-->

Kronik Toggle

Buku Pelajaran, Pandangan Remaja

2010 08 30_Buku_Buku Pelajaran, Pandangan Remaja_PENDIDIKANSatu pohon, banyak cabang. Jadi, kalau buah pada salah satu cabang sedikit, masih ada cabang-cabang lain yang bisa diharapkan. Kalau seluruh cabang berbuah dan subur, makin untung, deh. Mungkin ungkapan itu bisa juga diaplikasikan dalam ilmu pengetahuan.

Mata pelajaran diibaratkan pohon dan buku adalah cabang. Kalau di sekolah ada satu pelajaran yang menggunakan lebih dari satu buku, makin banyak pula referensi materi yang didapat pelajar. Manfaatnya, kalau ada pertanyaan sulit yang jawabannya nggak kita temukan di buku satu, masih ada buku lain yang bisa dijadikan sebagai referensi. Makin banyak pula ilmu yang kita serap.

Hal itu disadari mayoritas responDet (74 persen) yang pernah mengusung banyak referensi untuk satu mata pelajaran. Menurut 52,2 persen responDet di antara mereka, cara tersebut efektif untuk menunjang pemahaman. Yang paling sering dapat perhatian lebih adalah pelajaran matematika.

Nah, siapa yang nggak kenal keganasan mata pelajaran itu. Hehe… Salah seorang yang mengakuinya adalah Nadia Rizky Ariani. Cewek yang akrab disapa Nadia itu mencari banyak literatur supaya makin gampang belajar tentang ilmu hitung-hitungan.

“Rumus-rumusnya kan banyak, tuh. Selain dihafalin, harus dipahami. Kadang pembahasan tiap buku beda-beda. Mana yang lebih mudah dipahami, itu yang aku jadikan buku pegangan utama,” ujar pelajar SMPN 39 tersebut.

Nadia tidak asal mencomot referensi pendamping di luar buku yang dianjurkan oleh sekolah. Dia tahu tentang kelebihan tiap buku. “Ada buku matematika yang memaparkan rumus secara lebih ringkas disertai dengan tugas-tugas. Lainnya menunjukkan penjelasan-penjelasan secara teoretis,” lanjut dia.

Dengan memanfaatkan banyak buku, Nadia merasa belajarnya makin efektif. “Sangat membantu dalam menyelesaikan tugas dari sekolah. Kalau lupa rumus, langsung lihat buku,” imbuhnya.

Selain matematika, salah satu mata pelajaran IPA, yaitu biologi, mendapatkan perhatian khusus. Seperti yang dilakukan oleh Davina Priskila Sabrina. Cewek yang menuntut ilmu di SMA Frateran itu dianjurkan oleh sang guru menggunakan dua referensi.

“Untuk pelajaran biologi, dibutuhkan pemahaman bagus. Karena itu, sejumlah referensi cukup memudahkan pelajar mengerti beberapa materi yang masih gamblang. Yang membuat buku referensi lebih dari satu adalah perbedaan segi kelengkapan dan materi soal. Ada dua buku paket, terus ditambah LKS,” ungkap Davina.

Efektivitas belajar dengan banyak referensi juga dirasakan oleh Bakti Wiryawan Prasastro. Penghuni kelas IX H SMPN 6 itu lebih suka terhadap karakter buku yang menyuguhkan banyak latihan soal. Dengan begitu, dia bisa langsung menerapkan materi yang sudah diterangkan oleh guru.

“Selain pelajaran hitung-hitungan, bahasa Inggris juga memerlukan banyak referensi. Antara lain, segi writing, listening, dan grammar. Ada bukunya sendiri-sendiri. Jadi, komplet ilmunya,” tutur Bakti.

Konsekuensi Tugas Nambah

Satu pelajaran, banyak buku ibarat satu piring nasi dengan banyak lauk. Tambah enak kan, banyak variasi pilihannya. Tapi, efek sampingnya, perut makin cepat penuh karena banyak yang dilahap.

Sama halnya dengan semakin banyak referensi buku yang dipakai, ilmu yang didapat lebih banyak. Nah, konsekuensinya, tambah buku berarti tambah tugas juga. Soalnya kan bahan materi makin bervariasi. Hehe.

Bagi temen-temen yang suka membaca, punya lebih dari satu buku itu menyenangkan. Wawasan jadi bertambah. Tapi, temen-temen yang antiribet pantang banget nih punya buku lebih dari satu. Prinsipnya, kalau satu buku udah cukup, kenapa mesti dua? Banyak-banyakin tugas aja deh.

Kalau buat Dea Anindita, semakin banyak buku semakin bagus. Sebab, kadang ada materi yang nggak bisa dicari di satu buku aja. “Enak toh, wawasan jadi bertambah. Kebetulan aku emang suka baca, jadi seneng-seneng aja punya buku banyak,” tuturnya.

Apa nggak ribet? Buka buku satu-satu dulu. Tiap nemu soal, buka buku banyak. Hafalan pula.”Nggak sih. Kalau dapet tugas gitu, biasanya jawabannku paling komplet. Soalnya, aku cari referensinya di beberapa buku,” jawab pelajar SMP Dharma Wanita itu.

Lain Dea lain Vincentius. Pelajar SMA Frateran tersebut menganut paham praktis. “Mending satu buku aja didalami dulu. Kalau udah dapet intinya, baru cari buku lain. Kalau nggak, bisa ribet dan puyeng sendiri,” cuapnya.

Konsekuensi Tugas Nambah

Satu pelajaran, banyak buku ibarat satu piring nasi dengan banyak lauk. Tambah enak kan, banyak variasi pilihannya. Tapi, efek sampingnya, perut makin cepat penuh karena banyak yang dilahap.

Sama halnya dengan semakin banyak referensi buku yang dipakai, ilmu yang didapat lebih banyak. Nah, konsekuensinya, tambah buku berarti tambah tugas juga. Soalnya kan bahan materi makin bervariasi. Hehe.

Bagi temen-temen yang suka membaca, punya lebih dari satu buku itu menyenangkan. Wawasan jadi bertambah. Tapi, temen-temen yang antiribet pantang banget nih punya buku lebih dari satu. Prinsipnya, kalau satu buku udah cukup, kenapa mesti dua? Banyak-banyakin tugas aja deh.

Kalau buat Dea Anindita, semakin banyak buku semakin bagus. Sebab, kadang ada materi yang nggak bisa dicari di satu buku aja. “Enak toh, wawasan jadi bertambah. Kebetulan aku emang suka baca, jadi seneng-seneng aja punya buku banyak,” tuturnya.

Apa nggak ribet? Buka buku satu-satu dulu. Tiap nemu soal, buka buku banyak. Hafalan pula.”Nggak sih. Kalau dapet tugas gitu, biasanya jawabannku paling komplet. Soalnya, aku cari referensinya di beberapa buku,” jawab pelajar SMP Dharma Wanita itu.

Lain Dea lain Vincentius. Pelajar SMA Frateran tersebut menganut paham praktis. “Mending satu buku aja didalami dulu. Kalau udah dapet intinya, baru cari buku lain. Kalau nggak, bisa ribet dan puyeng sendiri,” cuapnya.

Siasat Update Pengetahuan

Sebagai anak sekolahan, kita memang kudu punya banyak referensi ilmu pengetahuan. Terutama buku. Sebab, sekolah-sekolah di sini kan masih lebih sering menggunakan buku sebagai bahan ajar. Kalo pengin punya banyak pengetahuan, logikanya memang buku yang dimiliki juga harus banyak. Tapi, bagi si Det, nggak melulu harus begitu. Bisa disiasati kok dengan cara berikut.

Sering ke Perpustakaan
Perpustakaan bermanfaat banget lho bagi semua orang. Apalagi bagi kita yang dituntut selalu update ilmu pengetahuan. Nah, kalo nggak punya banyak uang untuk membeli buku, kamu bisa memanfaatkan perpustakaan di sekolahmu semaksimal mungkin. Rugi dong kalo ada fasilitas perpustakaan, tapi nggak dimanfaatin dengan baik.

Manfaatkan Kutu Buku
Buat apa punya temen kutu buku, tapi nggak dimanfaatin. Karena rajin membaca, pasti “asupan” bukunya juga banyak. Untuk itu, manfaatkanlah dia. Ada dua cara nih. Pertama, pinjam buku-bukunya yang sesuai dengan pelajaranmu saat ini. Kedua, pinjam otaknya ketika ada ulangan harian. Ups, salah! Maksud si Det, minta ajari dia kalo ada pelajaran yang nggak kamu pahami.

Rajin Internetan
Nggak perlu dijelasin banyak-banyak, kalian pasti sudah tahu apa manfaat internet. Untuk itu, jangan sia-siakan teknologi informasi tersebut. Akses sesering kamu membutuhkannya. Jadi, kalo lagi nggak mau beli banyak buku, kamu bisa download banyak e-book. Nggak bikin berat tasmu kan jadinya.

Jordi Onsu: Gantian Bawa dengan Teman Sebangku

Setiap mata pelajaran pasti membutuhkan referensi bahan ajar. Normalnya, setiap mata pelajaran butuh minimal satu buku paket. Itu sih normalnya. Tapi, sekarang, kondisi sudah berubah. Kebutuhan akan informasi meningkat. Karena itu, ada guru yang nggak cuma mewajibkan satu buku untuk tiap mata pelajaran.

Aku yakin, zaman sekarang, setiap pelajar pasti pernah menghadapi guru seperti itu. Termasuk aku juga, sih. Hehehe. Tepatnya, waktu kelas XI SMA. Saat itu aku berhasil masuk ke kelas yang menjadi targetku selama ini, yaitu kelas IPA.

Kali pertama masuk ke kelas tersebut, aku langsung ngerasa sreg dan cocok. Soalnya, seluruh mata pelajaran yang menjadi favoritku ada di situ. Terutama, yang berhubungan dengan hitung-hitungan.

Namun, ada satu hal yang membebaniku ketika belajar. Bukan mata pelajaran yang susah, lho. Tapi, tubuhku memang terbebani dalam arti yang sebenarnya. Guru-guruku di kelas tersebut menggunakan buku paket lebih dari satu. Paling nggak, ada tiga guru yang seperti itu. Yaitu, guru kimia, matematika, dan fisika.

Guruku punya alasan khusus dengan mewajibkan murid bawa banyak buku paket. Yakni, ketika mata pelajaran fisika, salah seorang murid bawa buku paket pribadi. Bukan sembarang buku paket. Kata guruku, isi buku tersebut lengkap, bagus untuk dipelajari pokoknya.

Alhasil, sejak saat itu guruku mewajibkan kami membawa buku tersebut tiap mata pelajaran fisika berlangsung. Buatku, bawa buku itu bukan masalah. Tapi, yang jadi masalah adalah proses mencarinya. Penerbitnya nggak familier sih. Jadi, kudu mutar-mutar Jakarta dulu untuk mencarinya. Untung, akhirnya aku nemu di daerah Pasar Senen.

Seperti yang aku bilang sebelumnya, untuk pelajaran kimia, fisika, dan matematika, kami wajib bawa lebih dari satu buku paket. Nggak tanggung-tanggung. Pada setiap mata pelajaran tersebut, yang harus dibawa adalah tiga buku paket.

Parahnya, tiga mata pelajaran itu berlangsung pada hari yang sama, yaitu Kamis. Bisa dibayangin betapa capeknya aku hari itu. Kalau satu mata pelajaran saja mewajibkan tiga buku, untuk tiga bidang studi tersebut ada sembilan buku. Waw, sembilan! Itu belum termasuk buku tulis dan buku mata pelajaran lain.

Untuk itu, aku nyiapin trik khusus biar nggak kecapekan gara-gara bawa buku kala Kamis. Aku bagi tugas dengan teman sebangku untuk membawa buku-buku itu. Misalnya, aku bawa buku matematika. Buku fisika, temanku yang bawa. Lalu, buku kimia kami bagi dua. Tahu nggak, cara tersebut ampuh juga. Kami nggak terlalu capek seperti sebelumnya. Hehehe.

Drs Maryono: Esensi Lebih Penting

Sumber ilmu itu sebenarnya sangat banyak. Tidak hanya terfokus pada buku, tapi bisa dari internet atau sumber lainnya. Namun, kehadiran buku tetap penting sebagai pendongkrak wawasan siswa. Meski begitu, untuk mendukung suatu pelajaran tertentu, para siswa tidak diharuskan membeli buku terlalu banyak. Sebab, hal tersebut bisa membebani siswa yang bersangkutan. Jadi, masalah membeli buku lain sebagai tambahan referensi atau tidak itu menjadi kewenangan siswa itu sendiri. Sebab, meskipun tidak memiliki buku, mereka tetap bisa mencari sumber pengetahuan lain, seperti internet. Mereka bisa mengakses e-book atau tutorial lain yang bisa dicari di internet. Jadi, sumber referensi itu tak harus berupa buku baru. Internet atau sumber yang lain juga bisa. Sebab, yang penting adalah esensi sumber pengetahuan tersebut. (Wakasek SMAN 10 Surabaya)

Sumber: Harian Jawa Pos, 30 Agustus 2010,

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan