-->

Lainnya Toggle

Buku Cetak Ulang, Lebih Menguntungkan

Oleh: Sunaryono Basuki

foto: friendster.com

foto: friendster.com

Sastrawan Budi Darma pernah diprotes penggemar dan kolektor bukunya lantaran dia membeli buku karya Budi Darma yang baru terbit dan mengira buku itu buku baru. Rupanya, penerbit buku tersebut telah menerbitkan karya Budi Darma yang lama dengan label baru. Penggemar itu merasa dikibuli, walaupun Budi Darma tentulah tidak telah mengibulinya. (Esai yang yang dimaksud: ‘Mempertanyakan Etika Penerbit Buku Recycle’, Diana AV Sasa, 30 November 2008)

Cara itu mungkin salah satu akal penerbit untuk menjaring pembeli, penggemar karya Budi Darma. Pembaca lain bisa saja tak tahu bahwa buku tersebut pernah terbit di bawah judul yang berbeda dan tentu dia merasa beruntung bisa mengoleksi buku sastrawan kesayangannya itu. Soal pemrotes, seharusnya dia merasa bersyukur karena telah beruntung mendapatkan buku sama dalam dua edisi yang berbeda dan sadar bahwa mungkin hanya satu dua orang yang bernasib ”sial” seperti dirinya.

Buku-buku lama yang bagus dan diperlukan belum tentu dapat diakses karena di toko buku pasti sudah tidak ada, tidak pernah dicetak ulang. Di Indonesia sulit sekali mendapatkan perpustakaan yang lengkap. Mungkin hanya di Pusat Dokumentasi H.B. Jassin di Jakarta. Tentu koleksi perpustakaan luar negeri lebih lengkap, namun sulit diakses dari sini.

Kasus Editum

Editum adalah nama penerbit baru ”milik” penyair Sapardi Djoko Damono. Selama 2009-2010 penerbit ”guram” itu giat menerbitkan buku-buku lama karya Sapardi Djoko Damono (kecuali Kolam yang merupakan kumpulan puisi terbaru). Penerbit tersebut (yang tampaknya dapat sponsorship dari pelukis Jeihan) tidaklah semata-mata menerbitkan ulang karya Sapardi, tetapi juga karya Jeihan berjudul Gambar Bunyi serta kumpulan cerpen Waluya Ds berjudul Cello.

Buku teori berjudul Sosiologi Sastra masih dicari para peneliti, namun di mana bisa diperoleh? Buku yang pertama diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa) pada 1978 itu tidak dijual untuk umum. Jadi, hanya bisa dibaca di perpustakaan, kalaupun ada. Pada 2009, buku tersebut diterbitkan ulang oleh Editum dengan revisi di sana-sini, terbukti dimuatnya bibliografi yang bertiti mangsa setelah 1978. Pasti buku itu sangat ditunggu banyak orang karena sekarang kita bisa mengoleksinya.

Kumpulan puisi Hujan Bulan Juni diterbitkan Grasindo 1994 dan tampaknya tak pernah dicetak ulang, padahal kita masih ingin membacanya. Demikian pula Ada Berita Apa Hari Ini Den Sastro? yang diterbitkan oleh Indonesiatera dan Kalam sulit diperoleh lagi. Maka, bahagialah yang haus membaca karya Sapardi. Apalagi Mata Jendela yang diterbitkan Indoesiatera pada 2001 dicetak ulang dengan penambahan puisi dari Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Akuarium (1974), dan Perahu Kertas (1983) yang sekarang menjadi buku langka.

Sapardi ternyata juga menulis buku cerita seperti Sup Gibran, Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, juga menulis esai seperti Drama Indonesia, Sastra Bandingan, dan Kebudayaan (Populer) (di sekitar) Kita. Keberaniannya menerbitkan buku-buku yang dijual dengan sistem direct selling itu patut diacungi jempol. Sebab, entah bisa laku atau tidak. Walau Dee (Dewi Lestari) telah melakukan hal yang sama pada buku-bukunya, entah buku-buku Sapardi bisa laku atau tidak karena buku-bunya relatif berharga mahal.

Baru-baru ini dalam rangka Tribute to Rendra, penerbit Bentang Pustaka yang sukses dengan penerbitan tetralogi Laskar Pelangi menerbitkan ulang Malam Stanza dan Blues untuk Bonnie dengan esai pengantar apresiasi berjudul Ciuman Abadi Puisi besutan Binhad Nurrohmat. Dua karya itu juga merupakan karya langka. Pada edisi sama, juga diterbitkan ulang trilogi Insiden karya Seno Gumira Ajidarma yang terdiri atas Saksi Mata, Jazz Parfum & Insiden, serta Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara yang sebelumnya terbit sebagai buku terpisah dan sudah sulit diperoleh.

Gramedia juga pernah menerbitkan trilogi Dukuh Paruk yang lengkap dalam satu buku. Buku itu telah direvisi dan sekarang dapat dibaca lebih lengkap. Kita benar-benar beruntung.

Jadi, jangan dikira bahwa cetakan ulang sebuah buku dengan perbaikan tak ada gunanya.

Sunaryono Basuki Ks, sastrawan, tinggal di Singaraja, Bali

Sumber:  Jawa Pos, 1 Agustus 2010

3 Comments

M. Faizi - 01. Agu, 2010 -

Iya. Hal semacam ini banyak terjadi. Terakhir yagn saya tahu adalah puisi-puisi Afrizal Malna yang diterbitkan OmahSore. Untungnya, buku puisi tersebut tidak disegel. Jadi, calon pembeli sudah tahu kalau puisi-puisi yang ada dalam cetakan baru itu adalah–kebanyakan–puisi-puisi yang telah berdiam di dalam mikrofon, kulkas, sepatu, dan semangka juga 🙂

Ahmad Yunus - 01. Agu, 2010 -

saya rasa sih tidak ada masalah kalau penerbit akan mencetak ulang. Tentunya ini harus ada ijin terlebih dahulu kepada pengarang. Kita sebagai pecinta buku harusnya juga jeli dan teliti dalam membeli buku. saya yakin sebelum kita membeli pastinya sudah membaca resume dari buku tersebut. jadi meski itu cetak ulang ke 1000 pun rasanya tidak ada masalah.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan