-->

Kronik Toggle

Pembagian Ketiga Buku Inisiatif Presiden

Jakarta -Juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha mengakui pembagian tiga buku profil anggota keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam perayaan Kemerdekaan Indonesia ke-65 di Istana Negara, Selasa lalu, merupakan inisiatif dari Presiden sendiri.

“Presiden memang mengamanatkan untuk membagikan buku kepada mereka yang hadir dalam peringatan kemerdekaan di Istana,” kata Julian.

Julian menambahkan, pembagian suvenir dalam acara sakral itu sudah menjadi kebiasaan Istana tiap tahun. Bedanya, tahun ini ada penambahan suvenir buku dari keluarga Presiden, yakni buku tentang Yudhoyono, Ani Yudhoyono, dan Agus Harimurti.

Ide Presiden membagikan buku itu, Julian melanjutkan, disampaikan beberapa hari sebelum upacara berlangsung. Ide tersebut lalu didukung oleh Ramadhan Pohan, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat. Ketiga buku itu dibiayai dari kocek pribadi Presiden.

Pembagian buku tersebut, kata Julian, hanya untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan, tidak perlu dipersoalkan. “Selama tidak mengurangi bobot dan makna perayaan kemerdekaan, saya rasa ini hal yang sah,” ujarnya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Marzuki Alie sependapat dengan Julian. Dia menambahkan, dalam peringatan kemerdekaan di Istana Negara, siapa saja boleh menyumbang buku untuk dijadikan suvenir. Jadi, menurut dia, suvenir tiga buku bukan hal yang luar biasa. “Tapi, karena ini (menyangkut) putra Presiden, makanya jadi ramai,” kata Marzuki di gedung DPR kemarin.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Indria Samego, berpendapat lain. Menurut dia, ketiga buku itu sangat menonjolkan ketokohan Agus, Ani, dan Yudhoyono ketimbang menjawab permasalahan yang ada di masyarakat. “Ini upaya untuk mengkultuskan SBY dan keluarganya,” ujar Indria.

Menanggapi komentar miring yang dialamatkan kepadanya, Presiden kemarin malam memberi tanggapan saat bersilaturahmi dengan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dan para teladan nasional di Jakarta International Expo, Kemayoran. “Jangan kita saling mencerca saudara sendiri. Sikap seperti itu tidak ada gunanya,” ujar Yudhoyono.

Ia menilai tingkah seperti itulah yang bisa membuat Indonesia tak kunjung maju, atau bahkan tertinggal oleh bangsa-bangsa lain. Yudhoyono balik menyerang dan meminta pencelanya berkaca. “Bangsa yang arif adalah yang mawas diri, introspeksi, bercermin,” kata dia. “Jangan kita suka melihat kekurangan orang lain, sisi negatifnya, sampai tidak bisa melihat sisi positifnya.”

Yudhoyono juga menanggapi dugaan ada pengkultusan dirinya. Untuk itulah ia menolak usulan agar jabatan presiden diperpanjang hingga tiga periode, seperti kemarin disampaikan oleh politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul. “Seorang SBY akan menolak dan menentang pikiran itu,” kata Yudhoyono saat memberikan sambutan peringatan Hari Konstitusi di gedung DPR kemarin.

FEBRIYAN | MUTIA RESTY | BUNGA MANGGIASIH | DWI WIYANA

*) Tempointeraktif, 19 Agustus 2010

Artikel ini tertutup untuk komentar.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan