-->

Tokoh Toggle

Darminah, Pensiun Dini demi Keaksaraan

Darminah | Kompas

Darminah | Kompas

Peluang karier menjadi kepala sekolah dan pengawas sekolah setelah mengabdi hampir 30 tahun sebagai guru SD dilepas Darminah. Mantan guru SD di Kecamatan Sombu Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, ini memilih pensiun dini sebagai guru pegawai negeri sipil.

Darminah pensiun dini lima tahun lebih awal sejak 2005 karena mendirikan dan mengurus Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Shandyka. Niatnya satu, menjangkau warga miskin untuk maju dan mandiri lewat pendidikan di luar sekolah.

Saat rekan sesama guru menolak tawaran menjadi penilik pendidikan luar sekolah (PLS) di Sombu Opu, Darminah justru mengajukan diri. Di sinilah ia mengenal PLS yang melayani pemberantasan buta aksara bagi warga dewasa yang miskin.

Saat tawaran menjadi kepala sekolah datang sekitar 10 tahun lalu, Darminah menampiknya. ”Saya orangnya keras kalau melihat ada yang enggak sesuai hati nurani. Jika sering tak sepaham, nanti saya banyak musuh,” kata Darminah soal penolakannya itu.

Ketika mengetahui di Sombu Opu tak ada institusi penyelenggara PLS, Darminah mendirikan PKBM. Awalnya ia sempat bingung karena tak punya tempat. Permohonannya untuk memakai Gedung Pemuda ditolak.

Tanpa ragu Darminah lalu menjaminkan surat pengangkatan PNS-nya untuk mendapatkan pinjaman dari bank senilai Rp 40 juta. Kredit dari bank itu dipakai untuk merenovasi rumahnya agar bisa menampung beragam kegiatan PLS atau pendidikan nonformal, mulai dari kelompok bermain, taman penitipan anak, keaksaraan fungsional, kesetaraan A, B, dan C (setara SD, SMP, dan SMA), hingga kursus kecantikan.

”Saya merasa ada ’jiwa’ di sini, menolong orang tak mampu agar mendapat pendidikan. Saya cari anak-anak di jalanan atau orang tak mampu. Saya ajak ikut pendidikan nonformal di PKBM. Tak bayar tak masalah asal mau belajar,” ujar Darminah yang menjadi guru inpres sejak 1974.

Demi mewujudkan panggilan hati itu, ia mengajukan pensiun dini. Pilihan yang melawan arus di tengah peluang membaiknya kesejahteraan guru itu tak pernah disesalinya. Darminah menuturkan, ada kepuasan batin yang tak terkira ketika melihat kebahagiaan warga miskin yang bisa menikmati pendidikan.

”Saya ingat, seorang tukang becak yang senang luar biasa karena anaknya bisa ikut pendidikan di kelompok bermain secara gratis,” katanya.

Selama ini tukang becak itu sering mengantarkan anak-anak orang berada ke TK, termasuk tempat Darminah. Si tukang becak sering memandangi anak-anak yang tampak riang menikmati pendidikan anak usia dini. Darminah menghampiri tukang becak itu. Ia menawarkan sekolah gratis. Tak hanya itu, ia juga memberikan seragam untuk dua anak tukang becak tanpa bayaran. Di depan Darminah, dua anak tukang becak yang berusia lima dan enam tahun itu berputar senang memakai seragam baru.

Sang ayah yang bahagia bisa membuat anaknya bersekolah itu membawa kedua anaknya berkeliling kampung. Ia kadang tak yakin bisa mengantar jemput darah dagingnya ke sekolah tanpa khawatir soal biaya.

Sejak itu Darminah gencar mengumumkan bahwa PKBM-nya terbuka bagi warga tak mampu yang ingin belajar. Jika ada anak yang terlihat bersemangat belajar di sekolah formal, Darminah pun tak ragu memberikan uangnya demi membiayai pendidikan si anak itu.

Ia juga menemukan banyak anak usia sekolah yang berkeliaran di pasar. Mereka menawarkan jasa mengangkut belanjaan atau menjual tas plastik. Darminah menawarkan diri untuk mengajar 20 anak buta aksara itu menghitung, membaca, dan menulis. PKBM Shandyka kemudian membuka pendidikan kesetaraan Paket A agar mereka mempunyai ijazah setara SD.

Resep masakan

Untuk membantu tugasnya, Darminah juga melatih mereka yang mau menjadi tutor buta aksara. Ternyata, tak mudah menjadi tutor buta aksara bagi 10 warga belajar yang dibimbingnya. Dua tutor yang direkrut Darminah dari sekitar tempat tinggal warga belajar tidak mampu membuat para ibu rumah tangga yang tak bisa menulis, membaca, dan menghitung itu agar tertarik belajar.

”Saya jadi tertantang mencari metode untuk mendekati para ibu yang enggak suka dicap buta aksara itu. Saya terpikir memancing mereka lewat masakan,” cerita Darminah.

Saat datang kepada warga belajarnya, Darminah membawa kue atau masakan yang enak. Masakan itu ia bagikan ke rumah-rumah. Ketika para ibu penasaran ingin membuat masakan serupa, ia minta mereka membuatnya dengan membaca resep masakan.

”Di sinilah mereka bingung karena tidak ada yang bisa membaca. Karena mau mencoba masakan, akhirnya mereka mau belajar membaca,” ceritanya.

Metode ”resep masakan” itu membuat para ibu bersemangat belajar dan bisa lancar membaca. Setiap belajar diselingi acara memasak sehingga mereka tak bosan.

Keberhasilan ini membuat Darminah dipercaya melayani lebih banyak lagi warga buta aksara di Gowa. Banyak warga yang buta aksara itu bekerja sebagai buruh tani, pembantu rumah tangga, atau tukang becak. Mereka pun senang belajar karena ingin bisa menulis nama sendiri.

Pengajaran keaksaraan fungsional di PKBM Shandyka lalu menjadi contoh di Kabupaten Gowa. Jika ada pelatihan PLS untuk tutor di kawasan Indonesia timur, PKBM ini selalu dikunjungi.

”Saya berharap PKBM ini bisa berkembang untuk menolong orang tak mampu. Hanya, saya tidak tahu bagaimana caranya agar bisa mendapat bantuan,” ujarnya.

Titisan kakek

Jika mengingat hati yang terpaut pada pendidikan bagi warga tak mampu itu, Darminah merasa dorongan itu sebagai titisan sang kakek yang tak pernah dikenalnya. Dari cerita ibunya, Siti Aminah (77), yang juga guru SD, Darminah tahu bahwa hati yang kukuh untuk mendidik warga miskin itu persis seperti yang dilakukan sang kakek pada masa penjajahan Belanda.

Mendiang kakeknya, Basoke DG Mile, adalah guru di Kabupaten Takalar. Pada masa penjajahan Belanda ada larangan untuk mengajar anak-anak miskin. Namun, Basoke tak memedulikan aturan itu. Diam-diam ia mengumpulkan anak-anak miskin di daerahnya untuk diajar membaca, menulis, dan menghitung. Pengajaran pun dilakukan di tempat tersembunyi.

Kegiatan itu diketahui penjajah. Sang kakek pun diciduk dan tak pernah kembali. Sekitar 20 tahun lalu, seseorang yang dulu mata-mata Belanda menceritakan apa yang terjadi pada kakek Darminah. Jenazah sang kakek kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Takalar.

Dalam beberapa kesempatan, Darminah bertemu dengan beberapa petinggi pemerintahan di Kabupaten Gowa. Sang kakek itu disebut-sebut sebagai sosok yang membuat mereka bisa menjadi orang pintar dan meraih jabatan tinggi di pemerintahan.

”Sadar atau tidak, dari cerita tentang kakek, saya jadi ingin seperti beliau. Ia saja mau mati untuk orang lain supaya orang miskin juga bisa pintar dan maju. Saya juga harus bisa membantu orang miskin. Apalagi, jumlah mereka bisa dikatakan masih banyak meski pada zaman kemerdekaan sekalipun,” kata Darminah penuh semangat. (Ester Lince Napitupulu dan Nasrullah Nara)

Sumber: Harian Kompas, 26 September 2008

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan