang menyediakan fasilitas pencarian arti kata. Bahkan, di situs Pusat Studi Bahasa pun, dia tak menemukan kata tersebut.

Lebih dari dua jam dia menelusuri dunia maya tersebut. Kata yang dicari memang ditemukan, tapi tidak ada satu pun yang menguraikan arti kata tersebut. Untuk menepis kekecewaan putrinya, dia meraba-raba arti kata tersebut. “Saya lupa kata yang ditanyakan. Saya hanya ingat kata lapangan. Malam itu, saya reka-reka saja dulu artinya. Yang penting putri saya puas,” ujarnya lalu tertawa.

Namun, dua jam memelototi layar laptop, tak sepenuhnya hasil nihil didapatkan Heru. Dalam penelusurannya, ayah dua putri itu justru menemukan milis-milis yang mempertanyakan tidak adanya situs kamus bahasa Indonesia. Tampaknya, Heru bukan orang pertama. Banyak rekan pengguna internet lainnya yang terpaksa gigit jari ketika mencari arti sebuah kata dalam bahasa Indonesia.

“Seandainya tidak ada tugas putri saya malam itu, sampai sekarang saya mungkin tidak pernah tahu bahwa ternyata kita tidak memiliki situs bahasa,” ujarnya.

Keesokannya, pria yang bekerja di perusahaan Internet Service Provider (ISP) Cakrawala Multimedia Mataram tersebut langsung membeli kamus bahasa Indonesia. Tujuannya hanya satu, membuat situs kamus bahasa Indonesia. “Paginya, saya langsung membuat situs www.kbbi.web.id,” tegas suami Eka Erawati tersebut. Kbbi adalah kependekan dari kamus bersama bahasa Indonesia.

Karena bukan ahli bahasa, kata-kata yang dimasukkan dalam situs dia ambil dari kamus besar bahasa Indonesia. Situs awal yang dibuat hanya memuat 181 kata. Setelah menggeluti beberapa lama, tampaknya, aktivitas baru tersebut menarik. Kembali dia merancang situs baru dengan hosting yang lebih besar.

Saat ini, sudah ada 1.417 kata yang dimuat dalam kamus online-nya tersebut. Untuk mengisi kata-kata itu, Heru melakukannya saat waktu senggang atau istirahat. Kata yang dimasukkan pun tidak banyak. Sehari kadang tak lebih dari 10 kata. “Saya tidak memaksakan untuk menulis semua. Kadang saya hanya masukkan lima kata,” ungkapnya.

Walau situs yang dibuat diakui masih jauh dari sempurna, banyak kalangan yang mendukung. Dalam milis yang dikirim, pengunjung situs kebanyakan meminta untuk dipenuhkan. Milis-milis tersebut makin membangkitkan semangat Heru.

Tapi, kesibukan membuat dirinya tak bisa memenuhi tuntutan tersebut. Karena itu, dia memberikan kesempatan kepada member situsnya untuk menambah kosa kata. “Ada yang rutin ngirim tiap hari. Sampai sekarang saya tidak tahu orangnya,” katanya.

Melihat banyaknya pengujung dan dukungan, terakhir mencapai 1.558 pengunjung, Heru mencoba melebarkan perannya. Setelah mengembangkan kamus bahasa Indonesia online, saat ini dia menyiapkan kamus bahasa daerah, tentunya juga secara online. Kreasinya bisa dilihat di www.basesasak.web.id.

Kamus online tersebut memang baru dikembangkan dan dia mengaku lebih sulit menyusunnya. Sebab, Heru yang berdarah Jawa tersebut tidak lancar berbahasa Sasak. Pun ketika meminta bantuan, sudah banyak kritik. “Katanya sulit untuk bahasa daerah. Banyak variasinya. Daerah ini lain dari derah sebelahnya. Tapi, saya rasa ini gampang saja, tinggal kita buat arti dalam semua dialek. Tinggal pemerintahnya serius atau tidak,” ungkapnya meniru pejabat yang pernah dia hubungi.

Kini, di sela kesibukan, Heru tiap hari terus mengembangkan karya yang telah dirintis. Dia berharap banyak pihak yang membantu. Tapi, daripada menunggu bantuan, mungkin sudah banyak bahasa yang hilang.

Nama : Heru Minandar
Tempat/Lahir : Surabaya, 14 Januari 1971
Istri : Eka Erawati
Anak : Ghina Aurilia, La Reina
Pendidikan : SD – SMA di Mataram
Fakultas Teknik Universitas Udayana
Karir : Karyawan Internet Service Provider (ISP) Cakrawala Multimedia Mataram.

(Fathul Rakhman – Mataram)

Sumber: Harian Jawa Pos, 20 Mei 2008

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan