-->

Tokoh Toggle

Djoko Utomo, “Arsip Membuat Kita Tahu Fakta Sejarah”

KORANTEMPO 31 Agustus 2008
Djoko Utomo, Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia
“Arsip Membuat Kita Tahu Fakta Sejarah”
Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat yang pernah diucapkan Presiden Soekarno itu disimpan lama dalam diri Djoko Utomo, yang dua pekan lalu menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) itu dianggap berjasa mengumpulkan dan menyelamatkan banyak arsip nasional yang menjadi bukti otentik sejarah Indonesia. ”Ini kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili,” ujar alumnus Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, itu.
Menurut Djoko, penghargaan itu dimaknai sebagai pengakuan negara, karena selama ini kearsipan dimarginalkan. Padahal, sebagai pengingat dan bukti otentik sejarah bangsa, arsiplah yang dicari-cari. Dia menyayangkan, masih banyak pihak yang kurang peduli.
Di tengah kesibukannya yang padat, mendata dan mengunjungi beberapa instansi untuk “menagih” arsip-arsipnya, Djoko menerima wartawan Tempo Ngarto Februana, Yophiandi, dan fotografer Yosep Arkian, Kamis lalu di kantornya, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, untuk sebuah wawancara. Berikut petikannya.
Apa arti penghargaan itu buat Arsip Nasional?
Penghargaan itu kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili. Penghargaan ini saya maknai untuk arsip dan kearsipan di Indonesia, yang selama ini ”dipinggirkan”, ”dimarginalkan”. Karena itu, kami mencoba mempromosikan bahwa arsip itu memang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh sederhana, kita bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyelamatkan arsip yang kena tsunami sebanyak 84 meter kubik. Karena bisa menyelamatkan itu, bersama bantuan Jepang dan lain-lain, akhirnya BPN bisa menerbitkan sertifikat berdasarkan arsip yang ada.
Mengapa selama ini arsip dipinggirkan?
Karena pemahaman yang tidak pas, tidak sesuai dengan undang-undang, dari banyak pihak, termasuk para pejabat, yang menganggap arsip seolah-olah barang rongsokan, berupa kertas usang. Ini harus kita ubah betul bahwa arsip tidak seperti itu. Karena itu, saya berusaha mendudukkan dalam proporsi yang sebenarnya. Sesuai dengan undang-undang, arsip itu adalah naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, badan pemerintah, badan swasta, dan perseorangan, dalam bentuk corak apa pun. Dulu arsip itu, sebelum berkembang teknologi sedemikian hebat, hanya yang terekam di atas kertas. Bagaimana kalau yang terekam di tape recorder, video, film? Saya mencoba untuk mengaitkan dengan definisi yang dari luar negeri, yang berlaku di dunia kearsipan. Arsip itu disebut recorded information, apa pun mediumnya, tetapi bukan sembarang informasi.
Arsip dibuat dalam rangka pelaksanaan kegiatan. In the conduct is a business. Di Indonesia, juga dalam pelaksanaan kegiatan, kegiatan pemerintahan dan kehidupan bangsa. Arsip itu tumbuh dan berkembang secara wajar. Dia ada, tidak diada-adakan, kecuali dalam kasus khusus, mau memalsukan. Arsip ada yang palsu juga. Arsip dalam arti sebenarnya, dia itu otentik, dia realible, dia legal (absah).
Kriteria itu untuk menentukan suatu naskah disebut arsip?
Betul. Persis. Nah, berkaitan dengan itu, sekarang ada beberapa copy Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), jelas itu tidak otentik, tidak realible; (karena itu) tidak perlu saya analisis.
Mengapa tidak otentik?
Otentik, dalam artian informasi yang direkam di kertas, arsip yang otentik. Arsip yang ”konvensional”, itu direkam di kertas, artinya dia melekat terus pada medium atau obyeknya. Mediumnya kertas, ya, melekat terus. Kalau itu copy, jelas tidak melekat. Saya tidak perlu menganalisis. Dan di situ tidak ada otentikasi bahwa itu disalin sesuai dengan aslinya. Pernah ndak, lihat Supersemar yang disalin sesuai dengan aslinya?
Peran arsip dalam kehidupan berbangsa?
Arsip itu simpul pemersatu bangsa. Saya sampaikan, ada suatu Konvensi Wina 1983, Vienna Convention on Succession of States in respect of State Property, Archives and Debts Esensinya adalah wilayah negara beserta properti, arsip, dan utang yang ditinggalkan oleh negara terdahulu menjadi milik negara penerusnya. Berarti, dalam konteks Indonesia, wilayah negara yang ditinggalkan penjajah, dari Merauke sampai Sabang, itu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Titik.
Arsipnya bagaimana?
Kalau arsip itu otentik, menurut konvensi tadi, surat aslinya harus ada di Indonesia. Yang kedua, ada principal of propenant, asas asal-usul, kalau arsip diciptakan di negara itu, harus tetap berada di negara itu.
Djoko memberi contoh tentang surat Bung Karno yang dikirim dari penjara Sukamiskin, Bandung, yang ditujukan kepada ke Jaksa Agung Hindia Belanda. Karena kedudukannya di Hindia Belanda, pemberkasan surat itu di Indonesia, seharusnya surat itu di Indonesia. Tapi sampai sekarang arsip itu belum diketahui keberadaannya.
Arsip kita masih banyak di Belanda?
Nah, ini begini, yang ditanya arsip yang diberkaskan di Belanda atau mengenai hubungan Indonesia dengan Belanda. Itu beda. Arsip yang kena Konvensi Wina, yang diberkaskan di sini, apalagi yang diambil (oleh Belanda) di Yogya, harus dikembalikan. Surat Bung Karno dari Sukamiskin, kalau ketemu aslinya, saya jamin, saya bisa tarik ke sini.
Arsip VOC itu, yang menjadi memori kolektif dunia, di Indonesia terbesar, 2,5 kilometer kalau kita jejer. Sedangkan di Belanda 1,3 kilometer. Termasuk arsip Lagu Indonesia Raya, ada di kita. Aslinya. Arsip yang mengatur memasang bendera. Boleh nggak masang bendera sampai malam berkibar terus? Masang bendera di mobil di sebelah kiri? Boleh nggak ukurannya yang seenaknya? Nggak boleh.
Bagaimana dengan arsip di negara lain?
Tahun lalu, bulan September, kami mengadakan seminar internasional, saya memetakan arsip dan dokumen kita di luar. Saya undang, mereka bicara tentang Indonesia dari dokumen yang ada pada mereka, dari situ kami tahu arsip apa saja yang masih ada di sana.
Sejauh mana keberhasilan kita menarik arsip-arsip kita di luar?
Ya, kami kan tidak bisa langsung. Yang penting kami tahu dulu arsip itu ada di mana. Seperti Suriname, mereka akan mengkopi dokumen imigran Indonesia yang lari ke sana. Kalau Belanda, catatan harian VOC, asli di kita, kopi di sana.
Berarti arsip tentang Belanda di Indonesia sudah 100 persen di Indonesia?
Arsip Hindia Belanda di sini itu sampai 7,5 kilometer. Bahkan arsip Perjanjian Giyanti, Bungaya, ada di sini. Makanya, saya mau membuat diorama tentang sejarah perjalanan bangsa.
Mungkin juga memang belum 100 persen…. Persentase di Belanda, berapa ya, saya tidak berani bilang, tapi sebagian besar ada di sini. Kalau Jepang, ini menarik: hampir tidak ada, karena Jepang memusnahkan arsip.
Kok bisa?
Begini, dulu kan arsip kita di Jalan Gajah Mada. Ketika Jepang mau masuk, Belanda mengambil semua arsip diturunkan ke lantai dasar dan ditimbun pasir setinggi satu meter. Jadi kalau gedung dibom, arsip tidak akan hancur. Arsip Belanda soal tambang diambil, supaya kalau Jepang datang tak bisa menemukan sumber tambang.
Apa kriteria arsip yang menjadi rahasia negara?
Kalau diberikan pihak luar akan membahayakan. Arsip KKP, Komisi Kebenaran dan Persahabatan, misalnya, dari sana (Timor Leste) mengharapkan tidak diakses dulu, masih rahasia negara.
Soal dokumen rahasia, ada ketentuan berapa tahun bisa dibuka?
Begini, kami tidak pakai tahun untuk itu. Yang jadi kondisi, tidak membahayakan keamanan nasional. Saat itu, kami akan melakukan declassified, artinya tidak rahasia lagi. Kalau dikaitkan dengan kasus di Amerika Serikat, waktu itu hal menarik, ketika ada sejarawan suami-istri Cahin, minta kasus PRRI-Permesta dibuka. Tapi tidak tuh, karena dianggap masih membahayakan. Ini cerita soal keterlibatan CIA (agen rahasia Amerika) dalam pemberontakan itu. Dalam kasus ini, kami ambil kesimpulan, bahkan ketentuan 30 tahun sejarah harus dibuka pun bisa dipertimbangkan kembali. Dari kasus ini juga saya tahu betapa penting Indonesia di mata Amerika.
Kalau arsip Timor Leste bagaimana?
Nah, ini menarik, setelah berunding, pihak Timor Leste juga minta arsip-arsip (saat masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia). Dia minta arsip-arsip yang dibuat, diberkas di Timor Leste. Kalau gubernur saat itu mengirim surat ke Menteri Dalam Negeri, ya haknya Indonesia. Tapi yang di sana, milik Timor Leste. Tapi semua kan terbakar.
Bagaimana dengan dokumen-dokumen milik TNI dan Polri?
Wah, ya di sini semua. Kalau ada yang minta kami kasih, tapi harus dapat izin dulu dari Cilangkap (Markas Besar TNI), khususnya Angkatan Darat-Polri. Kalau dapat izin, baru dikasih.
Bagaimana perhatian negara maju terhadap arsip?
Negara maju, perhatiannya, nomor satu itu arsip. Ketika Perang Dunia II, Jerman kalah perang; 60 ton arsip dibawa ke Rusia dan Amerika.
Kalau negara berkembang?
(Waktu perang) politik kita politik bumi hangus. Negara berkembang kurang apik (dalam mengurus arsip). Kekalahan kita soal Pulau Sipadan dan Ligitan kan karena kurang arsip.
Orang Asia tidak menghargai arsip, ya?
Kecuali Vietnam. Vietnam itu bagus sekali arsipnya. Dokumen-dokumennya dijaga betul selama perang, dibawa ke gua-gua. Kesadaran mereka tinggi, saat pelarian mereka bawa. Sayangnya, kan kita tidak seperti Vietnam, politik bumi hangus, termasuk arsip kita sendiri.
Bagaimana dengan pemeliharaan arsip?
Saya sangat risau ketika listrik dimatikan PLN. Kalau dalam keadaan darurat tiba-tiba mati, saya nggak ada masalah. Tapi sengaja bergilir dimatikan. Kita sudah nulis surat jangan sampai dimatikan. Film itu, kalau listrik dimatikan (sehingga AC mati), akan muncul penyakit vinegar syndrome, film itu rusak, lengket-lengket, nggak bisa diakses. Kalau (arsip medium) kertas, masih bisa.
Dulu ketika ada pembatasan beli BBM (bahan bakar minyak), mati listrik. Kita bawa jeriken, beli BBM ke pompa bensin (untuk menghidupkan genset), nggak boleh beli. Akhirnya kami beli pakai bus, terus disedot ke genset.
Mereka tidak ada yang mengerti, pompa bensin nggak mengerti, PLN nggak mengerti. Satu jam 200 liter, supaya genset hidup. Bisa dibayangkan kalau 24 jam. Ruang arsip itu harus hidup 24 jam, sepanjang tahun. AC tidak boleh mati. Kalau ada penghematan, ruang arsip tidak dihemat. Yang dihemat, di sini (ruang perkantoran).
Ruang penyimpanan arsip, yang di dalamnya brankas empat lapis berisi teks asli Proklamasi, baik yang diketik Sayuti Melik maupun tulisan tangan Bung Karno, memerlukan suhu dan kelembapan tertentu.
PLN mengerti tidak masalah ini?
Tidak mengerti. Bolak-balik kita menyurati.
Artinya kesadaran orang untuk peduli pada arsip masih kurang?
Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ini kan memori kolektif bangsa, jati diri bangsa, warisan nasional. Ini tidak hanya untuk sekarang, tetapi untuk generasi mendatang, sampai kiamat.
Individu yang masih menyimpan arsip sejarah bagaimana?
Ketika ribut-ribut soal Supersemar, kami juga menelusuri. Saya punya feeling ya, suatu saat naskah asli Supersemar akan ketemu. Begini, naskah teks Proklamasi asli yang ditulis tangan Bung Karno baru diserahkan kepada pemerintah pada 1992 oleh wartawan waktu itu, B.M. Diah. Naskah yang diketik Sayuti Melik baru diserahkan pada 1957. Pernyataan berhenti Pak Harto sudah di Arsip Nasional.
Soal Supersemar ini, Anda memburunya?
Iya, kalau ada informasi apa pun, di mana pun, kejar, sebab ini dokumen sejarah, arsip buat memori kolektif bangsa. Bahkan waktu dapat informasi Supersemar di Mojokerto, saya suruh Pak Tolchah (Deputi Akusisi) kejar, subuh-subuh berangkat. Ternyata kopian juga hahaha.
Dari para pelaku sejarah yang masih hidup bagaimana?
Nah, ini, ada yang menarik. Ternyata Soeharto itu jadi presiden dikukuhkan MPRS karena desakan mahasiswa, waktu itu Pak Cosmas Batubara. Karena mahasiswa berpikir satu-satunya yang berani membubarkan PKI adalah Pak Harto. Mahasiswa takut Supersemar dicabut kembali oleh Bung Karno.
Kami sudah datangi Pak Nasution waktu masih hidup (A.H. Nasution, waktu itu Ketua MPRS 1966). ”Pak, waktu itu kan Bapak mengukuhkan berdasarkan salinan legalisir Supersemar, mana sekarang, Pak?” ”Wah lupa tuh, coba tanya Sekjen (MPRS) waktu itu Abdul Kadir Besar.” Semua sudah lupa. Makanya kami, sejak tahu begini, membuat program sejarah lisan, termasuk program kembalinya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ke pangkuan ibu pertiwi.
Sejarah lisan, apa tujuannya?
Untuk mengisi kekosongan, supaya cepat, ingatannya masih segar. Mengisi gap juga memperkaya khazanah. Arsip audio visual semacam ini juga kan bisa memperlihatkan ekspresi.
Sudah ada indikasi di mana Supersemar?
Belum, tapi tetap kami lacak. Kami wawancara Pak Moerdiono, dulu kan dia masih letnan satu, dia ditugaskan membuat draf pembubaran PKI. Dia memerlukan Supersemar untuk membuat konsiderans. Nah, kami diberi tahu ada nama Komeri. Kami sedang menunggu untuk mewawancarai. Dulu dia ini yang ditugaskan mengkopi. Ada satu lagi letnan kolonel, tapi belum tahu namanya. Yang jelas, Supersemar itu ada.
Arsip juga bisa untuk meluruskan sejarah?
Ya, kami cuma berdasarkan dokumen bersejarah, kami munculkan saja. Misalnya, ini (menunjukkan kalender), kami tahu penggagas Serangan Umum 1 Maret itu Sultan Hamengku Buwono IX, bukan Pak Harto. Dulu Sultan datang ke Jenderal Sudirman di hutan. Waktu itu Sultan tahu ada Sidang Umum PBB di New York hari itu. Nah, dia minta supaya Indonesia show off force, kita punya tentara. Sebentar saja, tak usah lama-lama, kalau lama, ya, kalah juga kita. Nah, kata Pak Dirman, ya, si itu saja, Letkol Soeharto. Jadi, ya, Soeharto itu eksekutornya. Pemrakarsanya ya Sultan.
Arsip di tempat lain, seperti di kerajaan-kerajaan?
Yang baik itu pengarsipannya di Yogyakarta. Di Solo, Mangkunegaran ada sedikit. Kalau di Yogyakarta kan Sultan mau mengelola sendiri. Kalau dari kerajaan Bima ada di sini. Arsip Bank Indonesia juga ada di Bank Indonesia. Mereka punya sarananya. Hukumnya, memang mereka wajib menyerahkan, tapi mereka punya sarana yang baik.
Obsesi Anda yang belum tercapai?
Supaya arsip nasional menjadi centre of excellence. Semua data ada di sini. Arsip KPU juga sudah ada di sini.
Anda memang suka arsip sejak kecil? Apa sih menariknya?
Ya, kemudian saya masuk (jurusan) Sejarah di UGM, kemudian saya ambil master di Inggris, dan magang di seluruh dunia.
Apa saja yang Anda koleksi?
Ada satu koper surat cinta pacar-pacar saya. Masih saya simpan. Istri saya memang tidak suka hahaha, tapi itu kan membangkitkan memori sendiri, bagaimana dulu mesranya hahaha.
Pendidikan kearsipan kita bagaimana?
Ya, sekarang kan yang sedang berjalan kerja sama dengan Universitas Diponegoro, Padjadjaran, Gadjah Mada, melaksanakan D-3 Kearsipan. Kami buka D-4 dengan Universitas Terbuka. Ada titel, sarjana sains terapan. Sekarang kami juga bekerja sama dengan Universitas Leiden, membuka Jurusan Kearsipan.
Biodata Djoko Utomo
Nama: Djoko Utomo
Lahir: Klaten, 22 Desember 1949
Pekerjaan: Kepala Arsip Nasional RI
Pendidikan:
1. Master of Arts dari University of London, Inggris, Archives Studies (1989)
2. Doktorandus dari Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (1981)
3. Sekolah arsip, Rijksarchief School, Utrecht, Belanda (1977)
4. Sarjana muda dari Jurusan Sejarah, Universitas Gajah Mada (1971)
Karier dan prestasi: Anggota Dewan Kear
Djoko Utomo | portaltiga.com

Djoko Utomo | portaltiga.com

Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kalimat yang pernah diucapkan Presiden Soekarno itu disimpan lama dalam diri Djoko Utomo, yang dua pekan lalu menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) itu dianggap berjasa mengumpulkan dan menyelamatkan banyak arsip nasional yang menjadi bukti otentik sejarah Indonesia. ”Ini kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili,” ujar alumnus Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, itu.

Menurut Djoko, penghargaan itu dimaknai sebagai pengakuan negara, karena selama ini kearsipan dimarginalkan. Padahal, sebagai pengingat dan bukti otentik sejarah bangsa, arsiplah yang dicari-cari. Dia menyayangkan, masih banyak pihak yang kurang peduli.

Di tengah kesibukannya yang padat, mendata dan mengunjungi beberapa instansi untuk “menagih” arsip-arsipnya, Djoko menerima wartawan Tempo Ngarto Februana, Yophiandi, dan fotografer Yosep Arkian, Kamis lalu di kantornya, Jalan Ampera, Jakarta Selatan, untuk sebuah wawancara. Berikut petikannya.

Apa arti penghargaan itu buat Arsip Nasional?

Penghargaan itu kan karya kawan-kawan semua, saya cuma mewakili. Penghargaan ini saya maknai untuk arsip dan kearsipan di Indonesia, yang selama ini ”dipinggirkan”, ”dimarginalkan”. Karena itu, kami mencoba mempromosikan bahwa arsip itu memang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contoh sederhana, kita bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) menyelamatkan arsip yang kena tsunami sebanyak 84 meter kubik. Karena bisa menyelamatkan itu, bersama bantuan Jepang dan lain-lain, akhirnya BPN bisa menerbitkan sertifikat berdasarkan arsip yang ada.

Mengapa selama ini arsip dipinggirkan?

Karena pemahaman yang tidak pas, tidak sesuai dengan undang-undang, dari banyak pihak, termasuk para pejabat, yang menganggap arsip seolah-olah barang rongsokan, berupa kertas usang. Ini harus kita ubah betul bahwa arsip tidak seperti itu. Karena itu, saya berusaha mendudukkan dalam proporsi yang sebenarnya. Sesuai dengan undang-undang, arsip itu adalah naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, badan pemerintah, badan swasta, dan perseorangan, dalam bentuk corak apa pun. Dulu arsip itu, sebelum berkembang teknologi sedemikian hebat, hanya yang terekam di atas kertas. Bagaimana kalau yang terekam di tape recorder, video, film? Saya mencoba untuk mengaitkan dengan definisi yang dari luar negeri, yang berlaku di dunia kearsipan. Arsip itu disebut recorded information, apa pun mediumnya, tetapi bukan sembarang informasi.

Arsip dibuat dalam rangka pelaksanaan kegiatan. In the conduct is a business. Di Indonesia, juga dalam pelaksanaan kegiatan, kegiatan pemerintahan dan kehidupan bangsa. Arsip itu tumbuh dan berkembang secara wajar. Dia ada, tidak diada-adakan, kecuali dalam kasus khusus, mau memalsukan. Arsip ada yang palsu juga. Arsip dalam arti sebenarnya, dia itu otentik, dia realible, dia legal (absah).

Kriteria itu untuk menentukan suatu naskah disebut arsip?

Betul. Persis. Nah, berkaitan dengan itu, sekarang ada beberapa copy Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret), jelas itu tidak otentik, tidak realible; (karena itu) tidak perlu saya analisis.

Mengapa tidak otentik?

Otentik, dalam artian informasi yang direkam di kertas, arsip yang otentik. Arsip yang ”konvensional”, itu direkam di kertas, artinya dia melekat terus pada medium atau obyeknya. Mediumnya kertas, ya, melekat terus. Kalau itu copy, jelas tidak melekat. Saya tidak perlu menganalisis. Dan di situ tidak ada otentikasi bahwa itu disalin sesuai dengan aslinya. Pernah ndak, lihat Supersemar yang disalin sesuai dengan aslinya?

Peran arsip dalam kehidupan berbangsa?

Arsip itu simpul pemersatu bangsa. Saya sampaikan, ada suatu Konvensi Wina 1983, Vienna Convention on Succession of States in respect of State Property, Archives and Debts Esensinya adalah wilayah negara beserta properti, arsip, dan utang yang ditinggalkan oleh negara terdahulu menjadi milik negara penerusnya. Berarti, dalam konteks Indonesia, wilayah negara yang ditinggalkan penjajah, dari Merauke sampai Sabang, itu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Titik.

Arsipnya bagaimana?

Kalau arsip itu otentik, menurut konvensi tadi, surat aslinya harus ada di Indonesia. Yang kedua, ada principal of propenant, asas asal-usul, kalau arsip diciptakan di negara itu, harus tetap berada di negara itu.

Djoko memberi contoh tentang surat Bung Karno yang dikirim dari penjara Sukamiskin, Bandung, yang ditujukan kepada ke Jaksa Agung Hindia Belanda. Karena kedudukannya di Hindia Belanda, pemberkasan surat itu di Indonesia, seharusnya surat itu di Indonesia. Tapi sampai sekarang arsip itu belum diketahui keberadaannya.

Arsip kita masih banyak di Belanda?

Nah, ini begini, yang ditanya arsip yang diberkaskan di Belanda atau mengenai hubungan Indonesia dengan Belanda. Itu beda. Arsip yang kena Konvensi Wina, yang diberkaskan di sini, apalagi yang diambil (oleh Belanda) di Yogya, harus dikembalikan. Surat Bung Karno dari Sukamiskin, kalau ketemu aslinya, saya jamin, saya bisa tarik ke sini.

Arsip VOC itu, yang menjadi memori kolektif dunia, di Indonesia terbesar, 2,5 kilometer kalau kita jejer. Sedangkan di Belanda 1,3 kilometer. Termasuk arsip Lagu Indonesia Raya, ada di kita. Aslinya. Arsip yang mengatur memasang bendera. Boleh nggak masang bendera sampai malam berkibar terus? Masang bendera di mobil di sebelah kiri? Boleh nggak ukurannya yang seenaknya? Nggak boleh.

Bagaimana dengan arsip di negara lain?

Tahun lalu, bulan September, kami mengadakan seminar internasional, saya memetakan arsip dan dokumen kita di luar. Saya undang, mereka bicara tentang Indonesia dari dokumen yang ada pada mereka, dari situ kami tahu arsip apa saja yang masih ada di sana.

Sejauh mana keberhasilan kita menarik arsip-arsip kita di luar?

Ya, kami kan tidak bisa langsung. Yang penting kami tahu dulu arsip itu ada di mana. Seperti Suriname, mereka akan mengkopi dokumen imigran Indonesia yang lari ke sana. Kalau Belanda, catatan harian VOC, asli di kita, kopi di sana.

Berarti arsip tentang Belanda di Indonesia sudah 100 persen di Indonesia?

Arsip Hindia Belanda di sini itu sampai 7,5 kilometer. Bahkan arsip Perjanjian Giyanti, Bungaya, ada di sini. Makanya, saya mau membuat diorama tentang sejarah perjalanan bangsa.

Mungkin juga memang belum 100 persen…. Persentase di Belanda, berapa ya, saya tidak berani bilang, tapi sebagian besar ada di sini. Kalau Jepang, ini menarik: hampir tidak ada, karena Jepang memusnahkan arsip.

Kok bisa?

Begini, dulu kan arsip kita di Jalan Gajah Mada. Ketika Jepang mau masuk, Belanda mengambil semua arsip diturunkan ke lantai dasar dan ditimbun pasir setinggi satu meter. Jadi kalau gedung dibom, arsip tidak akan hancur. Arsip Belanda soal tambang diambil, supaya kalau Jepang datang tak bisa menemukan sumber tambang.

Apa kriteria arsip yang menjadi rahasia negara?

Kalau diberikan pihak luar akan membahayakan. Arsip KKP, Komisi Kebenaran dan Persahabatan, misalnya, dari sana (Timor Leste) mengharapkan tidak diakses dulu, masih rahasia negara.

Soal dokumen rahasia, ada ketentuan berapa tahun bisa dibuka?

Begini, kami tidak pakai tahun untuk itu. Yang jadi kondisi, tidak membahayakan keamanan nasional. Saat itu, kami akan melakukan declassified, artinya tidak rahasia lagi. Kalau dikaitkan dengan kasus di Amerika Serikat, waktu itu hal menarik, ketika ada sejarawan suami-istri Cahin, minta kasus PRRI-Permesta dibuka. Tapi tidak tuh, karena dianggap masih membahayakan. Ini cerita soal keterlibatan CIA (agen rahasia Amerika) dalam pemberontakan itu. Dalam kasus ini, kami ambil kesimpulan, bahkan ketentuan 30 tahun sejarah harus dibuka pun bisa dipertimbangkan kembali. Dari kasus ini juga saya tahu betapa penting Indonesia di mata Amerika.

Kalau arsip Timor Leste bagaimana?

Nah, ini menarik, setelah berunding, pihak Timor Leste juga minta arsip-arsip (saat masih menjadi provinsi ke-27 Indonesia). Dia minta arsip-arsip yang dibuat, diberkas di Timor Leste. Kalau gubernur saat itu mengirim surat ke Menteri Dalam Negeri, ya haknya Indonesia. Tapi yang di sana, milik Timor Leste. Tapi semua kan terbakar.

Bagaimana dengan dokumen-dokumen milik TNI dan Polri?

Wah, ya di sini semua. Kalau ada yang minta kami kasih, tapi harus dapat izin dulu dari Cilangkap (Markas Besar TNI), khususnya Angkatan Darat-Polri. Kalau dapat izin, baru dikasih.

Bagaimana perhatian negara maju terhadap arsip?

Negara maju, perhatiannya, nomor satu itu arsip. Ketika Perang Dunia II, Jerman kalah perang; 60 ton arsip dibawa ke Rusia dan Amerika.

Kalau negara berkembang?

(Waktu perang) politik kita politik bumi hangus. Negara berkembang kurang apik (dalam mengurus arsip). Kekalahan kita soal Pulau Sipadan dan Ligitan kan karena kurang arsip.

Orang Asia tidak menghargai arsip, ya?

Kecuali Vietnam. Vietnam itu bagus sekali arsipnya. Dokumen-dokumennya dijaga betul selama perang, dibawa ke gua-gua. Kesadaran mereka tinggi, saat pelarian mereka bawa. Sayangnya, kan kita tidak seperti Vietnam, politik bumi hangus, termasuk arsip kita sendiri.

Bagaimana dengan pemeliharaan arsip?

Saya sangat risau ketika listrik dimatikan PLN. Kalau dalam keadaan darurat tiba-tiba mati, saya nggak ada masalah. Tapi sengaja bergilir dimatikan. Kita sudah nulis surat jangan sampai dimatikan. Film itu, kalau listrik dimatikan (sehingga AC mati), akan muncul penyakit vinegar syndrome, film itu rusak, lengket-lengket, nggak bisa diakses. Kalau (arsip medium) kertas, masih bisa.

Dulu ketika ada pembatasan beli BBM (bahan bakar minyak), mati listrik. Kita bawa jeriken, beli BBM ke pompa bensin (untuk menghidupkan genset), nggak boleh beli. Akhirnya kami beli pakai bus, terus disedot ke genset.

Mereka tidak ada yang mengerti, pompa bensin nggak mengerti, PLN nggak mengerti. Satu jam 200 liter, supaya genset hidup. Bisa dibayangkan kalau 24 jam. Ruang arsip itu harus hidup 24 jam, sepanjang tahun. AC tidak boleh mati. Kalau ada penghematan, ruang arsip tidak dihemat. Yang dihemat, di sini (ruang perkantoran).

Ruang penyimpanan arsip, yang di dalamnya brankas empat lapis berisi teks asli Proklamasi, baik yang diketik Sayuti Melik maupun tulisan tangan Bung Karno, memerlukan suhu dan kelembapan tertentu.

PLN mengerti tidak masalah ini?

Tidak mengerti. Bolak-balik kita menyurati.

Artinya kesadaran orang untuk peduli pada arsip masih kurang?

Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Ini kan memori kolektif bangsa, jati diri bangsa, warisan nasional. Ini tidak hanya untuk sekarang, tetapi untuk generasi mendatang, sampai kiamat.

Individu yang masih menyimpan arsip sejarah bagaimana?

Ketika ribut-ribut soal Supersemar, kami juga menelusuri. Saya punya feeling ya, suatu saat naskah asli Supersemar akan ketemu. Begini, naskah teks Proklamasi asli yang ditulis tangan Bung Karno baru diserahkan kepada pemerintah pada 1992 oleh wartawan waktu itu, B.M. Diah. Naskah yang diketik Sayuti Melik baru diserahkan pada 1957. Pernyataan berhenti Pak Harto sudah di Arsip Nasional.

Soal Supersemar ini, Anda memburunya?

Iya, kalau ada informasi apa pun, di mana pun, kejar, sebab ini dokumen sejarah, arsip buat memori kolektif bangsa. Bahkan waktu dapat informasi Supersemar di Mojokerto, saya suruh Pak Tolchah (Deputi Akusisi) kejar, subuh-subuh berangkat. Ternyata kopian juga hahaha.

Dari para pelaku sejarah yang masih hidup bagaimana?

Nah, ini, ada yang menarik. Ternyata Soeharto itu jadi presiden dikukuhkan MPRS karena desakan mahasiswa, waktu itu Pak Cosmas Batubara. Karena mahasiswa berpikir satu-satunya yang berani membubarkan PKI adalah Pak Harto. Mahasiswa takut Supersemar dicabut kembali oleh Bung Karno.

Kami sudah datangi Pak Nasution waktu masih hidup (A.H. Nasution, waktu itu Ketua MPRS 1966). ”Pak, waktu itu kan Bapak mengukuhkan berdasarkan salinan legalisir Supersemar, mana sekarang, Pak?” ”Wah lupa tuh, coba tanya Sekjen (MPRS) waktu itu Abdul Kadir Besar.” Semua sudah lupa. Makanya kami, sejak tahu begini, membuat program sejarah lisan, termasuk program kembalinya GAM (Gerakan Aceh Merdeka) ke pangkuan ibu pertiwi.

Sejarah lisan, apa tujuannya?

Untuk mengisi kekosongan, supaya cepat, ingatannya masih segar. Mengisi gap juga memperkaya khazanah. Arsip audio visual semacam ini juga kan bisa memperlihatkan ekspresi.

Sudah ada indikasi di mana Supersemar?

Belum, tapi tetap kami lacak. Kami wawancara Pak Moerdiono, dulu kan dia masih letnan satu, dia ditugaskan membuat draf pembubaran PKI. Dia memerlukan Supersemar untuk membuat konsiderans. Nah, kami diberi tahu ada nama Komeri. Kami sedang menunggu untuk mewawancarai. Dulu dia ini yang ditugaskan mengkopi. Ada satu lagi letnan kolonel, tapi belum tahu namanya. Yang jelas, Supersemar itu ada.

Arsip juga bisa untuk meluruskan sejarah?

Ya, kami cuma berdasarkan dokumen bersejarah, kami munculkan saja. Misalnya, ini (menunjukkan kalender), kami tahu penggagas Serangan Umum 1 Maret itu Sultan Hamengku Buwono IX, bukan Pak Harto. Dulu Sultan datang ke Jenderal Sudirman di hutan. Waktu itu Sultan tahu ada Sidang Umum PBB di New York hari itu. Nah, dia minta supaya Indonesia show off force, kita punya tentara. Sebentar saja, tak usah lama-lama, kalau lama, ya, kalah juga kita. Nah, kata Pak Dirman, ya, si itu saja, Letkol Soeharto. Jadi, ya, Soeharto itu eksekutornya. Pemrakarsanya ya Sultan.

Arsip di tempat lain, seperti di kerajaan-kerajaan?

Yang baik itu pengarsipannya di Yogyakarta. Di Solo, Mangkunegaran ada sedikit. Kalau di Yogyakarta kan Sultan mau mengelola sendiri. Kalau dari kerajaan Bima ada di sini. Arsip Bank Indonesia juga ada di Bank Indonesia. Mereka punya sarananya. Hukumnya, memang mereka wajib menyerahkan, tapi mereka punya sarana yang baik.

Obsesi Anda yang belum tercapai?

Supaya arsip nasional menjadi centre of excellence. Semua data ada di sini. Arsip KPU juga sudah ada di sini.

Anda memang suka arsip sejak kecil? Apa sih menariknya?

Ya, kemudian saya masuk (jurusan) Sejarah di UGM, kemudian saya ambil master di Inggris, dan magang di seluruh dunia.

Apa saja yang Anda koleksi?

Ada satu koper surat cinta pacar-pacar saya. Masih saya simpan. Istri saya memang tidak suka hahaha, tapi itu kan membangkitkan memori sendiri, bagaimana dulu mesranya hahaha.

Pendidikan kearsipan kita bagaimana?

Ya, sekarang kan yang sedang berjalan kerja sama dengan Universitas Diponegoro, Padjadjaran, Gadjah Mada, melaksanakan D-3 Kearsipan. Kami buka D-4 dengan Universitas Terbuka. Ada titel, sarjana sains terapan. Sekarang kami juga bekerja sama dengan Universitas Leiden, membuka Jurusan Kearsipan.

Biodata Djoko Utomo

Nama: Djoko Utomo

Lahir: Klaten, 22 Desember 1949

Pekerjaan: Kepala Arsip Nasional RI

Pendidikan:

1. Master of Arts dari University of London, Inggris, Archives Studies (1989)

2. Doktorandus dari Jurusan Sejarah Universitas Indonesia (1981)

3. Sekolah arsip, Rijksarchief School, Utrecht, Belanda (1977)

4. Sarjana muda dari Jurusan Sejarah, Universitas Gajah Mada (1971)

Sumber: Harian Koran Tempo, 31 Agustus 2008

2 Comments

Suparnawa - 23. Okt, 2010 -

Saya teman pak Djoko Utomo waktu beliau masih mahasiswa. Kebiasaannya menghafal kata2 dlm kamus Inggris.Waktu mahasiswa ngaku kuliah di Teknit ( maksudnya Fak Teknik ), maka dijuluki Djoko Teknit.
Waktu diterima masuk ke arsip nasional, ragu2 ,terbayang yang dihadapi kertas2 kumal yang menyesakkan nafas membuat batuk. Sebagai teman, saya memberi dorongan, karena itu adalah kesempatan terbaik buat beliau sesuai bidang sejarah yang dipelajarinya. Nasib baik berpihak pada Pak Djoko. Saya BANGGA punya teman jadi Kepala Arsip Nsional dan mendapat Bintang Jasa Utama. Pesan untuk Pak Djoko jangan lupa sejarah, jangan lupa sangkan paraning dumadi, jangan seperti kacang yang lupa kulitnya . ..walau sudah berbintang jasa utama. Suatu saat nanti bila ketemu saya akan minta copy film2 dokumenter perjuangan NKRI, supaya anak cucu tidak lupa sejarah.

Dasril Iteza - 09. Nov, 2010 -

Benar sekali dan saya setuju dengan apa yang disampaikan Pak Djoko tersebut…. namun selama arsip tersebut tidak dimanipulasi maka kita akan tetap mengetahui fakta sejarah….

contoh: arsip supersemar yang saat ini masih klise dan mengundang pertanyaan serta perdebatan (hingga kini) masih belum selesai!

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan